Terpaksa Menikahi Murid

Terpaksa Menikahi Murid
Perubahan


__ADS_3

“Saya ingin Ibu menikah dengan saya.”


Mendengar perkataan itu, Mikhaela langsung berdiri dengan mata membulat menatap ke arah Arka. Sebuah kalimat yang membuatnya sangat terkejut dan tidak pernah terlintas di dalam pikirannya sebagai sebuah imbalan yang akan Arka minta.


“Menikah dengan kamu?”


“Iya. Permintaan itu tidak melanggar hukum dan juga bisa ibu sanggupi,” jawab Arka dengan santai sambil terus memandang ke arah Mikhaela.


“Jangan konyol, Arka. Kamu pikir, menikah itu hanya main-main?”


“Saya sangat serius. Apakah saya terlihat main-main?”


“Menikah itu bukan lelucon yang dijadikan sebagai sebuah taruhan. Itu tanggung jawab seumur hidup.”


“Saya akan bertanggung jawab terhadap Ibu seumur hidup saya.”


“Cukup, Arka. Hentikan semua permainanmu!”


Mikhaela mulai tidak dapat menahan emosinya. “Sebaiknya kamu keluar sekarang!”


Rasanya tidak ada gunanya Mikhaela melanjutkan rencana untuk mengubah Arka untuk menjadi lebih baik.


“Ibu ingin saya tidak lagi mencari masalah dan menjadi murid teladan yang memiliki nilai tertinggi, kan? Saya bisa melakukannya.”


Mikhaela memandang Arka yang juga memandang dengan tatapan menantang ke arahnya.


Anak ini, apakah mungkin dia bisa melakukannya?


Mikhaela terus memandangi Arka untuk meyakinkan dirinya.


Aku rasa itu hanya keinginan sesaatnya yang gila. Dia tidak mungkin mau menikah dengan gurunya sendiri dan merelakan masa mudanya denganku. Atau, mungkin, dia sengaja melakukannya untuk membuatku takut dan menarik permintaanku?


“Bagaimana? Atau Ibu sebenarnya sudah jatuh hati padaku sehingga terus menatapku selama ini?”


Mikhaela berdecak. Baru kali ini ia menemukan seorang murid yang bersikap seberani ini kepadanya.


“Baiklah! Ibu terima tantanganmu. Ibu mau tahu sekeras apa kamu berusaha.”

__ADS_1


Eh sebentar! Kenapa aku langsung setuju?


Apa yang diucapkan oleh Mikhaela tidak sejalan dengan apa yang sedang ia pikirkan.


Arka langsung tersenyum lebar. Akhirnya, keinginannya akan segera terwujud. Berubah menjadi baik dan memperoleh nilai tertinggi di kelas? Arka bahkan bisa melakukannya tanpa usaha yang berarti.


“Untuk saat ini kita berjabat tangan dulu sebagai perjanjian kita berdua.” Arka mengulurkan tangannya dan di sambut dengan sedikit ragu oleh Mikhaela. “Saya akan membuat surat perjanjian agar Ibu tidak bisa ingkar dengan kata-kata Ibu sendiri.”


“Su—surat perjanjian? Harus seperti itu?’


“Tentu saja! Saya serius ingin Ibu menikah dengan saya. Dan saya tidak akan membiarkan Ibu memiliki celah untuk menghindar.”


Tenang Mikhaela. Dia pasti sedang menggertakmu. Di umurnya yang sekarang ini, dia pasti sedang menyukai tantangan. Tetapi, soal menikah? Dia tidak mungkin segila itu, dan orang tuanya tidak akan mungkin setuju dia menikahi wanita yang lebih tua lima tahun darinya.


“Oke! Deal!” Arka menggenggam erat jabatan tangan Mikhaela dan menarik tubuh Mikhaela mendekat. “Nikmatilah kebebasan Ibu yang tinggal dua bulan lagi. Setelah itu, jangan harap Ibu bisa tersenyum kepada pria lain, selain saya,” bisik Arka tepat di samping telinga Mikhaela.


Mikhaela langsung mendorong kuat tubuh Arka. Ada sisi gelap Arka yang terkadang menakutkan bagi Mikhaela.


“Ka—kamu boleh keluar sekarang.”


“Tentu saja. Setelah keluar dari ruangan ini, saya akan menjadi seorang pribadi yang Ibu inginkan.” Senyuman kemenangan Arka mengiringi kepergiannya yang mulai membuat Mikhaela menyesali keputusannya.


Arka bahkan sempat membalikkan badannya sambil tersenyum, seakan ia tahu kalau Mikhaela sedang memperhatikannya.


“Aku harap dia tidak serius dengan keinginannya. Tidak mungkin dia serius, kan? Usianya masih 18 tahun, bagaimana bisa ia memiliki keinginan untuk menikah dengan wanita yang lebih tua darinya?”


Sejak Arka keluar dari ruang guru, sikap Arka benar-benar bertolak belakang dengan apa yang dia lakukan. Sebelumnya, Arka memang murid yang ramah dan menyenangkan, dan ia tetap bersikap yang sama, hanya saja tidak ada lagi kenakalan yang ia lakukan.


Sudah satu bulan ini, Arka tidak lagi dipanggil ke ruang guru. Anehnya, hal ini justru membuat Mikhaela gelisah. Arka sepertinya tidak menemui kesulitan untuk menjadi murid yang baik.


“Saya benar-benar kagum,” puji Pak Johan, sang kepala sekolah, kepada Mikhaela saat mereka bertemu di lorong sekolah. “Tidak ada keluhan lagi mengenai kenakalan Arka. Apa yang sebenarnya Anda katakan padanya?”


“Oh, Arka hanya perlu di ajak bicara baik-baik dan diberikan pengertian, Pak.”


“Hanya itu?” kening Pak Johan mengerut sebagai pertanda kalau ia tidak percaya untuk menaklukkan Arka hanya perlu dengan kata-kata.


Mikhaela mengangguk sambil tersenyum.

__ADS_1


Tentu saja Mikhaela tidak mungkin mengatakan soal perjanjian bodoh yang ia tanda tangani satu hari setelah ia dan Arka berjabat tangan. Arka benar-benar membawa surat perjanjian bermaterai untuk mengikatnya.


“Baiklah. Saya harap dia akan tetap seperti ini sampai kelulusan nanti. Saya permisi dulu.”


“Baik, Pak.”


Mikhaela pun berjalan menuju kelas untuk mengajar.


Seperti kelas pada umumnya tanpa seorang guru, sudah pasti kelas itu akan ricuh dan murid-murid akan asyik dengan kegiatan mereka masing-masing.


Semua itu langsung berubah sunyi ketika Mikhaela masuk ke dalam kelas. Semua langsung duduk rapi di tempat mereka masing-masing.


Sudah satu bulan ini juga Arka pindah duduk di barisan terdepan dengan alasan agar ia bisa berkonsentrasi lebih baik. Tentu saja alasannya sebenarnya bukan hal itu.


Arka sengaja duduk di paling depan hanya pada saat Mikhaela mengajar. Ia ingin menatap Mikhaela dari dekat selama pelajaran berlangsung dan memastikan Mikhaela akan lebih sering melihat ke arahnya.


“Hasil tes minggu kemarin sudah selesai Ibu periksa. Ibu akan membagikannya. Ibu akan memanggil secara acak dan setelah itu kalian boleh pulang.”


Satu persatu nama di panggil oleh Mikhaela, dan nama Arka adalah nama terakhir yang ia panggil. Mikhaela memang sengaja melakukannya karena ada yang ingin ia bicarakan dengan Arka.


“Kamu tidak mencapai target yang kita sepakati. Nilaimu tidak mencapai nilai tertinggi.”


“Kesepakatan kita adalah untuk ujian akhir, bukan? Apakah Ibu khawatir kalau kesepakatan kita akan batal karena aku gagal, dan Ibu tidak jadi menikah denganku?


Ruang kelas sudah kosong, karena itulah Arka berani berbicara segamblang itu.


“Kamu harus lebih serius. Ibu tahu kamu bisa mendapatkan nilai lebih baik dari ini.” Mikhaela memilih untuk mengabaikan kata-kata Arka.


“Mungkin, saya memerlukan bimbingan dari seorang guru agar nilai saya bisa meningkat dengan pesat.” Arka mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Mikhaela. “Bagaimana kalau setelah pelajaran usai, Ibu memberikan bimbingan tambahan kepada saya?”


Mikhaela memundurkan kursinya untuk menjaga jarak. “Ibu rasa, kamu bisa pulang sekarang.”


Arka tersenyum. Ada sebuah ide menarik yang muncul di dalam kepalanya.


“Saya akan pulang, pikirkanlah permintaanku.”


Arka keluar dari kelas, tetapi tidak menuju pintu gerbang utama sekolah. Ia menuju sebuah ruangan yang akan mewujudkan ide cemerlang yang baru saja muncul tadi.

__ADS_1


- Eireen -


__ADS_2