Terpaksa Menikahi Murid

Terpaksa Menikahi Murid
Kecemburuan Dewa


__ADS_3

"Bagaimana mungkin Kakak mengenalnya? Kakak hanya tidak ingin kamu dimanfaatkan. Dia hanya anak yatim piatu dan bekerja sebagai seorang guru, kan? Sedangkan kamu?"


"Memanfaatkan aku? Justru aku yang memanfaatkannya. Berada di dekatnya dan bisa menyentuhnya adalah sesuatu yang akan hanya bisa dilakukan olehku saja."


Jemari tangan Dewa mengepal. Ia tidak suka dengan perkataan Arka yang mengatakan kalau hanya Arka yang bisa menyentuh Mikhaela.


Arka melihat kepalan tangan itu dan tersenyum. Ia pun menepuk pundak Dewa sebelum ia melangkah masuk kembali.


"Aku tidak akan membiarkan siapapun bisa menyentuhnya lagi. Termasuk Kakak."


Setelah membisikkan kata-kata itu, Arka melangkah meninggalkan Dewa yang terlihat terkejut. Ia langsung menoleh ke arah Arka yang menghampiri dan mencium pelipis Mikhaela.


Apakah dia tahu sesuatu?


Dewa pun ikut masuk ke dalam dan duduk di sofa ruang tamu. Ia memperhatikan setiap gerak-gerik Arka yang tidak bisa jauh dari Mikhaela.


Dia akan membayar mahal karena membiarkan pria lain menyentuhnya.


Setelah hidangan penutup siap, Arka mengajak Mikhaela untuk menikmati hidangan itu di tepi kolam renang, menjauh dari keluarganya. Arka tidak ingin ibunya terlalu menguasai Mikhaela karena sepertinya, ibunya mulai jatuh hati pada calon menantunya dan tidak membiarkan Arka bebas berdekatan dengan Mikhaela.


"Sepertinya, ibuku menyukaimu." Arka mengajak Mikhaela duduk di tepi kolam renang sambil menyuapi sepotong kue ke mulut Mikhaela. "Apakah kamu merasa nyaman dengan keluargaku?"


"Mereka baik," jawab Mikhaela singkat. Ia bisa merasakan ada pandangan menusuk yang sedang mengarah kepadanya.


"Yang kamu khawatirkan tidak terjadi, kan? Mereka menerimamu." Arka mengusap ujung bibir Mikhaela dengan jari tangannya karena ada sisa kue yang menempel di sana.


"Kenapa kamu sampai berkorban agar mereka menerimaku dan melakukan sesuatu yang tidak kamu sukai?"


"Tidak ada alasan apa-apa. Tujuanku adalah kamu. Jadi, apapun yang bisa membuat aku mendapatkan mu, akan aku lakukan."


"Aku tetap tidak mengerti mengapa aku."


Arka tersenyum dan membelai rambut Mikhaela. "Kamu tidak perlu mengerti. Yang harus kamu tahu adalah, kamu hanya akan menjadi milikku. Aku bukanlah pria yang bisa membagi miliknya dengan orang lain."


Wajah Arka mendekat sambil jari tangannya mengusap lembut pipi Mikhaela. Ketika bibir mereka hampir bertemu, sebuah suara yang tidak Arka harapkan pun terdengar.


"Papa memanggilmu."

__ADS_1


Arka berhenti dan menjauh dari Mikhaela. "Tunggu aku sebentar di sini. Aku akan segera kembali."


"Tapi, Arka ...."


Mikhaela tidak sempat mencegah Arka pergi. Mikhaela bukan takut ditinggal sendiri, tetapi Dewa masih berdiri di sana seakan menunggu kesempatan untuk bisa berbicara berdua dengan Mikhaela.


Sesaat setelah Arka pergi, Mikhaela berdiri dan bermaksud untuk kembali ke dalam, tetapi lengannya langsung dicengkeram oleh Dewa dengan kuat.


"Kamu pikir, kamu bisa menghindar dariku?"


Mikhaela tidak dapat bergerak. Ia hanya bisa berdiri di samping Dewa sambil berharap ada yang melihat mereka sehingga Dewa tidak akan berani melakukan apa-apa.


Harapan Mikhaela harus pupus karena ia tidak melihat Sisca ataupun Sonya di dalam.


"Kalau kamu mencari bantuan, kamu tidak akan mendapatkannya. Mereka sedang sibuk di ruang keluarga."


Dengan cepat Dewa menarik Mikhaela ke arah pojok tembok yang tersembunyi. Bram menyudutkan tubuh Mikhaela dan langsung mencengkeram pipi Mikhaela dengan kuat.


"Kalau aku tidak datang, apakah kamu akan membiarkan dia menciummu?"


Pipi Mikhaela terasa sakit dan tatapan Dewa benar-benar membuatnya ketakutan. Ia sangat berharap Arka segera kembali dan menemukannya.


Dengan kasar Dewa langsung melahap bibir merah Mikhaela dan sebelah tangannya menahan tengkuk Mikhaela agar Mikhaela tidak dapat menghindar. Sebelah tangan lainnya langsung meremas kasar salah satu puncak tubuh Mikhaela sampai Mikhaela menitikkan air mata.


Mikhaela sudah hampir kehabisan napas ketika ia mendengar suara Sisca memanggil nama Dewa. Akhirnya Dewa melepaskan pertautan bibir mereka dan kembali mencengkeram wajah Mikhaela.


"Temui aku besok di tempat biasa. Aku akan memastikan kamu akan mengingat siapa yang berhak untuk menyentuhmu."


Mikhaela langsung merosot lemas terduduk di lantai. Sekujur tubuhnya gemetar karena ketakutan dan tidak berani membayangkan nasibnya esok hari.


Tidak lama setelah Dewa meninggalkannya, Mikhaela mendengar suara panggilan Arka. Ia langsung merapikan pakaian dan juga berusaha untuk tersenyum agar Arka tidak dapat melihat ketakutannya.


"Kamu sedang apa di sana?" tanya Arka ketika melihat Mikhaela muncul dari sudut belakang kolam renang.


"Tadi aku hanya berjalan sambil menunggumu."


Mikhaela berusaha untuk tidak bertemu pandang dengan Arka. Ia takut Arka menyadari kalau ada sesuatu yang terjadi.

__ADS_1


Arka sempat memperhatikan Mikhaela. Ada yang terasa aneh, tetapi Arka tidak bertanya apa-apa.


Ketika mereka masuk, Arka memperhatikan Dewa yang sesekali melirik ke arah Mikhaela.


"Apakah kakakku melakukan sesuatu padamu?"


Pertanyaan Arka membuat Mikhaela sempat berhenti melangkah sejenak, tetapi kemudian menjawab pertanyaan Arka dengan tenang. "Tidak. Kenapa kakakmu akan melakukan sesuatu?"


"Tidak apa-apa." Arka tidak memperpanjang kecurigaannya, tetapi ia tahu ada yang terjadi di antara Mikhaela dan dirinya ketika tadi ia berbincang dengan ayahnya.


Ternyata Kak Dewa berani mendekati Mikhaela di sini. Aku tadi hanya ingin mengetesnya, ternyata kecemburuannya membuatnya mampu bersikap gegabah.


"Mamaku menawarkan kita untuk menginap. Apakah kamu keberatan?"


"Menginap?" Mikhaela langsung menoleh dengan cepat ke arah Arka. "Tapi aku ...."


"Baiklah. Aku mengerti. Kamu pasti merasa tidak nyaman. Aku tidak akan memaksamu." Arka mengelus puncak kepala Mikhaela dengan lembut, lalu mengecupnya. "Kita pulang sekarang?"


Perasaan Mikhaela campur aduk menerima semua perlakuan Arka yang lembut. Arka terlihat berbeda dengan Arka yang biasa ia temui di sekolah. Arka yang saat ini terlihat dewasa dan memanjakannya. Seakan Arka takut Mikhaela akan terluka.


"Kita pamit dulu sama papa dan mama." Arka menggandeng tangan Mikhaela menuju ruang keluarga.


Semua masih duduk sambil mengobrol di ruang keluarga. Dewa langsung menatap Mikhaela ketika mereka masuk.


"Ma, maaf, kami tidak bisa menginap. Lain kali saja, ya?"


"Wah sayang sekali," ujar Sisca. "Tadinya, aku berharap kita bisa jalan-jalan bersama besok. Kamu bisa meminjam bajuku. Aku meninggalkan banyak baju di sini."


"Iya, maaf. Mikhaela ada keperluan besok." Arka mencari alasan untuk Mikhaela.


Arka dan Mikhaela bergantian berpamitan dengan Bram dan Sisca. Ketika tiba saatnya Mikhaela berpamitan dengan Dewa, Arka langsung menghalangi tubuh Mikhaela dan menarik Mikhaela ke dalam pelukannya.


"Berpamitan tidak perlu saling bersentuhan, kan?"


Dewa tersenyum, tetapi hal itu membuat bulu kuduk Mikhaela berdiri.


"Sepertinya calon suamimu sangat posesif. Mungkin ada baiknya kamu mempertimbangkan untuk menikahinya," ucap Dewa sambil tertawa, tetapi Mikhaela sangat tahu kalau itu adalah sebuah peringatan untuknya.

__ADS_1


- Eireen -


__ADS_2