Terpaksa Menikahi Murid

Terpaksa Menikahi Murid
Kecemburuan Arka


__ADS_3

Mendengar bunyi keras dari arah pintu, Mikhaela langsung segera memakai bajunya dan keluar dari kamar mandi.


"Arka! Apa yang kamu lakukan pada pintu kamarku?" Mata Mikhaela membulat melihat pintu kamarnya yang telah rusak.


"Siapa suruh kalian mengabaikan ku. Aku tidak mengizinkan pria ini menyentuhmu."


Arka langsung segera melangkah masuk dan mendekat ke arah Mikhaela.


"Dasar bocah! Kamu pikir apa yang akan aku lakukan padanya, huh? Aku hanya mengobati punggungnya dan selebihnya, ia melakukannya sendiri. Aku juga tahu batasan," balas Julian kesal dengan sikap kekanakan dan posesif Arka.


"Mau punggung, kaki, atau jari sekalipun, hanya aku yang boleh menyentuhnya!". Memberikan pandangan tajam pada Julian lalu melangkah menghampiri Mikhaela.


Raut wajah Arka langsung berubah lembut. "Apakah ada yang bisa aku bantu?"


"Ada!" jawab Mikhaela tegas.


"Apa?" Wajah Arka langsung menunjukkan senyumannya. Akhirnya Mikhaela lebih memilihnya daripada Julian.


"Aku mau pintu kamarku Kembali seperti semula!"


Setelah itu Mikhaela langsung berjalan kembali ke kamar mandi dan menutupnya. Wajah Arka pun langsung pias karena harapannya membantu Mikhaela mengolesi obat sirna.


Sebuah tawa puas menyapa telinga Arka, dan ia tahu betul dari mana sumber suara itu.


"Kenapa tertawa?" Arka menatap tajam ke arah Julian yang tampak menikmati sebuah adegan di mana ia harus menurut pada Mikhaela.


"Kamu harus tahu, ada kalanya ia sangat keras kepala dan galak seperti tadi. Jangan mengira kalau ia adalah wanita yang lemah."


"Aku tidak menganggapnya lemah. Aku hanya ingin dia merasa membutuhkan aku, bukan mencari seseorang yang mengaku sahabat, tetapi tertarik kepadanya."


"Aku? Serius? Mikhaela tidak mengatakannya kepadamu tentang aku?"

__ADS_1


"Dia bilang, hanya saja melihat kamu yang terlalu perhatian, aku tidak percaya. Siapa tahu itu hanya kedokmu supaya Mikhaela tidak merasa kalau semua perhatianmu ada maksud lain."


"Terserah pikiranmu saja Arka. Asal kamu tahu, yang Mikhaela butuhkan bukan bocah ingusan yang selalu cemburu pada orang-orang di sekitarnya. Ia butuh orang yang benar-benar bisa melepaskannya dari bajingan yang kamu panggil kakak itu!"


Arka terdiam. Ia tahu kalau kata-kata Julian memang benar. Ia harus menghentikan Dewa. Selama ini, ia tidak memperoleh informasi secara lengkap mengenai hubungan Mikhaela dan Dewa. Yang Arka duga selama ini, Mikhaela begitu mencintai Dewa sampai ia rela bertahan meskipun Dewa telah menikah.


Dan ternyata, selama ini Mikhaela telah menderita di depan matanya. Seharusnya Arka segera merebut Mikhaela dari Dewa ketika Dewa menikah, tetapi, Arka saat itu belum berhasil bernegosiasi dengan ayahnya.


"Dengar, Arka." Julian berjalan dan berdiri di hadapan Arka. "Kalau kamu tidak yakin bisa melindunginya dari kakakmu, sebaiknya tinggalkan dia sekarang. Jangan memberikan dia harapan palsu dan membuatnya semakin menderita."


"Aku akan melindunginya dari kakakku. Aku akan menikahinya dan kalau perlu, aku akan membawanya pergi jauh dari sini."


"Apakah kamu yakin bisa melawan kakakmu? Kamu bahkan belum lulus SMA. Dan entah apa yang ada di otakmu sampai kamu mau menikah dengannya diusia sekarang ini."


"Aku sudah ingin menikah dengannya dari usiaku 5 tahun."


Dengan cepat Julian menoleh kembali ke arah Arka, setelah sebelumnya ia memandang ke arah kamar Mikhaela.


"Aku jelas tetap mengingatnya, tetapi sepertinya aku tidak meninggalkan kesan apa pun padanya." Arka tersenyum getir. Awalnya, Arka sangat berharap kalau Mikhaela akan mengenalinya seperti ia bisa langsung mengenali Mikhaela.


Akan sangat membahagiakan bila Mikhaela mengenali bocah kecil yang pernah ia selamatkan nyawanya dulu. Seorang bocah yang hidupnya hampir saja berakhir kalau saja seorang malaikat tidak datang menolongnya.


"Siapa kamu sebenarnya, Arka? Mikhaela tidak pernah menyebutkan kamu ketika menceritakan masa lalunya. Tidak ada yang spesial sampai membuat seseorang ingin menikah dengannya sejak kecil."


"Dia pernah menyelamatkan nyawaku." Arka menatap dalam ke arah kamar Mikhaela. "Aku tidak pernah melupakannya sejak saat itu. Aku selalu membuntutinya sampai akhirnya liburanku usai dan aku harus kembali ke Amerika."


"Dari kecil kamu memang memiliki kebiasaan yang tidak baik ternyata." Julian tertawa. Ia ingat bagaimana kelakuan Arka yang cukup merepotkan di sekolah.


"Aku tidak tahu apa rencanamu untuk melindunginya, tetapi jika kamu gagal, aku sendiri yang akan membawanya pergi darimu. Dan jangan harap kamu bisa menemuinya lagi."


Julian melangkah menuju pintu keluar. Sebelum ia membuka pintu, ia menoleh ke arah Arka. "Untuk saat ini, aku memilih untuk percaya padamu. Aku akan pulang, tetapi aku akan kembali untuk melihatnya. Aku harap, apa yang aku temukan hari ini, akan menjadi yang terakhir kalinya."

__ADS_1


Julian lalu membuka pintu dan keluar dari apartemen Mikhaela.


Arka akan membuktikan perkataannya untuk melindungi Mikhaela. Ia memegang kelemahan Dewa, tetapi ia tidak yakin Dewa akan semudah itu ia singkirkan dari kehidupan Mikhaela.


"Loh, Juls ke mana?"


Arka menarik napas mendengar nama sebutan itu. "Julian, Mikha. Namanya Julian. Jangan memanggil namanya dengan panggilan yang terlalu akrab."


"CK! Masih saja itu menjadi masalah? Aku kan sudah bilang kalau Julian dan aku itu tidak ada apa-apa."


Arka memilih untuk tidak mendengarkan penjelasan Mikhaela dan malah menarik Mikhaela untuk duduk di atas pangkuannya.


Mikhaela yang tidak siap dengan sikap Arka yang semakin mesra, langsung mendorong tubuh menjauhkan tubuhnya dan Mikhaela hampir terjatuh ke lantai kalau saja Arka tidak menariknya.


"Duduk baik-baik di sini. Aku calon suamimu, kenapa kamu harus malu?" Arka mengembangkan senyumannya. Jujur saja, wajah Arka terlihat sangat tampan dari jarak sedekat ini dan Mikhaela mengakuinya dalam hati, yang semakin membuatnya salah tingkah


"Ini aneh, Arka! Aku tidak biasa."


"Kalau begitu mulailah biasakan dirimu, karena aku adalah pria yang sangat manja dan selalu ingin dekat dengan orang yang aku cintai."


Kata-kata gamblang itu justru semakin membuat Mikhaela merasa semakin risih.


Di hadapannya adalah seorang bocah yang belum lulus SMA dan adalah muridnya sendiri. Mendengarnya membicarakan cinta dan pernikahan rasanya benar-benar tidak dapat Mikhaela hal yang wajar.


Arka tampaknya tidak peduli dengan kegundahan Mikhaela. Ia malah memeluk tubuh Mikhaela yang masih berada di pangkuannya dan menyenderkan keningnya di bahu Mikhaela.


"Aku akan membuatmu bahagia, Mikha. Aku tidak akan biarkan dia menyentuhmu lagi.* Arka mengangkat kepalanya dan memandang Mikhaela dengan tatapan penyesalan. "Maaf kalau aku datang begitu terlambat. Seharusnya aku ada untuk melindungi mu."


Arka kembali memeluk tubuh Mikhaela yang tidak merespon. Arka tidak peduli. Meskipun saat ini hanya kehadiran Mikhaela yang ia miliki, ia akan mengubahnya. Suatu saat, Arka akan memiliki hati Mikhaela, berapa lama pun yang dibutuhkan, Arka akan tetap menunggu.


to be continued

__ADS_1


__ADS_2