Terpaksa Menikahi Murid

Terpaksa Menikahi Murid
Dia Pulang


__ADS_3

"Arka, kita harus bicara."


Dr. Budi telah selesai memeriksa Mikhaela.


"Bagaimana keadaannya?" Arka melihat sesaat ke arah kamar Mikhaela.


"Tidak begitu baik. Aku menemukan banyak luka dan memar, dan ...." Dr. Budi berhenti sejenak sambil melihat ke arah Arka dengan tatapan serius. "Kamu tahu siapa yang melakukannya?"


"Dia tidak mau mengatakannya secara langsung, tetapi aku tahu siapa yang menyakiti Mikha."


"Apakah dia gadis yang selama ini kamu cari?"


"Aku tidak mungkin bersamanya kalau dia bukan orang itu."


"Kalau begitu, kamu harus benar-benar membebaskan dia dari Dewa. Ini bukan pertama kalinya saya menemukannya dalam keadaan seperti ini. Bahkan, pernah lebih buruk dari ini."


Arka menatap dr. Budi dengan tatapan tidak percaya. Selama ini, kakaknya sering menyakiti Mikhaela?


"Maksud dokter, Dewa sering melakukan hal ini?"


"Bisa dibilang, Mikhaela adalah wanita yang dijadikan sebuah boneka oleh Dewa. Ia tidak melepaskannya, tetapi tidak juga mencintainya secara benar. Dewa senang menyiksa Mikhaela karena hal itu dapat memuaskan hasratnya."


"Selama ini, aku mengira ....."


"Kamu mengira mereka adalah pasangan yang dipisahkan oleh keadaan karena kakakmu terpaksa harus menerima perjodohannya?"


"Seharusnya aku lebih cepat menemukannya. Selama ini aku mengira ia bahagia dengan kakakku, sampai aku tahu kalau kakakku menikah dan ia masih bertahan di samping Kak Dewa."


"Kalau kamu benar-benar mencintainya, bawa dia pergi sejauh mungkin dari Dewa. Kamu tidak bisa membayangkan penderitaan apa yang selama ini harus ia rasakan di samping Dewa."


"Kalau kak Dewa berani menyentuhnya lagi, aku akan benar-benar membunuhnya."


"Saya harap, kamu adalah malaikat penyelamat untuknya. Dan saya berharap, saya tidak lagi harus melihatnya dalam keadaan seperti ini lagi."


Dr. Budi pun pamit dan pergi dari apartemen Mikhaela setelah memberitahu Arka apa yang harus ia lakukan untuk merawat Mikhaela.


Perlahan Arka masuk ke dalam kamar untuk melihat keadaan Mikhaela. Mikhaela tampak berbaring miring membelakangi Arka. Sekilas Arka dapat melihat beberapa tanda luka dan memar di punggung polos Mikhaela.


Arka mengepalkan tangannya untuk menahan seluruh amarahnya agar ia tidak segera berlari menghabisi kakaknya. Ia masih harus menjaga Mikhaela. Urusannya dengan Dewa akan ia selesaikan nanti.


Arka lalu duduk di sisi tempat tidur Mikhaela dan mengusap lembut kepala Mikhaela. "Aku bantu kamu berpakaian, ya?"

__ADS_1


Perlahan Mikhaela menggelengkan kepala. "Aku ingin mandi dulu," jawab Mikhaela perlahan.


Arka terdiam sejenak. Dalam keadaan seperti ini, mana mungkin Mikhaela bisa mandi seorang diri.


"Baiklah. Aku akan menyiapkan air hangat dan aku akan bantu kamu mandi."


Lagi-lagi Mikhaela menggelengkan kepala. "Tinggalkan aku sendiri, Arka. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku."


"Kamu calon istriku, Mikha. Bagaimana mungkin aku tidak mengkhawatirkan mu?"


"Berhenti memanggilku calon istri, Arka. Kamu sudah lihat sendiri bagaimana kehidupanku. Jangan memaksa masuk dan ikut terseret di dalamnya."


Arka tidak menjawab. Ia akan mengabaikan semua perkataan Mikhaela. Setelah tahu apa yang terjadi, Arka semakin tidak ingin meninggalkan Mikhaela.


Arka melangkah masuk ke dalam kamar mandi dan menyiapkan air hangat untuk Mikhaela. Setelah itu, Arka mengambil pakaian di dalam lemari dan meletakkannya di ujung tempat tidur.


"Aku sudah menyiapkan air panas dan bajumu. Aku akan menyiapkan sarapan dulu." Arka lalu mengecup pelipis Mikhaela untuk mengatakan pada Mikhaela kalau Arka tidak akan kemana-mana. Arka akan tetap di sisinya.


Lima belas menit berlalu. Sarapan yang Arka buat sudah siap dan Arka pun membawanya ke dalam kamar Mikhaela.


Arka tidak menemukan Mikhaela di dalam kamar dan masih melihat pintu kamar mandi yang masih tertutup.


"Mikha." Arka mengetuk pintu. "Sarapanmu sudah selesai. Jangan terlalu lama berendam. Nanti kamu sakit."


"Aku suapi, ya?" Arka mengambil piring dan duduk di sebelah Mikhaela. "Kamu sudah merasa lebih baik?"


Mikhaela tetap tidak menjawab. Ia hanya sesaat memandang Arka, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Mikhaela pun hanya menurut ketika Arka menyuapinya sampai semua sarapannya habis tak bersisa.


"Aku senang melihatmu menghabiskan sarapanmu. Setelah ini, aku akan membeli obat untuk lukamu." Arka meletakkan piring di atas meja. "Aku hanya akan pergi sebentar. Kamu istirahat saja dulu."


Belum sempat Arka melangkah, Mikhaela menarik ujung kemeja yang Arka pakai. "Jangan pergi. Aku takut dia kembali."


Arka pun berbalik dan duduk kembali. "Baiklah aku tidak akan ke mana-mana. Aku akan meminta seseorang untuk membelikannya." Arka membelai lembut pipi Mikhaela dan mengantar Mikhaela untuk kembali berbaring agar bisa beristirahat.


Arka menemani Mikhaela sampai Mikhaela tertidur. Setelah itu ia meminta salah seorang orang kepercayaan ayahnya untuk membeli semua obat yang Mikhaela butuhkan.


Keinginan Arka untuk segera menemui kakaknya sangat besar, tetapi ia belum bisa meninggalkan Mikhaela. Mikhaela tampak masih ketakutan dan ia juga tidak ingin mengambil risiko kalau Dewa sampai datang kembali.


Tidak lama, ketukan pintu terdengar.


"Bukankah aku baru saja menyuruhnya? Kenapa dia cepat sekali sampai?"

__ADS_1


Arka pun melangkah untuk membuka pintu dan Arka terkejut melihat siapa yang berada di balik pintu.


"Kamu?"


"Kamu?"


Mereka berdua sama-sama terkejut.


"Sedang apa kamu disini?" Julian langsung mendorong tubuh Arka dan memanggil Mikhaela. "Mikhaela, kamu di mana? Kenapa anak ini ada di sini?"


"Hei! Sedang apa kamu? Aku belum mengizinkanmu untuk masuk!"


Arka menahan tubuh Julian yang sudah mencari Mikhaela. Ia tidak mendapat informasi apa-apa mengenai kepulangan Julian.


"Di mana Mikhaela?"


Julian pun langsung mendorong tubuh Arka dan mengetuk pintu kamar Mikhaela.


"Mikhaela. Kamu di dalam? Aku masuk, ya?"


Perlahan Julian membuka pintu dan terkejut melihat Mikhaela yang sedang terbaring dengan memar di wajahnya.


"Mikhaela!"


Sebelum Julian masuk dan menghampiri Mikhaela, Arka langsung menarik Julian keluar.


"Jangan mengganggunya! Dia baru saja beristirahat."


Julian langsung meraih kerah baju Arka. "Apa yang kamu lakukan padanya!" Tanpa aba-aba, Julian langsung memukul wajah Arka. Arka sempat hampir jatuh terjerembab.


"Aku tidak melakukan apa-apa padanya!" Arka mencoba menahan pukulan Julian berikutnya. "Dengarkan aku dulu!"


Sekali lagi Julian berhasil memukul Arka dan kali ini Arka jatuh terjerembab. Julian langsung mengunci tubuh Arka dan terus memukulnya. Arka hanya mencoba melindungi diri tanpa ada perlawanan.


"Hentikan, Juls." Suara lemah itu cukup untuk membuat Julian berhenti. Ia langsung berdiri dan menghampiri Mikhaela yang berdiri lemah sambil menopang dirinya dengan bersender di bingkai pintu.


"Mikhaela. Kamu sedang apa? Maaf, apakah aku membuatmu terbangun?"


Julian langsung memapah tubuh Mikhaela kembali ke kamar dan mendudukkannya di tepi tempat tidur.


"Bukan Arka yang melakukan ini, Juls."

__ADS_1


- Eireen -


__ADS_2