
“Saya ingin kamu memberikan pelajaran tambahan kepada Arka sampai ujian akhir nanti. Nilainya di mata pelajaran kamu masih kurang.”
Pagi ini, Pak Johan memanggil Mikhaela ke ruangannya. Sebuah alasan yang Mikhaela tahu, pasti Arka yang merencanakannya.
Mikhaela tidak mungkin menolak. Arka adalah tanggung jawabnya, dan nilai terendah Arka justru ada di mata pelajaran yang ia pegang.
“Kamu pasti sengaja melakukannya.”
“Melakukan apa?”
Saat pelajaran sudah usai, Mikhaela memanggil Arka ke ruangannya.
“Semua nilai pelajaran mu memuaskan, kecuali di mata pelajaran saya.”
“Saya tidak melakukannya dengan sengaja. Semua itu karena pelajaran yang Ibu ajarkan memang sulit. Apalagi ketika saya harus berkonsentrasi dengan jarak yang sangat dekat dengan Ibu.”
“Tidak ada yang memintamu untuk pindah ke bangku paling depan, kan?”
“Saya mengira, dengan saya melakukan hal itu, konsentrasi saya akan maksimal.”
“Lalu, kenapa kamu tetap duduk di barisan depan?”
“Saya ingin memperhatikan calon istri saya dengan detail.”
“Arka! Berhenti bermain-main!” Mikhaela membulatkan matanya. Justru hal itu membuat Mikhaela terlihat sangat menarik di mata Arka.
“Tidak ada yang sedang bermain. Apakah saya salah? Seingat saya, perjanjian kita mengatakan kalau kita akan menikah ketika saya berhasil memenuhi permintaan Ibu.”
“Kamu belum berhasil, kan? Jadi Ibu rasa, panggilan itu tidak bisa kamu gunakan dulu.”
“Jadi, setelah saya berhasil, saya bisa menggunakannya? Benar, kah? Di sekolah ini juga?”
Wajah Arka terlihat seperti seorang anak kecil yang baru saja mendapatkan sebuah mainan baru. Terlihat sangat berseri.
“Jangan senang dulu. Buktikan dulu kalau kamu mampu mencapai kesepakatan kita.”
“Oke! Tapi, Ibu juga harus ingat, kalau tidak akan ada pembatalan tentang kesepakatan kita. Saya akan berhasil dan Ibu akan menjadi istri saya.”
Mikhaela terdiam. Sejujurnya ia mulai merasa gentar. Arka tampak belum berubah pikiran dan masih dengan yakin ingin menikahinya.
Sebenarnya Mikhaela pun tidak mengerti mengapa Arka begitu bersikeras meminta hal itu sebagai persyaratan mereka. Arka bisa saja meminta hal lainnya, bukan dengan mengikat masa mudanya yang masih panjang dengan gurunya sendiri.
“Apakah Ibu mulai berpikir untuk mundur? Tidak ada kata mundur untuk perjanjian kita. Aku pasti akan bisa membuat Ibu menikah dengan saya walaupun dengan cara mengancam Ibu.”
“Takut? Tentu saja tidak. Mengapa Ibu harus takut? Yang seharusnya takut adalah kamu. Apakah kamu yakin ingin menikah dengan seorang wanita yang lebih tua dari kamu, dan kehilangan kebebasan kamu di usia muda?”
__ADS_1
Mikhaela mencoba untuk membuat Arka ragu dengan memberikan bayangan masa depan yang akan Arka hadapi.
Arka tidak pernah ragu, tetapi Arka tidak akan mengatakan alasan mengapa ia bersikeras untuk menikah dengan Mikhaela. Setidaknya tidak sekarang.
“Saya tidak seperti anak lain yang mungkin Ibu temui selama ini. Saya sudah tahu apa yang saya mau, bahkan sejak saya belum menginjakkan kaki di sekolah dasar.”
Mikhaela tidak mengerti kata-kata Arka. Arka sudah tahu kalau ia ingin menikah dengan Mikhaela sejak ia kecil? Tetapi, mereka bahkan baru saja bertemu. Atau mungkin maksud Arka adalah ia ingin menikah di usia muda? Bisakah anak kecil berpikir sejauh itu?
“Kamu boleh pergi sekarang.”
“Apakah tidak akan ada pelajaran tambahan hari ini?”
“Tunggu Ibu di kelasmu. Ibu akan segera ke sana.”
“Oke.”
Arka melangkah keluar ruangan. Ia sudah tidak sabar agar hari-hari cepat berlalu sampai ujian akhir tiba. Arka sangat percaya diri kalau ia bisa mencapai nilai tertinggi. Selama ini ia sengaja tidak menunjukkan kemampuannya yang sebenarnya.
Lima menit berlalu, Arka melihat Mikhaela sedang berjalan menuju ke kelas dengan Julian berada di sampingnya. Mereka tampak sangat akrab dan bahkan tertawa bersama.
Sabar, Arka. Tidak lama lagi kamu bisa menyingkirkan pria itu. Jangan terbawa emosi. Kamu punya senjata ampuh untuk membuatnya bertekuk lutut.
Arka mencoba menahan diri dari pemandangan yang tidak ia suka. Ia sudah pernah menghajar seorang murid karena berani menatap Mikhaela, dan sekarang, seorang pria bahkan bisa sedekat itu dengan Mikhaela tanpa seizinnya.
“Tidak, Juls. Kamu pulang duluan saja. Aku akan baik-baik saja.”
“Oke. Kabari aku kalau kamu sudah mau pulang dan sampai di rumah.”
Julian melepaskan pandangannya ke arah dalam kelas. Ia melihat kalau Arka sedang menatapnya dengan tajam.
“Kalau terjadi sesuatu, segera hubungi aku.”
Mikhaela mengangguk. “Tenang saja. Tidak akan ada yang terjadi. Satpam sekolah juga masih berjaga di depan, kan?”
“Aku akan memintanya sesekali untuk masuk dan melihat keadaanmu.”
“Jangan berlebihan, Juls.”
“Baiklah. Maafkan aku. Aku duluan, ya?”
“Oke. Hati-hati.”
Semua percakapan itu bisa dengan jelas Arka dengar. Percakapan yang ingin sekali ia akhiri dengan melempar lelaki itu jauh dari Mikhaela.
“Romantis,” sindir Arka ketika Mikhaela masuk ke dalam kelas.
__ADS_1
“Apa?” tanya Mikhaela bingung.
“Kalian berdua.”
“Kamu cemburu?” tantang Mikhaela yang sengaja ingin melihat reaksi Arka.
“Padanya? Dia bahkan tidak bisa dibandingkan denganku.”
“Kalau begitu, bukan masalah besar kalau Ibu akrab dengannya, kan?”
“Untuk saat ini.”
Arka tidak berminat untuk melanjutkan percakapan mereka dan memilih untuk mengeluarkan buku pelajarannya. Ia tidak ingin terpancing dan melakukan sesuatu yang bisa ia sesali.
Anak yang cukup arogan dan memiliki ego yang tinggi. Aku tidak boleh memancingnya kalau tidak ingin terjebak sendiri.
Mikhaela bisa menangkap kalau Arka memang tidak suka melihat kehadiran Julian di dekatnya. Mungkin karena Arka menganggap Mikhaela seperti sebuah benda miliknya dan tidak ada yang boleh menyentuhnya.
“Ibu ingin kamu mengerjakan dua puluh soal ini. Satu jam cukup?”
Arka melihat sekilas soal-soal itu. “Setengah jam.” Arka mulai mengerjakan soal itu dengan cepat tanpa ada kesulitan apa pun. Bahkan sebelum setengah jam Arka sudah memberikan semua jawabannya kepada Mikhaela.
Mikhaela melihat jawaban Arka satu persatu. Tidak ada satu pun yang salah.
“Ini adalah soal esai untuk tes kemarin. Kamu bisa mengerjakannya dengan tepat hari ini, tetapi kenapa kemarin kamu melewatkan banyak pertanyaan yang tidak kamu isi?”
“Aku tidak dapat berkonsentrasi. Mungkin aku harus mengerjakan tesku secara private seperti ini, dengan Ibu yang mengawasi ku.”
“Apakah itu kalimat rayuanmu?”
“Does it works?”
“You have to do better than that.”
Arka tertawa. “Baiklah. Aku akan banyak berlatih. Sepertinya tidak akan mudah untuk membuatmu tersenyum malu.”
“Ibu bukan wanita kebanyakan yang akan tunduk hanya dengan kata rayuan seperti itu.”
“Benarkah? Baiklah. Aku rasa, aku baru saja mendapatkan sebuah tantangan.”
“Tidak ada yang menantangmu. Jangan membuang waktumu untuk mencari cara untuk merayu gurumu.”
Arka hanya tersenyum. Siang ini ada yang berbeda. Ia merasa kalau Mikhaela tidak menutup diri rapat seperti sebelumnya. Ia merasa bisa berbincang sedikit lebih akrab dengan Mikhaela, dan itu adalah sebuah kemajuan yang ia harapkan.
- Eireen -
__ADS_1