
"Ayo. Aku akan kenalkan kamu pada keluargaku."
Arka menarik tangan Mikhaela untuk menghampiri keluarganya. Mikhaela bisa merasakan kalau ada sebuah tatapan tajam terus menatapnya tanpa terputus. Mikhaela benar-benar tidak berani untuk mengangkat wajahnya.
Semakin ia mendekat, semakin kuat genggaman tangannya pada Arka. Arka dapat dengan jelas merasakan kegelisahan Mikhaela. Ia menarik Mikhaela lebih dekat dan merangkulnya. Tentu saja hal itu membuat pria yang sedang menatapnya menjadi lebih geram.
"Pa, ini Mikhaela. Calon istri yang pernah aku ceritakan."
Saat ini Mikhaela sedang berdiri di hadapan sosok pria paruh baya yang masih terlihat gagah dan tampan di usianya.
"Selamat malam, Om." Mikhaela dengan ragu mengulurkan tangannya. Ia tidak tahu apa yang pernah Arka ceritakan tentangnya dan Mikhaela tidak tahu apakah keluarga Arka menerimanya.
"Malam. Jadi, kamu yang bisa membuat Arka menyerah untuk meneruskan perusahaan Om." Bram terlihat ramah menyambut uluran tangan Mikhaela. "Sejak dulu, Arka tidak pernah mau berurusan dengan usaha keluarga, tetapi demi mendapatkan restu kami, Arka mau melakukannya."
Mikhaela langsung menoleh ke arah Arka. Ia tidak menyangka Arka mau berkorban sebesar itu untuknya. Arka bersedia melakukan sesuatu yang tidak ia inginkan demi Mikhaela diterima di dalam keluarganya.
"Jujur saja, Om tidak keberatan dengan pilihan Arka. Perbedaan usia kalian pun tidak menjadi masalah buat Om. Hanya saja mungkin Arka khawatir kalau hal itu akan menjadi masalah. Apalagi, setahu Om, kamu adalah guru di sekolah Arka sekarang?"
"Iya, betul, Om. Arka adalah murid baru di sekolah tempat saya mengajar. Dan saya adalah wali kelas Arka."
"Oh. Sepertinya anak ini sudah merencanakan semuanya dengan matang. Ia bahkan menempati kelas kamu."
"Kamu kan tahu kalau Arka akan melakukan apa saja untuk mendapatkan keinginannya."
Kali ini Sonya yang angkat bicara. Mereka memang sempat berdebat tentang Mikhaela, tetapi pada akhirnya mereka menerima Mikhaela demi Arka.
"Kami senang kamu bisa bergabung untuk makan malam." Sonya tiba-tiba saja memeluk Mikhaela. "Tante bisa melihat kalau Arka bahagia dengan kehadiranmu."
Perlakuan hangat Bram dan Sonya membuat hati Mikhaela lega. Semua kekhawatirannya sirna, sampai sebuah suara kembali menghadirkan ketakutan baginya.
"Apakah kamu tidak akan memperkenalkan calon istrimu kepada kakakmu?"
Berbeda dengan Arka yang tersenyum tipis mendengar permintaan Dewa, tubuh Mikhaela langsung membeku mendengar suara itu.
__ADS_1
"Tentu saja aku akan mengenalkan calon istriku kepada kakak. Kakak adalah orang yang paling ingin aku kenalkan kepada calon istriku."
Arka berbalik menatap Dewa dengan senyumannya. Mikhaela masih tidak berani untuk berbalik sampai Arka merangkulnya.
"Sayang, ini adalah Dewa, kakakku. Dan Sisca, istrinya."
Arka membawa Mikhaela mendekat kepada Dewa dan Sisca. Sisca yang terlebih dahulu mengulurkan tangannya dan menyambut Mikhaela.
"Hai, aku Sisca, kakak ipar Arka. Aku rasa kita bisa berteman baik."
"Hai, Kak, " balas Mikhaela.
"Dan ini adalah suamiku, Dewa." Sisca mengelus punggung Dewa dan Dewa mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Mikhaela."
Ketika Mikhaela perlahan ingin menyambut uluran tangan Dewa, Arka langsung memegang tangannya dan membawa Mikhaela untuk duduk.
"Aku rasa cukup perkenalannya. Maaf, Kak, hanya papa yang aku izinkan bersalaman dengan Mikhaela. Pria lain tidak boleh menyentuhnya selain aku."
Bram tertawa mendengar bagaimana Arka menjadi begitu posesif.
"Aku harap Kak Dewa akan tetap ingat posisinya. Tentunya, Kak Dewa tidak ingin membuatku marah, kan?"
Arka memang tetap tersenyum pada Dewa, tetapi pandangan matanya begitu tajam sebagai sebuah peringatan.
"Tentu saja, Arka. Kamu jangan khawatir. Apa yang bukan milikmu, tidak seharusnya kamu ambil."
Mungkin tidak ada yang menyadari kalau saat ini ada sebuah perang dingin di antara Dewa dan Arka. Mereka menganggap kata-kata Arka dan Dewa hanya sebuah angin lalu dan gurauan belaka.
"Kalau begitu, kita ke ruang makan saja, yuk! Pasti kalian sudah lapar, kan? Tamu yang kita tunggu juga sudah datang."
Sonya terlebih dahulu melangkah ke arah ruang makan dan meminta para pelayan untuk menyajikan makan malam mereka.
Sepanjang makan malam, Mikhaela memilih untuk lebih banyak diam dan hanya menjawab pertanyaan yang ditujukan kepadanya. Mikhaela hanya merasa tidak nyaman dengan keberadaan Dewa.
__ADS_1
Sikap Arka kepada Mikhaela pun terlihat mesra dan sesekali Arka mengecup tangan Mikhaela yang terus ia genggam sampai ibunya sendiri pun menggoda Arka.
"Mikhaela tidak akan ke mana-mana, Arka. Kenapa kamu terus menggenggam tangannya? Mama tidak menyangka kalau kamu seromantis ini."
"Aku hanya ingin Mikhaela ingat kalau dia adalah milikku. Terkadang ia suka melupakan hal itu," jawab Arka dengan santai. Lalu Arka kembali mencium punggung tangan Arka sambil melihat ke arah Dewa yang sudah terlihat sangat geram.
Seusai makan malam, Sonya memanggil Mikhaela dan Sonya untuk membantunya menyiapkan makanan penutup. Mikhaela bisa melihat kalau Dewa menghampiri Arka yang sedang berdiri di tepi kolam sambil bertanya-tanya apa yang akan mereka bicarakan.
"Apakah Arka memperlakukanmu dengan baik? Aku pikir, Arka adalah sosok yang dingin, tetapi melihat bagaimana dia bersikap, aku benar-benar terkejut," ucap Sisca sambil membantu Mikhaela menata piring.
"Arka memperlakukan aku dengan baik, Kak. Dia sering menggodaku dan senang melihat kalau wajahku memerah," jawab Mikhaela sambil menoleh lagi ke arah Arka. Memastikan mereka berdua tidak bersitegang.
"Tante harap, kamu bisa menjaga Arka dengan baik. Usia Arka masih belia, jujur saja, Tante tidak setuju kalau dia menikah terlalu cepat, tetapi Arka memaksa. Dia bilang, dia tidak mau kalau sampai kamu di rebut oleh pria lain."
Sonya dan Sisca tertawa, sedangkan Mikhaela hanya bisa menunduk malu.
Suasana bersahabat di dapur sangat berbeda dengan suasana yang ada di tepi kolam renang.
Dewa sengaja menghampiri Arka. Ia akan melakukan apapun untuk membuat Arka membatalkan rencana pernikahannya.
"Apakah kamu yakin ingin menikahi wanita yang lebih tua darimu, yang bahkan belum kamu kenal lama?"
Arka menoleh ketika Dewa datang dan langsung mengutarakan keberatannya.
"Kakak keberatan dengan perbedaan usia di antara kami, atau kakak keberatan dengan Mikhaela yang akan menjadi istriku?"
"Apa maksudmu? Kakak hanya tidak ingin kamu salah mengambil keputusan. Kamu masih muda, Arka. Masih banyak gadis lain yang bisa kamu temukan."
"Untuk apa aku mencari gadis lain, sedangkan aku sudah menemukan siapa yang aku cari?"
"Dengarkan Kakak, Arka. Dia bukan gadis yang pantas untukmu. Percayalah pada Kakak."
"Kenapa Kakak begitu yakin? Atau, apakah mungkin Kakak mengenalnya?"
__ADS_1
Arka menatap tajam ke arah Arka. Tanpa perlu Dewa jawab, Arka sudah tahu betul jawaban yang sebenarnya dari pertanyaan itu.
- Eireen -