Terpaksa Menikahi Murid

Terpaksa Menikahi Murid
Segera Menikah


__ADS_3

"Apakah kamu pikir aku tidak tahu semua itu sebelumnya?"


Tanggapan Arka terhadap pernyataan Mikhaela sangat mengejutkan. Mikhaela mengira Arka akan jijik dan meninggalkannya, tetapi apa yang terjadi saat ini?


Mereka sudah berhenti sejak beberapa saat lalu di depan gedung apartemen Mikhaela.


"Lalu? Kenapa kamu masih keras kepala mengejar ku?"


"Karena yang aku inginkan hanya kamu. Tidakkah jawaban itu cukup? Aku tidak peduli apa yang terjadi di masa lalu mu. Yang aku tahu, ketika aku menjadi masa depanmu, semua itu akan terhapus dan tidak akan pernah mengikuti mu lagi."


"Apakah kamu tahu? Kakakmu tidak akan pernah melepaskan aku."


"Jangan terlalu yakin. Aku punya sesuatu yang bisa membuat ayahku mencoret namanya dari hak ahli waris. Sekali saja dia berani menghalangi langkahku, aku akan membuat hidupnya berakhir."


Mikhaela menatap ke arah Arka yang benar-benar tampak berbeda dari Arka yang ia kenal di sekolah. Arka yang ada di hadapannya saat ini membuatnya takut. Arka tampak begitu dingin dan bisa mengenyahkan siapa saja yang akan menghalanginya.


"Aku yang akan menghalangi langkahmu, Arka. Karena aku tidak mungkin bisa meninggalkan kakakmu."


"Kenapa tidak bisa? Apakah kamu menyadari kalau kakakku hanya memanfaatkan mu? Dia sudah menikah, Mikha! Sampai kapan kamu mau menjadi simpanannya?"


Mikhaela memalingkan wajahnya. Ia sudah tidak ingin melanjutkan percakapan ini.


"Sebaiknya aku turun sekarang. Terima kasih untuk malam ini. Salam untuk keluargamu, mungkin aku tidak akan bisa bertemu dengan mereka lagi."


Arka meremas kuat setir mobil di hadapannya ketika Mikhaela membuka pintu. Ia tidak boleh kalah. Arka tidak akan menyerah dan membiarkan Mikhaela hidup di bawah bayang-bayang kakaknya.


"Aku tidak akan pernah mengizinkanmu melepaskan cincin itu. Jadi, pastikan aku akan tetap melihatnya melingkar di jari tanganmu ketika kita bertemu lagi besok."


"Besok?" Mikhaela yang sudah siap untuk turun, langsung menoleh ke arah Arka.


"Kita akan menikah besok. Aku akan membawamu untuk mencatatkan pernikahan kita. Pestanya bisa kita adakan kapan saja kamu mau."


"Jangan gila, Arka! Kamu tidak bisa memaksaku seperti ini!"


"Menurutmu, apa yang akan terjadi kalau keluargaku mengetahui hubunganmu dan Kak Dewa? Oh iya, Kak Sisca juga sedang mengandung. Menurutmu, kalau ia mendengar berita perselingkuhan kalian, apakah tidak akan terjadi sesuatu?"


Mikhaela langsung terdiam. Tidak pernah sekalipun Mikhaela menginginkan keluarga Dewa hancur. Keberadaannya di sisi Dewa pun adalah sebuah paksaan yang tidak dapat Mikhaela hindari.


Arka membuka pintu mobilnya dan berjalan ke sisi Mikhaela. "Aku antar kamu sampai ke kamar." Arka mengulurkan tangannya.

__ADS_1


Mikhaela sempat menatap ragu tangan Arka sampai akhirnya Mikhaela menyerah dan menyambut uluran tangan itu.


"Aku tidak ingin sampai harus mengancam mu, tetapi kamu tidak memberikanku pilihan lain."


"Aku akan menuruti maumu, tapi tolong jangan ganggu keluarga Dewa."


Arka tersenyum pias. "Sebesar itu cintamu untuk kakakku? Bahkan kamu mau berkorban sebesar itu untuknya?"


Mikhaela tidak menjawab kata-kata Arka. Seandainya Mikhaela mengatakan kalau ia menetap bukan karena cinta, Arka pasti akan mendesak Mikhaela untuk mengatakan alasan yang tidak akan pernah mungkin bisa Mikhaela ungkapkan. Jadi, mungkin jalan terbaiknya adalah membiarkan Arka tetap salah sangka kepadanya.


Mereka sudah sampai di depan pintu apartemen Mikhaela, tetapi sepertinya Arka belum rela untuk melepaskan Mikhaela.


"Boleh kah aku masuk? Aku masih ingin bersamamu sebentar lagi."


Tubuh Mikhaela terhimpit di antara pintu dan tubuh Arka. Wajah Arka pun sudah begitu dekat sampai Mikhaela bisa merasakan hawa hangat dari napas Arka.


"Se--sebaiknya kamu pulang, Arka." Kedua tangan Mikhaela mencoba menahan tubuh Arka agar tidak semakin mendekat. Mikhaela merasa tidak nyaman dengan jarak di antara mereka saat ini.


"Kamu takut kalau aku akan melakukan sesuatu?"


"Iya. Aku tidak ingin kamu melakukan kesalahan yang akan kamu sesali nanti."


Tatapan Arka sudah terlihat menahan desiran darah di tubuhnya. Tangan Arka perlahan mengusap bibir merah Mikhaela yang terlihat sangat menggoda.


Segala intimidasi yang Arka berikan mampu membuat Mikhaela mematung dan membiarkan Arka mendapatkan apa yang ia inginkan.


Mikhaela bisa merasakan bagaimana bibir Arka perlahan mulai menyentuh bibirnya dan kemudian dengan lembut Arka menyatukan bibir mereka. Apa yang Arka lakukan sangat berbeda dengan apa yang Mikaela dapatkan dari Dewa selama ini.


Mikhaela bahkan begitu terbuai sampai ketika Arka sudah memisahkan pertautan mereka, mata Mikhaela masih terpejam seolah masih menikmati kelembutan itu.


Arka tersenyum melihat bagaimana Mikhaela tidak menolaknya, bahkan Mikhaela pun membalas pertautannya.


"Aku akan menjemputmu besok jam 9 pagi. Sekarang tidur dan beristirahatlah."


Mikhaela hanya mengangguk. Tidak ada yang bisa ia lakukan. Besok dia akan menikah dengan Arka. Entah apa yang terjadi pada dirinya kalau Dewa mengetahui hal ini. Apakah mungkin Dewa bisa merelakannya? Ataukan justru Dewa akan semakin menyiksanya?


"Aku ingin melihat kamu tersenyum sebelum aku pergi." Arka mengangkat wajah Mikhaela untuk menatapnya.


Mikhaela memaksakan senyumannya. Pikirannya terlalu kalut untuk bisa tersenyum.

__ADS_1


"Berikan aku senyuman yang tulus. Jangan terlihat terpaksa seperti ini." Tangan Arka mengelus lembut pipi Mikhaela.


Mikhaela pun mengabulkan keinginan Arka dan tersenyum setulus mungkin.


"Nah. Senyuman ini yang aku mau."


Arka mengecup puncak kepala Mikhaela sebelum akhirnya ia pamit untuk pulang.


"Jangan berpikir untuk melarikan diri. Aku pasti akan menemukanmu."


"Kemana aku harus berlari? Hidupku ada di tempat ini."


Arka tersenyum. Setidaknya ia tahu kalau Mikhaela tidak akan mencoba untuk bersembunyi besok. "Baiklah aku pulang dulu. Aku tidak ingin calon istriku kurang istirahat."


"Arka!" Mikhaela memukul lengan Arka karena sebutan yang baru saja Arka katakan.


"Aku hanya mengatakan kenyataan. Kamu masuk dulu, baru aku akan pergi."


"Baiklah. Selamat malam, Arka."


"Selamat malam, calon istri."


Dan sebelum Mikhaela menutup pintu, matanya membulat mendengarkan sebutan Arka kembali.


Arka pun lalu melangkah pergi sambil tersenyum dan bersiul bahagia. Besok keinginannya akhirnya terwujud. Setelah menunggu sejak usianya 5 tahun, akhirnya Mikhaela akan menjadi miliknya.


Mikhaela baru saja menutup dan mengunci pintunya ketika sebuah suara menyapa telinganya dan tubuhnya membeku.


"Calon istri?"


Setelah suara itu menyapa, Mikhaela bisa mendengar suara langkah kaki mendekat sampai Mikhaela bisa merasakan embusan napas yang menyentuh tengkuknya.


"Aku tidak pernah mengizinkanmu untuk menikah dengan orang lain. Sepertinya, aku harus memberikan pelajaran yang akan kamu ingat seumur hidupmu."


Setelah itu, Mikhaela hanya bisa merasakan rasa sakit yang bertubi-tubi ketika Dewa menarik rambutnya dan menyeretnya ke kamar. Tubuh Mikhaela di hempas dengan kasar sampai membentur meja di dekat tempat tidurnya.


Tidak cukup dengan hal itu, Dewa kembali menghempaskan tubuh Mikhaela ke atas tempat tidur dan mulai memaksa Mikhaela melayaninya dengan kasar.


Berkali-kali Mikhaela memohon, tetapi Dewa telah dibutakan dengan kecemburuan dan terus melanjutkan semua siksaan itu sampai akhirnya Mikhaela tidak sadarkan diri.

__ADS_1


to be continued


__ADS_2