
Hampir satu bulan ini Mikhaela memberikan pelajaran tambahan sebanyak dua kali dalam seminggu yang sebenarnya tidak diperlukan oleh Arka.
Kesempatan ini Arka gunakan untuk lebih mengenal Mikhaela dan membuat Mikhaela pun mulai terbiasa dengan kehadirannya.
Terbukti dengan sedikit membaiknya komunikasi mereka dan rasa canggung dari Mikhaela yang terlihat jauh berkurang. Tetapi, hal itu belum membuat Arka puas karena Arka belum bisa merebut hati Mikhaela.
Mikhaela memang terlihat lebih akrab dengannya, tetapi perlakuannya tidak ada yang spesial. Masih sama seperti ia memperlakukan murid lainnya. Bahkan Mikhaela terlihat lebih akrab dengan Julian.
Arka harus bersabar. Minggu depan adalah waktu ujian akhir di laksanakan. Arka percaya diri dengan nilai yang akan dia dapat. Yang harus ia khawatirkan adalah kemungkinan Mikhaela mencoba untuk membatalkan perjanjian mereka.
Arka tidak ingin sampai harus menggunakan ancaman untuk bisa menikahi Mikhaela. Usahanya untuk mendekati Mikhaela tidak ingin ia rusak dengan sebuah rahasia yang Arka miliki tentang Mikhaela.
Hari ini, ujian akhir tengah semester hari pertama dimulai. Setiap murid tampak tegang, tetapi tidak dengan Arka. Ia terlihat santai dan penuh percaya diri.
Arka membuka soal yang diberikan dan tersenyum. Tidak sulit baginya untuk mengerjakan semua soal itu. Otak encernya sebenarnya memang terlalu tinggi untuk bersekolah di sekolah biasa seperti ini.
Kalau bukan karena Mikhaela, tidak mungkin Arka pindah dari sekolah ternama untuk anak-anak jenius, dan memilih sekolah biasa seperti ini.
Permintaannya pun sempat di tentang oleh ayahnya, tetapi setelah mengetahui alasan Arka, ayahnya pun mengizinkan, dengan syarat Arka bersedia meneruskan kembali pendidikannya dan mewarisi perusahaan keluarganya.
Ujian akhir telah berlalu dan hari ini pengumuman hasil ujian itu pun keluar.
Para siswa saling berlomba untuk melihat papan besar yang menampilkan hasil-hasil ujian mereka.
Arka hanya berdiri di koridor sekolah sambil memperhatikan seluruh teman-temannya.
“Arka! Bagaimana? Apakah kamu sudah melihat hasil ujianmu?” sapa Pak Johan yang sedang melewati koridor dan menemukan Arka yang terlihat santai tidak seperti teman-temannya yang berkerumun.
“Belum, tapi saya sudah tahu hasilnya.”
“Bapak suka rasa percaya dirimu. Selamat. Kamu tidak perlu melihat ke sana. Kamu mendapatkan nilai sempurna di semua bidang pelajaran. Sampai saat ini, baru kamu yang bisa mencapai hasil sempurna di sekolah ini.” Pak Johan menepuk bahu Arka dengan bangga.
Pak Johan tidak menyangka kalau Arka benar-benar bisa berubah. Tidak lagi mencari masalah, bahkan nilainya naik pesat, walau sebelumnya nilainya tidak di bawah rata-rata kelas.
“Sepertinya Ibu Mikhaela berhasil mengubah mu menjadi anak yang baik dalam waktu singkat. Saya cukup kagum.”
Arka tersenyum. Ia jadi teringat kalau sudah saatnya dia menagih janji Mikhaela.
Bisa Arka bayangkan, Mikhaela pasti saat ini sedang merasa gusar karena Arka berhasil mencapai nilai tertinggi dan tidak lagi membuat masalah apa pun.
“Saya permisi dulu, Pak. Ada seseorang yang harus saya temui.”
“Apakah kamu ingin berterima kasih kepada Ibu Mikhaela?” tanya Pak Johan yang tampak penasaran. Sepertinya kepala sekolahnya memiliki rasa ingin tahu yang besar.
“Iya. Tentu saja saya ingin berterima kasih kepadanya.”
“Baiklah. Kalau begitu segeralah kamu pergi. Tadi Bu Mikhaela tampak sedang bersiap-siap untuk pulang.”
Pulang? Dia berani pulang sebelum bertemu denganku? Pasti dia sengaja ingin menghindar.
__ADS_1
Arka dengan segera melangkahkan kaki menuju ruang guru. Ia tidak akan membiarkan Mikhaela lepas darinya. Perjanjian itu tidak akan bisa dibatalkan dengan alasan apa pun.
Arka sengaja tidak masuk ke dalam ruang guru, tetapi memilih menunggu Mikhaela di luar ruangannya sambil bersandar di samping pintu.
Tidak lama kemudian pintu ruang guru terbuka dan terlihat Mikhaela keluar tanpa menyadari keberadaan Arka karena sedang berbicara dengan seseorang di ponselnya.
“Mencoba melarikan diri?”
Mikhaela yang terkejut hampir menjatuhkan ponselnya kalau saja tidak segera Arka tangkap. Arka sempat melihat nama yang tertera di layar ponsel Mikhaela dan dengan seenaknya ia matikan begitu saja.
Mikhaela yang melihat panggilannya terputus begitu saja menjadi kesal. “Saya sedang berbicara dengan Pak Julian, kenapa kamu dengan seenaknya mematikan panggilan itu?”
“Sepertinya ada yang sengaja melupakan sesuatu. Sekarang, aku sudah berhak untuk menentukan siapa yang bisa dekat denganmu.”
“Bicara yang sopan Arka. Dan kembalikan ponsel saya!”
“Bukankah sekarang kamu adalah calon istriku? Jadi, sebaiknya kita mengubah cara kita berkomunikasi agar bisa lebih akrab.”
“Kita bicara lagi lain waktu. Sekarang saya harus pergi.”
“Pergi dengan Juls?” Arka menekankan kata Juls sebagai tanda kalau ia tidak menyukai pria itu, termasuk cara Mikhaela memanggil namanya.
“Itu bukan urusan kamu.”
Arka langsung mendorong kembali tubuh Mikhaela masuk ke dalam ruang guru dan menguncinya.
“Mau apa kamu?”
Mikhaela terdesak di antara tubuh Arka dan dinding di belakangnya.
“Jangan macam-macam Arka! Ini di sekolah!” bentak Mikhaela yang sedang mencari cara untuk meloloskan diri.
“Jadi, kalau tidak di sekolah, aku bebas melakukan apa saja?”
“Jaga bicaramu. Aku masih gurumu.”
“Tidak ada siapa pun di sini.”
“Lepaskan aku, Arka. Kita bicara sambil duduk, oke?”
“Dan kamu akan mencoba melarikan diri?”
“Kamu pikir saya bisa lari dari kamu?”
“Bisa saja. Siapa yang tahu.”
“Saya serius, Arka. Kita duduk dulu, oke?”
Arka memandang wajah Mikhaela yang tampak serius. Akhirnya Arka melangkah mundur untuk memberikan ruang kepada Mikhaela.
__ADS_1
Mikhaela langsung jalan ke arah sofa di ruangan itu. Rasanya lega untuk bisa melepaskan diri dari Arka yang mengintimidasinya.
“Selamat karena kamu berhasil menempati posisi pertama dan memenuhi janjimu selama dua bulan terakhir ini.”
Arka tersenyum. Ia tahu kalau Mikhaela sedang berbasa-basi padanya karena gugup.
“Lalu, bagaimana dengan imbalannya?”
“Arka, dengarkan Ibu. Usiamu baru 18 tahun. Apakah kamu mau masa muda mu terbuang karena menikah dengan Ibu? Bagaimana kalau suatu saat nanti, kamu ternyata menemukan wanita yang ternyata adalah jodohmu?”
“Aku menentukan jodohku sendiri.”
“Bagaimana dengan orang tuamu? Apa kata mereka kalau tahu kamu akan menikah dengan wanita yang lebih tua, yang adalah gurumu sendiri?”
“Mereka sudah tahu. Mereka tidak keberatan asalkan aku meneruskan pendidikanku dan setuju untuk mewarisi perusahaan mereka.”
Tentu saja Arka sedikit berbohong. Ayahnya memang tahu, tetapi tidak dengan ibunya.
Mikhaela mulai kehabisan alasan. Awalnya, ia berharap kalau orang tua Arka tidak tahu. Jadi, ia bisa menggunakan alasan itu untuk membuat Arka menyerah.
“Ada alasan lain yang ingin kamu gunakan untuk mencoba menghalangi aku dari menikahimu?”
“Ibu hanya mencoba membuka pikiranmu. Kamu akan menyesal kalau memaksa menikah di usiamu sekarang dengan wanita yang bahkan belum kamu kenal baik.”
“Hal itu bisa dilakukan sejalan dengan waktu. Apa yang aku ketahui sekarang, sudah cukup untuk membuatku menikahimu.”
Ponsel Mikhaela kembali berdering untuk yang kedua kalinya. Masih dengan nama yang sama di layar ponselnya.
Arka melirik layar ponsel yang terletak tidak jauh darinya.
Mikhaela mengambil ponsel dan ingin menjawab panggilan itu.
Arka langsung menatap tajam ke arah Mikhaela dengan mengisyaratkan agar ia tidak mengangkat panggilan itu, tetapi Mikhaela mengabaikannya.
“Halo, Juls.”
Mendengar nama itu disebut dengan begitu akrab, Arka mengepalkan tangannya.
“Iya. Sebentar lagi aku selesai. Tunggu aku di gerbang sekolah saja.”
Mikhaela mengakhiri panggilan itu.
“Maaf, Arka. Ibu harus pergi sekarang. Ibu ada janji dengan Pak Julian. Kita bicara lagi besok, oke?”
Mikhaela mengambil tasnya dan berjalan melewati Arka. Arka langsung menarik tangan Mikhaela yang membuat langkah Mikhaela berhenti.
“Kalau kamu berani meninggalkan aku dan pergi dengan dia, kamu akan menyesal.”
Aura Arka terasa berbeda. Mikhaela tidak pernah melihat sosok Arka yang seperti saat ini. Ia tidak perlu menoleh dan melihat Arka untuk tahu bagaimana mengerikannya raut wajah Arka saat ini.
__ADS_1
- Eireen -