Terpaksa Menikahi Murid

Terpaksa Menikahi Murid
Bertemu Dengannya


__ADS_3

"Kamu membawa saya ke mana?"


"Kesebuah tempat yang pasti kamu suka."


Arka tidak peduli meskipun Mikhaela berkata kalau ia tidak mungkin menjadi milik Arka. Ia tetap membawa Mikhaela ke sebuah bukit tempat ia biasa melepaskan penat sejak ia kembali ke Jakarta.


Setelah mobil berhenti di sebuah tanah lapang, Arka lalu membukakan pintu untuk Mikhaela dan tidak segan menggandeng tangan Mikhaela agar Mikhaela mengikutinya.


Mikhaela tidak mencoba melepaskan genggaman tangan Arka. Tidak akan ada gunanya, karena itu juga Mikhaela mengikuti alur yang Arka ciptakan untuk mereka berdua.


Langkah Arka berhenti di sebuah bangku panjang yang menghadap ke arah lembah yang sudah menunjukkan keindahannya di sore hari.


Ia mengajak Mikhaela duduk sambil memandangi keindahan alam di hadapan mereka. Arka tetap menggenggam tangan Mikhaela yang ia letakkan di pangkuannya.


"Aku tidak peduli meskipun kamu belum mencintaiku dan masih ada seseorang di dalam hatimu. Aku melakukan semua ini bukan untuk menerima sebuah penolakan. Katakan saja aku gila, tetapi aku sangat tahu apa yang aku inginkan, dan yang aku inginkan adalah kamu."


Kata-kata itu memang terkesan gila. Mikhaela bahkan tidak mengerti bagian dari dirinya yang membuat Arka bahkan sampai seperti ini. Mikhaela bukan sosok gadis yang sangat menonjol. Memang parasnya cantik, tetapi tidak seistimewa itu untuk sampai seorang pria nekad mengejarnya bahkan ketika Mikhaela menolaknya berulang kali.


Tanpa Mikhaela sadari, Arka sudah menyematkan sebuah cincin berlian di jari manisnya.


"Jangan pernah melepaskan cincin ini, apapun yang terjadi."


Permintaan itu langsung membuat Mikhaela melihat ke arah jari tangannya dan membuat sebuah ingatan Mikhaela hadir kembali.


"Cincin ini? Bagaimana bisa kamu tahu?" Mikhaela memandang ke arah Arka dengan tatapan penuh tanda tanya.


Cincin yang sedang melingkar di jari manisnya adalah cincin yang pernah Mikhaela impikan ketika ia kecil dulu. Siapapun yang menyematkan cincin itu di jari tangannya, makan ialah yang akan Mikhaela nikahi. Begitulah janji yang pernah Mikhaela ucapkan setiap kali Mikhaela memandangi cincin itu dari balik etalase.


Dan saat ini seorang pria yang tidak ia sangka yang menyematkannya.


Arka tidak mengatakan apa-apa. Arka tentu tahu kalau cincin yang telah lama ia simpan adalah cincin impian Mikhaela. Ia melihat Mikhaela beberapa kali menatap ke arah cincin itu ketika mereka bermain bersama dan melewati toko perhiasan itu.


Dan Arka pun berjanji kalau suatu saat nanti cincin itu akan melingkar di jari manis Mikhaela dan ialah yang akan menyematkannya. Janji itu pun kini telah terpenuhi.

__ADS_1


"Kamu pasti akan menyesal karena menyematkan cincin ini di jari tanganku." Mikhaela memutar-mutar cincin yang terlihat pas di jari tangannya.


"Cincin itu memang diciptakan untukmu."


Mikhaela menganggap kalau semua ini hanyalah sebuah kebetulan. Mungkin saja Arka adalah sebuah jawaban doa yang pernah Mikhaela ucapkan dulu, meskipun dalam sebuah keadaan yang mustahil.


"Besok malam aku akan mengajakmu makan malam bersama keluargaku."


"Besok malam? Secepat itu?"


"Tentu saja. Aku tidak berniat mengulur waktu untuk menikahi mu."


"Apakah kamu yakin keluargamu dapat menerimaku? Usiaku jauh lebih tua darimu."


"Mereka tidak akan menolakmu. Percayakan saja semua padaku."


Arka tersenyum. Ia tidak sabar untuk memperkenalkan Mikhaela kepada keluarganya, terutama kehadapan kakaknya, Dewa. Arka sangat ingin melihat raut wajah Dewa ketika melihat bahwa Mikhaela akan menjadi calon adik iparnya.


Tidak ada yang bisa Mikhaela lakukan selain menuruti keinginan Arka. Di sisi lain, sebenarnya Mikhaela berharap Arka bisa menyelamatkannya dari cengkeraman seorang pria yang selama ini membuat Mikhaela tidak dapat menjalani hidupnya dengan tenang.


Julian mengetahui keberadaan pria itu, tetapi Mikhaela tidak pernah menceritakan sejauh apa pria itu menguasai kehidupan Mikhaela. Julian hanya tahu kalau pria itu adalah seorang pria yang tetap mengikat Mikhaela, meskipun ia telah memilih wanita lain untuk selalu menemani hidupnya.


Tetapi ada keraguan yang sangat besar di dalam diri Mikhaela. Pria yang selama ini bersama dengan Mikhaela bukanlah orang sembarangan yang bisa dengan mudah Mikhaela tinggalkan. Ia memiliki sesuatu yang bisa ia gunakan untuk mengancam Mikhaela agar tidak dapat meninggalkannya.


Sedangkan Arka hanya lah seorang anak yang masih SMA, walaupun keluarganya memiliki aset yang luar biasa besar dan cukup disegani sebagai pengusaha di Asia Tenggara.


"Kamu sudah siap?" Arka menjemput Mikhaela di apartemennya.


Mikhaela terlihat jauh lebih muda dari umurnya ketika saat ini ia memakai sebuah dress selutut berwarna gading dengan sebuah hiasan bando kecil yang menghiasi rambut panjangnya.


Tubuh mungilnya tidak menampakkan kalau ia kini telah berusia 23 tahun.


"Apakah kamu yakin?"

__ADS_1


Arka hanya tersenyum dan merangkul pinggang Mikhaela yang sempat membuat Mikhaela sedikit terkejut. Ada rasa hangat yang Mikhaela rasakan. Belum pernah ada yang merangkulnya selembut ini.


Mereka berjalan memasuki lift menuju tempat parkir dan langsung melaju ke arah rumah utama keluarga Arka.


Perlu beberapa saat bagu Mikhaela mengumpulkan keberaniannya untuk menyambut uluran tangan Arka yang menunggunya setelah membuka pintu mobil.


Mikhaela memandang rumah megah yang bahkan tidak pernah terlintas olehnya dapat ia pijaki.


"Jangan takut. Aku tidak akan membiarkan ada yang menyakitimu, sekalipun itu adalah kedua orangtua ku."


Setelah mengambil napas dalam, Mikhaela pada akhirnya berani menerima uluran tangan itu dan menggenggamnya erat.


"Percayalah padaku. Semua akan baik-baik saja."


Mikhaela mengangguk. Ia tidak punya pilihan lain, selain mempercayai Arka.


"Jangan berbicara dengan cara yang biasa kamu lakukan. Sedikit mesralah denganku. Kamu harus mulai membiasakannya."


"Kamu sengaja mengambil kesempatan dalam kesempitan, ya?"


Arka tertawa. Tentu saja tuduhan Mikhaela benar. Kalau bukan karena bertemu dengan keluarga Arka, tidak mungkin Mikhaela mau bersikap mesra padanya.


Arka menggenggam mesra tangan Mikhaela ketika ia memasuki pintu utama dan berjalan menuju ke ruang tamu.


"Selamat malam." Sebuah sapaan yang selama ini tidak pernah Arka ucapkan setiap ia memasuki rumah ini. Ia sengaja mengatakannya agar semua yang sedang asyik bercengkrama di ruang tamu menyadari kehadirannya.


Mendengar sapaan Arka, mereka semua menghentikan pembicaraan mereka dan menoleh. Ketika Mikhaela melihat sosok pria yang duduk membelakanginya menoleh, dalam sekejap genggaman tangan Mikhaela menguat. Mikhaela hampir saja kehilangan kekuatannya untuk berdiri.


Mikhaela yang semula berusaha tersenyum untuk menyembunyikan kegugupannya langsung tertunduk karena mendapatkan sebuah tatapan tajam dari seseorang di sana.


"Ada apa? Apakah ada seseorang yang kamu kenal?" tanya Arka tepat di telinga Mikhaela sambil melihat ke arah Dewa yang saat ini pun terkejut melihat gadis yang Arka bawa sebagai calon istrinya.


Pertanyaan itu tentu saja tidak perlu Mikhaela jawab, karena sejak awal Arka sudah mengetahui hubungan Mikhaela dengan kakaknya, Dewa.

__ADS_1


__ADS_2