
Setelah tahap sign in,
Ruangan yang mendominasi nuansa hijau tua dengan dua orang perawat, satu orang bidan, satu orang dokter spesialis anestesi, satu orang dokter bedah, dan yang terakhir di sana lah Britney berada, menjalankan tugasnya untuk caesarean. Dalam hati ia berdoa kepada Tuhan untuk kelancaran dan keselamatan pasien, bayinya, dirinya, serta teman-temannya.
Setelah semua perlengkapan APD sudah lengkap terpakai lanjut dengan Tahap time out.
Seorang bidan memperkenalkan diri juga perannya, lalu menyebutkan anggota tim IBS serta perannya, "Ny.Kalista 25 tahun 38-39 minggu parturient Kala I fase laten dengan letak kaki, hmmph...,"
"Apakah semuanya setuju pasien tersebut akan di insisi di daerah sini," bidan yang diketahui bernama Laras itu menunjuk area yang akan di insisi dengan gugup.
Sebagian yang berada disana terlihat mengabaikan dan sibuk dengan pikiran masing-masing, sebagian lagi sibuk berbincang seputar operasi tadi pagi.
Hanya Britney yang memasang wajah datarnya dan memperhatikan Laras.
"... hmmh sudah dilakukan pemberian antibiotik profilaksis," Laras menggigit bibir bawahnya, dirinya terlihat sekali sangat gugup.
"Siapa?" tanya Britney dengan nada bicaranya yang dingin.
Laras yang terkejut akan pertanyaan itu dengan menampakkan wajahnya yang kebingungan dan takut menatap wajah dokter Britney dihadapannya. "Maksudnya dok, maaf?" dengan hati-hati bidan muda itu bersuara.
"Yang diberi antibiotik itu siapa? Kamu? Atau saya?" tanya Britney lagi sambil menatap Laras lekat.
Yang lain hanya bisa diam karena Britney memang seperti itu jika mengetahui ada karyawan yang magang di tempatnya. Uji mental jika bisa dibilang.
"P-pasiennya dok, maaf," jawab Laras cepat.
"Kapan pemberiannya?
"60 menit terakhir dok," jawabnya kembali.
Britney hanya membalas dengan anggukan dan memberi kode pada yang lain untuk memulai operasinya.
Setelah berjalan selama delapan menit, suasana menjadi tidak begitu tegang seperti tadi dan suara tangisan bayi pecah di ruangan itu.
"Bayinya perempuan ya bu, cantik seperti dokter Britney," kali ini dokter Hartoyo yang memperlihatkan bayi kepada pasiennya.
"Loh, jangan mau disamakan sama dokter Brit dong baby nya. Nanti nasibnya sama, perawan tua hahaha" dokter Erina kini yang buka suara.
Britney hanya bisa memasang muka masamnya dan fokus mengeluarkan plasenta.
__ADS_1
Semua yang berada disana tertawa, termasuk Laras.
"Laras, jika kamu ingin terus bekerja disini tingkatkan lagi kemampuanmu. Belajarlah pada bidan Gina. Tadi seperti bukan time out yang semestinya!" ucap Britney tegas.
Baru saja bernapas sekarang sudah diberi tegang lagi dengan kata-kata seperti itu, Laras memberi kesabaran untuk dirinya sendiri dalam hati.
"Iya baik dok," sebisa mungkin ia mengeluarkan suaranya.
"Apa? Kamu ingin menjadi POS saja disini?" teriak Britney.
Laras membelalakkan matanya, "Iya baik dok, maaf saya sudah menjawabnya tadi."
Yang lain hanya bisa menahan tawanya melihat tingkah laku Britney kepada Laras.
Masih memasang wajah datarnya Britney melirik sekilas, "Oh saya kira tadi kamu bilang seperti itu."
Laras merasakan hatinya menggebu-gebu, panas, jengkel, bisa-bisanya dokter Britney seperti itu kepadanya.
Setelah operasi selesai dan tahap sign out juga selesai, Britney kembali ke ruangannya.
Wanita itu mendudukkan bokongnya di kursi besar miliknya, wajahnya menghadap ke langit-langit dengan memejamkan kedua matanya, sesekali dirinya memijat pelipis. Lelah. Itu yang sedang dirasakannya.
Dddrrrtt..... Dddrrrtt
LonteNia,
Gue mumet nih, baju olshop kandas dlm waktu 5 jam gilss!! Malem ini kita cabs ya, gue dah ajak LonteMartha. Awas kalo nolak! gue perawanin lo hari ini juga!
Britney tertawa saat membaca kalimat terakhir dari ssahabatnya itu. Sedetik kemudian rasa lelah tadipun berganti dengan semangat membara pada dirinya.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk berpikir, Britney membalas chatnya dengan emoticon saja.
➰➰➰➰
Martha, Nia, dan Britney sudah berada tepat di depan salah satu club ternama di kota Bandung. Yaa, mereka bertiga tidak ingin menghabiskan uangnya di tempat kecil nan murahan yang dikelilingi banyak bocah sekolah.
Nia yang sangat bersemangat mendahului masuk, dibuntuti oleh Martha dan Britney.
"Ney, lo kenapa si murung gitu? Ada yang dipikirin ya?" tanya Martha.
__ADS_1
Nia yang menyadari namun tidak menggubrisnya, ia sibuk update status di instagram.
"Gapapa Mar, pesenin gue Absinthe Joie De France ya."
Nia yang mendengar itu langsung menghampiri Britney dan mengarahkan kameranya, "Gils ga nih guys temen gue pesennya keren abis, eeh.. hai Cleo, sini dong samperin kita, ada LonteNey dan LonteMar nih," seketika suara Nia berubah menjadi manja yang dibuat-buat. Rupanya ia sedang live instagram.
What? Live instagram?!
Dengan cepat Britney meraih ponsel milik Nia, mematikan datanya lalu mendengus kesal.
"Elu bego pake live segala, si Ney kan.." Martha menjitak kepala Nia sebal, kelakuan sahabat yang satu ini emang gak bisa di rem.
Nia hanya bisa meringis kesakitan dan menghampiri Britney yang duduk menjauh dari sofanya, "Ngambek? Gue perawanin juga lo sekarang!"
"Apa? Gue ga denger!" teriak Britney karena lantunan musik sudah mulai keras.
"Gue. Yang bayar hari ini. Puas?" kini Nia berbicara tepat di telinga kanan Britney.
"Hahaha, LonteNia baik banget sih uuuh sini peluk peluk,"
"Goblok lu yaa, kalo lu bukan seorang dok..tut gue gak akan tuh kaya beginian ah," decaknya sebal dalam pelukan Britney.
"Btw, baju lo bagus banget Mar," basa basi Nia yang sadar Martha belum bergabung acara peluk-pelukan.
"Brisik lo, lupa kan ama gue!" balas Martha langsung memeluk kedua sahabatnya.
Dua menit berpelukan akhirnya mereka memesan minuman, ralat para minuman yang sangat menggoda mereka. Mulai dari yang berwarna bening seperti air putih, kuning seperti urin, hitam seperti oli, sampai beraneka macam warna mereka pesan. Karena mereka tahu, datang bertiga namun setelah di table pasti akan banyak yang bergabung.
Setelah table dipenuhi oleh botol-botol, orange juice, ice, dan beberapa sloki, mereka bertiga dengan cepat menenggak dari sloki masing-masing.
Jam menunjukkan pukul 02.20 WIB, Nia dan Martha hampir tidak bisa mengontrol diri mereka, dan Britney yang belum merasakan pusing atau enak pada dirinya merasa bosan, lalu memilih pergi ke mobil untuk mendaptkan udara.
Sampainya ia di mobil, jok kemudi ia atur posisinya untuk merebahkan sedikit tubuhnya kemudian meringkuk, suasana hatinya sedang tidak baik malam ini. Tidak mungkin dengan ingatan sialan itu, Britney berusaha memejamkan kedua matanya dengan paksa. Menyingkirkan semua pikiran yang berada di otaknya, gemuruh di dadanya. Sampai akhirnya ia tertidur.
➰➰➰➰➰
APD \= Alat Pelindung Diri
IBS \= Instalasi Bedah Sentral
__ADS_1
POS \= Pembantu Orang Sakit
Insisi \= Luka yang dibuat pada pembedahan