
Feraldi ingin menarik perkataannya beberapa menit yang lalu. Ternyata menjadi seorang ayah tidak seindah yang ia ucapkan tadi, El sangat rewel semenjak bayi itu selesai mandi.
Awalnya El sangat menikmati mandi sorenya, sampai menghabiskan waktu lebih dari lima belas menit dan dua kali mengganti air hangat yang disediakan untuk mandinya. Bayangkan, seorang bayi umur tiga jalan empat bulan mandi selama itu! Mbak Ratih sebagai saksi yang menyaksikan sendiri bahwa El mandi selama itu, dan sekarang El menangis meraung-raung karena acara mandi sorenya sudah selesai.
"Hentikan, El. Saya gak mau nanti kalau Britney pulang kamu berubah jadi Aquaman!" Feraldi merasa kesulitan karena El dari tadi tidak mau diam, minyak telon yang ia pegang terjatuh dan menumpahkan sebagian isinya.
Mbak Ratih kasihan melihat Feraldi yang kesusahan, tapi atas permintaan pria itu ia tidak boleh campur tangan untuk mengurus El hari ini. Tidak seperti biasanya bayi itu sangat rewel, mungkin karena ada Feraldi El seperti itu.
Feraldi mengambil minyak telon yang terjatuh ke lantai, tangannya harus cekatan karena El masih dibaluti dengan handuk, tubuhnya sudah kering, lalu pria itu menuangkan minyak telon ke perut, leher, tangan, kaki, dan punggung dengan sedikit memijatnya pelan. El berhenti menangis, sepertinya bayi itu menikmati yang dilakukan oleh Feraldi.
Setelah memakai minyak telon, Feraldi memakaikan El baju, bayi itu mulai bersuara tidak jelas lagi. Dia menatap kepalan tangannya dan mulai mengisap-isap jarinya, lalu memberikan pandangan penuh curiga Feraldi yang mulai menyisir rambutnya.
"Lihat, siapa yang udah ganteng dan menyaingi papamu ini?"
Feraldi tertawa kecil, memijat telapak kaki El, lalu mencium telapak kakinya. El menggibas-gibaskan tangannya, lalu tertawa sehingga Feraldi melakukannya lagi dan lagi. Telapak kakinya masih halus, gemuk dan pasti akan membuat para wanita gemas tidak kepalang, yang paling penting jika El sudah dewasa ia akan melangkahkan kakinya ke pintu kesuksesan.
Akhirnya acara mandi sore berakhir dengan El menguap beberapa kali, Feraldi merasa bangga pada dirinya sendiri karena sudah berhasil melewati momen pertamanya El dimandikan olehnya.
Wangi khas bayi melekat pada El, dan Feraldi sangat menyukainya.
Ia membawa El ke kamar Britney dan membaringkannya di kasur, empat bantal kecil mengengelilingi El, karena Feraldi pikir bayi kecilnya bisa terjaga dengan para bantal itu.
Matahari hampir terbenam seluruhnya, Feraldi melangkahkan kedua kakinya keluar kamar Britney, ia duduk di sofa ruang tengah membuka ponselnya dan mengecek E-mail yang masuk, dari inbox deretan atas sudah terbuka, pertanda tidak ada dokumen yang harus ia buka.
Rasa lega menghampiri pria itu, baru satu hari ia bebas dari pekerjaan yang membuatnya pusing tujuh keliling. Mbak Ratih datang membawa secangkir teh manis hangat dan menyuguhkannya di meja.
"Nuhun, Mbak." ucapnya sopan.
Mbak Ratih membalasnya dengan anggukan lalu kembali ke dapur.
Feraldi meminum teh hangatnya, suara mobil Britney terdengar memasuki pekarangan rumah, ia sebaiknya menyiapkan diri untuk bertemu wanita itu.
Feraldi mengatur posisi duduknya tegak dengan satu kaki diangkat ke kaki yang satunya, kedua lengannya ia rentangkan di pinggiran sofa, senyumnya ia siapkan sebaik mungkin. Sedetik kemudian ia mengubah posisi tangannya, yang satu menopang kepalanya, Feraldi tak sabar menunggu Britney masuk. Namun posisi itu sepertinya tidak enak untuk dilihat, jadi ia mengubah lagi posisinya. Ia menyandarkan tubuhnya di sofa, satu kaki tetap diangkat ke kaki yang satunya, lalu ia melipat kedua lengannya di depan dada.
Oke, posisi inilah yang Feraldi pilih. Sekarang ia harus tersenyum lebih lebar untuk menyambut kedatangan Britney.
Akhirnya wanitu itu masuk ke dalam rumah dengan raut wajah yang terukir jelas menunjukkan lelahnya ia bekerja, padahal hanya beberapa jam ia berada di klinik, bagaimana dengan Feraldi yang satu hari penuh di perusahaannya dan bergelut dengan berbagai macam lika-liku dunia bisnis, wajah pria itu sangat berantakan.
Kembali dengan Britney, ia melewati begitu saja pria yang membuatnya ingin mengakhiri hidupnya saat bertemu dengan mamanya tadi siang, Feraldi yang menyambutnya dengan senyuman lebar selebar melebihi wajahnya itu tidak dilirik sama sekali seperti tidak melihat siapapun di sana.
"Sepertinya kamu harus memeriksakan matamu ke dokter THT, sayang," ucap Feraldi memutar kepalanya mengikuti arah Britney berjalan.
__ADS_1
Wanita itu mengarah ke pantry dapur, Feraldi masih bisa jelas melihatnya.
"Hari yang melelahkan, sayang?" tanyanya dan masih dihiraukan oleh Britney.
Tidak mau menyerah pria itu bangkit dari duduknya dan menyusul Britney ke pantry dapur, "Kamu harus tahu, saya memandikan El selama lima belas menit dan sekarang ia-"
"Bapak udah gila?" bentaknya dan berlari menuju kamar untuk melihat keberadaan El.
Feraldi berhasil memancing Britney untuk bersuara, ia membuntuti wanita itu ke kamar.
El yang sedang tertidur pulas di kasur besar milik Britney terkejut karena suara langkah kaki Britney yang tergesa-gesa, bayi itu menangis, mata bulatnya mengeluarkan air mata terus menerus, namun Britney merasa lega, suhu tubuh El normal. Ia tadi berpikir El akan demam karena mandi yang terlalu lama, keterlaluan memang Feraldi!
Pria itu berdiri di ambang pintu dan menyenderkan tubuh tingginya, "Dasar bayi manja, mamanya pulang langsung nangis." ujarnya.
Britney menatap kesal Feraldi, "Ini tuh gak lucu ya, pak!"
"Emang kenyataannya tadi El mandi lima belas menit, dia nangis terus pas diangkat keluar dari tempat mandinya. Saya kan gak tega, sayang." balasnya dan melangkah masuk.
"Ugh! Berhenti memanggil saya seperti itu!" Britney menitup kedua telinganya.
El yang masih menangis dan merasa dihiraukan oleh mereka, kini ia menangis semakin kencang, menendang-nendang bantal yang mengelilinginya. Untungnya botol yang masih berisi susu berada di dekat kasur, Feraldi memberikannya pada El yang langsung disambutnya, bayi itu berhenti menangis.
Alasan yang diucapkan Feraldi ia terima.
Britney memijat lengannya pelan, ia berjalan menuju lemari dan mengambil asal kemeja yang digantung, wanita itu membuka baju yang tadi ia kenakan dan menyisakan tanktop hitam, dengan cepat ia memakai kemeja biru bergaris-garis putih, lalu duduk kembali di pinggir kasur. Feraldi sempat melihatnya, ini kedua kalinya pria itu melihat langsung tubuh indah Britney.
Ayolah, Feraldi pria normal pada umumnya. Bagaimanapun juga posisinya sekarang, pria itu merasakan sensasi aneh yang menghampirinya. Tapi, ia tahan sekuat tenaga.
Britney sangat lelah hari ini, mulai dari pagi hari yang mual-kepala pusing, Nisrina yang datang tanpa sepengetahuannya, Feraldi yang mengatakan bahwa ia calon suaminya, Nisrina merencanakan pernikahan, dan sekarang El yang rewel.
Seakan teringat masalah tadi, Britney menghadap Feraldi dan menatapnya tajam.
"Saya mau berbicara serius sama bapak!" ucapnya.
Feraldi tersenyum dan menggeser duduknya mendekat dengan Britney.
Wanita itu salah tingkah melihat senyuman Feraldi, ia menggeser tubuhnya untuk menjauh, jantungnya kembali berdetak kencang.
"Boleh. Kamu mau bicara apa, sayang?" tanyanya dan menggendong El.
Bayi itu telah menghabiskan susunya dan tertidur kembali di pangkuan Feraldi.
__ADS_1
"Pertama, hentikan memanggil saya dengan sebutan itu. Kedua, saya lelah dan keberadaan bapak membuat saya semakin lelah. Ketiga, jelaskan pada mama bahwa kita tidak saling mengenal dan tidak ada pernikahan apapun nanti. Keempat, El akan diadopsi oleh teman saya yang belum mempunyai anak, jadi kita tidak perlu mengurusnya lagi. Kelima, saya tahu bapak sangat sibuk dengan pekerjaan, maka dari itu bapak jangan mengganggu kehidupan pribadi saya dan begitu pula sebaliknya. Kita jalani hidup masing-masing seperti dulu saat kita tidak bertemu." jelas Britney.
Feraldi menyimak dengan baik apa yang dilontarkan Britney, ia masih tersenyum dan menutupi rasa sakit hatinya saat mendengar point kedua sampai terakhir.
"Hanya itu?"
Britney mengangguk mantap. Semua yang diucapkannya berhasil membuat Feraldi tak berkutik sedikitpun.
Pria itu mengambil nafas panjang, "Oke. Pertama, saya mulai suka dengan memanggil kamu 'sayang', atau kamu tidak suka dengan panggilan itu saya akan memanggil kamu dengan 'mama dokter', mungkin itu lebih enak untuk didengar oleh telingamu. Kedua, kamu bisa istirahat semau kamu saat selesai bekerja, saya tidak akan mengganggu kamu. Ketiga, tidak bisa. Saya akan tetap menikahi kamu. Keempat, saya sangat tidak setuju dengan ide gilamu itu. Bagaimana jika mereka tidak becus mengurus El? Kelima, saya sibuk dan bisa mengatasinya. Kita sudah dewasa, Ney! Saatnya membangun rumah tangga, itukan yang diinginkan orang tuamu?" ucapnya dengan dua kali helaan nafas.
"Kamu hanya belum membuka hati untuk saya." lanjutnya.
"Tapi—"
Feraldi menatap dalam manik mata Britney, "Jangan menganggap perkataan saya tadi main-main. Kita tetap akan menikah,"
Britney mengepalkan kedua tangannya, setetes air matanya terjatuh, tidak secepat ini pikirnya.
"Tapi pernikahan itu sangat sakral!" ujarnya dan mengigit bibir bawahnya, ia tidak mau menangis depan pria ini.
"Karena sakral itulah yang bisa membuat kita bersama." gumam Feraldi yang bisa terdengar Britney.
Feraldi semakin mendekatkan posisi duduknya, "Ney, lihatlah." Feraldi menujukkan El yang sedang tertidur pulas di pangkuannya, "El membutuhkan kita. Saya tahu kamu menyanyanginya."
Benar, Britney menyayangi El, tapi bukan karena bayi ini ia bisa menyerahkan dirinya untuk menikah dengan Feraldi. Bagaimana jika pria ini sebenarnya mempunya kekasih, atau bahkan istri dan anak. Mereka sama sekali belum mengenal satu sama lain.
"Ada yang bisa lebih menyayanginya ketimbang saya dan bapak," timpal Britney dan mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
Feraldi terdiam sejenak.
"Kamu mau seperti itu? Oke, baiklah. El bisa diadopsi oleh temannu, tapi kita tetap menikah!" perkataan terakhir Feraldi membuat kepala Britney semakin berat dan pusing, pria itu kembali dingin, senyuman yang dari tadi terukir sudah tidak ada lagi.
"Hal apa yang membuat bapak yakin untuk menikahi saya?" batin Britney berteriak namun ia tidak bisa menanyakan itu, karena dirinya tidak sanggup mendengar lagi suara Feraldi.
Pria itu membawa El ke box lalu membaringkannya di sana, Feraldi keluar dari kamar Britney dan meninggalkannya dalam diam.
Britney menatap lurus ke depan, keadaan sekarang begitu rumit, ia tidak tahu harus berbuat apa. Ada sebagian hatinya mengatakan ia bisa menerima Feraldi dan juga El, namun sebagian besar hatinya malah menyebut nama Bram berkali-kali.
Wanita itu meyakinkan dirinya sendiri, sekarang ia belum melangkah terlalu jauh, dan bisa menghentikan rencana gila Feraldi membawa dirinya ke pernikahan.
__ADS_1