The Baby For Britney

The Baby For Britney
TBFB-3


__ADS_3

Britney memasuki gedung bernuansa biru muda dan ungu, indra penciumannya sudah sangat terbiasa dengan ciri khas wangi bayi-balita disana. Gemuruh di dada dan rasa sesak yang ia rasakan itu seketika menghilang, terganti dengan hatinya yang menghangat, para malaikat kecil telah menanti dirinya.


Creesana Care memiliki empat lantai, dimana pada setiap ruangan memiliki kriteria kelas masing-masing.


Dimulai dari lantai satu untuk kelas Vanilla yang di khususkan untuk penitipan bayi umur 1-6 bulan namun dengan syarat para orang tua atau wali harus membawa ASI yang sudah di persiapkan dari rumah, karena Britney seorang dokter dan sangat mendukung program ASI Ekslusif jadilah persyaratan itu ditentukan, jika bayi tidak mengkonsumsi ASI atau dari awal lahir sudah di berikan susu formula dan ibu dari bayi tersebut tidak keluar sama sekali ASI maka bayi akan masuk kelas Choco, yang tentunya para orang tua atau wali juga sudah mempersiapkan susu formula beserta kelengkapan botol susunya.


Di lantai dua disediakan untuk kelas Nutella yang di khususkan untuk penitipan bayi umur 7-12 bulan. Dan di sebelah kelas Nutella ada kelas Mocha yang dikhususkan untuk bayi yang sudah bisa berjalan sampai umur dua tahun atau batita.


Di lantai tiga disediakan untuk kelas Peach yang di khususkan untuk balita.


Di lantai teratas adalah ruangan Pribadi Britney beserta berkas-berkas penting miliknya.


Bagi para orang tua atau wali tidak perlu khawatir dengan kesejahteraan bayi-balita yang dititipkan di Creesana Care, karena di sana sudah terpenuhi segala fasilitas yang di butuhkan dan terpercaya. Setiap pagi dokter anak akan visite ke kelas masing-masing, Britney dan para karyawan hampir kewalahan dengan peningkatan bayi-balita yang dititipkan di sana, bukannya tidak mau untuk mendirikan cabang Creesana Care, hanya saja Britney belum mempunyai waktu yang cukup.


Tiga orang karyawan di pendaftaran dan administrasi sedang terlihat sibuk dan Britney tak menghiraukannya karena itulah rutinitas mereka setiap paginya, beberapa karyawan yang berpapasan dengan Britney melontarkan salam dan memberikan senyuman terbaik mereka, Britney hanya membalas dengan senyum simpulnya.


Langkah kaki wanita cantik itu berhenti tepat berada di depan lift yang terbuka dan menampakkan stroller biru yang di dalamnya ada seorang bayi, Britney mengedarkan pandangannya cepat lalu menangkap sosok pria berjas rapi memunggungi dirinya sedang menerima telpon.


Sudah sering Britney melihat orang tua seperti ini, mengabaikan anak dan sibuk dengan urusan pribadinya.


Ditariknya stroller itu sampai mengenai kaki pria tadi, "Bapak ini gimana sih sibuk ngobrol lewat telpon sedangkan anaknya dibiarkan di dalam lift, kalau terjadi hal yang tidak di inginkan bagaimana? Bapak kira nyiptain anak itu gampang?" bentak Britney jengkel pada pria itu.


Pria tersebut mematikan sambungan telpon lalu berbalik menatap Britney kebingungan.


Beberapa detik mereka berdua saling memperhatikan, mengagumi satu sama lain, dan tak lama wanita itu tersadar.


"Maaf tadi saya sedikit berteriak, tidak seharusnya bapak meninggalkan bayi di dalam lift sendirian," ucap Britney mengatur suaranya menjadi tegas kembali.


Pria itupun melirik stroller biru dengan mengangkat satu alisnya ke atas, "Bayi siapa ini?" tanya pria itu dengan polosnya.


Britney mengatur nafasnya untuk menahan rasa kesal.


"Saya tidak punya banyak waktu, permisi Pak!" Britney mulai jengah dan beranjak meninggalkan pria itu.


"Maksud kamu apa? Ini bukan bayi saya," pria tadi berhasil mencengkram erat lengan kanan Britney membuat wanita itu berhenti melangkah dan meringis kesakitan.


"Ini bukan bayi bapak? Jelas-jelas yang berada di sini cuma bapak dan bayi ini beserta stollernya."


"Maksud kamu saya kesini bersama bayi ini?" tanya pria itu tanpa melepaskan lengan Britney.


"Jika bukan bapak siapa lagi?"


"Panggilkan saya orang yang bertanggung jawab di sini sekaligus pimpinannya, saya tidak terima ada wanita yang memfitnah saya," ucap pria itu dan menunjuk tepat pada wajah Britney.


Kini jarak antara mereka berdua semakin dekat, "Saya yang bertanggung jawab di sini, tolong lepaskan cengkraman bapak pada lengan saya."


Sedetik kemudian pria itu menghempaskan lengan Britney dengan kasar, sepertinya pria itupun mulai kesal.


"Saya tidak memfitnah bapak, kalau begitu mari kita lihat cctv," ujar Britney.


Pria itu tersenyum sinis seakan meremehkan, "Seorang Feraldi Assegaf benar di fitnah oleh seorang wanita seperti ini."


Pria tampan berjas rapi itu ternyata Feraldi Assegaf, ia adalah seorang pria kaya raya dan terkenal dengan ribuan saham yang dimilikinya, serta segudang prestasi yang ia raih.


Britney mengabaikan pria itu.


Tak lama security pun datang menghampiri mereka.


"Maaf, dokter Britney ada yang bisa saya bantu?" tanya Heru—security Creesana Care—.


Feraldi menatap intens Britney dari bawah ke atas seakan menilai penampilan wanita di depannya, tak menyangka wanita secantik ini seorang dokter sekaligus pimpinan dari Creesana Care.


"Mas Heru, tolong panggilkan Gina untuk bawa stroller ini dan suruh dia periksa bayinya," perintahnya.

__ADS_1


"Dan saya ingin melihat rekaman cctv tadi pagi bersama bapak ini," jelas Britney kepada Heru.


Feraldi yang mendengar itu merasa kesal, "Hey, kamu baru saja panggil dia dengan sebutan Mas? Sedangkan saya kamu panggil Bapak?" ucap Feraldi tak terima.


"Masih untung gak saya panggil bapak almarhum juga," jawab Britney santai.


Feraldi yang kesal dan Heru yang gemas tak kuat menahan tawanya mendengar ucapan Britney seperti itu.


Bayi kecil itu akhirnya mengeluarkan suara, tangisnya yang begitu keras dan membuat Britney juga Feraldi menghampirinya.


"Panggil Gina, Mas! Cepetan!" teriak Britney.


Heru yang gelagapan langsung menuruti perintahnya.


Britney menggendong bayi itu sambil bergumam tidak jelas seakan berkomunikasi dengan bayinya, sementara Feraldi memperhatikan dan tak sengaja tersenyum sekaligus hatinya menghangat melihat adegan di depannya.


Tak lama Gina datang menghampiri mereka, "Tadi kamu datang jam berapa ke sini, Gin?" tanya Britney langsunh tanpa basa-basi kepada Gina—bidan sekaligus orang terpercaya Britney—.


"Sesuai jam kerja, dok," jawabnya.


"Kamu lihat bapak ini bersama bayinya?" tanyanya lagi.


"Masih panggil saya dengan sebutan bapak?" Feraldi yang membuka suaranya.


"Saya sudah bilang, bayi ini bukan milik saya."


"Bapak, kalau bayi ini bukan milik bapak kenapa di tempat ini hanya ada kalian berdua? Jadi, jelas bayi ini bayinya bapak!" tegas Britney lalu menidurkan kembali bayinya yang sudah tidak menangis.


Feraldi yang terpukau melihatnya karena dengan menggendongnya saja bayi itu sudah diam, sungguh luar biasa wanita di yang hadapannya.


"Saya tidak berdua, lagian ada kamu juga di tempat ini. Jadi, bayi ini milik kita berdua!" jelas Feraldi menekankan kata berdua.


Britney terkejut mendengarnya.


Gina terkekeh dan berpikir sejenak mulai mengingat, "Tidak dok, setelah absen saya langsung ke kelas Vanilla karena mengurus bank ASI," jelas Gina.


"Dua puluh menit lagi dokter akan ada operasi, sebaiknya dok—"


"Kita ke ruangan cctv sekarang!" perintah Britney yang langsung di patuhi oleh Gina dan Heru, sementara Feraldi memasang tampang yang tak bisa di tebak.


Sesampainya mereka di ruangan, Heru langsung menampilkan rekaman tadi pagi yang disaksikan oleh Britney, Gina dan Feraldi.


Suasana lantai satu seperti biasa, para karyawan sibuk lalu lalang. Tidak ada seorangpun yang membawa stoller biru itu. Heru menampilkan rekaman di semua ruangan, dan hasilnya tidak ada seorangpun yang membawa stroller biru.


Feraldi berjalan sendirian menuju lift pukul 08.48 WIB dan menekan tombol naik, lalu pria itu melirik jam tangan di lengan kirinya dan menelpon sambil memunggungi lift.


Selang waktu satu menit Britney datang lalu pintu lift terbuka, dan terjadilah adu mulut diantara Britney dan Feraldi.


"Saya juga bilang apa, bayi ini bukan milik saya." ucap Feraldi kalem.


"Ulang sekali lagi rekaman tadi!" ucap Britney itu lelah dan memijat pelipisnya sendiri.


"Maaf dok kita sudah mengulangnya sebanyak 7 kali dan tetap tidak ada orang yang membawa stroller biru itu-" jawab Heru.


"Sudahlah, kita besarkan saja bayi ini." Feraldi memotong pembicaraan.


Semua orang yang berada di dalam ruangan itu takjub melihat pria berjas rapi, gagah nan tampan dengan nyamannya menggendong seorang bayi laki-laki.


"Kamu pemilik sekaligus yang bertanggung jawab disini, maka dari itu kamu juga harus ikut membesarkan bayi ini. Bersama saya." kata terakhir itu penuh penekanan.


Baru saja wanita itu ingin membalasnya, "Saya tidak pernah dibantah, atau kau... dokter Britney akan digugat dan dikenakan sanksi hukum," ucapnya tegas.


Britney menatap pria itu tak percaya, beraninya mengancam seperti itu.

__ADS_1


"Nanti sore saya kembali lagi kesini, dan menjemput kamu." pria itu mendekat ke arah Britney dan menyerahkan bayi yang berada dipangkuannya.


"Juga anak kita." seukir senyuman berhasil terpampang pada pria itu, Feraldi Assegaf.


Britney terpaku dan pipinya merona merah padam.


Feraldi yang sudah melangkahkan kakinya tiba-tiba berhenti dan berbalik arah, "Sebelum saya ke sini, jika ada orang tua dari bayi ini dan mencarinya tolong beritahu saya. Karena gara-gara bayi ini saya bertemu dengan kamu." Feraldi menatap Britney tajam seakan akan membunuhnya.


"Tapi, jika saya yang lebih dulu menjemput kamu ke sini nanti sore dan tidak ada yang mencari bayi ini, kamu harus membesarkan bayi ini bersama saya," jelasnya.


"Bapak tidak bisa memutuskan sendiri seperti itu!" tolak Britney.


Feraldi tersenyum miring, "Berarti kamu mau jalur hukum? Tidak becus sekali pengelola di Creesana Care ini."


Britney tidak terima dirinya disebut seperti itu, "Sebenarnya bapak ke tempat saya untuk apa? Beraninya berbicara seperti itu kepada saya?"


Feraldi mendekat kembali ke arah Britney, menyentuh lembut pipi bayi itu yang masih berada digendongan Britney, dan bergumam pelan "Saya yang sebentar lagi akan menjadi suamimu," suara itu hanya bisa di dengar oleh Britney dan detik itu juga dirinya ingin meledak karena perbuatan pria ini.


Setelah puas dengan perlakuan yang di berikan olehnya, Feraldi bergegas pergi meninggalkan Britney di sana bersama karyawannya.


Pikiran Feraldi berperang setelah keluar dari ruangan itu, seorang yang workaholic jatuh cinta dengan pesona bayi kecil dan ditambah lagi dengan wanita cantik bernama Britney. Pikirannya kini mulai bertambah cabangnya, Feraldi mengusap wajahnya kasar. Semoga dirinya tidak salah bertindak.


Sementra Britney masih di ruangan tadi, "Gina, tolong urus dulu bayi ini. Saya tidak akan ikut operasi, berkas-berkas minggu lalu masih belum di tandatangani. Biar dokter Stefan mengganti saya," jelas Britney.


"Baik, dok. Perlu saya sampaikan kepada yang bersangkutan?" tanya Gina yang sudah mengambil alih bayi itu.


"Tidak usah, Gin. Saya saja."


Setelah keluar ruangan itu Britney memberitahu dokter Stefan yang adalah juniornya dulu di kampus untuk menggantikan dirinya, beruntung dokter Stefan pun bisa menggantikan untuk tindakan operasi tersebut.


➰➰➰➰➰


Di lantai empat ruangan pribadi milik Britney, dua tumpukan berisikan berkas-berkas minggu lalu bahkan bulan kemarin masih ada yang tersisa di mejanya. Satu persatu ia mulai tanda tangani dan membaca isi berkas itu.


Pikirannya kini sudah tak karuan, pria tadi mungkin bercanda akan ucapannya, namun sorot matanya yang begitu tajam tak mungkin juga menunjukkan jika pria itu bercanda.


"Apa yang harus gue lakuin kalo bener tu orang nanti sore jemput ke sini," batin Britney.


Assegaf Corp


Seperti pernah mendengar nama itu, Britney kembali membaca lebih detail berkas yang ia pegang.


Tanda tangan Feraldi Assegaf terpampang di berkas itu.


Jadi pria tadi adalah pimpinan sekaligus rekan bisnis Britney di bidang pembangunan yang selama ini ia percaya, sekarang ia harus menandatangani kontrak untuk pembuatan bangunan baru untuk Creesana Care yang sudah diajukan sebulan yang lalu.


Cerobohnya Britney bagaimana bisa Britney melupakan itu.


Sekerterisnya harus diberi pelajaran, karena tidak mengingatkan dirinya akan pembangunan itu.


Suara ketukan pintu terdengar, "Masuk!" titah Britney.


"Maaf mengganggu waktunya, dok. Tadi bapak Feraldi menelpon, jam 15.30 tepat dia akan menjemput dokter dan bayi tadi," tutur Riska karyawan magang di sana.


Britney yang mendengar itu langsung merasakan kembali kekesalannya pada pria yang bernama Feraldi.


"Bilang sama dia, saya banyak urusan dan masih sanggup bawa mobil sendiri, masalah bayi itu biar di besarkan di sini saja." jawab Britney.


"Hmm... maaf dok, saya tidak tahu harus menyampaikannya bagaimana. Bapak Feraldi menelpon lewat telpon kantor."


"Ya kalau si bapak itu menelpon lagi ke kantor, bagaimana sih kamu ini!" bentak Britney kepada karyawan magangnya itu.


"I-iya, baik dok. Saya permisi."

__ADS_1


Britney hanya menggibaskan sebelah tangannya lalu memijat kepalanya yang mulai pusing, hari ini mengapa menjadi hari yang begitu rumit baginya.


__ADS_2