The Baby For Britney

The Baby For Britney
TBFB-4


__ADS_3

Hari itu Britney sungguh disibukkan dengan berkas-berkasnya, diantaranya berbagai jenis produk property untuk endorse di Creesana Care, beberapa kali ia mengganti berkas yang salah, membacanya lagi, mengganti lagi, terus seperti itu sampai hasilnya sempurna. Untung ada Alifa yang bisa membantunya dalam mengerjakan itu semua, Alifa baru menjadi sekertaris Britney selama lima bulan.


"Dok, tidak ada jadwal operasi hari ini?" tanya Alifa yang mengurangi rasa bosan dan kantuknya itu.


"Kamu suka banget kalau saya sibuk, Al." jawab Britney setengah mendengus kesal.


"Basa basi, dok. Saya mulai ngantuk sepertinya, berkasnya buanyak bener ini." kekehnya sambil merapikan kertas yang berserakan di meja.


Britney juga merasakan hal yang sama seperti Alifa, ia merasa ngantuk dan lelah.


"Dokter Stefan menggantinkan saya, Al." ucap Britney dan merebahkan dirinya di sofa.


"Saya mau makan siang dulu, kamu boleh istirahat. Kita lanjutkan besok pagi saja."


Alifa yang mendengar itu langsung tersenyum lebar dan bergegas keluar dari ruangan.


Tubuh Britney memerlukan istirahat dan perutnya butuh asupan makanan, sejenak ia memejamkan matanya dan memilih untuk tidur sebentar. Namun perutnya tidak bisa diajak kompromi, lantas ia memesan makanan lewat aplikasi yang biasa digunakannya.


Setelah memilih menu makanan dan menunggu pesanannya datang, ia membaca buku tentang Syndrome Down, sudah kesekian kalinya ia membaca buku itu semenjak masih duduk di bangku kuliah strata satu namun tetap saja masih ada yang mengganjal di hatinya. Mengingat mantannya dulu, Bram menghamili Prita. Betapa sakitnya yang ia dapatkan dari pengkhianatan Bram dulu kepadanya, air mata Britney pun berhasil jatuh kembali mengingat itu semua, memori empat tahun yang lalu kembali menggrilya di pikirannya.


Sempat merasa puas karena anak yang dilahirkan Prita menderita Syndrome Down, karena perkataannya dulu mungkin telah Tuhan kabulkan. Jahat sekali bukan, seorang Britney pernah mengatakan kalau anak yang dikandungan Prita adalah anak yang tidak sempurna karena sudah merenggut kebahagian wanita lain, sekaligus pria yang dicintainya bertahun-tahun.


Britney menggigit bibir bawahnya sampai merasakan perih dan darah segar keluar, ia benci mendengar isak tangisnya.


"Saya harus bagaimana tanpa kamu, Bram?" lirihnya terdengar pilu, buku yang ada di genggamannya kini terjatuh.


➰➰➰➰➰


Britney turun dari ruangannya dan sekarang berada di administrasi untuk menandatangani pemasukan hari ini, "Saya tanda tangan lebih awal ya, Mus." ucapnya.


"Print satu saja, dok? Yang jam berapa?" tanya karyawan yang bernama Musfa itu.


"Satu saja, jam 16.00 ya, Mus. Sekarang yang shift malam siapa?" Britney melirik jam di pergelangan tangannya.


"Baik, dok. Yang shift malam nanti Dinda." jawabnya.


Musfa menyerahkan selembar kertas yang tadi di print, namun bukannya Britney yang menerima melainkan pria berjas rapi merebut kertas itu dan membacanya dengan lantang.


"Hari Rabu, 19 Juni 2019 telah mendapatkan pemasukan dua belas juta seratus ribu rupiah, blablabla tidak penting... tidak penting, penanggung jawab dokter Hygiea Britney Cassandra, Sp.OG. Mengelola dari jam 07.30-16.00?" pria itu melirik jam tangannya.


"Sekarang masih jam 15.25, kalian korupsi waktu." ucapnya langsung.


Britney yang tidak percaya akan kehadiran pria itu secara tiba-tiba dan mengambil kertas miliknya.


"Bukan urusan bapak." dengan cepat wanita itu merebut kertasnya dan menandatanganinya.


Feraldi hanya bisa tersenyum melihat kelakuan wanita cantik itu, "Jadi, setelah lalai dalam pengelolaan disini, kamu juga korupsi waktu?"


Britney menatap tajam Feraldi, "Saya bilang bukan urusan bapak."


Feraldi yang menyadari mata merah wanita itu, "Kamu merindukanku sampai menangis?"


"Siapa yang menangis?"


"Matamu merah dan sembab."


"Aku tidak menangis!" bentak Britney memalingkan wajahnya.


"Hey, I'm sorry." ucap Ferladi, "Bayi kita ada dimana?" Feraldi menangkup wajah cantik Britney dan mengarahkan padanya, sekarang mereka saling menatap.


Britney merasakan hatinya berdetak lebih cepat, "Jangan bilang kalau kamu melupakan bayi kita." Feraldi menampakkan wajah sedihnya yang membuat Britney merasa jantungnya sekarang jadi tidak seperti biasanya.

__ADS_1


Karyawan yang berada di dekat mereka melihat adegan seperti itu menjadi hening seketika dan sibuk berbisik-bisik, pasti besok akan menjadi gosip baru. Ternyata dokter Britney diam-diam sudah memiliki seorang suami dan dikaruniai seorang anak.


Britney menampilkan senyum andalannya, "Bapak, jangan sembarangan kalau berbicara depan banyak orang. Nanti bisa jadi fitnah." tegas Britney.


Feraldi yang terpancing emosinya mendadak melepaskan tangannya yang tadi berada di wajah Britney, lalu tertawa hambar.


"Kamu yang pertama memfitnah saya tadi pagi."


Britney mulai kewalahan dengan pria ini, ia memang melupakan bayi tadi pagi yang menjadi bahan pertengkaran dengan Feraldi.


"Mus, tolong panggilkan Gina. Sekarang ya." suruhnya pada Musfa yang langsung dituruti perintahnya itu.


Britney menghembuskan nafas kasar dan menarik lengan Feraldi untuk menjauh dari administrasi dan duduk di sofa depan yang mengarah pada gedung bagian depan.


Feraldi tertegun karena kontak fisik dengan Britney, hatinya yang mulai tak karuan dan jantung Feraldi lebih cepat memompa dari biasanya, wanita ini benar membuat Feraldi jadi diluar kendali.


"Bapak duduk disini," ujar Britney pada Feraldi dan melepaskan tangannya.


"Hygeia!"


Britney yang tersentak akan panggilan itu langsung menampakkan amarahnya, "Jangan pernah memanggilku dengan nama itu!" tegasnya sambil menatap tajam mata Feraldi.


"Apa yang salah?" tanyanya.


"Jangan pernah memanggil saya dengan  nama itu! Tidak jelaskah bapak selama di sini mendengar para karyawan memanggil saya Britney?" nada bicara Britney kini berubah, matanya meluapkan amarah yang bisa dibaca oleh Feraldi.


Feraldi menarik nafas dalam, "Kalau kamu tidak suka dengan nama depanmu itu, nama saya bisa menggantikannya. Britney Cassandra Assegaf, misalnya." ucap pria itu mantap.


Britney membelalakkan matanya dan makin merasa kesal dan seolah dipermainkan oleh pria yang bernama Feraldi, "Bapak ini gila atau apa?" ujar Britney sambil mengusap kasar wajah cantiknya.


"Tadi saya mengganti popok dulu, dok. Bayinya aktif banget." kekeh Gina sambil menggendong bayi dan mencubit pipi gembul bayi itu.


Gina menggeleng lemah, "Tidak ada yang mencari bayi ini, dok." ucapnya.


Feraldi tersenyum mendengar itu, seakan menjadi lampu hijau untuk ada alasan dekat dengan Britney. Namun sedetik kemudian pikirannya berperang kembali dengan hatinya, tapi pada akhirnya hatinya yang menang.


"See? Bayi ini milik kita."


Gina dan Britney melirik Feraldi bersamaan.


Pria itu membalasnya dengan senyuman.


"Cepatlah, ini sudah sore. Kamu gak cape seharian kerja?" tanya Feraldi pada Britney.


"Saya cape karena bertemu dengan bapak."


"Lho, emang saya apain kamu?"


Wajah Britney memerah karena malu dengan pertanyaan itu, sementara Gina yang mendengarnya langsung menahan tawa.


Feraldi mengambil alih bayi itu dan menggendongnya di lengan kokoh miliknya.


"Kamu masih mau di sini? Kalau iya, saya beneran mau apa-apain kamu nantinya." ucap Feraldi sambil memainkan lengan bayi itu.


Britney semakin malu dan tidak mau mendengar perkataan yang tidak berkenan ia dengar, lalu ia beranjak pergi keluar mendahului Gina dan Feraldi.


"Boss kamu itu gak suka ya kalau saya gombalin?"


"Bapak bukan ngegombal itu namanya!" timpal Gina.


"Terus namanya apa?"

__ADS_1


"Malu-maluin!"


"Ah, kamu ini kayak gak pernah muda aja. Yasudah saya duluan." pamit Feraldi pada Gina.


"Pak, bayinya beneran mau dibawa?" cegat Gina menghalangi jalan pria itu.


"Emangnya kenapa? Bayi ini tidak protes kan?"


Seakan setuju dengan jawaban Feraldi, bayi yang berada digendongannya menggeliat dan mengeluarkan suara tidak jelas.


"Bapak benar juga. Sepertinya bayi itu menyukai bapak." ucap Gina mantap sambil mencubit hidung bayi itu.


"Kita bicara lagi nanti, Gin." Feraldi meninggalkan Gina dan menyusul Britney setengah berlari.


Setelah sampai di parkiran, Feraldi menghampiri Britney.


"Britney." panggilnya.


Wanita itu hanya membalas dengan menaikkab sebelah alisnya.


"Berat." ucap Feraldi sambil memajukan bibirnya.


"Suruh siapa bapak gendong bayinya?" jawabnya ketus.


"Kamu kan tadi ninggalin saya."


Britney mengabaikan perkataan pria yang di hadapannya.


"Mama dokter jutek banget ya, El."


"Siapa El?" tanya Britney sambil mengedarkan pandangannya.


"Bayi kita." jawab Feladi mengangkat bayi yang digendongannya.


Wajah Britney memerah kembali, "Biar saya saja yang membawa bayi ini. Mbak Ratih bisa merawatnya." ucap Britney.


"Tidak bisa! Kita berdua yang harus merawatnya!" Feraldi memeluk erat bayi itu.


"Terserah, saya mau pulang!" Britney masuk ke dalam mobil sedan hitam miliknya.


Feraldi yang tak mau kalah menyusul Britney dan dengan cepat sudah duduk di jok penumpang.


"Bapak ini benar sudah gila ya!" bentaknya.


"Kamu dari tadi bilang saya gila terus. Ya sudah, saya numpang di mobil kamu. Antarkan saya ke polisi, saya mau laporin kamu karena sudah lalai dalam pengolaan penitipan anak dan menelantarkan bayi ini."


Britney benci dengan ancaman, ia harus mengalah kali ini.


Mobil sedan hitam itu keluar dari parkiran gedung Creesana Care dan melaju membelah jalan kota Kembang tersebut.


Selama di perjalanan Feraldi maupun Britney tidak membuka suara, bayi yang berada di gendongan Feraldi tertidur pulas. Sebenarnya Britney merasa kasihan pada pria itu.


Saat berada di perempatan lampu merah Dago, Britney merogoh ponsel yang berada di saku celananya, dan menelpon Mbak Ratih. Sambungan telepon pun tersambung, "Mbak, tolong pergi ke minimarket ya beliin susu formula untuk bayi umur dua bulan. Sama dot yang kecil jangan lupa." ucapnya.


"Enfamil ya, mbak. Atau kalau gak ada, apa saja." Britney menaruh ponselnya di dekat rem tangan dengan terburu-buru karena lampu hijau sudah menyala.


Feraldi mendengar percakapan singkat itu dan melihat ponsel Britney tergeletak bebas, dengan cekatan ia mengambil ponsel Britney lalu mengetik nomor miliknya lalu mencoba miss call.


"Apa yang bapak lakukan?" tanya Britney yang menyadari ponselny diambil alih.


"Menelponku." jawabnya santai dan menaruh kembali ponsel Britney.

__ADS_1


__ADS_2