The Baby For Britney

The Baby For Britney
TBFB-6


__ADS_3

Martha, Nia, dan Britney duduk di sofa VVIP yang sebelahnya dekat sekali dengan DJ. Di meja sudah tersedia berbagai macam botol minuman yang sudah dipesan, topik pembicaraan mereka kali ini adalah gosip hangat para selebritis tanah air, lantunan musik kian menggema di telinga mereka. Nia melihat segerombolan pria yang baru saja masuk, penglihatannya tertuju pada seorang pria yang menggunakan kemeja abu tua.


"Gue punya mangsa nih, guys!" serunya pada Martha dan Britney.


Martha melirik sekilas gerombolan pria itu, "Boleh juga tuh." sautnya.


Sementara Britney mengabaikan dua sahabatnya, ponsel yang berada di genggamannya tidak menunjukkan notif sama sekali. Sudah dua hari wanita itu tidak bekerja, jadwal praktek di klinik ia serahkan pada asistennya, jadwal operasi juga ia serahkan, begitupun Creesana Care ia serahkan pada Alifa dan Gina, semenjak kedatangan El ia sangat direpotkan karena keluarga dari bayi itu tidak kunjung mencarinya, kabar dari pihak kepolisianpun tak membuahkan hasil.


Untungnya sebelum Britney pergi ke kelab, El sudah tertidur pulas dan stok susu disediakan di kamarnya. Mengingat El yang tertidur sangat damai, pikiran Britney malah tertuju pada sosok pria dua hari lalu bersama dirinya, Feraldi.


Bagaimanapun juga Britney adalah wanita normal, sejak bertemu Feraldi yang membuat ia ikut serta mengurus seorang bayi laki-laki, hati Britney menjadi berbeda, seakan menaruh harapan pada pria itu. Gengsi bila Britney yang harus lebih dulu menghubungi Feraldi.


"Ney, gue sama Nia ke bawah dulu." ucap Martha sambil menunjuk para pria yang melambaikan tangannya bersamaan.


Ia membalas hanya mengacungkan jempolnya, Nia dan Martha pergi sambil membawa dua botol minuman di tangannya.


Britney menyandarkan tubuhnya ke sofa, lagu Martin Garrix & Troye Sivan - There For Your menggema di telinganya.


Banyak pasang mata memperhatikan Britney di atas sana, tempat yang di duduki wanita itu bukan tempat biasa, karena rupiah yang di keluarkan tidak sedikit, hanya segelintir orang yang mampu menempati tempat itu, apa lagi melihat deretan minuman impor bermerk terkenal dan mahal tersedia di meja.


Britney semakin merasa kesepian, "Sialan, gue kayak janda kaya raya aja ditinggal sendiri begini." decaknya sebal sambil menenggak satu sloki.


Martha dan Nia kembali menghampiri Britney yang disambut muka masamnya wanita itu, "Maaf bu dokter, gue terlalu asyik sama mereka." kekeh Nia sambil mencubit pundak Britney yang telanjang.


"Ney, kalo gue ajak mereka ke sini, lu keberatan gak?" tanya Martha yang menatap Britney penuh harapan.


"Bawa semua ke sini, kalo mau pada nambah gue yang bayarin. Biar mabok kita semua." jawabnya sambil melihat ponsel ada notif masuk.


Martha dan Nia sangat senang mendengar itu, Martha yang semangat langsung menghubungi salah satu pria tadi, sedangkan Nia heboh touch up untuk penampilan terbaiknya.


Bapak Feraldi


Saya yakin kamu merindukan saya. Baby El masih bersama kamu?


Pesan pertama yang masuk setelah Feraldi memaksa mengetahui nomer telepon Britney saat di dalam mobil dua hari yang lalu, wanita itu tersenyum saat membaca pesan pertama dari Feraldi.


Jempolnya seakan terhipnotis untuk mengetik balasan.


Menurut lo? Gue nunggu kabar dua hari sampe ninggalin kerjaan demi bayi yang lo serahin ke gue, jelas bayi itu masih sama gue! Orgtuanya gak sama sekali nyari dia, dan elo Feraldi, udah bikin gue menunggu dan berharap


Perasaan Britney menggebu dan kesal saat membalas pesan itu, namun sederik kemudian ia menghapus pesannya lalu mematikan ponselnya.


"Ney, lu besok ada jadwal USG atau operasi gak?" tanya Nia yang selesai memoles bibirnya dengan lipmate nude itu.


"Emang kenapa?"

__ADS_1


Nia menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "Kayaknya malam ini kita party deh." lalu melirik para pria tadi sudah datang dan menghampiri mereka.


Dari tujuh orang pria itu Britney memperhatikan satu persatu, tidak ada yang menarik pikirnya. Suasana di kelab menjadi sangat ramai dan lantunan musik mengiringi mereka yang berada disana menjadi sangat menikmatinya.


Martha dan Nia seperti biasa sudah tak terkendali, beda dengan Britney yang masih tersadar sepenuhnya. Semua pria itu terkesan melihat Britney, seorang wanita sudah minum beberapa sloki ditambah meminum langsung dari botolnya sekarang masih biasa saja seolah tidak minum alkohol sedikitpun.


Jam yang melingkar di pergelangan tangan Britney menunjukkan pukul 02.45, ia berpamitan dengan Martha dan Nia juga para pria itu, namun salah seorang pria menahannya, July namanya.


"Yang punya party jangan dulu pulang, temen gue satu lagi belum dateng. Cemen banget kalo lo pulang sekarang." ujar July sambil menampakkan wajah menyebalkan.


Samar-samar Martha mendengar omongan dari July, "Ney, gak usah di denger lo balik aja." ucapnya pada Britney yang ia tahu pasti sahabatnya itu marah jika di remehkan.


Dan benar, Britney tidak jadi pulang dan duduk kembali menenggak minuman lagi.


Britney seperti ditantang oleh July, wanita itu memanggil pegawai kelab yang sudah ia kenal, "Say, gue mau lo bawain botol kesukaan gue dan gula kubusnya." pinta Britney sambil tersenyum licik.


"Kebetulan say, sisa satu lagi. Minuman itu lakunya cuma sama lo doang." ucapnya sambil tertawa.


Bagaimana bisa laku karena minuman yang dimaksud adalah Absinthe Joie De France alkoholnya mencapai 70%, dan harganya begitu mahal.


"Gue gak akan minta lo buat narik omongan tadi. Kecuali, lo bisa kalahin gue sama minuman itu." tutur Britney menatap July.


Pria itu masih menganggap remeh Britney dan tertawa keras, dalam pikirannya mana mungkin seorang wanita benar-benar kuat dalam minum alkohol.


"Apaan sih? Paling Jack D Honey yang lo pesen."


Semua teman-teman dari July itu takjub mendengar perkataan Britney, yang dikatakannya itu adalah minuman murah, namun bagi mereka itu minuman enak bagi wanita dan harganya yang lumayan menguras isi dompet.


July menyembunyikan rasa khawatirnya saat pegawai kelab mendatangi mereka, botol hijau tinggi, tiga buah sendok yang tidak pernah ia lihat sebelumnya, di tengah sendok itu diukir indah dan menghasilkan bolongan, beberapa gula kubus juga disana disediakan, lalu ada botol berisi air putih yang ujungnya seperti pipet, July bingung dengan itu semua.


"Tenang bro, itu minuman kayak marjan." bisik Gio yang berada di sebelah July.


July memikirkan hal yang sama seperti Gio, tidak akan terlalu buruk baginya.


"Absinthe Joie De France, Senorita. It's yours."


Britney mengangguk dan tersenyum manis pada pegawai itu, dan mulai menuangkan isi minuman ke sloki miliknya juga untuk July.


"Gue pengen tahu, lo dan kalian semua apa bener pencinta liquor?"


Britney mengambil gula kubus itu dan menaruhnya di atas sendok. Semua yang di sana hanya bisa diam dan memperhatikan wanita itu.


Martha dan Nia hanya bisa pasrah, jika mengganggu Britney tamatlah riwayat mereka berdua.


Lalu Britney meneteskan air putih lewat botol yang ujungnya sengaja dipakaikan seperti pipet.

__ADS_1


"Baru lihat yang seperti ini?" Britney mengeluarkan suara yang hampir menggoda mereka.


July menelan ludahnya kasar, wanita yang dihadapannya itu begitu seksi dan tidak bisa ditebak.


Setelah gula kubusnya meleleh oleh air, Britney memberi sloki itu pada July, "You, first. Please." ucap Britney mengedipkan satu matanya.


Semua pria itu terpesona akan prilaku Britney, apa lagi cara ia memberikan sloki pada July.


Keduanya mengangkat sloki ke udara lalu July menenggak habis sloki itu sampai tandas, Britney menunggu ekspresi dari July, dan benar saja wajah pria itu memerah dan keuar keringat, July memegang tengkuknya.


Nia yang khawatir langsung menghampiri July dan memberikan air putih.


Britney tersenyum kecut lalu meminum slokinya dengan tenang, dua kali tegukan ia lihatkan pada mereka, diakhiri dengan melumat bibirnya sendiri.


July yang melihat itu menjadi malu dan salah tingkah, di tuangkannya kembali minuman itu ke sloki, lalu menaruh gula kubus di atas sendok.


"Kali ini gue mau bakar gulanya. Ciri khas dari minum ini." ujar Britney membasuh gula tersebut dengan sloki tadi dan menyalakan api dari Zippo black mate miliknya.


Gula kubus itu terlihat indah saat api mengelilinginya, api itu mulai padam dan dilarutkan lagi menggunakan air putih setetes demi setetes.


July dan Britney kembali menenggak minuman itu, bagi July ia sangat tersiksa dengan minuman yang wanita itu berikan padanya.


Britney belum puas dengan melihat July masih menutupi rasa takutnya itu, padahal jelas sekali July sudah terlihat mabok.


Dituangkannya lagi minuman itu ke dalm sloki, kali ini murni tanpa larutan gula kubus. Setelah botol hampir habis, July mengangkat tangannya menandakan menyerah, "Gue tarik lagi omongan tadi, lo hebat banget. Cewek paling hebat yang gue temuin." ucapnya sambil menutup kedua mata.


Britney tersenyum penuh kemenangan, "Lo gak usah berlebihan, pasti lo dan kalian semua gak tahu kan liquor ini mengandung berapa persen?" tanyanya sambil membawa lemon.


"70 persen." jawab Martha dan Nia bersamaan.


Semua pria itu hanya melongo kaget tak terkecuali July, ia sudah merasakan mual dan lemas ingin memuntahkan isi perutnya.


"Bro, akhirnya lo dateng." ujar seorang pria kepada temannya yang baru datang.


"Sorry, gue telat." jawabnya.


"Lo minta maafnya sama yang punya acara dong bukan sama kita."


Pria yang baru datang itu mengedarkan pandangannya, "Oh, begitu? Dimana orangnya, bro?"


"Yang unjung, baju biru langit. Seksi banget, bro."


Britney memang duduk paling ujung, ia sedang merapikan tasnya bergegas untuk pulang. Sementara Martha dan Nia tak sadarkan diri.


Pria itu menghampiri Britney dan menyentuh lengannya lembut, "Sorry, gue telat. Acaranya udah...."

__ADS_1


Ucapan pria itu terhenti saat wanita yang di hadapannya balik badan. Sosok wanita yang sangat ia rindukan, yang dulu ia puja, tatapan itu masih sama, selalu teduh baginya, "Gea..." panggilnya pelan.


__ADS_2