
Hari ini terasa begitu panjang dan sangat melelahkan, Britney harus cepat bertindak sebelum semuanya tidak terkendali.
Ia melangkahkan kakinya keluar kamar, namun saat beberapa langkah dari pintu kamarnya El menangis kencang. Britney menghela nafas dalam, ia kembali berjalan masuk ke kamarnya. Menghampiri El dan menggendongnya, yang langsung diam dalam pelukan Britney dan menggosok-gosok kepala mungilnya ke dada Britney.
Entah mengapa, tapi Britney merasa bibirnya tersenyum karena berhasil mendiamkan El.
Sementara Feraldi berada di pekarangan rumah, pria itu berdiri dengan melipat kedua tangannya di dada dan sorot matanya terpancar ke langit.
Malam ini Bandung sangat dingin, pergelangan tangannya sampai terasa mati rasa, ia biarkan udara di sekitarnya berusaha menyeruak masuk ke tubuhnya. Helaan napas berat beberapa kali Feraldi keluarkan, sedingin apapun kota Bandung sekarang, hatinya panas mengingat perkataan Britney, belum lagi kejadian tadi pagi, wanita itu terus memanggil nama kekasihnya dulu.
Telapak tangan kanan Feraldi menyentuh dadanya dan mengusap perlahan, sesak dan menyakitkan. Ia memejamkan kedua matanya, dirinya menunggu skenario Tuhan yang akan diberikan untuknya.
"Feral, belum pulang?"
Pria itu sontak membuka matanya, ini suara Britney. Tuhan memang baik, padahal dirinya baru pasrah seperti itu.
Britney menepuk pundak Feraldi karena dari tadi ia menunggu jawaban pria itu, "Kalo belum mau pulang, di dalem aja. Pintunya jangan dibuka, dingin. Kasihan El." ucapnya lembut, Feraldi membalikkan badannya dan mendapati Britney tersenyum padanya, wanita itu memakai baju hangat berwarna biru muda.
"Panggil lagi nama saya, Ney." pintanya dan menatap manik mata Britney.
Senyum wanita itu memudar, ia tahu bahwa dirinya melakukan kesalahan.
"Ney, panggil nama saya. Seperti tadi." kali ini Feraldi benar memohon.
Dengan ragu Britney menutup kedua matanya, "Feral."
Pria itu tersenyum, ia sangat senang karena Britney memanggil namanya dengan lembut.
"Udah kan? Yuk masuk, pak!" ajaknya lalu Britney melangkah meninggalkan Feraldi, namun untuk yang kesekian kalinya pria itu menahan Britney, menahannya dengan mencengkram lengan Britney.
Pandangan mereka bertemu, "Jangan manggil saya bapak. Kamu bisa manggil mantan kamu dengan namanya, kenapa saya malah kamu panggil bapak?" tanyanya.
Britney menahan tawanya, aneh dengan sikap Feraldi ia bisa melihat wajah pria ini sangat kesal padanya.
"Bapak jadi mantan saya dulu aja kalo gitu," ujarnya dan tertawa.
Feraldi yang mendengar kata 'mantan' seketika hatinya memanas kembali, lengan Britney yang berhasil ia cengkram kini dituntun perlahan menuju dadanya, telapak tangan Britney terbuka, Feraldi menahannya.
Ia merasakan sesuatu yang aneh, tangan Britney berhasil meredakannya. Rasa nyaman, hangat berdatangan menghampiri Feraldi.
"Tuhan, mengapa saya baru bisa merasakan seperti ini sekarang? Apakah wanita ini orangnya?" batinnya.
__ADS_1
Britney menautkan dahinya, tawanya menghilang sekarang, ia menarik tangannya namun ditahan oleh pria itu.
"Kamu bisa rasain betapa panasnya hati saya?"
"Tapi, saat kamu sentuh gak lama kemudian jadi biasa aja, malah adem dan bikin saya nyaman." tutur Feraldi.
Pipi Britney merona, mungkinkah ia adalah penyebab semua yang dirasakan pria itu.
"Bapak gak usah lebay!" ejek Britney tertawa dan Feraldi menarik Britney ke dalam pelukannya.
"Gak apa-apa kamu mau anggap saya ini lebay atau gimana. Yang harus kamu tahu, saya baru kayak gini sama kamu. Nama kamu dan El udah nempatin di hati saya, kalian berdua jangan pergi. Ohya, jangan sekali lagi kamu nyebut nama Bram depan saya.." mengucapkan namanya saja membuat Feraldi naik darah, ia kembali mengatur napasnya, "Atau Bram-Bram yang lain—"
Britney kembali tertawa, lalu ia menutup mulutnya, satu lagi yang menambah pesona Britney, tawanya sangat enak untuk didengar.
"Saya serius, Ney!" ujar Feraldi dan langsung dibalas anggukan dari Britney.
"Di Indramayu saya terus mikirin kalian berdua, kerjaan harusnya baru beres besok, tapi saya padatkan dua hari. Rasanya deket El dan kamu itu kayak udah jadi keluarga yang sesungguhnya," lanjutnya dan mengelur rambut panjang Britney.
Mereka berdua sudah dewasa, hanya seperti ini bukanlah apa-apa. Namun Feraldi, baru memeluk seorang wanita hanya kepada Britney saja. Ibunya sudah lama meninggal, sejak Feraldi kelas dua SMA, sudah lama sekali pikirnya.
Britney tersenyum mendengar perkataan Feraldi, ia belum bisa mengimbangi perasaan dan egonya. Dirinya harus menemukan jalan keluar secepatnya.
"Kamu nungguin saya pulang gak, Ney?" tanyanya, Feraldi melepaskan pelukannya dan memperhatikan wajah cantik Britney.
"Nunggu kabar dari saya?" tanyanya lagi.
"Iya gue nunggu banget kabar dari elo! Nyusahin hati gue banget sih!" ingin sekali Britney melontarkan yang ada di otaknya, namun ia tahan.
"Enggak," Britney menaikkan satu alisnya.
"Saya nikahin kamu, mau ya?" Feraldi ingin jawaban 'ya!', raut wajahnya berharap pada Britney.
"Enggak!" Britney melotot padanya.
Bagus, wanita keras kepala dan sejuta pesonanya membuat Feraldi geram dalam hatinya.
"Oke, saya kasih pilihan sama kamu." ujar Feraldi, ia melipat kedua tangannya.
"Ganteng juga ya bapak ini, ko gue baru sadar ya?" batin Britney.
"Kamu saya nikahain jawabannya iya mau, atau saya tinggal di rumah kamu selamanya dan jawaban kamu iya setuju. Pilih!" titah Feraldi yang menaikkan dagunya.
"Pilihan macam apa itu? Saya gak mau dan gak setuju ya, pak!" bentaknya dan meninggalkan Feraldi.
__ADS_1
Feraldi mengejarnya, ia tak tahan bila ditolak terus menerus oleh Britney.
"Ney, kita sudah dewasa. Apa salahnya saya mau nikahin kamu?" Feraldi setengah berteriak karena Britney terus menghindar darinya.
Wanita itu menatap tajam, sebenarnya hati Britney senang mendengar kata-kata itu, tapi entah alasan apa ia selalu menolak Feraldi, Britney tidak paham dengan dirinya sendiri.
"Emangnya nikah itu gampang? Saya aja gak tau seluk beluk bapak! Dan perasaan saya ini gimana? Kalo saya gak suka sama bapak gimana?" teriaknya tak kalah dari Feraldi.
Feraldi mengusap wajahnya, tidak boleh lelah dengan wanita ini.
"Kamu jangan khawatir, saya dari keluarga yang berada dan berpendidikan. Kalo kamu gak percaya, keluarga Assegaf lebih dari kata tercukupi. Masalah perasaan, saya tahu kamu mulai menyukai saya." ucapnya dan memelankan suaranya.
Britney mendecih, percaya diri banget pria yang di hadapannya ini.
"Dih! So kegantengan banget, udah bangkotan juga!" ejek Britney dan menjulurkan lidahnya.
Feraldi terkekeh geli mendengar celotehan Britney, ia mendaratkan bokongnya di sofa yang menghadap televisi, Britney yang masih berdiri di hadapannya menatap jengkel.
"Saya emang udah bangkotan, tapi pelukan saya tadi kamu 'menikmatinya', kan?" tanyanya dan tangan Feraldi mengambil cemilan di toples meja.
Blush!
Pipi Britney merona lagi, sekarang ia kehabisan kata-kata.
➰➰➰➰➰
Pagi ini adalah pagi pertama Nisrina berada di rumah Britney, selesai dari acara arisannya ia pulang ke rumah Britney dan tak lupa membawa koper berukuran lumayan besar, tentu saja Britney terkejut dengan kedatangan Nisrina tadi malam, sementara Feraldi tidak bisa berkutik. Dirinya harus pamit karena besok pagi ada kerjaan yang menunggunya, juga meeting penting bersama rekan bisnisnya yang sudah dijadwalkan dua minggu yang lalu, awalnya ia sulit untuk pulang ke rumahnya karena Nisrina menahan Feraldi, tapi dorongan Britney sangat kuat sehingga Feraldi bisa pulang dan paginya terselamatkan.
Mengenai tadi malam, sempat terjadi konflik antara Nisrina dan Britney, bagaimana tidak, Britney yang tidak mau mamanya tinggal di rumah miliknya dengan alasan mamanya ingin dekat dengan El, sedangkan Nisrina tetap bersih keras ingin tinggal di rumah Britney karena El. Feraldi tidak bisa menjadi penengah dan malah pulang, payah memang Feraldi.
"Ney pergi dulu, nanti siang ada jadwal operasi lanjut sore jadwal USG." ujar Britney baru saja melewati Nisrina.
Nisrina yang sedang menggendong El mengembangkan senyumnya, "Kamu gak ke Creesana, Ge?" tanyanya.
"Enggak," jawab Britney tanpa menoleh ke mamanya.
"Astaga! Turunan Fano begini amat, sifatnya ngalir deres ke anaknya." ucap Nisrina kesal.
Britney yang mendengarnya tertawa pelan, "Itu suami mama, lho! Ney bilangin ke papa tahu rasa!" teriak Britney dan masuk ke dalam mobilnya.
Nisrina menggeram kesal, jika sudah menyangkut pada Fano suaminya ia tidak berkata apa-apa. Mengingat Fano yang sedang menjalankan kerjaannya di luar negeri ia merasa kesepian, tapi untungnya ada El yang mengobati rasa sepi itu.
Cegukan El membuat Nisrina tersadar dari lamunannya, dengan cepat ia menepuk punggung El pelan dan bayi kecil itu tak lama bersendawa.
__ADS_1
"Waah.. jagoan oma udah pinter sendawanya ya?" Nisrina mencium hidung El gemas, dan dibalas dengan tawa bayi itu.