
Britney menjatuhkan dirinya ke sofa, diruangannya kini ia sendirian. Jadwal USG sudah selesai lima menit yang lalu, tidak ada hentinya wanita itu bersyukur kepada Tuhan karena operasi tadi berjalan dengan lancar.
Mengenai operasi tadi, Britney menangani pasien IMPENDING EKLAMPSI.
Sebenarnya Britney paling tidak mau menangani pasien dengan kasus tersebut, kasus yang ditangani Britney adalah penyumbang terbesar pertama kematian ibu di Indonesia sekarang, setelahnya kasus perdarahan pasca salin, infeksi dan masih banyak lagi.
Kasus tersebut bisa dibilang menginjak ke tahap final, dari ibu yang menderita preeklampsi atau yang biasa dikenal ibu hamil dengan tekanan darah tinggi disertai dengan protein urine positif dan edema, lalu jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat, ibu bisa mengalami eklampsi atau kejang. Dari masalah tersebut sangat membahayakan kondisi ibu dan bayi.
Britney melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, masih ada waktu beberapa menit sebelum matahari terbit, ia butuh istirahat. Matanya terpejam perlahan, napasnya teratur, rasa kantuk menguasai dirinya.
Dua puluh menit berlalu dan Britney masih tertidur di sofa dengan posisi yang kurang nyaman, suara ketukan pintu ruangannya membangunkan wanita itu. Dengan langkah yang gontai ia membuka pintu.
Melirik sekitar dan tidak ada seseorang, mungkin ketukan itu suara dari seberang ruangan Britney, ruangan dokter Setefan pikirnya. Lantas Britney masuk kembali ke ruangan dan mengambil botol air mineral di mejanya.
Yang didapat Britney setelah menyimpan kembali botol di meja, ia melihat sosok anak kecil laki-laki bertopi hitam yang memunggunginya. Seperti dejavu Britney pernah mengalami ini dan melihat anak kecil itu.
Ketika Britney mendekatinya ia tersandung dan meringis sakit karena lengannya terkena ujung meja.
Anak kecil itu sekarang sudah tidak ada. Britney tidak mungkin salah lihat, tepat di depannya memang benar ada anak kecil itu.
Britney kembali duduk di sofa, kepalanya kembali sakit, ia memijat pelan pelipisnya menikmati pijatannya sendiri. Pandangan Britney tertuju ke langit-langit ruangan, ia merasakan tangan kirinya hangat dan agak berat. Seperti ada yang bersandar padanya.
Tapi wanita itu menghiraukannya, ia pikir tubuhnya sedang merasakan kelelahan sehingga pada bagian tangan terasa berat karena saat operasi tadi dirinya mengandalkan tangan kiri.
Setelah merasa agak enak dengan kepalanya, Britney membenarkan posisi duduknya.
Ia sangat terkejut karena anak laki-laki itu berada di sisi kiri dan bersandar pada lengannya.
Anak laki-laki bertopi hitam itu mendongakkan kepalanya dan menatap Britney, ekspresinya yang datar dengan bibir pucat kebiruan, seolah ingin menyampaikan sesuatu dari pancaran matanya, namun Britney sangat ketakutan saat itu dan berlari keluar ruangan.
Bughk!
Britney terjatuh dari sofa. Ponselnya yang berdering dan menampilkan layar ada seseorang yang menghubunginya. Segera ia meraih ponselnya yang ikut terjatuh bersama dirinya.
Ternyata Feraldi yang menelponnya, seketika Britney lega. Ia melirik semua sudut ruangan, hanya ada dirinya sendiri. Jadi tadi hanya mimpi, namun sangat nyata! Untungnya telepon dari Feraldi membangunkannya.
Sambungan telepon terhubung, beberapa detik Britney terdiam, hanya suara degub jantungnya yang kencang karena tersisa dari mimpi yang dialaminya tadi.
Feraldi yang sudah mengoceh di seberang sana masih tidak diberi sepatah katapun dari Britney, pria itu bisa frustasi.
"Ney! Saya hubungin kamu berapa kali, kenapa baru diangkat?" tanyanya yang entah keberapa kali.
Britney mengatur napasnya dan menjauh dari sofa, menyambar tas selendang miliknya dan keluar ruangan.
"M-maaf," hanya itu yang keluar dari mulut Britney.
Di seberang sana Feraldi bisa merasakan ada yang aneh dari Britney, "Kamu kenapa? Kayak abis lari gitu," ucapnya.
Britney kini berada di parkiran, ia berjalan menuju mobil sedan hitam miliknya.
"Tadi saya ketiduran, sekarang mau pulang," Britney sebenarnya ingin cerita mengenai mimpi itu, tapi ia mengurungkan niatnya. Takut Feraldi tidak menghiraukan dan tidak peduli.
"Oh.. kirain kamu kemana. Ya sudah, hati-hati di jalannya." ucap Feraldi lembut.
Britney tersenyum mendengarnya, "Terimakasih,"
Feraldi pun ikut tersenyum, "Ney.."
"Saya masih ada kerjaan, sekitar jam sembilan saya ke rumah kamu." ucap Feraldi berniat untuk memberi penjelasan sebelum Britney bertanya.
"Oke," jawab Britney singkat.
Feraldi menautkan alisnya, "Hanya 'oke'?" ujarnya kesal, padahal Feraldi menginginkan Britney bertanya padanya atau marah karena pekerjaannya belum selesai.
"Oke, baiklah," tambah Britney yang mengembangkan senyumnya itu.
Seketika kejadian tadi yang Britney alami menghilang dan terbawa suasana dengan Feraldi.
"Ney, saya berharapnya kamu minta saya cepat pulang!" Feraldi mengatakan itu sambil mengetuk-ngetuk jarinya di meja kerja miliknya.
"Tadi bapak bilang masih ada kerjaan?"
"Memang!" Feraldi menggeram karena Britney terlalu tidak peduli dengannya.
__ADS_1
"Kalau begitu, lanjutkan." titah Britney.
"Wanita menyebalkan," gumam Feraldi yang ternyata terdengar oleh Britney.
Britney berdeham, "Terimakasih,"
"Sama-sama!" tutur Feraldi menyentaknya.
"Yaudah, tutup teleponnya. Saya mau nyetir nih, pak!" Britney sudah duduk di jok kemudinya.
"Kamu mau kemana?" tanya Feraldi, ternyata pria ini ngambek. Suaranya meninggi dan tidak selembut tadi.
Britney memutar bola matanya kesal, "Pulang. Tadi kan udah bilang,"
"Oke, tunggu saya!" ujar Feraldi.
"Tadi katanya masih ada kerjaan?"
"Gak jadi!"
NIT
Sambungan telepon terputus. Feraldi yang menutupnya.
"Gimana sih tu orang, geje banget. Gak ngerti gue!" gerutu Britney dan menyimpan asal ponselnya lalu menjalankan mobil menuju rumahnya.
Feraldi yang masih berada di ruangan kantornya merasa sangat kesal sekaligus pusing, kesal dengan Britney yang tidak peduli dengannya, pusing karena kerjaannya masih menumpuk dan belum terselesaikan.
➰➰➰➰➰
Britney menepikan mobil di sebuah tempat roti kesukaannya di daerah jalan Otto Iskandar Dinata.
Ia memesan beberapa jenis roti untuk dibawanya ke rumah, lalu Britney membayarnya dan menunggu uang kembalian.
Britney mengambil uang kembalinya dan menarik Nia menjauh dari sana, "Suara lo gak bisa apa di minimalin dikit aja? Liat noh orang-orang kayak gitu ngeliatinnya!" ucap Britney yang jengkel dengan Nia, kebiasaan sahabatnya itu jika berbicara pasti sangat keras. Dan hasilnya mereka berdua jadi pusat perhatian di toko roti itu.
Nia hanya nyengir kuda dan Britney memutar bola matanya kesal.
"Waktu itu lo kemana, Ney? Ngilang kaya kulit ayam KFC dan menyisakan dagingnya doang,"
Britney mengerutkan dahinya tidak mengerti, "Gini nih, dokter cuma gelar doang! Kagak ngarti sama perihbahasa," ujar Nia sebal.
"Pribahasa, Ni." sanggah Britney membenarkan ucapan Nia.
"Yalah itu! Ish, lo waktu itu ngilang kan. Tapi mobil Celica lo ada di parkiran. Jelasin!" tutur Nia yang memberi penekanan di kalimat terakhirnya.
Beginilah Nia yang cerewet dan sangat menuntut, Britney dan Martha kadang kewalahan menghadapi Nia. Hanya Martha yang bisa sedikit sabar menghadapi Nia, sayang Martha tidak ada di sini.
"Gue pulang, paginya ada jadwal USG." jawab Britney mengingat beberapa hari yang lalu.
Nia menyipitkan matanya dan memperhatikan sahabatnya itu, "Bohong!"
Untuk yang kesekian kalinya Nia mendapatk hidung Britney yang kembang kempis, ciri Britney berbohong.
"Gue serius, Ni. Demi Tuhan!" ujar Britney menghentakkan satu kakinya.
"Tuhan? Tuhan lo yang mana? Ke Gereja aja lo gak pernah!" Nia melotot kesal pada Britney.
Kini Britney yang nyengir kuda, "Gue kan sibuk, sebulan dua kali gue ke Gereja kok." bela Britney untuknya.
Britney tidak bohong waktu itu dirinya benar pulang ke rumah saat selesai minum dengan Martha, Nia, dan....
"Nia! Gue mau cerita sama lo!" ucapnya dan menarik Nia masuk ke dalam mobil Britney.
"Sudah diduga dengan baik dan cermat, dokter oon baru mau cerita. Gimana?" tanya Nia menunggu cerita dari sahabatnya itu.
Britney menggigit bibir bawahnya ragu, sebenarnya ia tidak mau mengucapkan nama mantannya, ia takut rasa itu muncul lagi.
"Waktu itu kan lo sama Martha udah tebleng ya, terus ada yang baru dateng. Lo mau tau gak siapa yang datengnya?" Britney mulai bercerita meskipun pelan ia sangat mengkhawatirkan hatinya agar tidak membludak.
"Bram. Ristan Bramantyo. True?" Nia mengucapkan nama itu dengan lantang tanpa ada sedikitpun rasa iba atau apapun seperti dulu.
__ADS_1
Benar. Hati Britney yang tadi dijaganya sekarang membludak, nama itu terucap dari mulut orang lain saja membuat Britney merasakan sakit kembali, dadanya seketika menjadi sesak.
"Iya. Lo tau?" lirih Britney.
Nia mengambil napas panjang, harusnya Nia yang bercerita pada Britney.
"Lo inget si July? Dia itu ternyata anaknya adek dari nenek gue yang di Blora, terus kenapa waktu itu ada Bram di sana, karena si July sama si Bram satu kerjaan dan ternyata kakeknya si Bram adalah kakaknya ibu dari nenek gue. Ngerti gak lo?" tanpa basa basi Nia menjelaskan.
Britney terkejut bukan main, jadi Nia ada hubungan saudara meskipun jauh dengan Bram.
"Lama banget jabarinnya! Gue sodaraan sama si Bram. Pasti gak percaya kan? Sama, gue juga," ucap Nia merendahkan suaranya.
Britney masih terdiam dan tidak mengeluarkan sepatah katapun.
"Si July cerita, anget banget baru kemarin. Katanya Bram masih cinta sama lo, terus katanya mau cerai sama Prita. Gila kan tu orang," Nia mengepalkan tangannya yang merasa kesal.
Aneh, Britney mendengar itu malah lega dan senang. Bram masih mencitainya dan ia akan menceraikan Prita. Bisakah Bram kembali lagi dengan Britney, raut muka Britney berubah.
"Ngapain lo senyum gitu?" tanya Nia yang mulai curiga.
"Wah gak bener nih! Jangan ngarep lo bisa balikan sama si brengsek Bram, Ney!" Nia mengguncangkan tubuh Britney untuk menyadarkan sahabatnya itu.
"Biasanya gue kalo denger nama Bram, dada gue sakit banget. Tapi sekarang enggak sama sekali, gue malah seneng." ucapnya semakin melebarkan senyumannya itu.
Sebelumnya Nia sudah menebak apa yang akan terjadi bila ia cerita kepada Britney, pasti Britney merasa senang mendengarnya. Dan tebakannya sangat benar terbukti sekarang.
"Gak bisa, Ney! Meskipun nantinya Bram bener cerai sama Prita, lo gak boleh balik lagi sama dia," cegah Nia berusaha menyadarkan Britney.
"Sebagai sahabat gue, lo gak mikirin gimana perasaan sahabat lo ini?" tanya Britney yang menahan emosinya.
"Ney, gak pantes lo dapetin lagi si brengsek Bram di kehidupan lo!" Nia meninggikan suaranya karena mengimbangi Britney.
"Mau gimanapun dia, hati gue selalu nerimanya." tutur Britney lemah.
"Dengan status dia yang udah jadi duda?" Nia mengucapkan itu dengan nada mengejek.
"Hati gue cuma buat Bram, lo tau itu kan Nia! Lo gak pernah ngerasain ini semua!"
Pertahanan Britney rubuh, sekuat tenaga ia tidak akan mengelurkan air mata, tapi karena emosi yang memuncak air matanyapun mengalir meluapkan isi hatinya.
"Sadar diri, Ney! Bram milik Prita dan anaknya, hati lo gak pantes buat Bram."
Britney tersenyum kecut, "Liat aja sebentar lagi, Bram bakalan cerai sama Prita." ucapnya meyakinkan Nia.
Nia memeluk Britney, "Gue dan Martha sayang banget sama lo, Ney. Biarlah kehidupan Bram dia yang jalanin, meskipun dia jadi cerai itu urusan dia sama Prita. Lo jangan kepedean dulu, omongan Bram masih cinta sama lo belum tentu benernya." Nia harap Britney mengerti maksudnya.
Britney hanya mengangguk dalam pelukan yang diberikan Nia.
Dddrrtt... Dddrrtt...
Ponsel Britney begetar, ada pesan masuk.
Nia yang menyadari ponsel Britney bergetar karena ponselnya terletak tak jauh dari jangkauannya.
Bapak Feraldi
Sayang, kamu dimana?
Bapak Feraldi
Saya udah di rumah menunggu kamu, El udah rewel banget gak lihat mamanya.
Mata Nia membulat sempurna, ia tidak salah baca kan?
➰➰➰➰➰
Preeklampsi= suatu sindrom yang spesifik pada kehamilan yang biasanya terjadi umur kehamilan >20minggu, pada wanita yang sebelumnya normotensi. Yang ditandai oleh tekanan darah tinggi(>140/160mmHg) disertai proteinuria.
(Sumber: Buku Pelatihan PPGDON
Oleh dr. Budi Handono, Sp.OG)
Edema: pembengkakan pada anggota tubuh yang terjadi karena penimbunan cairan di dalam jaringan. Beberapa area tubuh yang mudah dikenali saat mengalami edema adalah tangan, lengan, kaki dan pergelangan kaki. Edema menandakan adanya kebocoran cairan tubuh melalui dinding pembuluh darah.
Impending Eklampsi dijelaskan terpisah, atau para pembaca bisa mencari sendiri sumber, karena akan lebih mudah dimengerti.
__ADS_1