The Baby For Britney

The Baby For Britney
TBFB-10


__ADS_3

                                                                                     ➰➰➰➰➰


"Cacing-cacing di perut saya dari tadi konser nih, Ney." gumam Feraldi yang masih merebahkan tubuhnya di sofa, sedangkan Britney sibuk dengan tumpukan map di mejanya.


Britney menghentikan aktivitasnya itu, "Ada cacingnya Adam Levine gak pak?"


Feraldi mendecak kesal dan memunggungi Britney, ia tidak main-main saat ini perutnya memang sakit dan perih, sejak kemarin malam sampai siang ini dirinya belum memakan apapun.


"Gak ada," jawabnya lemah.


Britney menaikkan kedua bahunya tak acuh, lalu melanjutkan kembali kerjaannya yang tadi tertunda. Ia belum merasakan lapar karena mual, terlalu banyak minum alkohol membuat dirinya tidak nafsu makan, hanya minum air putih yang ia butuhkan.


Satu jam Britney berhasil membereskan pekerjaannya dan tidak terdengar lagi suara Feraldi yang mengganggunya.


Britney mengambil botol air mineral lagi dan meminum sampai tandas tak tersisa, sekarang ia sudah menghabiskan tiga botol.


Feraldi masih terdiam dengan posisi tidur memunggunginya, Britney merasa kasihan dengan pria itu.


"Pak, masih mau di sini?" Britney mencolek lengan pria itu.


Tidak ada jawaban.


Mungkin Feraldi benar tertidur pikirnya. Britney pergi ke toilet sebentar, dan saat kembali posisi Feraldi menghadap langit-langit dengan wajah yang dipenuhi keringat.


Britney duduk di sofa yang lahannya masih terisa, lalu menyentuh kening Feraldi, terasa sangat panas. Ia langsung menyambar infrared thermometer yang ada di laci mejanya, didekatkan alat itu pada kening Feraldi dan menunggu hasilnya, 38,7 derajat celcius.


Pantas saja terasa sangat panas.


"Saya lapar, Ney." gumam Feraldi dan menggenggam tangan Britney.


"Astaga, bapak. Dingin sekali tangannya."


Feraldi mengeratkan genggamannya pada wanita itu, seperti menahan sakit yang ia rasakan.


"Maag saya kambuh," ucapnya dengan suara yang serak.


"Kenapa bapak gak bilang dari tadi sih?" Britney jadi kesal dan mengambil ponselnya di saku jas lalu membuka aplikasi untuk memesan makanan.


"Saya tadi kan bilang, cacing-cacing saya lagi konser di perut."


"Itu terlalu bertele-tele, saya kira tadi bapak tidur," bela Britney menutupi kesalahannya.

__ADS_1


"Saya mau makan di rumah aja, Ney." ujar Feraldi menatap wanita yang di hadapannya.


Britney melihat mata Feraldi yang memerah, wajahnya yang pucat membuat dirinya jadi tidak tega. Seperti ada sesuatu yang menyeruak masuk ke dalam hati Britney saat Feraldi mengeratkan kembali genggamannya. Rasa itu lagi. Setelah sekian lama hatinya yang tertutup dan tidak ada satu orangpun yang bisa masuk setelah Bram dulu. Kini pria yang di hadapannya, yang baru ia kenal beberapa hari lalu dengan mudah menyentuh rasa itu.


"Oke, sekarang saya antar ke rumah bapak," Britney tersenyum dan bangkit dari duduknya, namun Feraldi menarik Britney untuk tetap disampingnya, sayangnya kekuatan pria itu terlalu kuat hingga kini Britney berada di atas menindih tubuh kokoh Feraldi.


"Tidak. Tapi ke rumah kamu, saya kangen sama El." gumamnya pelan, tatapannya mengunci mata Britney.


Britney bisa mendengarkan juga merasakan dengan jelas detak jantung pria ini, jantungnya seakan menyesuaikan dengan Feraldi, seirama.


Britney terdiam, ia tidak tahu harus bagaimana. Posisinya yang seperti ini membuatnya nyaman.


"Britney... Izinkan saya untuk ada di hidup kamu saat ini, besok, dan seterusnya."


Pancaran mata Feraldi begitu jujur dan tulus bisa Britney rasakan.


Wanita itu hanya tersenyum. Bagi Feraldi adalah sebuah jawaban, saat Feraldi akan memeluk Britney namun Britney menolak dan berdiri, wajahnya memerah kembali.


"El jam segini sedang tidur, saat kita sampai di rumah pasti El sudah bangun."


Feraldi mendengarnya menjadi semangat, perlahan ia bangun dan duduk di tepi sofa. Sebisa mungkin ia menahan rasa sakit di perutnya, dirinya tidak membutuhkan obat apapun karena akan menjadi ketergantungan.


Setelah Britney selesai mengemas beberapa barang miliknya ke tas hitam kecil miliknya, Feraldi dan Britney keluar ruangan menuju parkir mobil. Mereka berdua tidak peduli dengan beberapa karyawan yang meperhatikannya terang-terangan, satu tangan Britney melingkar di belakang pinggang pria itu dengan tujuan agar Feraldi berjalan dengan hati-hati dan bisa mengurangi rasa sakitnya.


Feraldi hanya nyengir kuda lalu berjalan ke pintu sebelah, Britney memutar bola matanya sebal.


"Lewat jalan Cipaganti jam segini macet, Ney." Feraldi sudah tidak tahan dengan rasa laparnya, Britney mengemudi mengarahkan ke jalan Cipaganti yang menurutnya memakan waktu lama.


"Ini baru jam dua siang, macet itu karena lampu merah." jawabnya santai.


"Tapi saya laper banget, Ney." rengeknya.


Britney juga merasa lapar sekarang, butuh waktu lima belas menit menuju rumahnya dan itu waktu yang lumayan. Bisa mati pria yang di sebelahnya bila menunggu sampai di rumah.


"Kita makan daerah sini aja, pak." Britney terus melajukan mobilnya perlahan dan melihat ada sebuah rumah makan.


Mobilnya menepi, Feraldi sempat menolak tidak mau makan di tempat itu tapi bukan Britney namanya kalau tidak berhasil membujuk orang.


➰➰➰➰➰


Setelah selesai makan mereka berdua melanjutkan kembali perjalanannya menuju rumah Britney. Untungnya Feraldi sudah tidak merasakan sakit di perutnya, badannya pun tidak sepanas tadi.

__ADS_1


Mobil Feraldi memasuki pekarangan rumah Britney, "Ney, mobil kamu masih di tempat kelab. Dan mobil saya juga masih di Creesana." ujar pria itu yang sepertinya mengingat aset berharganya.


Mereka berdua sudah berada di depan pintu yang terbuka melihatkan Mbak Ratih sedang duduk di depan tv bersama El di pangkuannya.


"Mobil bapak di Creesana aman, kalau mobil saya gak apa-apa. Pemiliknya teman SMA dulu, saya sudah menitipkannya."


Pria itu membulatkan bibirnya.


Britney menghampiri Mbak Ratih dan El, Feraldi membuntutinya.


"Aduh teh, El nangis terus dari tadi pagi pas kalian pergi. Ini baru diem, kayanya capek nangis terus." lapornya.


Benar, mata El menunjukkan perubahan, bayi itu menangis seharian. Matanya yang bulat dan basah.


Britney menggendong El dan memperhatikan bayi itu, seketika tubuh El terguncang dan ia menangis lagi.


"El gak mau sama mama dokter, dia maunya sama papa Feral." ucap pria itu dan mengulurkan kedua tangannya pada Britney.


Seolah mengerti, El merentangkan kedua tangannya dan menggerakkannya di udara.


Feraldi berhasil mengambil alih, El terisak-isak kecil, kepala mungilnya berada di ceruk leher pria itu. Tangannya mengepal di bahunya dan yang satu ada di dadanya.


"Kau merindukanku, bayi kecil?" tanyanya pada El, dan langsung dijawab dengan suara khas bayi itu.


"Oke, oke. Papa gak ngerti kamu ngomong apa." kekehnya dan menjulurkan lidah kepada Britney.


Wanita itu senang melihat Feraldi dan El yang seperti ayah dan anak semestinya. Namun mau bagaimana pun El bukanlah darah daging Feraldi maupun dirinya.


Mbak Ratih tertawa melihat kelakuan calon suami majikannya itu, ia pamit ke dapur untuk menyelesaikan kerjaannya.


"Kita gak tahu umur El berapa bulan. Saya lihat kayaknya El masuk umur tiga bulan lebih, karena dia mulai mengenali objek dengan baik dan jauh lebih berkoordinasi. El juga sudah bisa memilih sendiri siapa orang yang dia sukai." tutur Britney.


Feraldi mendengarkan penjelasannya dengan baik.


Pria itu mengangkat tubuh kecil El dan menghadapkan pada Britney, "Lihatlah mama dokter, El. Dia mama kamu, El harus suka juga sama mama." ujar Feraldi.


El malah tertawa dan memasukkan tangan kecilnya ke dalam mulut, gusinya yang merah muda begitu bersih dan menambah kegemasan bayi itu.


Britney teriak dan mengeluarkan tangan kecil El dari mulutnya, "Anak mama jangan masukin tangan ke mulut kalo tangannya gak bersih, nanti bisa sakit perut." nada khawatir menghiasi perkataan Britney.


"Gea! Maksud kamu apa? Kamu sudah jadi mama dari bayi itu?" suara wanita paruh baya yang sekarang berada tepat di belakang Britney, Feraldi dan El berada di tangan pria itu.

__ADS_1


Seketika wajah Britney menjadi pucat melihat siapa yang berada di hadapannya, ia ingin mengakhiri hidup dan karirnya saat ini juga.


__ADS_2