
Saat Feraldi melangkahkan kakinya di anak tangga yang terakhir, ponselnya berbunyi menandakan ada pnggilan masuk. Pria itu melirik ponselnya yang menunjukkan bahwa Erza menelpon.
"Gimana, Za?" tanya Feraldi tanpa basa basi.
Erza yang berada di seberang sana menggigit bibir bawahnya gelisah, ia sempat tidak mau menghubungi sahabat sekaligus atasannya itu, jika bukan masalah pekerjaan pria itu tidak mau mengganggu waktu istirahat siapapun.
"Di, gue lagi di perjalanan menuju rumah lo." ucap Erza.
"Tumben, ada apa?" Feraldi menaikkan sebelah alisnya dan menyambar jas hitamnya yang ada di sofa ruang TV.
"Kita harus ke Semarang, Di. Site manager di sana complain, gue gak bisa handle sendiri."
Oke. Sekarang waktu yang tidak tepat untuk menyelesaikan masalahnya dengan Britney, pria itu kini dihampiri oleh pekerjaannya. Sedikit rumit jika sudah membawa Site Manager, Feraldi menghela napasnya dan melangkah keluar.
"Posisi lo sekarang di mana?" tanyanya pada Erza.
"Baru masuk cicaheum,"
Sekitar sepuluh menit lagi Erza akan sampai di perumahan Tamansari Bukit Bandung, rumah Feraldi.
"Oke, gue di perjalanan pulang," ujar Feraldi.
"What?! Gue kira lo ada di rumah," Erza mengerang karena ia kira Feraldi di rumahnya, padahal pria itu lebih awal pulang meninggalkan kerjaannya. Erza tidak mau lagi mendengar alasan yang dilontarkan oleh Feraldi.
"Ya. Beberapa menit lagi gue ada di rumah," Feraldi menutup sambungan telepon itu dan memasukkan ponselnya ke saku celana.
Saat Feraldi membuka gerbang rumah ia melirik ke lantai atas, kamar Britney kini hanya diterangi lampu tidurnya. Feraldi tersenyum getir, jika tidak ada kerjaan yang harus diselesaikan, ia akan menghibur Britney dan melupakan rasa sakit hati yang dirasakan wanita itu.
"Feral, kamu mau kemana, nak?" tanya Nisrina dengan segelas air putih di tangan kanannya, wanita paruh baya itu sepertinya belum tidur.
Feraldi tersenyum simpul dan menghampiri Nisrina, "Ada kerjaan di Semarang, ma. Saya harus ke sana."
Nisrina mendengarnya tidak tega, karena jam segini Feraldi mendapat panggilan kerja dan berjarak lumayan jauh.
"Sudah makan?" Nisrina kembali bertanya seolah bisa membaca Feraldi.
"Nanti saja di perjalanan," jawab Feraldi, pria itu baru ingat bahwa dirinya belum makan.
Nisrina menyerahkan gelas yang tadi ia pegang lalu masuk ke dalam rumah, dan kembali dengan plastik putih di tangannya.
"Tadi baru dimakan satu, kamu makan di jalan ya," ucap Nisrina lalu menukar yang ada di tangannya dengan yang di tangan Feraldi.
Baiklah. Jadi tangan Feraldi sebagai tempat penitipan sementara untuk Nisrina.
"Terimakasih, ma." balas Feraldi lalu memeluk Nisrina refleks.
Nisrina membalas pelukan Feraldi, "Hati-hati."
Feraldi menggangguk, sengaja pria itu menahan lama pelukannya. Biar sedikit mengalir rasa kerinduan terhadap mendiang mamanya. Meskipun ayah Feraldi sudah menikah lagi, namun tetap saja ia tidak sedekat ini dengan ibu tirinya.
Feraldi pamit dan meninggalkan rumah Britney, di perjalanan ia mulai memakan satu roti Sidodadi yang dibekalnya dari Nisrina.
Rotinya benar-benar enak, lalu ia memakannya lagi. Menemukan rasa kornet dan keju, lidahnya mulai menginginkan roti itu lagi dan lagi.
Sampai tak terasa roti tersisa hanya dua lagi, ia simpan untuk bekalnya ke Semarang.
Jika pria itu pulang dari Semarang, akan membeli stock banyak roti Sidodadi untuk di rumahnya.
Sesampainya Feraldi di perumahan dan mobilnya melaju ke blok kediaman rumahnya, ia melihat dari jauh Erza berdiri di belakang mobilnya dan asap rokok yang mengepul di udara.
Feraldi menebak, pasti sudah setengah bungkus rokok yang Erza habiskan untuk menunggu dirinya.
Mobil Feraldi terparkir di pekarangan rumahnya, Erza hanya melirik pria itu saat Feraldi keluar dari mobil dengan ekor matanya.
"Gue udah sampe setengah jam yang lalu di sini," ujar Erza tanpa menoleh Feraldi dan membuang puntung rokoknya asal.
__ADS_1
Feraldi berdeham dan memberikan plastik putih berisikan roti Sidodadi sisa miliknya.
Erza tetap menerimanya meskipun ia agak kesal menunggu lama Feraldi, lalu pria itumembuntuti Feraldi masuk.
Setelah keduanya siap pergi ke Semarang, Erza teringat sesuatu.
"Lo udah makan, Di?" tanyanya pada Feraldi yang tengah menarik seat bealt.
Pria itu hanya mengangguk dan memainkan ponselnya.
Erza mendengus, ia mengingat terakhir kalinya Feraldi dibawa ke UGD karena penyakit maagnya kambuh.
"Gue gak mau lagi drama masuk UGD ya," tutur Erza dan melajukan mobilnya.
➰➰➰➰➰
Britney terbangun karena suara tangisan El, ia melirik jam yang menunjukkan pukul empat pagi, lalu Britney menggendong El dan turun ke bawah untuk membuatkan susu untuknya.
Mbak Ratih sedang menyapu di dapur, tangis El mereda karena ruangan tidak segelap di kamar Britney.
Tangan Britney sudah cekatan untuk membuat susu, El langsung menyambut dot miliknya dengan rakus.
Britney duduk di meja makan dengan tangannya menahan El, kedua matanya masih rapat.
"Teh, El biar sama Mbak aja." ucap Mbak Ratih menyadarkan Britney.
Namun Britney menggeleng dan membiarkan posisinya sampai El menghabiskan susu.
"Mama masih di sini, Mbak?" tanya Britney.
Mbak Ratih mengangguk, "Iya, teh. Ibu di sini."
Britney mendengus kesal, mamanya itu keras kepala dan sampai kapan papa tidak pulang ke Bandung.
Ada jeda lama untuk menjawab pertanyaan Britney, Mbak Ratih sebenarnya baru bangun dan tidak melihat sekitar. Ia pikir Feraldi ada di kamar bersama Britney.
"Gak tahu, teh. Mbak baru bangun," kekehnya dan meninggalkan Britney.
Perasaan bersalah menghampiri Britney, mungkinkah dirinya terlalu kasar pada Feraldi.
Pipi Britney merona kembali, pikirannya teringat kejadian semalam. Saat Feraldi menciumnya lembut, ia menepis pikirannya. Hatinya berdebar kencang dan hasratnya menginginkan Feraldi disini. Sepertinya Britney mulai menerima pria itu.
El sudah menghabiskan susunya, Britney membawa El ke kamar. Menidurkan kembali El, namun sekarang di kasur Britney.
Tidak henti-hentinya El mengeluarkan suara khasnya, Britney mencubit gemas hidung El.
"Elthon Atlana... bagus juga nama kamu,"
Bayi kecil itu tertawa dan mengedipkan beberapa kali matanya, seakan bayi itu mengerti dirinya sedang tersipu malu dipuji oleh wanita secantik Britney.
"Genit banget nih bayi, kayak bapaknya," Britney terkekeh geli lalu menciup perut buncit El yang disusul dengan tawa gemas bayi itu.
Kemudian Britney terdiam, El bukan anak kandung Feraldi dan dirinya. Tapi Britney menyayangi El dan bisa menerima bayi itu sebagai anaknya. Apakah Feraldi juga bisa ia terima sebagaimana menerima El?
Entahlah, Britney beberapa saat yang lalu sudah menguatkan hatinya untuk menerima Feraldi. Semoga seterusnya seperti itu.
Senyum mengembang di bibir Britney, mencium kembali El. Kini di pipinya, lalu di hidungnya, terakhir di bibir mungil El.
Nanti setelah Britney sudah mandi dan siap pergi ke klinik, ia akan menghubungi Feraldi. Sebagai awal bahwa dirinya menerima pria itu.
➰➰➰➰➰
Feraldi dan Erza tiba di Semarang jam empat pagi, mereka hanya tidur satu setengah jam di hotel. Erza yang bangun duluan karena dirinya yang akan mati jika proyek kali ini gagal dan mendapat rugi yang tidak tahu mencapai berapa rupiah.
__ADS_1
Pria berambut cepak itu mandi dengan cepat dan berpakaian rapi, Feraldi terbangun karena suara Erza yang tidak santai.
"Jam berapa?" tanya Feraldi menyipitkan matanya.
"Tujuh," balas Erza yang membuka laptop di meja.
Feraldi langsung bangkit dari tidurnya dan bergegas masuk ke kamar mandi, pria itu dengan cepat melakukan kegiatan mandinya lalu mengeringkan dirinya dengan handuk dan berpakaian tak kalah rapi dari Erza.
Dasi yang digunakan Feraldi sedikit mencekik dirinya, atau pria itu merasakan hal yang sama seperti Erza.
"Gue harus menghapal ini berkali-kali, beda sama lo yang baca sekali dua kali aja langsung nerap di otak." Erza menyerahkan laptopnya kepada Feraldi.
Dan benar, Feraldi membacanya perlahan, memahaminya lalu otak cerdasnya mengingat tuntas data yang tertera di sana.
"Baiklah, jadi hanya beda selisih di bagian Mechanichal Electrical." tutur Feraldi mantap dan menutup laptopnya.
Erza terdiam, ia sendiri belum menemukan latar masalahnya di sana. Baiklah, pantas saja Feraldi menjadi atasannya saat ini. Kepintaran sahabatnya itu memang nomor wahid dari dulu.
Feraldi dan Erza sudah siap dan turun ke bawah untuk breakfast, Feraldi memilih nasi goreng sedangkan Erza hanya kopi hitam dengan gula setengah sendok teh.
"Lo kenapa?" tanya Feraldi yang menyuapkan nasi goreng ke mulutnya.
Erza berdeham kaku, "Gue gugup, padahal kita kayak gini udah sering."
Ketakutan Erza sangat masuk akal, karena kerjaannya sekarang begitu penting dengan perusahaan yang mereka sandang itu. Feraldi dalam hati berdoa untuk kelancarannya hari ini.
Dddrrtt....
Ia merogoh saku celananya dan meraih ponsel.
Calon Istriku Ney
Jam berapa kamu sampai di Semarang?
Maaf soal semalam, aku terlalu kasar sama kamu.
Hati Feraldi menghangat seketika melihat pesan masuk dari Britney, ia berani taruhan, hari ini akan menjadi hari terindah yang ia lalui. Begitupun esok dan seterusnya, Britney telah menerima Feraldi.
Senyum Feraldi mekar saat itu juga, Erza yang melihatnya sedikit risih dan bingung, namun ia belum mau menanyakan hal apa yang membuat Feraldi seperti itu. Erza masih memikirkan pertemuannya dengan Site Manager itu.
Sedangkan keberadaan Britney di Bandung, di rumahnya tadi.
Nisrina duduk di depan TV dengan teh hangatnya, El bersama mbak Ratih juga di sana.
Britney pamit kepada mereka, saat melewati Nisrina, telinga Britney berhasil ditarik oleh mamanya.
"Awwh, sakit sih, ma! Jail banget!" ringis Britney dan mengusap telinganya.
Nisrina melipat tangannya angkuh, "Tega ya kamu, suami pergi kerja jauh malah enak tidur bukannya dianterin sampe depan,"
"Suami apa?" tanya Britney polos.
"Ya itu, Feraldi. Calon suami kamu maksudnya," Nisrina gemas dengan putrinya ini, sudah besar masih saja berlagak bego.
"Oh, emang kemana dia?" tanyanya lagi.
Nisrina menghela napasnya, menetralkan amarahnya ia tidak mau pagi yang indah ini dirusaknya dengan marah-marah.
"Dia pergi ke Semarang, ada kerjaan di sana." ujar Nisrina ketus.
Britney melongo, hatinya hampa seketika.
"Jauh amat, ma. Berapa lama dia di sana?"
Nisrina menatap Britney dengan tajam, "Mana mama tahu! Kamu tuh gimana sih, Gea! Pusing mama sama kamu ah," Nisrina memegang kepalanya, pening dengan kelakuan putrinya itu.
__ADS_1
Britney melangkahkan kakinya keluar, lalu mengambil ponselnya di dalam tas, mengetik pesan untuk Feraldi.
Wajah cantiknya terlihat memikirkan seseorang di sana, memikirkan pria itu, Feraldi