
Britney menenteng plastik putih berisi roti Sidodadi kesukaannya, satu tangannya sibuk memainkan ponsel yang sejak tadi turun dari mobil ia mainkan.
"Sayang, udah siapin apa aja buat bride mates kamu?" tanya Feraldi yang menyadarkan Britney karena wanita itu sudah berada di ruang televisi.
Di sana ada Nisrina yang sedang menikmati pudding coklat dengan senyuman yang merekah, di sebelahnya Feraldi yang masih memakai kemeja kerjanya dengan kedua lengannya di lipat sampai siku, Britney menelan ludahnya susah payah dan seketika langkahnyapun terhenti.
El berada di pangkuan Feraldi, bayi kecil itu bersin dan menarik perhatian mereka semua.
"El kayaknya kedinginan, bawa masuk ke kamar aja. Gea kan udah pulang." ujar Nisrina, sorot matanya seperti ada sesuatu yang dirahasiakan, senyuman mamanya itu tidak berhenti sejak tadi.
Britney mendengus, langkahnya mendekat ke arah Feraldi lalu menggendong El. Plastik putih berisi roti Sidodadi ia berikan kepada pria itu.
"Gak ada bride mates, adanya roti ini," ucapnya dan berangjak menuju kamar.
"Waah itu roti Sidodadi? Mama mau ya," seru Nisrina yang baru saja menghabiskan pudding dan merebut plastik putihnya.
Feraldi dan Britney menghiraukan Nisrina.
Tangan mungil El terus berusaha masuk ke dalam mulutnya, namun ditahan oleh Britney.
El menangis karena Britney menahannya.
"Papa dataaaaang," Feraldi berdiri dengan semangat dan membuntuti Britney menaiki tangga.
Tangis El tidak berhenti sampai ditidurkan di box miliknya, air mata bayi itu membasahi piyama bergambar bebek yang dikenakan, "El nangis terus, padahal kamu udah dateng," ucap Feraldi yang berada di samping Britney.
"El mau tumbuh gigi," jawab Britney dan menggendong kembali El, membawanya ke kasur lalu mengambil baju ganti El.
"Kok cepet banget tumbuh giginya?" tanya Feraldi yang mengambil alih baju El dan dia siap menggangtikannya.
Britney mengerti maksud Feraldi, jadi ia berjalan menuju lemarinya dan melilih baju tidur.
"Gak langsung tumbuh, pak. Lagi proses gitu," jawabnya dan memilih piyama putih, Britney berjalan menuju kamar mandi.
Ferladi ber-oh ria dan melanjutkan memakaikan baju El.
Tangan mungil El yang terus berusaha memasukkannya ke dalam mulut dan menggigitnya dengan gemas membuat Feraldi semakin menyayangi El.
"Siapapun orangtuamu, saya dan Britney yang akan menjaga kamu sampai nanti," ucap Feraldi menatap El.
Tak lama El mengantuk dan dipindahkan ke boxnya, Feraldi duduk di tepi kasur dan membuka ponselnya.
Kerjaan yang tadi belum selesai ia serahkan kepada asistennya sekaligus sahabatnya sejak duduk di bangku SMP, Erza namanya. Jika tidak ada Erza tamatlah riwayat Feraldi.
Wangi bunga peony menguasai kamar Britney, suara shower sudah tidak lagi terdengar, wanita itu keluar dengan handuk yang melilit di tubuhnya. Rambut panjangnya tidak tergerai, diikat asal dan melihatkan leher jenjangnya. Feraldi lagi-lagi tidak sengaja melihat Britney seperti itu, Feraldi mengambil napas dalam kemudian menahannya hingga dada pria itu mengembang karena udara memenuhi rongga dadanya.
"Pak, mau giliran mandi?" tanya Britney dan mengernyitkan alisnya.
Feraldi yang tak tahan karena kehabisan udara menghembuskan napasnya kasar, "Nanti saja." ucap pria itu dan memainkan kembali ponsel yang digenggamnya.
Britney mengedikkan satu bahunya, ia mulai memakai piyama putih berbahan kain satin. Rambut yang diikat kini terurai, Britney berjalan melewati Feraldi dan duduk di depan meja rias.
Wangi bunga peony sangat mengganggu indera penciuman Feraldi, entah apa yang menguasai Feraldi membuat dirinya ingin terus mencium aroma itu, yang tentunya bersumber dari Britney.
__ADS_1
"Ney, besok kita ke gereja bareng." ujar Feraldi.
Pergerakan Britney terhenti, rambutnya yang masih setengah berantakan itu nampak jelas, kemudian ia berbalik menghadap Feraldi.
"Masing-masing aja, pak."
"Lagian saya ada operasi besok," tutur Britney yang berusaha menolak pria itu, sebenarnya ia mengarang alasan agar tidak pergi bersama Feraldi.
Ferladi sudah menduganya, pasti Britney menolak.
"Kita bakalan katekisasi."
"Untuk apa?" tanya Britney yang merasa kebingungan.
"Kita akan menikah, pembekalan untuk nanti."
Seperti ditampar, Britney tidak percaya dengan ucapan Feraldi. Secepat itukah Feraldi yakin kepada dirinya, dan ia pun tidak mau menyerahkan segalanya untuk Feraldi.
"Saya udah bilang berapa kali sama bapak, tidak ada pernikahan!" bentak Britney dan merapikan kembali rambutnya.
Apa yang salah dengan Feraldi, pria itu berpikir bahwa dirinya sudah mapan, usianya pun sudah terbilang cukup untuk menjalani rumah tangga, begitu juga dengan Britney.
"Ney, kamu jangan keras kepala gitu. Kasihan El udah jadi tanggung jawab kita berdua," ucap Feraldi melirik sekilas El yang berada di boxnya.
Britney terdiam, ia tidak mau disangkut pautkan dengan El. Mau bagaimanapun juga ia dan Feraldi bukan orangtua kandungnya, hanya karena keadaan waktu itu yang menyeretnya hingga seperti ini. Ia tidak menerimanya. Atau mungkin belum bisa menerimanya.
"Yang keras kepala itu siapa? Saya kan udah ngasih alternatif, El diasuh sama teman saya. Kita berdua gak usah terikat dengan pernikahan, pak! Gak usah dibawa ribet."
Feraldi terpancing emosinya, "Mau gimanapun kamu menolak saya, saya bakalan tetap menikahi kamu, Briney!" ucap Feraldi dengan penuh penekanan.
"Dengan alasan apa bapak yakin mau menikahi saya? Padahal bapak udah tahu, kalo saya itu suka main di dunia malam. Minum, merokok dan menghabiskan uang," tutur Britney menahan tangisnya, matanya sudah berkaca-kaca menahan semua yang diucapkannya.
Ia tidak peduli dengan cacian Feraldi yang akan dikeluarkan dari mulutnya nanti.
Feraldi mendekatkan dirinya pada Britney, ia memperhatikan Britney. Wanita itu tanpa polesan make up sedikitpun, cantik. Rupanya yang polos tidak menunjukkan bahwa ia mempunyai sifat jelek, yaitu pergi ke dunia malam.
Feraldi tidak percaya bahwa itu murni keinginan Britney, wanita itu hanya meluapkan kesedihannya dan hanya melampiaskan.
Feraldi yakin bahwa Britney wanita baik-baik dan wanita yang tepat untuk dirinya.
"Saya gak peduli. Kamu bisa berubah, Ney. Semenjak beretemu dengan kamu, saya percaya kalau kamu wanita yang tepat untuk saya, begitupun saya pria yang tepat untuk kamu! Feraldi semakin mendekatkan dirinya pada Britney, kini ia merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan wanita itu.
Britney meremas piyamanya, ia belum siap sama sekali untuk menerima Feraldi.
Penuturan Feraldi tadi membuat Britney terbelenggu. Bahkan di hatinya masih ada nama seseorang, Bram.
Ya, masih ada Bram dalam hatinya. Tapi sampai kapan Britney akan merasakan terpuruk seperti itu, dan pria yang dihadapannya kini begitu tulus menginginkan dirinya.
Entahlah, Britney masih belum mengerti dirinya akan bagaimana.
"Tolong, Ney. Saya mau kita jalanin dulu, sambil kita mengenal satu sama lain." ucap Feraldi setengah berbisik.
Hatinya sangat berharap pada Britney, ia sangat bersungguh-sungguh mengucapkannya.
__ADS_1
Namun Britney masih tetap diam, tidak mengeluarkan sepatah katapun. Namun sorot matanya tidak lepas dari Feraldi.
Kemudian Britney mengangguk lemah.
Feraldi tersenyum melihatnya, lalu mendekatkan wajahnya dan memperhatikan bibir Britney, wangi bunga peony sangat jelas sekarang, jarak antara Feraldi dan Britney semakin dekat.
Hembusan napas mereka berdua saling rasakan, Feraldi menikmatinya, begitupun Britney. Entah kenapa Britney tidak menghindarinya, ia tetap menatap Feraldi. Meyakinkan hatinya mungkin bisa menerima Feraldi, mungkin.
Namun tak disangka saat Feraldi hendak mengatakan sesuatu kepada Britney, pria itu malah mengecup bibir Britney lembut.
Britney terkejut dengan apa yang dilakukan Feraldi.
Feraldi tidak bisa menahan lagi untuk merasakan bibir Britney, Feraldi mencintai wanita itu.
Feraldi ********** pelan, tidak ada balasan atau penolakan dari Britney. Yang ada Britney memejamkan kedua matanya, seolah hanyut dalam perasaan yang Feraldi berikan.
Namun beberapa detik kemudian Britney mentikkan air matanya.
Feraldi menyentuh tengkuk Britney, mengeratkannya seolah tidak mau melepas ciuman mereka.
Britney menerimanya, begitu lembut yang diberikan oleh Feraldi.
Mereka berdua hanyut dalam perasaan masing-masing, Feraldi dengan cintanya untuk Britney, sedangkan Britney masih belum menerima sinyal untuk dirinya bisa menerima Feraldi.
Britney semakin menjadi, ia menangis dan menggigit bibir bawah Feraldi yang membuat pria itu meringis.
"Ada apa? Aku menyakitimu?" tanya Feraldi yang merubah panggilannya itu menjadi tidak formal seperti biasanya.
"Pergi!" bentak Britney memalingkan wajahnya.
Feraldi yang tidak mengerti berusaha meraih pergelangan tangan Britney.
Namun wanita itu menepisnya dengan kasar, menangis lagi tanpa suara.
"Aku mohon, pergi." lirihnya.
"Ney, jangan seperti ini. Jelaskan, apa yang salah?" Feraldi mendekat namun Britney menatapnya tajam.
Air matanya terus mengalir, tidak mungkin Feraldi membuat kesalahan hanya mencium Britney tadi. Pasti ada sebab lain yang membuat Britney seperti ini. Mungkinkah ada sangkutannya dengan mantan sialan Britney. Feraldi menggeram kesal mengingat mantan kekasih Britney itu. Benar-benar kurang ajar, apa yang dilakukan mantannya itu membuat Britney terpuruk saat ini, dan tidak bisa menerima Feraldi.
"Aku bilang pergi!" Britney mendorong tubuh Feraldi dan menangis sejadinya.
Feraldi tidak mau sampai El terbangun, dan ia ingin Britney meluapkannya sendiri. Mungkin itu cara yang terbaik untuk Britney, jadi Feraldi melangkah keluar kamar meninggalkan Britney.
Britney merebahkan tubuhnya di kasur, melimpahkan kesedihannya dengan terus menangis.
Dia tidak tahu harus bagaimana, tadi dirinya sudah menemukan titik keyakinan untuk bisa menerima Feraldi. Namun saat ciuman yang diberikan Feraldi, Britney malah teringat Bram.
__ADS_1
"Lo gak salah apa-apa, Feral. Gue yang gak ngerti sama perasaan sendiri. Bram begitu melakat sama hati gue dari dulu," gumam Britney tersedu.