
Siang itu di bawah teriknya matahari, Britney keluar dari mobil sedan hitam miliknya menuju Creesana Care. Karena di klinik sudah tidak ada lagi jadwal dan ia sudah beberapa hari tidak ke Creesana.
Britney mengatur napasnya saat memasuki Creesana, para karyawan memberi anggukan dan senyum andalan mereka. Britney membalas dengan senyum simpulnya, melangkahkan kakinya menuju lift, tidak butuh waktu lama menunggu pintu lift pun terbuka, segera ia memencet angka empat.
Sesampainya di lantai empat Britney mendapatkan Alifa yang berjalan ke arahnya dengan tumpukan map di tangannya.
"Siang, dok," sapanya lalu tersenyum.
"Mau kemana kamu, Al?" tanya Britney dan melirik tumpukan map yang dibawa Alifa.
"Ini berkas-berkas yang di meja dokter bulan kemarin mau saya ungsikan ke ruangan saya." ujar Alifa yang memamerkan deretan giginya, Alifa adalah gadis yang baik dan penuh semangat. Untungnya Britney tepat memilih alifa sebagai asistennya.
"Ada yang harus saya tanda tangan gak, Al? Atau ada yang belum saya baca?" tanyanya lagi.
Alifa menatap langit-langit di atas, menggali memori di dalam otaknya.
"Tidak ada, dok," jawabnya mantap.
Britney mengacungkan satu jempol kanannya lalu menepuk pundak Alifa, "Saya duluan, kalau kamu sudah beres. Ke ruangan saya secepatnya."
Alifa mengangguk semangat lalu tersenyum, namun saat Britney masuk ke dalam ruangannya, Alifa menggerutu dalam hati.
Belum juga kelarin satu kerjaan, udah mau dikasih kerjaan lain. Hadeuh! Nasib seorang bawahan begini nih.
Alifa berjalan kembali dan masuk ke ruangannya, menata tumpukan map di lemari. Setelah sudah rapi tertata, ia bergegas ke ruangan Britney sebelum wanita itu menceramahinya lewat telepon.
Alifa mengetuk pintu ruangan Britney membuka pintu dan kepalanya menonjol masuk ke dalam melirik Britney.
"Gak usah ngetuk pintu kalau ujungnya nongol gitu, Al," ujar Britney melirik sekilas Alifa dan fokus kembali dengan berkasnya.
Alifa hanya terkekeh lalu menghampiri Britney, sebenarnya Alifa tidak sengaja melakukan itu karena ia terbiasa di rumah, sebisa mungkin Alifa menyembunyikan rasa takutnya terhadap Britney, takut dimarahi.
"Endorse bulan ini belum ada pemasukan?" tanya Britney lalu menutup map yang berisikan berkas tersebut.
"Bagian keuangan belum menghubungi saya, dok." jawabnya.
Britney menyenderkan punggunya ke sandaran kursi, lalu melipat kedua tangannya dan satu kakinya menopang di kaki lain.
"Oke, kamu boleh keluar. Saya sebentar lagi mau pulang," ujar Britney.
Alifa melongo kaget, ia kira Britney akan marah besar atau menjajahnya dan bagian keuangan, tapi kali ini tidak. Alifa tidak akan mengabaikan kebaikan Britney, lantas Alifa langsung berdiri dan pamit kepada Britney dengan senyum lebar melebihi garis wajahnya.
Britney meraih ponselnya di meja, ia mencari notif dari Feraldi. Bibirnya mengukir senyuman saat nama Feraldi tersirat di pikirannya, hanya ada beberapa chat dari berbagai group di sana, dan nihil.
Perlahan senyumnya pun hilang.
Untungnya sekarang hari Sabtu, jadi tidak terlalu banyak pekerjaan. Britney memutuskan untuk pulang.
Setibanya di mobil Britney mengeluarkan ponselnya, dan mengecek kembali notif.
__ADS_1
Ia berharap Feraldi akan membalas pesannya tadi pagi, namun sampai saat ini pria itu belum juga membaca pesannya.
Sepertinya Feraldi masih marah terhadap dirinya, pikir Britney.
Britney mengaktifkan Bluetooth dan mencari playlist di ponselnya, cover dari Boyce Aveneu dengan judul The one that got away menjadi favoritenya, diputarnya lagu itu dan Britney menikmatinya sambil mengikuti menyanyi.
In another life, I would make you stay
So I don't have to say
You were the one that got away
The one that got away
Seketika lagu terhenti, dan ada panggilan masuk dari Feraldi.
Britney menahan napasnya, menetralkan degub jantungnya. Ia tidak mengharapkan pria itu menghubunginya dengan menelpon, cukup membalas pesannya saja cukup.
"Aktifkan cameramu, Ney," ucap Feraldi saat teleponnya terhubung.
Britney mengatup bibirnya rapat. Dirinya tidak mau melihat pria itu, bukan, tapi belum mau melihatnya. Britney masih malu dengan kejadian semalam.
Wajah Feraldi terpampang penuh di layar ponsel Britney, lesung pipi pria itu membuatnya makin terlihan tampan. Senyumnya yang sedari tadi menunjukkan bahwa pria itu tidak marah padanya.
"Ney? Kamu masih di sana?" tanyanya dengan mendekatkan ponselnya ke mata pria itu, seolah mencari Britney di dalamnya.
Wanita itu tertawa melihat kelakuan Feraldi.
"Aktifkan kameramu," titah Feraldi menyunggingkan senyum jahilnya.
Britney mengaktifkan cameranya, membenarkan posisi duduknya dan menyisir rambutnya ke belakang.
Erza yang ada di sebelah Feraldi di sana menatap takjub wanita yang sedari tadi pria itu ceritakan saat selesai pertemuannya dengan Site manager, tentu saja Feraldi menceritakan dari awal pertama bertemu dengan Britney hingga kejadian semalam. Feraldi sempat dimaki oleh Erza, namun persekian detik berikutnya Feraldi mengutarakan isi hatinya dan Erza pun mengerti.
Britney sangat cantik dan terlihat dewasa, Erza mengagumi wanita itu.
"Kenalkan, dia Erza. Sahabat sejak SMP, dan dia asistenku," ucap Feraldi dan mengarahkan ponselnya ke Erza, pria itu tersenyum lalu melambaikan tangannya. Pandangannya terus mengarah pada Britney.
Britney membalas lambaian tangan Erza.
"Lambaian tangan untukku, mana?" tanya Feraldi dengan menunjukkan ekspresi sedihnya.
Britney tidak menggubris kemauan Feraldi, sebenarnya ia masih merasa malu padanya.
"Tadi sampai di Semarang jam berapa? Berapa lama di sana?" tanyanya.
"Jam empat pagi, tidak akan lama. Seminggu, mungkin," ujar Feraldi dan berhasil menangkap raut wajah kecewa dari Britney, namun wanita itu menyembunyikannya.
"Baiklah, hati-hati di sana. Jangan sampai telat makan," Britney tersenyum saat mengingatkan Feraldi, karena ia tahu Feraldi sangat rentan terkena maag.
__ADS_1
"Kamu gak mau aku pulang cepet?"
Britney menggelengkan kepalanya, namun pipinya malah merona dan hidung Britney terlihat sedikit kembang kempis.
Feraldi mendengus sebal, hubungannya sudah membaik namun tetap saja Britney tidak menginginkannya.
"Ya sudah, kalau aku nanti pulang, bibir kamu harus mendarat di sini. Lima menit," ucap pria itu dan menunjukkan pipi kanannya dengan jari telunjuk.
Feraldi langsung mematikan telepon dan melanjutkan kembali kegiatannya dengan Erza di sana.
Sementara Britney terdiam lalu memukul stir mobilnya beberapa kali. Sial, Feraldi sangat manis di hadapannya tadi dan Britney tidak tahan. Ia menginginkan Feraldi cepat pulang saat itu juga.
➰➰➰➰➰
Enam hari berlalu, Feraldi masih berada di Semarang. Pria itu tidak menyangka akan tinggal lama di sana, kerjaannya di sambung karena proyek baru di Jalan Pandanaran.
Britney perlu bersabar, menghadapi Feraldi yang semakin hari memperlakukannya begitu manis dan spesial. Ia kesulitan untuk mengontrol dirinya untuk ingin bertemu dengan Feraldi, belum lagi El yang rewel melihat pria itu saat video call. El juga merindukan Feraldi.
Meskipun Britney tidak mengatakan bahwa dirinya tidak merindukan Feraldi, tapi hatinya mengatakan demikian. Bagaimana tidak merasakan kerinduan pada pria itu, setiap harinya Feraldi selalu menyambut Britney dengan berbagai kelakuannya yang begitu manis.
Seperti malam kemarin, video call sudah menjadi kegiatan rutin mereka tiap malamnya.
"Jangan terus menatapku seperti itu," ujar Feraldi malam itu.
Lalu Britney mengalihkan tatapannya ke sembarang arah.
"Tatap aku lagi, Ney," pinta Feraldi, dan refleks Britney menatap Feraldi kembali.
"Apakah berbeda?" tanyanya dan menyunggingkan senyumnya.
"Apa yang berbeda?"
"Saat kamu melihatku, dan kamu tidak melihatku." tutur Feraldi.
Britney terlihat berpikir sejenak, "Tidak ada bedanya. Memangnya ada apa?"
Feraldi menatap lekat tepat di manik mata Britney lalu menghela napasnya, "Jika aku menatapmu, aku seperti melihat dunia beserta kebahagiaan yang akan ku lewati hanya denganmu, sedangkan saat tatapanku ke lain arah, bayangmu tetap hadir di penglihatanku dan keceriaan yang kita lalui setiap harinya."
Britney tersenyum haru mendengar itu semua, belum lagi Feraldi yang menatapnya seperti itu.
Bertambahlah rona merah di wajah cantiknya.
Dan masih banyak lagi perkataan serta perlakuan manis Feraldi lainnya.
Britney mendapat kabar dari Feraldi bahwa pria itu akan pulang satu hari lagi, lantas Britney ingin menyiapkan makanan yang bisa ia olah untuk di hidangkan saat pria itu pulang.
Hari ini adalah hari Sabtu, sengaja Britney mengosongkan jadwalnya di Klinik dan tidak pergi ke Creesana. Ia pergi ke salah satu mall di jalan Cihampelas, karena jaraknya yang lumayan dekat dari rumahnya dan beberapa yang akan ia beli pasti tersedia di sana.
Britney mencium wangi kopi, saat langkahnya akan memasuki tempat kopi tersebut, ia terhenti karena seseorang di belakangnya menepuk pundaknya lembut.
__ADS_1
Wanita itu menoleh dan terkejut melihat siapa yang berada di hadapannya ini, sebucket bunga mawar merah ada di tangannya dan tak lupa senyum yang terukir di wajah tampannya itu.