The Baby For Britney

The Baby For Britney
TBFB-21


__ADS_3

Seorang staff meninggalkan kamar yang telah disewa oleh Britney, ada tatapan tidak tega melihat pria yang memintanya untuk meminjamkan kunci cadangan karena di dalam kamar tersebut ada seseorang yang sangat pria itu cintai.


Baru melangkahkan tiga langkah kaki aroma alkohol sudah tercium dan seketika kamar itu menjadi sesak, Britney yang tertidur di bawah sofa langsung dihampirinya.


Direngkuhya tubuh Britney, hati pria itu teriris merasakan pipi Britney basah dan mata wanita itu sembab.


"Apa yang membuat kamu seperti ini?" Suara khas milik pria itu ternyata membuat Britney terbangun.


Britney tersenyum, dengan susah payah ia membetulkan posisinya menjadi duduk dan membuka kedua matanya, "Aku harus melakukan apa untuk masa depanku, Bram?"


"Kamu, orang yang sangat aku cintai hidup dengan wanita lain yang juga mencintai kamu."


Ya, pria yang saat ini berada di dekat Britney adalah Bram.


"Gea.." Bram mencoba untuk menenangkan Britney dengan berusaha merangkulnya.


Wanita itu menghindar dan tertawa. Ia benci dengan nama panggilan itu.


"Sampai kapan aku bisa berhenti mencintai kamu, Bram?" Tangis Britney kembali pecah, tubuhnya bergetar saat mengucapkan nama pria itu.


"Maafkan aku," Lirih Bram dengan menggenggam jemari Britney.

__ADS_1


"Maaf kamu tidak bisa merubah apapun. Kamu terlihat sangat bahagia dengan wanita itu dan anakmu. Sedangkan aku?" Britney tertawa miris dengan perbandingan hidupnya dan Bram.


"Berjuang mati-matian untuk melewati semuanya, sendirian." Britney mengusap kasar pipinya, menghapus air mata yang mengalir terus-menerus.


"Berjuang sendirian katamu?" Bram mendecih mendengar ucapan Britney, ada rasa kesal saat mendengarnya.


"Berjuang dengan lelaki itu dan kalian menghasilkan anak? Itu yang kamu maksud berjuang? Kalau begitu, kamu dan aku tidak ada bedanya!" Dicengkramnya erat kedua bahu Britney, dan tatapan marah Bram melayang tepat pada mata wanita itu.


Britney menangis tidak bersuara, ia menjambak rambutnya frustasi.


"Apa aku terlihat wanita murahan di hadapanmu sekarang?"


Bayangan Britney dan pria yang bernama Feraldi itu muncul di pikiran Bram, ia merasakan sakit hati saat bayangan itu muncul.


"Kalau kamu melihat aku sebagai wanita murahan, pakai aku sekarang!" Teriak Britney yang kembali menjambak rambutnya.


Bram menampar pipi kanan Britney yang basah. Telapak tangannya memanas, melihat Britney yang mendadak diam namun air matanya tetap mengalir. Bram menyesali perbuatannya tadi.


Pria itu sangat terkejut saat Britney mengucapkan hal itu. Selama ia mengenal Britney tidak pernah ada ucapan dan prilaku yang mengarah seperti itu, bahkan dalam keadaan mabuk pun tidak pernah. Bram juga tidak pernah memanfaatkan keadaan untuk melakukannya.


Karena mau bagaimanapun juga, Britney wanita yang sangat menjaga kehormatannya.

__ADS_1


Britney tidak merasakan sakit di pipinya, rasa sakit itu tidak sepadan dengan yang ia rasakan saat Bram meninggalkannya demi Prita.


Britney beranjak dari tempatnya dan menghampiri pantry lalu membuka kulkas, di dalamnya ada satu buah wine merah yang ia raih dan langsung membukanya. Beberapa tegukan berhasil Britney minum, namun Bram merebut botol wine dan melemparnya asal. Sekarang lantai pantry dibanjiri cairan berwarna merah.


Tubuh Britney seakan roboh tidak mampu berdiri lagi, ia jatuh terduduk di lantai. Tangisnya kembali pecah, rasa sakit itu menghampirinya lagi. Ia makin bisa merasakan sakit hatinya saat Bram melempar botol wine tadi.


Bram sangat tidak tega melihat Britney seperti itu. Ketika ucapan Britney yang masih mencintai dirinya, ia ingin meluapkan semua keluh kesah yang selama ini Britney tidak tahu. Seberapa menderitanya Bram juga saat Britney tidak lagi dengannya.


"Ge, tidak ada satu hari pun aku tidak memikirkan kamu," Ucap Bram jujur.


"Meskipun aku hidup dengan Prita dan anakku, tapi kamu yang selalu ada di pikiranku. Dan hanya kamu yang ada di hatiku," Diraihnya jemari Britney lalu diciumnya dengan lembut.


"Aku tidak peduli dengan status kamu sekarang yang akan menjadi istri pria lain, yang akan aku pertahankan adalah cinta kita berdua. Sidang perceraian aku dan Prita dimulai 2 minggu lagi, akan aku sewa orang untuk mempercepat percerain itu, lalu kita kembali bersama."


Britney terpaku mendengar perkataan Bram.


Tangis Britney seketika tertahan dengan mendengar ucapan Bram, wajah cantik Britney tidak pernah berubah meskipun sedang menangis. Bram mendekatkan wajah cantik Britney, tatapan mereka bertemu, lalu di peluknya erat tubuh Britney.


"Maafkan aku untuk hari ini, maafkan aku yang sudah menyakitimu bertubi-tubi. Demi Tuhan, aku sangat mencintaimu, Gea."


Ucapan yang terdengar tulus dan lembut itu menjadi kata terakhir yang Britney dengar di hari itu. Matanya mulai terpejam dan tubuhnya merespon untuk tidak melakukan apapun, seolah mendapat energi positif dari Bram, Britney tertidur di pelukan Bram.

__ADS_1


__ADS_2