
Britney menatap pria di hadapannya, hatinya bagai di tusuk puluhan ribu pedang dan menancap sekaligus dalam waktu bersamaan, sentuhan itu ia rasakan lagi setelah sekian lama, suara yang ia rindukan, wajah yang selalu ia bayangkan setiap saat, pujaan hatinya dahulu sekarang ada di hadapannya, "Bram.." ucapnya pilu, tubuh Britney bergetar hebat saat mengucapkan nama mantan kekasihnya itu.
Sesak di dada Britney kembali ia rasakan, tidak sanggup dengan keadaan seperti ini, Britney melepaskan sentuhan yang Bram lakukan, dengan cepat ia beranjak meninggalkan tempat itu.
Air mata Britney keluar begitu deras dan tak bisa ia tahan, kerumunan orang yang ia lewati memperhatikan dengan kasihan, Bram menyusul kepergiannya.
Di depan kelab Bram berhasil menarik pergelangan tangan mantan kekasihnya itu, ditatapnya penuh rasa kerinduan yang mendalam, "Harus berapa kali saya ucapkan kata maaf untuk kamu, Gea." ucapnya lirih.
Britney membuang muka dan mengusap kasar pipinya yang sudah basah, "Stop, Bram. Jangan panggil saya dengan nama itu." ujar Britney tersedu.
Panggilan dengan nama Gea itu memang melekat sejak kecil, namun setelah kejadian Bram menghamili Prita dan hubungan mereka hancur berantakan, Britney tidak lagi ingin dipanggil dengan nama itu. Karena terus mengingat kejadian suram menyakitkan.
"Tapi, kamu tetap Gea yang saya cinta." tutur Bram menggenggam kedua tangan Britney.
Hati Britney menghangat saat mendengar ucapan itu, Bram sangat bisa membuat dirinya luluh hanya dengan ucapan seperti itu. Namun semua kejadian yang lalu menghampiri pikirannya lagi, membuat Britney semakin merasakan sakit.
"Kamu bilang cinta?"
"Sejak kapan cinta terhadap seseorang yang sudah lama menjalin hubungan, malah menghasilkan anak bersama wanita lain?" setengah teriak Britney terisak melontarkan kekesalannya.
Bram semakin merasa bersalah dengan perkataan itu, apa lagi tangisan mantan kekasihnya semakin deras keluar tak terhenti.
Dengan satu gerakan dan menarik tubuh Britney, Bram berhasil memeluknya. Ia mencium puncak kepala Britney lama, seakan mengalirkan rasa kerinduan yang ia pendam selama ini. Sementara Britney semakin merasa hancur dalam pelukan Bram, yang sekarang bukan lagi miliknya. Bayangan anak Bram dan Prita menggrilya di pikirannya, tubuhnya semakin lemas dan aliran darah seakan terhenti.
"Hanya kamu yang ada di hati saya, Ge. Maafkan kelakuan saya terhadap kamu."
Bibir Britney seakan menjadi bisu untuk membalas ucapan mantan kekasihnya itu. Munafik bila ia tidak menginginkan pelukan Bram, wanginya yang sangat khas dan menenangkan itu membuat dirinya bisa menetralkan kembali tubuhnya yang lemas, seakan mentransfer energi dari Bram untuk Britney, tangisnya mulai reda.
Perlahan Bram melepaskan pelukannya, mereka berdua saling menatap dalam, rindu.
"Bagaimana kabar kamu, Ge?" tanyanya lembut.
Pipi Britney merah merona, suara Bram tetap sama seperti dulu, sangat lembut dan menenangkan di telinga Britney.
"Seperti yang kamu lihat, I'm totally fine." jawab Britney tersenyum.
Bagi Bram senyuman wanita ini menjadi obat segala kesulitan yang ia alami, beban yang ia pikul seakan menjadi ringan, pria itu benar-benar merindukan mantan kekasihnya.
"Jangan terlalu dekat, Bram. Gak enak keliatan orang, nanti saya di bilang deketin suami orang." ucap Britney yang masih menampilkan senyumnya itu.
Hati Bram teriris mendengarnya, harusnya wanita ini yang menjadi istrinya bukan Prita. Ribuan penyesalan ia rasakan lagi, namun ia sembunyikan dengan senyumannya.
"Kalo suami orangnya ingin dideketin sama kamu, gimana?" tanyanya.
Rasa egois Britney menghampiri dirinya, mungkin benar apa yang diucapkan Bram bila mantan kekasihnya pun ingin tetap dekat dengan dirinya.
"Saya gak bisa kasih jawabannya sekarang." jawab Britney malu.
__ADS_1
"Gakpapa. Jangan buru-buru, saya tahu hati kamu gimana."
Sepasang manusia itu saling menatap dan memperhatikan satu sama lain, Britney yang merasakan pusing di kepalanya membuat tubuhnya tak seimbang dan hampir terjatuh.
Untungnya tubuh kokoh seorang pria dan tarikan yang kuat berhasil membuat Britney terjatuh dalam pelukannya.
Bram terkejut hebat melihat sosok pria tegap, dan tubuhnya yang kokoh serta tatapan elangnya seakan membunuh dirinya.
Britney merasa dirinya akan terjatuh ke tanah, namun ia tertahan oleh tubuh seseorang, ia melihat bukan Bram yang memeluknya, Britney mendongkak ke atas. Feraldi yang memeluknya sekarang, bagaimana bisa pikirnya.
Pria itu adalah Feraldi, tak habis pikir mengapa pria itu ada di tempat ini padahal ia harusnya di Indramayu.
Feraldi mengulurkan tangannya pada Bram, "Saya Feraldi, calon suami dokter Britney." ucapnya dingin dan tak henti menatap tajam pria yang di hadapannya.
Bram makin terkejut dengan ucapan pria ini, sebisa mungkin ia tutupi rasa terkejutnya.
"Senang bertemu denganmu, saya Ristan. Ristan Bramantyo." ucapnya membalas uluran tangan Feraldi.
"Panggilanmu?" timpalnya.
"Bram." menaikkan sebelah alisnya seakan merasa terintimidasi.
"Oke, Bram. Mulai detik ini waktu terakhir kalian bertemu." ujar Feraldi melepaskan tangannya dan menarik lembut Britney menjauh.
Bram hanya menatap pasrah kepergian mereka berdua.
Britney tidak berkutik karena melihat perubahan sikap Feraldi yang begitu dingin dan menyeramkan baginya.
Sebenarnya Britney masih tersadar, tapi ia sangat ketakutan dan bingung bila Feraldi menyerbunya dengan banyak pertanyaan, jadi Britney memejamkan matanya seolah tertidur.
Hening di dalam mobil, Feraldi menghembuskan nafas kasarnya berulang kali, perasaannya yang tak karuan membuatnya tidak fokus, untung jalanan masih sepi.
"Saya gak suka wangi kamu berubah jadi bau alkohol."
"Saya gak suka kamu pergi ke tempat itu."
"Saya gak suka kamu berpakaian minim seperti itu."
"Saya gak suka, kamu yang seperti ini tidak mencerminkan profesi kamu."
"Saya juga gak suka kamu ninggalin El sendirian."
Tak hentinya Feraldi meluapkan amarahnya pada Britney, wanita itu hanya bisa terus memejamkan matanya. Perasaan bersalah muncul pada Britney.
"Saya bener-bener gak suka kalau kamu sama pria tadi, dan berpelukan." teriaknya sambil memukul stir.
Britney tersentak dan membuka matanya, semarah itukah Feraldi sampai meluapkan amarahnya depan dirinya.
"Cuma dua hari saya ninggalin Bandung, dan kelakuan kamu seperti ini?
__ADS_1
"Atau kamu memang selalu seperti ini?"
Britney tetap terdiam tidak mengeluarkan suara sedikitpun, jantungnya berdebar cepat setiap kali Feraldi berbicara.
"Asal kamu tahu, saya menghargai uang serupiahpun untuk kepentingan yang berguna. Tidak menghamburkannya ke tempat seperti itu dan minum alkohol."
"Kamu mencari apa di tempat itu? Kesenangan?"
"Kalau kamu mencari kesenangan, seumur hidup kamu tidak mensyukuri nikmat yang telah Tuhan beri untuk kamu."
Feraldi menepikan mobilnya, ia merasa sudah keterlaluan kepada Britney.
"Maaf." ucap Feraldi lirih.
Britney mendengar permintaan maaf dari Feraldi membuat hatinya tersentuh, semua ini bukan kesalahan Feraldi.
"Kamu gak balas pesan saya. Kenapa?"
"Saya tagih alasan kamu nanti. Ohya, tadi saya gak sengaja lewat kelab itu dan di sebelahnya ada tukang soto yang enak, tapi sotonya tutup. Terus saya lihat mobil item plat nomornya kayak nama kamu, B 121 T saya pikir itu benar mobil kamu diparkir di sana."
"Tuhan memberi jawaban langsung kepada saya, kamu dan mantan pacar kamu lagi berduaan gak jauh dari mobil kamu."
Sekarang sudah jelas alasan Feraldi bisa berada di tempat itu. Britney merasa malu sekaligus masih bingung ingin berkata apa.
"Kita pulang sekarang, saya cape." suara Feraldi kembali terdengar dingin.
Mobil itu melaju kembali membelah jalanan di Bandung yang masih sepi, udara yang dingin membuat Britney memeluk tubuhnya sendiri.
Feraldi yang menyadarinya lalu memakaikan jaket yang ia selalu bawa di mobil, Britney merasa nyaman dan hangat ketika jaket itu menutupi bagian atas tubuhnya.
Tak lama mata Britney semakin berat dan perih, ia terpejam lalu tidur dengan damai selama di perjalanan.
Feraldi mulai tidak mengerti lagi dengan dirinya sendiri, pikirannya selalu bertolak belakang dengan hatinya. Hati Feraldi mengatakan jika Britney adalah wanita yang tepat untuknya, sementara pikirannya mengatakan Britney sama seperti wanita lainnya.
Sesampainya mereka di depan rumah Britney, Feraldi membuka pagar dan memarkirkan mobilnya, lalu ia membopong Britney masuk ke rumah, untungnya Mbak Ratih sudah bangun dan ia tak perlu berdiam lama depan pintu.
"Mbak, kamar Britney dimana?" tanyanya.
"Di lantai dua a, kamar pertama sebelah kanan." jawabnya dan khawatir keadaan Britney.
"Tenang, mbak. Dia cuma kecapean." tutur Feraldi menenangkan mbak Ratih.
"El di kamar yang mana, mbak?" tanyanya lagi.
"Di kamarnya teh Britney a."
Feraldi mengangguk mengerti dan menaiki tangga menuju kamar Britney, dibukanya kamar itu dan suasana kamar yang rapi juga bersih menyambut dirinya, wangi bayi menyeruak masuk ke indera penciuman Feraldi.
Direbahkannya tubuh Britney di kasur yang di sebelahnya ada El masih tertidur pulas, sepatu Britney ia lepaskan dan memposisikan wanita itu dengan nyaman lalu menyelimutinya.
__ADS_1
Tubuh Feraldi begitu membutuhkan istirahat, ia mengambil posisi tidur di sebelah El. Diperhatikannya bayi itu dengan sayang, "Kamu merindukanku, baby El?" ucapnya sambil mencium pipi El, bayi itu menggeliat geli dan tersenyum.
"Mimpi indahkah kamu bayi kecilku?" Feraldi gemas sekali dengan El dan memeluknya lalu memejamkan matanya perlahan.