The Baby For Britney

The Baby For Britney
TBFB-8


__ADS_3

Feraldi sudah berusaha memejamkan matanya, namun ia tidak kunjung tertidur, tubuhnya memerlukan istirahat tapi pikirannya menolak untuk mewujudkan itu. Dirinya tidak habis pikir dengan Britney yang seorang dokter bahkan menyandang spesialis, kelakuannya seperti wanita liar dan sangat tidak mencerminkan profesinya. Jujur saja, Feraldi sangat terkejut mengetahui ini semua. Bahkan bisa dibilang bahwa Feraldi baru menemukan seorang wanita yang seperti ini, karena sepanjang hidupnya ia mengenal teman-teman wanitanya baik, karena begitupun Feraldi adalah pria baik-baik. Tidak ada sedikitpun dibenaknya untuk pergi ke tempat itu, apa lagi minum alkohol yang sangat merugikan dirinya sendiri.


Seketika bau alkohol dan rokok tercium lagi oleh pria itu, dan beberapa detik kemudian Feraldi menggendong El yang berada di tengah yang menghalangi jarak dengan Britney, El di pindahkan ke box biru yang berada tidak jauh dari kasur. Untungnya bayi kecil itu tidak terbangun dan Feraldi mengecup sekilas di pipi kanan El.


Sinar matahari mulai memasuki kamar Britney, dan wanita itu masih tertidur sangat pulas, mungkin efek dari alkohol memang seperti itu pikir Feraldi. Entah mengapa ada sesuatu yang menarik perhatian Feraldi untuk memperhatikan setiap inci wajah Britney, cantik yang sempurna batinnya. Namun raut wajah Britney berubah seketika, seperti sedang gelisah dan bulir keringat terlihat di pelipisnya, nafasnya menjadi cepat, Feraldi khawatir melihatnya.


Tadinya ia tidak akan peduli dengan keadaan Bitney, selintas pikirannya terbesit jika wanita ini sedang mimpi buruk atau efek dari alkohol, atau bahkan Britney mengkonsumsi narkoba.


Tidak, Feraldi membuang jauh-jauh pikirannya yang terakhir, mana mungkin Britney sampai ke tahap itu.


Akhirnya Feraldi memberanikan diri untuk membangunkan Britney, kondisinya semakin mengkhawatirkan sekali, "Britney!" panggilnya dengan mengguncangkan bahu telanjang wanita itu.


Tidak ada respon sama sekali, Britney malah mengeluarkan air mata dan menangis tanpa suara.


Feraldi semakin kebingungan. Batinnya menjerit melihat keadaan Britney, memang ia belum terlalu mengenal lama wanita yang ada di hadapannya ini, namun entah alasan apa Feraldi masih tetap di samping Britney dan peduli dengannya.


"Saya mohon, Ney. Jangan seperti ini," ucap Feraldi dengan suaranya yang serak.


"Bangun, Ney. Bangun."


Britney masih mengeluarkan air matanya, sekarang tubuhnya berguncang hebat, dengan mata yang masih terpejam wanita itu menggigit bibirnya agar tidak mengeluarkan suara dari tangisnya itu.


"Ney, saya harus bagaimana? Kamu tertidur, tapi kamu menangis," tutur Feraldi yang mulai panik.


Feraldi menggenggam tangan Britney lalu mencium punggung tangan wanita itu lembut, "Tangan kamu nanti saya cuci pakai sabun sampai wangi dan bersih, El gak akan bisa kamu gendong kalau tangan kamu bau alkohol dan rokok."


Pipi Feraldi merasakan sentuhan hangat, ia melihat asal dari sentuhan itu, ternyata tangan Bitney berada di pipinya. Hati Feraldi menghangat dan ia tersenyum.


"Bram," ucap Britney yang masih memejamkan matanya.


Seketika senyuman Feraldi memudar, tangan yang ia genggam sengaja dilonggarkan dan di lepas, hatinya memanas mendengar nama itu. Bodohnya Feraldi begitu percaya kepada wanita ini, sampai beberapa puing dari hatinya ada untuk Britney.


"Saya gak tahu lagi harus gimana, Bram," suara lirih Britney begitu memilukan didengar oleh Feraldi.


Sekalai lagi nama itu terucap dari bibir Britney, Feraldi mengepalkan kedua tangannya.


"Empat tahun ..."


Feraldi memberi kesempatan untuk dirinya sendiri dan mulai mendengarkan ucapan Britney, mungkin ini awal untuk Feraldi mengetahui masa lalu Britney.


"Saya ikhlas."

__ADS_1


"Tapi,kenapa saya dihantui dengan rasa bersalah itu?" tangis Britney sekarang menjadi, Feraldi mengusap lembut puncak kepala Britney, bermaksud untuk menenangkannya.


Rasa penasaran Feraldi memuncak, tak sabar menunggu ucapan selanjutnya, sebisa mungkin ia tidak melakukan pergerakan yang membuat Britney terbangun.


 


 


"Bebaskan saya dari rasa ini, Bram. Semua perasaan yang pernah ada untuk kamu."


"Saya gak sanggup."


Feraldi terpukul mendengar semua itu, menyakitkan sekali. Apa lagi melihat Britney dengan keadaan seperti ini. Jujur, Feraldi benar-benar bingung harus bagaimana.


Entah bagaimana, yang jelas sekarang Britney sudah berada di pelukan Feraldi. Pria itu berpikir inilah cara yang benar, tidak peduli dengan amarahnya tadi.


Britney masih menangis, kini air matanya membasahi baju yang digunakan Feraldi.


Tttokk.. Tttokk... Tttokk...


Ketukan pintu kamar Briney terdengar begitu keras, Feraldi takut membuat Britney terbangun dan perlahan ia menidurkan kembali Britney.


"Oke, Mbak. Makasih ya," saut Feraldi dan mengambil botol susu milik El.


Feraldi hendak menutup pintu namun ditahan oleh Mbak Ratih, "Teh Britney ada jadwal USG jam 11, tolong bangunin dua jam sebelumnya. Dia suka ngambek kalo telat, A," ucapnya berbisik.


Pria itu membalas dengan acungan jempol kanannya dan menutup kembali pintu kamar.


Segera ia menghampiri El, lalu cuci tangan menggunakan hand sanitizer yang berada dekat box bayi, sepertinya ikatan batin El dan Feraldi sudah terjalin sejak pertama pria itu menggendong El, buktinya bayi itu selalu tersenyum saat berada di gendongannya.


Feraldi duduk di sofa yang menghadap kasur Britney, wanita itu tida lagi menangis seperti tadi, rasa lega menghampiri pria itu.


Botol susu milik El sudah hampir habis, raut mukanya menampakkan ngantuk. Bayi memang seperti itu bila kekenyangan.


"Baiklah bayi kecil, mari kita tidur," ucap Feraldi memejamkan matanya, dan El masih berada di pangkuannya.


➰➰➰➰➰


Britney merasakan basah di sebagian tubuhnya, ia membuka matanya dan perlahan duduk. Kepalanya yang berat membuat penglihatannya tidak fokus, ia melihat seorang pria dan El di pangkuannya sedang duduk di sofa. Tunggu dulu, El ada di sofa.


Dengan cepat Britney beranjak dari kasur dan mengambil alih El, pipinya yang chubby basah dipenuhi susu. Bayi itu gumoh.

__ADS_1


"Feraldi!" bentaknya sambil mencubit lengan kekar pria itu.


"Feraldi Assegaf!"


Pria itu membuka satu matanya dan melihat Britney menggendong El, "Panggil sekali lagi nama saya," ucapnya dingin.


Britney tidak suka dengan suara Feraldi yang seperti itu, ia memunggunginya.


"Bapak ngapain di sini?" pertanyaan bodoh keluar dari mulut Britney.


Feraldi berdiri dari duduknya dan mensejajarkan tubuhnya dengan Britney, "Pria itu yang membawa saya ke sini."


"Maksud bapak?"


Feraldi kembali duduk di sofa, kini merebahkan tubuhnya dan tangan kiri menutupi mukanya.


"Lupakan. Bersihkan diri kamu, El sama Mbak Ratih aja. Kasihan dia masih bayi udah cium bau alkohol dan rokok," ucapnya.


Britney tidak menjawab ucapan Feraldi, ia sangat malu pada pria itu, Britney keluar kamar membawa El pada Mbak Ratih. Bayi itu harus mandi dan dibersihkan bekas muntahnya.


Saat Britney kembali ke kamar, suara dengkuran halus milik Feraldi terdengar begitu damai di telinganya. Ia teringat bahwa pria itu baru saja pulang dari kerjaannya di Indramayu.


"Jam 11 jadwal kamu USG, saya ikut!" ujar Feraldi yang menyadarkan Britney.


Kepala Britney kembali berat dan pusing, ditambah dengan Feraldi berbicara seperti itu. Bisa heboh kliniknya jika ia benar membawa Feraldi.


"El juga ikut," lanjut Feraldi.


Britney kesal bukan main, ia langsung menghampiri Feraldi.


"Jangan ikut campur urusan saya dong, pak. El masih bayi, terlalu rentan buat dia ada di klinik!" bentaknya.


"Oke, kalau gitu. Saya saja," jawabnya.


"Bapak ngerti gak sih? Jangan ikut campur, saya itu mau kerja."


"Karena ini satu-satunya cara untuk kamu bisa lupain mantan pacar kamu itu, Britney!" Feraldi bangun dan menatap Britney.


Tatapan mereka bertemu, Britney tidak suka Feraldi yang seperti ini, membentak dan dingin.


Sementara Feraldi merasakan hatinya memanas lagi, "Maaf. Bangunkan saya kalau kamu sudah beres," pria itu memeluk sekilas Britney dan kembali tidur di sofa.

__ADS_1


__ADS_2