
Ponsel Britney yang tergeletak bebas langsung diraih oleh Nia, acara pelukan mereka berdua selesai.
Nia memberikan ponsel milik Britney dan melipat kedua tangannya, "Jelasin!" ujarnya penuh penekanan.
Britney menautkan keningnya bingung, ia membaca pesan masuk dari Feraldi di layar ponselnya.
Bapak Feraldi
Sayang, kamu dimana?
Bapak Feraldi
Saya udah di rumah menunggu kamu, El udah rewel banget gak lihat mamanya.
Bagus! Rahasia yang ditutup oleh Britney mulai terbongkar. Keberadaan Feraldi akhir-akhir ini sama sekali belum diceritakan kepada Nia dan Martha.
"Gue menungguuuuu," ucap Nia sambil memajukan bibirnya.
Britney mirik jam tangan, jarum pendek jam menunjukkan angka tujuh dan jarum panjang menunjukkan angka tiga.
"Gue cuma punya waktu lima belas menit, aturannya jangan motong omongan disaat gue lagi cerita. Tidak menerima pertanyaan di akhir cerita." jelas Britney yang langsung diangguki Nia.
"Tunggu! Terus gue cuma ngedengerin lo doang? " tanya Nia yang baru menyadari perkataan Britney.
"Lo baru ngelanggar aturan yang pertama," ujar Britney.
Nia yang kesal mendengar yang diucapkan Beitney lalu membenarkan posisi duduknya dan tersenyum menghadap Britney, Nia menggerakkan tangannya dari sudut bibirnya sampai ke ujung dan menutup rapat bibirnya, seolah ia mengunci bibirnya agar tidak berbicara lagi.
Britney menahan tawa melihat kelakuan Nia, kemudian ia menceritakan dari awal pertama bertemu dengan Feraldi sampai pria itu mengajaknya menikah awalnya karena alasan bayi El, tapi lebih tepatnya memaksa menikah. Kejadian di kelab kemarin yang tidak sengaja Feraldi sempat bertemu dengan Bram, alasan Feraldi ingin menikahi Britney berubah dengan alasan agar Britney melupakan Bram.
Lalu dengan kedatangan Nisrina kemarin secara tiba-tiba ke rumahnya, tentunya dengan keberadaan Feraldi dan bayi El membuat Nisrina shock, namun tidak lama. Karena beberapa saat kemudia mamanya Britney mendukung pernikan sialan itu. Intinya Britney menjelaskan detail kisahnya kemarin.
Mimik wajah Nia yang tidak tahan ingin meluapkan seratus juta pertanyaan pada Britney tertahan karena ponsel Britney kembali bergetar. Sekarang ada panggilan masuk, dan Feraldi yang memanggilnya.
Britney dan Nia terdiam.
Britney menautkan jari telunjuknya ke bibir seksi miliknya, menandakan Nia harus diam.
Dan benar, Nia langsung diam mengunci kembali bibirnya dan mengatupnya rapat-rapat.
"Kamu dimana? Dengar gak nih El nangis parah?" ucap pria itu yang setengah berteriak, dan suara tangis El yang melengking keras sangat jelas terdengar.
"Itu suara nangis bayi El? Gilak, Ney! Lucu banget, gue pengen ketemu," sontak Nia berteriak dan merebut ponsel Britney ingin mendengar jelas suara El.
"Tangisan bayi dimana-mana tuh ritmenya sama! Dableg banget sih, masa kayak gitu lucu." bentak Britney yang kesal karena ponselnya diambil alih oleh Nia yang masih mendengarkan tangis El.
"Sayang, kamu sama siapa di sana?" tanya Feraldi di sebrang sana.
"Bapak Feraldi, ya? Gue sahabatnya Britney, pak! Rania, Nia aja panggilnya," jawab Nia dengan nada manjanya.
Kebiasaan! Nia selalu menjijikan kepada pria.
Feraldi di sana menautkan alisnya, aneh mendengar suara sahabatnya Britney.
"Oke. Tolong kasih tahu sama Ney, cepat pulang!" suruhnya dan terdengar suara El yang mereda, namun beberapa detik kemudian El menangis lagi.
__ADS_1
Britney merebut ponselnya dan mengaktifkan load speaker agar Nia tidak merebut ponselnya lagi. Nia menggaruk tengkuknya yang tak gatal, bibirnya mengucapkan 'sorry' tanpa suara. Britney menghiraukannya.
"Mbak Ratih sama mama kemana? El udah di kasih susu?"
Britney dan Nia mendengar Feraldi sedang mmengeluarkan suara aneh, mungkin pria itu sedang membujuk El untuk berhenti menangis, tapi usahanya gagal karena El tetap menangis semakin kencang.
"Wlaa... wlaa... Jagoan papa kalo nangis kaya tukang galon wlaa.. berhenti dong nangisnya,"terdengar helaan napas yang berat dari Feraldi.
Awalnya Britney dan Nia tertawa.
Keterlaluan Feraldi, meskipun El masih bayi tapi tidak sebaiknya pria itu berkata seperti itu.
"Pak! Gak boleh ngomong gitu depan El, ngatain tuh yang bener dikit. Kayak Shawn Mednes gitu! Ini kok tukang galon," ucar Britney kesal.
Nia tertawa mendengarnya, kelakuan Britney dan Feraldi seperti sudah berumah tangga. Sepertinya mereka akan cocok.
"Kamu pulanglah, Ney! Saya sendiri di sini. Mama sama mbak Ratih keluar dari tadi, udah di kasih susu, astaga!" lalu terdengar lagi suara aneh yang dihasilkan Feraldi.
Britney berpikir sejenak, dan teringat sesuatu.
"Mungkin dia pup!" ujar Britney meyakinkan, apa lagi jika bayi menangis.
"Pup?" tanya Feraldi tidak yakin.
"Iya, pup! Coba periksa popoknya El," titahnya.
Feraldi bergidik jijik, ia tidak mau melakukan itu. Membayangkannya saja ia sudah mual.
"Ng-nggak! Dia gak pup kok, Ney." tolak Feraldi menggeleng kepalanya cepat.
"Buat apa saya mencium pantat El? Kamu tuh ngaco, kalo saya suruh nyium kamu ya saya mau. Ini kok cium pantat El,"
Pipi Britney merona untuk yang keselian kalinya, Feraldi yang blak-blakan seperti itu membuat Britney tidak terkendali bila mengucapkan sesuatu yang membuat dirinya merona malu.
Nia hanya menahan tawanya sambil mencubit lengan Britney.
"Maksudnya.. bapak cium daerah pantat El tapi dari jauh aja, bukan pantatnya beneran!" jelas Britney.
Feraldi mencobanya, ia mencium bau aneh. Tidak, bukan aneh. Tapi bau sekali, dan baunya seperti bau pup!
Astaga! Bau pup bayi kecil ternyata sangat mengerikan, Feraldi menutup kedua lubang hidungnya.
"Sangat bau! Baunya mengerikan, kamu harus menciumnya, Ney!" Feraldi berteriak lagi, tangis El terganti dengan tawanya.
Sepertinya El sangat menyukai Feraldi saat pria itu menderita.
"Terimakasih, saya sudah berkali-kali menciumnya." tolak Britney dan tertawa bersama Nia.
"Tapi kamu harus mencoba yang ini!"
"Tidak!"
"Kalau menciumku?" tanya Feraldi merajuk Britney.
Britney berhenti tertawa, ia salah tingkah.
__ADS_1
"Saya tunggu jawabanmu di rumah, mbak Ratih sama mama udah dateng. Kamu cepat pulang!"
NIT!
Lagi lagi Feraldi memutuskan teleponnya sepihak. Pria itu berkali-kali mengucapkan syukur karena bukan dia yang akan menangani pup bayi kecilnya.
"Ney! Si Feraldi itu ganteng banget parah! Papaable banget," ujar Nia yang tidak tahan dari tadi menahan omongannya.
Britney menimpuk kepala Nia dengan tasnya, "Berisik!"
"Duh! Sakit tahu!" Nia meringis karena tas milik Britney mengenai hidungnya.
Sedangkan Britney tidak menghiraukan Nia.
"Kalo kata nenek gue yang di Blora—"
"Gue bilang berisik! Lo tuh ya apa-apa nenek di Blora, elo kali neneknya! Ga percaya gue kata nenek lo terus," Britney memotong omongan Nia.
Nia hanya mendecak sebal.
"Dengerin dulu, pas lo ketemu sama Feraldi kan malemnya kita mimi terus lo mimpi aneh anak kecil sama lo hamidun, inget gak?" tanyanya.
Britney mengingat kejadian itu, sialnya ia juga teringat kejadian tadi di ruangannya, anak kecil itu ada lagi.
"Inget. Tadi juga gue mimpiin anak kecil itu lagi," Britney memelankan suaranya, kali ini bulu kuduknya berdiri.
"Lo mimpiin lagi?" Nia yang tak percaya mengguncangkan tubuh Britney.
"Iya, tadi di ruangan beres USG gue ketiduran. Terus mimpi itu, dia kayak mau nyampein sesuatu sama gue, dari matanya sih gitu. Tapi gue takut," tutur Britney lalu menghela napas panjang.
"Terus gue kebangun sama telepon dari Feraldi," lanjutnya.
Nia mencernanya, pikirannya bekerja begitu keras sehingga ia mendapatkan kesimpulannya.
"Gini, Ney. Awalnya gue pikir pas lo mimpi anak kecil karena belum ikhlas sama Bram, terus mimpi kedua gue mikirnya lo bakalan dapet rezeki melimpah, setelah gue telaah tadi ternyata lo bener dapet rezeki. Dua sekaligus! Feraldi dan El—"
"Maksud lo?" Britney memotong lagi pembicaraan Nia.
"Peraturan pertama lo baru aja ngelanggar!" tutur Nia meniru gaya ucapan Britney tadi kepadanya.
Oke, Britney akan menjadi pendengar yang baik.
Nia mengangguk mantap karena Britney diam.
"Terus mimpi lo yang ke tiga dan itu tadi yang lo bilang kalo anak kecil itu mau ada sesuatu yang disampaikan. Kayaknya itu bakalan jadi peringatan buat lo deh, Ney. Hati-hati!" ujar Nia yang menyipitkan kedua matanya.
"Lebay!" Britney menjalankan mobilnya yang langsung diteriaki Nia.
"Ney! Ney! Gue belum beli roti! Turunin gue dulu!" mintanya pada Britney.
Untungnya baru berjarak 300 meter dari toko roti tersebut, Britney mengerem dan memasang muka jahilnya.
"Kirain mau ikut ke rumah gue," ujar Britney nyengir.
"Gak! Gue mau roti Sidodadi aja," Nia keluar dari mobil Britney lalu menutup pintu dan berlari masuk ke dalam toko.
__ADS_1
Britney melajukan kembali mobil sedan hitam miliknya, perkataan Nia tadi sedikit menggangu pikirannya. Namun Britney sekuatnya nenepis pikiran itu.