The Baby For Britney

The Baby For Britney
TBFB-19


__ADS_3

"Gea."


Britney menutupi perasaan yang sedang ia rasakan saat itu, entah senang ataupun rasa yang lainnya.


"Mawar merah untukmu," ucap pria itu dengan senyumannya.


Britney tidak bisa tidak menolak, tangannya terulur dan menerima bucket tersebut.


"Terimakasih, Bram."


Ya, pria itu adalah Bram. Sebenarnya Bram tidak sengaja melihat Britney dan tentu saja bucket mawar itu bukan untuk Britney. Bram berbohong.


"Kamu sendirian?"


Britney hanya mengangguk dan tersenyum.


"Aku akan menemanimu. Kamu ingin membeli apa?" Tanyanya dan menempatkan tangannya di pinggang Britney, mengeratkannya ke tubuh Bram.


Britney tidak risih dengan perlakuan pria itu, ia merindukannya.


"Aku mau membeli perlengkapan El, dan akan memasak untuk nanti sore," ucap Britney yang terlihat merona di wajahnya.


"El? Suami kamu?" Terdengar suara Bram agak berbeda.


"Maaf, maksudku calon suami kamu," ralatnya cepat dan melepaskan tangannya dari pinggang Britney.


Britney merasakan perubahan dari Bram, mungkin Bram cemburu atau ia mulai menghargai Britney.


"El itu anakku," sebuah jawaban yang singkat terlontar dari bibir seksi Britney membuat Bram terlihat shock, namun Britney menggenggam erat tangan pria itu.


Seolah ingin menenangkan Bram, pria itu mengerti dan menautkan jari jemarinya bersatu dengan milik Britney, mereka berdua berjalan menelusuri mall, layaknya sepasang kekasih mereka terlihat sangat serasi. Bram memiliki wajah yang sangat mempesona juga tampan, begitupun Britney yang anggun dan cantik, pantas saja dari dulu mereka dekat sampai menjadi sepasang kekasih mereka dijuluki pasangan tanpa kekurangan apapun.


Semua perlengkapan El sudah dibeli oleh Britney, juga bahan-bahan untuk memasak juga sudah kumplit, sekarang ia berada di basemant menurunkan barang belanjaannya bersama Bram.


Selama mereka bersama, tidak ada sepatah kata atau perlakuan yang menyinggung masa lalu mereka. Termasuk Britney, ia sama sekali tidak menggubris sakit hatinya dulu terhadap Bram.


Dan ketika Britney hendak pamit pada Bram, pria itu memeluknya.


"Kembalikah padaku."


Britney tidak menjawabnya, ia hanya menikmati pelukan itu. Yang dirindukannya selama ini.


"Prita dan anakmu?" lirih Britney.


"Akan ku ceraikan dia, hak asuh anakku akanku serahkan padanya. Setelah itu, hanya ada aku, dan kamu," tutur Bram dan satu kecupan mendarat di puncak kepala Britney.

__ADS_1


Bagai tertimbun bunga-bunga, Britney tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya mendengar perkataan Bram. Ia tidak sabar untuk itu semua. Bram dan dirinya akan kembali bersama. Tinggal menunggu waktu.


Ternyata cerita kemarin dari Nia memang benar, Bram akan menceraikan Prita, dan Bram masih mencintai dirinya.


"Batalkan pernikahanmu, aku tahu El bukan anakmu dan pria itu."


Seketika senyuman Britney memudar, ia tidak ingat dengan rencana gila Feraldi yang akan menikahinya nanti, tapi bagaimana Bram tahu bahwa El bukan anaknya. Untuk saat ini itu tidaklah terlalu penting bagi Britney untuk tahu, yang terpenting Bram sudah tahu bahwa El bukan anaknya.


"Hubungi aku lusa, kita akan keluar makan malam," ujar Bram sambil memberikan kartu namanya yang tertera nomer ponsel miliknya.


➰➰➰➰➰


Bapak Feraldi


Sepertinya aku tidak jadi pulang hari ini, mungkin lusa sudah selesai. Maaf


Pesan singkat itu muncul di layar hp milik Britney.


Yang benar saja, Britney sudah diinfokan bahwa Feraldi akan pulang hari ini dan dirinya sudah memasak untuk kedatangan Feraldi dari Semarang. Sungguh bodoh sekali Britney.


Seketika ia tidak bersemangat untuk melanjutkan kegiatannya, padahal masakannya yang tadi ia masak tinggal di hidangkan di meja makan.


Untungnya El sudah mandi dan tertidur pulas bersama Nisrina, sekarang giliran Britney untuk istirahat.


Perasaannya campur aduk, bukankah selama ini yang diinginkan Britney bersama Bram? Kejadian di mall tadi benar-benar membuatnya lupa dengan Feraldi dan juga El, namun setelah sampai rumah ia malah mengingat Feraldi.


Britney yang berada di sofa ruang tengah kini merasakan tubuhnya melayang, kepalanya yang pusing dan penglihatannya belum terfokus.


"Kamu menungguku?" tanya pria itu dengan menautkan hidungnya ke hidung Britney.


Britney langsung tersadar dan pandangannya menajam, "Bapak?"


"Aku pikir bapak masih di Semarang!" teriaknya dan memukul dada bidang Feraldi.


Feraldi tersenyum, "Sudah selesai, Erza sangat cekatan membantuku."


Britney membalas senyuman itu, "Turunkan aku, aku tadi masak buat bapak."


"Untukku?" tanyanya memastikan.


"Aku tahu bapak akan pulang," jawab Britney antusias.


"Bisakah kau berhenti memanggilku bapak? Aku bukan Tuhan Bapak atau gurumu di sekolah!"


Feraldi menurunkan Britney dengan hati-hati namun mimik wajahnya berubah menjadi kesal.

__ADS_1


Menyenangkan sekali melihat Feraldi seperti ini, Britney akan terbiasa dengan momen seperti ini nantinya.


"Okay, Papa Feral."


Britney meninggalkan Feraldi yang masih mematung mendengar ucapan itu. Sedetik kemudian disusul dengan teriakan Feraldi yang meminta ulang panggilan tersebut.


Tentu saja Britney tidak mau mengulangnya, seisi rumah penuh dengan suara mereka berdua yang kini ada di ruang makan. Feraldi kekeh meminta Britney mengulang panggilan itu, sementar Britney mengoceh habis-habisan pada pria itu.


"Apa yang kalian ributkan tengah malam begini?" Nisrina keluar kamarnya dengan El di tangan kirinya, bayi itu terlihat menguap dan menangkap sosok Feraldi dalam penglihatannya,  berikutnya adalah El menangis.


Bayi itu menagih gendongan dari Feraldi.


Bagus, pikir Britney. Hanya El yang bisa menghentikan tingkah gila pria itu.


El menangis kencang di pangkuan Feraldi, sepertinya bayi mungil itu merindukan Feraldi.


"Ayolah baby boy, kau sudah mendapatkan apa yang kamu mau," tutur Feraldi yang mulai kewalahan El masih tidak mau juga berhenti menangis.


Britney mengambil alih El kepangkuannya, dibukakan mulut menggemaskan El lalu mendapati gigi kecil yang keluar dari gusinya, kecil sekali.


Pantas saja El sangat rewel.


"Bayi nakal, merebut mamanya dariku!" ujar Feraldi menaikkan kedua alisnya.


"Astaga! Kamu ini gimana sih, Ge. Suami pulang bukannya siapin makanan. Sini, El biar sama mama aja." Nisrina menggendong El dan masuk ke kamarnya.


Tinggal Britney dan Feraldi di sana.


"Masakan apa yang akanku makan malam ini?" tanya pria itu dengan mengedarkan pandangannya.


"Nothing..." Britney ragu mengeluarkan masakannya, ia takut kalau masakannya itu tidak enak.


Feraldi membuka tudung saji dan menemukan opor ayam di mangkuk besar, sepertinya Mbak Ratih menyelesaikan kegiatan yang tadi terhentikan oleh Britney, rasa lapar yang ia tahan di perjalanan tadi kini kembali lagi saat melihat opor ayam buatan Britney.


"Makanlah bersamaku."


"Aku sudah makan," jawab Britney dengan membawakan piring yang sudah diisi nasi.


"Kapan terakhir kau makan?"


Britney mengingat kapan dia terakhir makan. Astaga, sarapan pagi tadi.


"Sini, mendekat. Aku suapi."


Malam itu terasa begitu menyenangkan bagi Feraldi, apa lagi saat dirinya sudah sangat lelah dan mengantuk, Britney mengajaknya tidur di kamar, pria itu sempat menolak akan tidur di sofa depan tv, namun Britney ingin pria itu menemaninya.

__ADS_1


Feraldi membersihkan dirinya dan ganti baju, untungnya dia membawa beberapa baju di mobilnya.


Britney yang sudah tertidur dengan posisi meringkuk di kasur membuat Feraldi semakin mengantuk dan mendaratkan tubuhnya di sebelah Britney. Perlahan matanya sangat berat dan menutup rapat.


__ADS_2