The Baby For Britney

The Baby For Britney
TBFB-5


__ADS_3

Feraldi mendengar percakapan singkat itu dan melihat ponsel Britney tergeletak bebas, dengan cekatan ia mengambil ponsel Britney lalu mengetik nomor miliknya dan mencoba miss call.


"Apa yang bapak lakukan?" tanya Britney yang menyadari ponselny diambil alih.


"Menelponku." jawabnya santai dan menaruh kembali ponsel Britney.


"Pria gila!" ucap wanita itu mendesis.


Feraldi mendengar dan tersenyum geli, "Mama dokter memanggilku tampan, kau dengar itu kan, El?" tanya Feraldi pada bayi yang sedang tertidur pulas itu.


Britney yang mendengarnya jengah dan berhenti di pinggir jalan memarkirkan mobilnya.


"Cukup. Saya mulai muak dengan bapak." ujarnya jujur dan menghadap Feraldi.


"Apakah muak termasuk kata pertama yang mengungkapkan cinta?" tanyanya dengan ekspresi menyebalkan.


Seketika perubahan mimik wajah Britney berubah, Feraldi sangat menyebalkan baginya.


Britney gemas sekaligus ingin mengeluarkan makhluk yang di hadapannya dari mobilnya, jika bisa dari muka bumi!


"Saya akan lapor polisi, bayi ini mungkin sedang dicari oleh keluarganya."ucap Britney mantap.


Feraldi terlihat sedang berpikir, "Jika kamu tidak lupa, laporan untuk kehilangan seseorang harus 1x24 jam." pria itu melirik jam tangannya, "Bayi ini belum hilang 24 jam, pihak kepolisian tidak akan membantu kita. Yang ada mereka percaya kalau kita adalah sepasang kekasih yang menelantarkan bayinya, kamu tahu modus? Seperti itulah oknum kejahatan akhir-akhir ini. Jangan bilang kamu tidak tahu." jelasnya panjang lebar yang membuat Britney berpikir bahwa perkataan Feraldi memang benar.


"Lalu bagaimana jika bayi ini terkena B20 atau HbsAg dari ibunya?" tanya Britney yang mulai terlihat panik.


"Apakah itu berbaha—"


"Bahkan penyakit menular lainnya!" timpal Britney.


Feraldi mengerti maksud dari wanita ini, "Kita bisa memeriksakannya di klinikmu."


"Bagaimana bapak tahu kalau saya punya klinik?"


"Karena saya sudah lama bekerja sama dengannu, Mama dokter." ucap Feraldi yang menekankan kata terakhir itu dan membuat Britney tersipu malu.


Perasaan aneh itu muncul lagi, ayolah Britney kau belum mengenal jelas pria yang dihadapanmu ini, pikirnya dalam hati.


"Berhenti memanggilku seperti itu." pinta Britney malu dan memalingkan wajahnya.


"Lihatlah, El. Mama dokter pipinya semerah bunga mawar sekarang."


Britney melajukan kembali mobilnya sementara Feraldi memperhatikan Britney dengan terang-terangan yang membuat wanita itu sangat risih.


Dddrrtt..... Dddrrtt...


Ponsel Feraldi bergetar menandakan panggilan masuk, pria itu mengernyitkan dahinya menerima telepon. Britney yang mendengar samar suara pria yang menelpon Feraldi.


"Baik, 20 menit lagi saya sampai sana." ucap Feraldi.


Feraldi mengakhiri percakapan singkat itu dan menutup teleponnya, pria itu mendapati Britney yang baru saja melirik dirinya dan tersenyum licik.


"Bisakah kau menjalan mobil ini dengan sedikit agak cepat? Tangan saya mulai pegal." keluhnya.


Britney yang mendengar itu otomatis langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan yang diinginkan Feraldi, seketika pria itu terhentak dan berpegangan. Feraldi menutup matanya, ia tahu Britney mulai mengujinya. Sesaat kemudian wanita itu mengerem mendadak, untung saja Feraldi dengan cekatan memeluk bayi yang berada di pelukannya.


"Kamu baru saja membahayakan nyawa kita bertiga!" ujarnya kesal.


Britney hanya tersenyum puas.


"Saya harus pergi ke Indramayu, proyek di sana terhambat karena ada beberapa pekerja yang berhenti." jelas Feraldi.

__ADS_1


Baru saja Britney ingin menjawabnya, namun Feraldi mengisyaratkan jika ia tidak ingin dipotong.


"Tapi, saya harus tahu dulu rumah kamu. Pulang dari Indramayu saya akan tinggal bersama kamu dan bayi kita." timpalnya.


"Bapak Feraldi yang terhormat, sepulang bapak dari Indramayu mungkin bayi ini sudah bertemu dengan keluarganya." seru Britney.


"Jadi, bapak tidak perlu tahu rumah saya dan kita tidak perlu tinggal bersama." lanjutnya.


"Tidak bisa!" jawab Feraldi cepat dan raut wajahnya yang serius membuat Britney terkejut, pria ini menyeramkan saat serius seperti ini.


Britney kembali melajukan mobilnya dan menuju rumahnya. Di perjalanan, bayi itu benar tertidur pulas, Feraldi memperhatikan hidung mancung dari bayi yang di pangkuannya. Mancung, pikirnya dalam hati mungkin orangtua dari bayi ini memiliki hidung yang mancung juga, bibirnya yang tipis mungil sangat tercetak jelas membuat Feraldi ingin mengecup bibir itu, pipinya yang mengembang khas sekali seorang bayi, bulu matanya yang lentik semakin membuat bayi itu penuh pesona, pantas saja saat pertama kali melihat bayi ini Feraldi langsung menyukainya.


"Jangan terlalu percaya bahwa bayi itu sehat, bapak Feraldi." ucap Britney yang menyadarkan Feraldi.


"Oke."


Setibanya mereka di depan rumah Britney, "Bapak boleh pulang sekarang, bayi ini biar bersama saya."


Rumah sederhana bernuansa putih menarik perhatian Feraldi, di depan ada pekarangan yang dijadikan taman kecil dan tertata rapi dengan tanaman, "Benarkah ini rumahmu?" tanyanya.


"Benar. Kenapa?"


Britney keluar dari mobil dan seorang perempuan paruh baya menghampiri dirinya, Feraldi mengikuti Britney dan masih menggendong bayi itu.


"Mbak, susu yang tadi saya pesan ada?"


"Tidak ada, teh. Adanya susu apa gitu lupa nama susunya, gol gol begitu." jawab mbak Ratih dengan logat jawanya yang kental. Britney akrab dipanggil teteh oleh mbak Ratih.


Mbak Ratih yang menyadari ada pria mendekatinya dan Britney seketika menilai penampilan pria itu, "Waduuh... meni kasep pisan ieu saha, teh?" (Waduuh... ganteng banget ini siapa, teh?) ucap mbak Ratih yang menggunakan bahasa sundanya.


Britney mencoba cari alasan yang tepat karena jika dirinya salah berbicara, mbak Ratih bisa melaporkan dirinya ke orangtuanya.


"Saya Feraldi, mbak. Calon suami dokter Britney." ucapnya tegas dan memberi senyum manisnya.


Britney tidak bisa menarik kata-kata Feraldi, karena pasti mbak Ratih sudah berasumsi bahwa benar Feraldi adalah calon suaminya.


Bayi yang di pangkuan Feraldi terbangun dan menangis kencang membuat semuanya refleks memperhatikan bayi itu, "Zey, tolong gantikan saya menggendong El. Saya pegal dari tadi." ucap Feraldi.


"Zey?" Britney terlihat bingung, sementara bayi itu masih menangis kencang.


"Zeyeng." jawabnya.


"Gila!"


Mbak Ratih mengambil alih bayi itu dan sekarang sudah berada di gendongannya, "Orok saha ieu, teh?" tanyanya sambil menimang bayi itu.


"Bayi kita, Mbak." jawab Feraldi.


Mbak Ratih melotot kaget dan raut wajahnya meminta penjelasan pada Britney.


"Nanti teteh jelaskan ya, mbak. Kasih susu aja dulu kasihan bayinya. Susunya satu sendok, airnya sampe 30ml. Harus pas, jangan kurang atau lebih ya." ucap Britney setenang mungkin.


Mbak Ratih menurut dan masuk ke dalam rumah untuk memberi susu pada bayi itu.


Feraldi sedang memijat lengannya, Britney menghampiri pria itu dan mencubit lengan pria itu kesal.


"Bapak kalau ngomong jangan seenaknya. Nanti saya bisa di laporin ke orangtua saya!"


"Lho, kamu ini kenapa? Kita sudah dewasa, kalau di laporin itu mempercepat proses pernikahan kita." jawabnya.


"Nikah? Siapa yang akan menikah dengan siapa?"

__ADS_1


"Saya dan kamu. Feraldi dan Britney." ucapnya polos.


Britney makin kesal dengan pria ini, "Gila!" serunya sambil menghentakkan satu kaki.


"Hush! Kamu ini bilang saya gila terus, nanti kamu yang tergila-gila sama saya tahu rasa."


Britney memijat pelipisnya yang mulai merasa pusing dan sakit kepala atas perbuatan Feraldi, "Saya gak bisa lama, jaga bayi kita. Periksakan apa yang harus diperiksa, nanti saya yang tanggung. Ohya, mobil saya titip dulu di Creesana. Ini kuncinya, saya sudah ditunggu asisten di simpang Dago habis itu langsung ke Indramayu. Kabari saya jika ada apa-apa." jelas Feraldi.


Mobil mini bus silver mendekati mereka, ternyata Feraldi memesan taksi online. Ada perasaan lega juga khawatir sekaligus menggerogoti Britney, "Bapak tidah perlu khawatir, bayinya aman sama saya. Semoga orangtua bayi itu besok bisa bertemu dengan bayinya. Dan bapak tidak usah repot-repot untuk mengurusnya apalagi tinggal bersama saya." ucap Britney.


Feraldi berpikir sejenak saat ia akan masuk ke dalam mobil, "Baiklah, jika bayi itu sudah bertemu dengan orangtuanya saya tidak akan seperti itu. Tapi, saya akan membuat kamu move on sama saya." ujarnya dan masuk ke dalam mobil.


Britney melihat mobil yang ditumpangi Feraldi pergi, kini ia masih terdiam di tempat itu dan memikirkan pria yang baru ia kenal satu hari ini.


"Mimpi apa gue selama umur 27 tahun ketemu pria kaya begitu!" gumamnya kesal dan masuk ke dalam rumah.


➰➰➰➰➰


Mbak Ratih menagih penjelasan yang sudah di janjikan oleh Britney, ada sedikit perasaan aneh dan tidak percaya menghampiri mbak Ratih. Tapi, wanita paru baya itu sangat mengenal Britney tidak mungkin berbohong apa lagi mengarang cerita. Jika bayi ini benar bayi Britney, kapan wanita itu terlihat hamil dan melahirkan. Mbak Ratih sepenuhnya mempercayai Britney.


Semua perlengkapan bayi sudah di beli Britney lewat jasa layanan online, lumayan untuk persediaan selama dua hari cukup atau sampai bayi ini menemukan orangtuanya.


Esok harinya karyawan dari klinik Britney datang ke rumah untuk mengambil sample darah bayi itu, tak perlu waktu lama untuk hasilnya karena karyawannya langsung pergi ke klinik dan memeriksakannya.


Bayi itu sehat tidak ada penyakit apapun yang tertular baik dari keluarganya atau penyakit yang bayi itu derita. Britney lega mengetahuinya.


Setelah berdiskusi dengan mbak Ratih, Britney melapor ke polisi bahwa bayi ini ditinggalkan orangtuanya di Creesana Care, pihak dari kepolisian membantunya dan akan segera menghubungi Britney bila orangtua bayi tersebut mencarinya.


Namun dua hari sudah berlalu, Britney semakin tidak tenang karena bayi ini masih bersamanya di rumah. Klinik yang ia punya bisa ditangani oleh beberapa staf dan sejawatnya disana, begitupun di Creesana Care.


Bohong jika Britney tidak menyukai bayi itu, sangat menggemaskan dan mempunyai pesona lebih untuk menarik perhatian banyak orang, bayi itu sangat tampan baginya. Seketika Britney teringat Feraldi, pantas saja pria itu ingin sekali merawat bayi ini.


Disaat yang bersamaan mengingat Ferladi, bayangan Bram muncul di pikiran Britney. Bayi yang di dekatnya samar berubah menjadi anak Bram dan Prita, wajah khas syndrome down. Hatinya memanas dadanya terasa sakit, nafas Britney menjadi sesak, dalam hati ia membaca doa sekuatnya ia menenangkan dirinya sendiri.


Britney menangis sendu, merasakan yang dirasakan Prita saat tahu bayinya menderita syndorme down. Britney memeluk bayi itu lembut dan menangis sejadinya, "El, bagaimana saya bisa melupakan semuanya?" gumam Britney lirih pda bayi itu.


"Jangan buat saya terus bersalah saat kamu datang di kehidupan saya sekarang."


Air mata Britney semakin deras, lengan bayi itu terus bergerak aktif dan menyentuh pipi Britney yang basah, seolah sedang mengusapnya Britney menjadi tenang, bayi itu mengerutkan dahinya dan terlihat marah saat Britney menangis.


"Baiklah, saya berhenti menangis." ucap Britney dan dibalas dengan senyuman bayi itu.


Britney merasakan menjadi seorang ibu saat di dekat El. Mungkin mulai detik ini ia akan terus memanggil bayi itu dengan panggilan El pikirnya dalam hati.


➰➰➰➰➰


Martha dan Nia seperti biasa sudah menjadwalkan untuk pergi ke kelab, Britney yang berhasil mati-matian di bujuk oleh mereka akhirnya bisa datang. Tidak biasanya Britney sulit seperti itu, jika bukan karena operasi mendadak atau pasien VIP Britney jelas wanita itu akan menolak ajakan sahabatnya itu.


Britney keluar dari mobil Celica hitamnya, Martha dan Nia menghampiri Britney.


"Gilssss... cantik bener mojang Bandung tuh ya, Mar?" ucap Nia saat melihat penampilan Britney malam ini.



"Seksi banget bu dokter malam ini. Kesambet apa lo?" timpal Martha.


Britney hanya menggibaskan rambutnya sombong, "Burung lagi lepas kandang nih, buruan masuk dah banyak yang nunggu." jawab Britney.


➰➰➰➰➰


B20\=HIV

__ADS_1


HbsAg\=Hepatitis


__ADS_2