The Baby For Britney

The Baby For Britney
TBFB-11


__ADS_3

Britney menggigit bibir bawahnya gelisah, bumi seakan berhenti berputar, sosok di hadapannya benar-benar membuat Britney tidak bisa berkata apapun.


"Kamu mau jadi anak durhaka? Kalau orang tua ngomong itu jawab lah, Ge." ucap seorang wanita paruh baya itu.


Feraldi yang menyaksikannya hanya bisa diam, El yang berada di pangkuannya bersuara tidak jelas, tangan mungilnya tetap dimasukkan ke dalam mulutnya.


"Ma... Nanti Ney obrolin di rumah mama ya." jawab Britney menahan rasa gelisahnya itu.


"Sejak kapan kamu mengelak seperti ini? Mau mama nikahin kamu di gedung serba guna?" balas Nisrina.


Ya, Nisrina adalah ibunya Britney. Setelah kejadian menyakitkan itu, mamanya tidak menggubris kemauan anak perempuannya, ia tetap memanggil Britney dengan panggilan Gea, karena menurutnya nama panggilan tidak akan mengubah masa lalu seseorang, malah akan menguatkan dirinya jika mengingat kejadian itu akan bangkit dan melupakan keterpurukan.


Feraldi menahan tawanya saat Nisrina berbicara seperti itu, mana ada anaknya seorang dokter dinikahkan di gedung serba guna, di tahun millenial ini tidak akan ada yang seperti itu.


"Ma, jangan mulai." Britney menghela napas.


Nisrina melirik sekilas Feraldi, menilai penampilannya. Wajah tampan pria itu masuk ke dalam list calon suami dari anaknya, postur tubuh yang tegap dan lengan berotot, lengan yang kokoh, rambut yang tertata rapi.


"Siapa kamu?" tanyanya.


Feraldi mengulurkan tangan kanannya, El yang masih di pangkuannya tidak terusik karena hanya lengan kiri Feraldi yang menahannya.


"Saya Feraldi. Feraldi Assegaf, calon suami Britney, anak tante."


Nisrina membalas uluran tangan itu, "Nisrina, mamanya Gea." senyumnya yang berwibawa terukir jelas pada Nisrina.


Dalam hati Nisrina bersorak kegirangan, ternyata anak perempuannya diam-diam sudah mempunyai calon. Keterlaluan memang ia baru mengetahuinya sekarang, ibu macam apa Nisrina ini.


"Punya apa kamu mau jadi menantu saya?"


Feraldi berpikir sejenak untuk merangkai kata-kata yang pas, Nisrina bukan seorang ibu biasa. Wanita itu jelas menginginkan seorang menantu yang melebihi rata-rata keinginan seorang ibu, untungnya Feraldi seorang pengusaha sekaligus mempunyai banyak prestasi sepanjang ia menempuh di dunia pendidikan.


"Mama! Bicara tuh yang sopan, baru dateng udah ditodong pertanyan kaya gitu." Britney merasa tidak enak pada Feraldi, takut jika pria itu menganggap yang tidak-tidak pada mamanya.


Nisrina memutar bola matanya kesal.


"Ma, ngapain sih ke sini? Ney kan udah bilang, kalau gak ada keperluan apapun atau gak di undang jangan ke sini." timpal Britney.


"Lho, kamu kan anak mama. Terserah mama dong mau ke sini kapan aja." balas Nisrina dan melipat kedua tangannya di depan dada.


Britney mengatur nafasnya, mau bagaimanapun Nisrina adalah ibunya.


"Jawab sekarang pertanyaan mama, atau nama kamu mama coret di kartu keluarga." ujar Nisrina tegas.


Feraldi dan Britney menelan ludahnya susah payah, bagi Feraldi ini bukanlah candaan yang biasanya ia dengar dari teman-temannya, yang diucapkan Nisrina langsung dari mulutnya sendiri, seorang ibu dari Britney.


"Mama tadi nanya apa?" tanya Britney dan duduk di sofa, kepalanya terasa sakit kembali, ia memijit keningnya.


"Jelaskan sama mama, ini bayi siapa? Terus tadi kamu nyebut diri sendiri dengan sebutan 'mama'. Kamu mau buat mama mati berdiri?" tutur Nisrina yang tidak memberi jeda kepada anaknya untuk berpikir.


Feraldi hendak menjawabnya namun lirikan tajam Britney memberhentikan pria itu, Feraldi mengatup bibirnya rapat.


"Oke, bayi ini Ney temuin di Creesana tanpa orangtuanya. Dan dia, bukan calon suami Ney. Clear?"


"Tidak, tante. Bukan seperti itu. El memang bayi kami. Saya sangat mencintai Britney, secepatnya kami akan menikah. Bukan begitu, sayang?" ujar Feraldi menunjukkan mimik wajah yang serius dan melirik Britney.


See? Feraldi benar-benar mengancam jiwa Britney saat ini. Nisrina tidak bersuara. Sepertinya ia sedang menyiapkan bom atom dalam tas Choach yang ia pegang itu dan siap memencet tombol untuk meledakkannya.

__ADS_1


"Bohong, ma. Jangan dengerin omongan bapak itu. Bayi ini bukan milik Ney, kalau mama gak percaya kita bisa hubungi para karyawan di Creesana."


Nisrina menaikkan sebelah alisnya, menatap datar anak perempuan satu-satunya itu.


"Mama gak peduli alasan kamu apa. Jadi, kapan kalian akan melakukan resepsi pernikahan? Oh my God, ternyata secepat ini mama punya cucu." ucap Nisrina dengan mata berbinar dan kedua tangannya mengulur pada El, seakan mengerti bayi itu langsung menyambutnya dan tertawa.


El sekarang berada di pangkuan Nisrina, bayi itu terus mengeluarkan suara khasnya, air liur terus keuar dari mulut mungil milik El.


"Ah, lucu nya." Nisrina terus memperhatikan El lalu mencium kedua pipi chubby itu.


Sebenarnya Nisrina memang tipikal seorang ibu yang tidak ribet, karena ia sejak kecil berada di luar negeri, pergaulan yang sangat bebas sudah melekat pada dirinya, dan sekarang mengetahui bahwa anaknya memiliki seorang bayi tidak begitu masalah baginya, mengingat usia Britney yang sudah termasuk tua dan belum juga menikah karena masa lalu yang dilaluinya begitu rumit. Sempat beberapa kali Nisrina mengeluh karena putrinya tidak kunjung menikah, dan beberapa kali pula ia mengenalkan pria pilihannya untuk Britney, sayangnya Britney selalu menolak dan membantah.


Feraldi merasa bahwa Nisrina tidak seburuk yang ia pikirkan sebelumnya.


"Tidak ada pernikahan antara Ney sama Feraldi, ma." tutur Britney.


"Kita tidak saling mengenal, ma." lanjutnya.


Feraldi sedikit kecewa mendengar perkataan Britney, memang benar mereka tidak saling mengenal sebelumnya, jika bukan karena ada El mereka tidak akan bertemu, namun hati Feraldi menyisihkan ruang untuk wanita itu. Yang berarti Feraldi mulai mencintai Britney. Apa salahnya mereka mencoba menjalin hubungan dulu, mungkin Britney bisa membuka hatinya dan mencintai Feraldi. Tapi semua itu hanya pemikiran dalam benak Feraldi.


"Ngawur kamu ini! Kalau gak saling ngenal, kalian gak akan punya ini." El yang berada di pangkuannya di angkat ke udara, Nisrina semakin bahagia melihat suara tawa bayi itu.


"Anak jaman sekarang malu-malu. Tenang aja kali." ucap Nisrina dan menjulurkan lidahnya pada putrinya itu.


Britney tahu betul mamanya bagaimana, sekarang ia hanya bisa pasrah, biar Tuhan yang mengatur segalanya. Britney lelah.


"Nak Feraldi, maaf ya anak tante kadang begitu. Suka malu-malu. Padahal aslinya gak gitu." bisik Nisrina pada Feraldi.


Suasana saat ini menghangat, Feraldi mulai menyukai Nisrina, seorang ibu yang menganut 'kekinian/zaman now' banget.


Feraldi tersenyum, "Gakpapa, tante. Biasanya Britney suka manja sama saya kalau lagi berduaan. Tapi semenjak ada El, manjanya jadi berkurang." tutur pria itu dan disusul suara tawa Nisrina.


Feraldi tersenyum puas, dua lampu hijau ia dapatkan. Pertama, El sangat membantu dirinya untuk dekat dengan Britney. Kedua, Nisrina mulai setuju dengan dirinya.


"Ya Tuhan, tolonglah anakmu ini." gumam Britney.


➰➰➰➰➰


Mereka bertiga kini sedang duduk di sofa ruang keluarga.


Nisrina jatuh cinta pada bayi kecil itu, "Jadi, nama cucu pertama mama ini siapa?" tanyanya yang mencubit gemas hidung El.


"Elthon Atlana Assegaf, ma. Panggilnya baby El." jawab Feraldi cepat.


Nama terakhir itu seperti tidak asing di telinga Nisrina, namun ia tidak begitu menghiraukannya dan sibuk dengan El. Ia akan mencari tahu asal usul Feraldi.


Britney yang mulai jengah dengan keadaan pergi ke dapur untuk mendapatkan segelas air dingin untuk menyegarkan dirinya. Tidak butuh waktu lama, pria itu benar-benar membuat Britney mengakhiri nyawanya.


Ingat bahwa El belum mendapatkan susu, ia membuatkan susu untuk El.


"Waah, gemes banget ya namanya."


Feraldi tertawa dan memutar bola matanya kesal, "Namanya keren lho, ma. Maco gitu, kan cowok."


"Tapi kan dia masih bayi, jadi gemesnya masih nempel." balas Nisrina tidak mau kalah.


"Mau sampai bangkotan juga El masih tetap gemes kok, ma. Gimana aja kayak saya." ujar Feraldi.

__ADS_1


Nisrina diam sejenak, memeperhatikan El dengan fokus.


"Tapi kok gak mirip kamu sama Gea, ya?"


Gawat, Nisrina jangan sampai mengetahui bahwa El bukan anak kandung mereka. Ayolah Feraldi cepat berpikir.


Dewi Fortuna berpihak pada Feraldi, pria itu mendapatkan jawaban di otaknya, "Namanya juga masih bayi. Nanti keliatan miripnya kalau udah setahun dua tahun."


"Benar. Dulu Gea tidak mirip mama atau papanya. Tapi, waktu umur setahun dia mirip banget sama papanya." Nisrina terlihat seperti membayangkan beberapa tahun yang lalu saat mengatakan itu.


Britney datang membawa sebotol susu di tangannya, ia memberikan botol itu kepada Feraldi dan duduk di sebrang Nisrina dan pria itu.


"Lho, pakai susu formula?" tanya Nisrina yang nampak tidak suka melihat botol susu.


"Air susunya gak keluar, hamidun aja kagak." batin Britney kesal.


"Britney sibuk, ma. Benarkan, sayang?" Feraldi sengaja memanggil Britney seperti itu, ia senang sekali melihat wajah kesal Britney.


Wanita itu membelalakkan matanya, geli mendengar panggilan itu.


"Ney pergi dulu. Ada operasi sebentar lagi." pamit Britney melewati mereka.


"Kamu mau ke klinik? Mama nebeng ya ke jalan Banda, arisan sama temen-temen SMA nih gak boleh absen." Nisrina bangkit dari duduknya dan menyerahkan El pada Feraldi.


Britney menghentikan langkah kakinya, "Mama kan bawa mobil?"


Nisrina mendecak sebal dan memeluk putrinya itu, "Mobil mama lagi di bengkel, tadi mama juga ke sini naik taksi online. Ayolah Ney, kita kan searah." rayu mamanya yang terus memeluk Britney.


Kalau sudah seperti ini siapa yang bisa menolak, apalagi mamanya sendiri.


"Oke." akhirnya kata itu terlontar dari bibir Britney.


Feraldi gelagapan sendiri, karena ia akan ditinggal berdua dengan El.


"Bapak disini aja, saya gak lama. El jam empat harus mandi, abis itu dia suka tidur." tutur Britney yang menyadari Feraldi.


"Sayang, suami kamu mau-"


"Saya tahu bapak udah gak ada kerjaan." potong Britney yang mengetahui betul bahwa Feraldi tidak ada lagi kerjaan apapun yang harus pria itu lakukan.


"Kamu tuh ya, manggil suami bukannya sayang ke honey ke atau apa gitu. Kok manggilnya malah bapak, aneh banget."


Britney tidak menghiraukan perkataan mamanya, ia geli mendengar kata 'sayang' apalagi memanggil pria itu dengan kata 'sayang'.


Nisrina pamit pada Feraldi dan El, satu kecupan ia berikan untuk El di pipinya.


"Hati-hati, ma." ujar Feraldi.


"Iya. Feraldi, nanti kita bicarakan rencana resepsi pernikahan kamu. Orang tua kamu gimana, udah setuju kan?"


"Siap, ma. Udah setuju banget, tinggal menentukan hari." jawab pria itu dan nyengir lebar.


Suara klakson mobil terdengar sampai empat kali, tanda Britney sudah mulai kesal.


Nisrina mengacungkan satu jempol kanannya lalu meninggalkan Feraldi dan El.


Pria itu melihat kepergian Britney dan Nisrina, El yang berada di pangkuannya sudah menghabiskan susu, mata bulat El menunjukkan bahwa ia mengantuk.

__ADS_1


"No, no. Kamu harus mandi, jagoan kecil. Baumu sudah tidak karuan."


Sore ini, Feraldi akan menjadi seorang ayah yang sebenarnya. Mungkin besok dan seterusnya akan begitu. Ah, indahnya hidup ini.


__ADS_2