
Suara dentuman benda besi yang keras dan orang-orang berteriak histeris langsung membangunkan Britney detik itu juga, segera ia keluar dari mobil dan melihat keadaan.
Kedua mobil yang sudah hancur di bagian depan sampai nyaris menjadi datar karena kerasnya tabrakan itu. Britney menatap tak percaya, hanya berjarak kurang dari 500 m dari parkir mobilnya kecelakaan itu berlangsung.
Saat ia hendak berlari menghampiri kerumunan orang-orang yang berusaha menyelamatkan korban, tubuhnya terasa berat dan susah untuk melangkah.
Britney menunduk dan terpekik saat itu juga. Perutnya besar, seperti ibu hamil yang sering ia temui di kliniknya atau akan operasi.
Perlahan ia memegang perut besarnya, mengelus lembut. Sedetik kemudian ada pergerakan dari dalam perutnya, bayi itu menendang. Seolah mengetahui ibunya memanggil dengan sentuhan lembut. Britney tersenyum geli merasakan itu.
Mana mungkin dirinya hamil, menjalin hubungan dengan pria pun sudah tidak pernah semenjak berakhirnya hubungan bersama kekasihnya dulu.
"Tante! Kenapa dede bayinya gak dipakaikan baju sepertiku?" tanya seorang anak kecil laki-laki bertopi hitam yang ternyata ada di sebelah kanan Britney dan mencengkram erat lengan kanannya.
Britney meringis dan merasa terganggu merasakan sakit karena cengkraman anak kecil itu yang kuat. Kemudian ia tersadar di lengan kirinya ada seorang bayi laki-laki tanpa sehelai benang, kulitnya yang masih merah dan tali pusat menjuntai ke belakang perut bayi itu.
Kaget bukan main, Britney takut bayi itu hipotermi. Ia membutuhkan baju hangat atau kain yang bisa menghangatkan tubuh bayi itu.
Namun saat Britney beranjak, lengannya ditarik dan dicengkram kembali oleh anak laki-laki tadi. "Tante mau kemana? Dede bayinya jadi biru, dia meninggal ya? Kayak aku dulu waktu keluar dari kolam renang jadi biru," ucapnya.
"Dek, sebentar ya. Tante mau nolong bayi ini takut dia kedingin—"
"Aaaaahkk!!"
Britney terbangun dengan posisi meringkuk di jok mobil depan, dan keringat bercucuran di pelipisnya.
"Jadi tadi hanya mimpi?" gumamnya.
Ia merasakan di lengan kanannya sakit juga pegal yang membuatnya terganggu, mungkin salah posisi tidur pikirnya.
Setelah mendapat kesadaran penuh ia tersentak bangun, jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 05.15 WIB.
Segera ia melajukan mobil sedan hitam miliknya dan menghiraukan mimpi tadi.
➰➰➰➰➰
__ADS_1
"Hallo, Ney? Gue khawatir dari semalem tau gak!" ucap Nia pada videocall yang sudah tersambung.
"Peduli amat lo sama gue," jawab Britney ketus padahal dirinya juga melupakan Nia dan Martha di tempat club.
"Halah laga lo ketus bin jutek begitu, nyatanya lo juga lupa kan sama kita!" kali ini Martha yang menimpalnya.
"Lo gak bisa bohong sama kita berdua, Ney! Hidung lo kembang kempis kalo lagi bohong, ngaca tuh depan lo ada kaca kan?" Nia dan Martha tertawa puas di sana.
Ya, kebiasaan Britney yang sudah lekat diketahui oleh kedua sahabatnya itu adalah jika ia sedang berbohong dan mengarang cerita hidungnya yang mancung itu akan kembang kempis.
Britney mendengus kesal mendengarnya, alis yang sedang ia ukir menjadi tebal sebelah.
"Iya maaf, gue semalem ke mobil dan tidur." jawab Britney.
"Kita dah tau. Lo selalu begitu, padahal kan kita tuh ngarepnya lo di bungkus gitu sama cogan atau brondong," ujar Nia yang menaik turunkan alisnya berniat menggoda sahabatnya itu.
"Kenapa sih lo tuh pikirannya cowok mulu? Heran gue."
Setelah merasa puas dengan karya alisnya yang sempurna, lanjut dengan memoles pipinya dengn blush on tipis.
Britney mengabaikan ucapan sahabatnya itu. Dan terus melanjutkan kegiatannya.
"Ney?"
"Gue mau cerita sama kalian berdua,"
Nia dan Martha saling bertatapan di sebrang, heran dengan sahabatnya. Tidak biasanya Britney ingin bercerita. Mereka berdua sering tahu cerita dari orang lain seperti para karyawan Britney di klinik dan tempat penitipan anak yang sahabatnya dirikan, namun itu tak membuat Britney marah karena memang begitu yang memang diceritakan para karyawannya.
"Kita bersedia hidup dan mati ini untuk mendengarkan ceritamu, wahai dokter Britney!" ucap mereka berdua kompak dan semangat.
Kini wajah Britney bertambah kecantikannya dua kali lipat dengan make up tipis.
"Gue cuma punya waktu lima belas menit untuk cerita sama kalian, karena gue harus ke Creesana Care lalu ada operasi di rumah sakit," ucapnya setelah melirik jam Gucci berwarna pastel.
"Jam baru lagi? Ney gila lucu ban—"
__ADS_1
Martha membekap mulut Nia yang masih berusaha mengoceh, sementara Britney memberikan tatapan tajamnya pada mereka.
"Jadi tadi tuh gue mimpi," Britney menceritakan mimpi tadi pagi yang ia alami, lalu memperlihatkan lengan kanannya agak lebam persis seperti di cengkram.
Martha dan Nia menyimak dengan baik cerita itu, dan bergidik ngeri melihat lengan Britney.
"Ney, itu cuma bunga tidur gak usah dipikirin. Kalo menurut uti gue yang di Blora, mimpi bayi tuh lo mau punya banyak re je ki yang melimpah," ucap Nia serius.
Martha menimpali dengan anggukan setuju.
Hening diantara mereka, baru kali ini Britney merasakan mimpi yang begitu nyata sampai sakit di lengan kanannya nyata.
"Maaf nih, Ney. Kalo menurut gue, lo lupain Bram. Karena Prita lebih membutuhkan dia, apa lagi anak mereka. Ikhlasin Bram, Ney. Empat tahun. Lo gak lupa kan? Come on, Ney! Move on! Lo inget gak? Mimpi lo yang kayak gini persis setelah kejadian lo tahu kalo Bram ngehamilin Prita dan Bram kecelakaan sampe nabrak satu keluarga." Martha memecah keheningan dan membuat Britney sesak di dada seketika.
"Gue udah ikhlas, Mar." jawab Britney lemah.
"Gak! Lo gak ikhlas, dan lo dendam!" bentak Martha.
Nia memberi kode pada Martha untuk berhenti bicara.
"Ney, dendam itu gak baik. Hidup lo gak akan tenang. Kapan lo buka lembaran baru tanpa ada nama Bram di sana? Gue harap lo ngerti, Ney."
Britney menatap lurus tanpa melihat layar di ponselnya, air matanya jatuh tak tertahan, dadanya sesak menahan sakit. Gemuruh di dadanya selalu muncul saat mengingat itu semua.
"Gue pergi dulu."
Sambungan video call terputus.
Dirinya pernah mimpi yang sama. Sekarang Britntey ingat, dua hari setelah kejadian itu ia mengalami mimpi yang sama namun tidak pada lengannya yang menjadi lebam dan sakit.
Gina
Selamat pagi dok, izin mengingatkan bahwa jam 9.30 operasi akan dimulai. Terimakasih.
Setelah melihat pesan itu Britney merapikan dirinya lalu bergegas pergi menuju Creesana Care untuk menandatangani berkas minggu kemarin.
__ADS_1