
1 Aku akan menunggu
Chicago, Amerika Serikat
Rabu, 21 Desember 2016 | 17.32 PM
Berjalan di trotoar bersama kekasih adalah pilihan terbaik di Minggu sore. Tak ada mobil atau motor yang menemani hanya ada canda tawa yang mengiringi langkah. Semua terasa sempurna, ditambah lagi dengan segelas Americano pahit dengan kepulan asap yang menemani pagi di awal musim dingin.
Revaliza Alleira Garcia, wanita yang sedang sibuk terkekehChicago dibalik bisep milik sang kekasih. Wajahnya bersinar cerah layaknya matahari yang menyirami kota Chicago saat musim semi. Rambut indahnya dibiarkan tergerai menyentuh pundak hingga melambai-lambai dramatis jika diterpa angin. Wangi sampo mint dan floral menguar sejuk dari rambut lurus berwarna nyaris hitam itu. Bibirnya mengelupas indah membentuk ukiran senyum yang nikmat di penglihatan siapapun.
"Kau seperti Joker, Bri." Liza masih terus meledek wajah kekasihnya yang tidak berekspresi sama sekali saat ini. Ia tertawa hingga perutnya seperti akan meledak. Ia tertawa karena mengingat kejadian beberapa menit lalu saat mereka melintasi reklame Billboard di zebra cross tadi. Bryan Chaiden Richardson--kekasihnya--harus tersenyum lebar dengan hidung mengembang dan mata menyipit layaknya salah satu karakter film yang viral beberapa hari lalu, Joker. Semua itu karena keinginan Liza tentu saja. Lagipula, mana mungkin Bryan mau melakukan itu secara random.
"Jika aku menjadi Joker, maka kau adalah Doktor Harleen," ujar Bryan.
Liza semakin tertawa. Ia sampai mencengkram tangan Bryan tanpa sadar.
"Berhentilah tertawa karena itu tidak lucu. Bagaimana jika ada seseorang yang memotret wajah konyol ku tadi lalu membuatnya seolah adalah meme yang meledek Your Highness Joaquin Phoenix? Aku akan terkena masalah pasti." Bryan berkata seolah hari esok ia akan berakhir dan ditemukan tewas terbunuh beberapa penyanjung film tersebut.
Karena lelah tertawa, Liza melepas tautan tangan mereka lalu menepi sebentar di halte terdekat untuk duduk. Ia tidak berencana menghentikan tawanya karena ucapan yang keluar dari bibir kekasihnya benar-benar terdengar seperti seorang pelawak kawakan.
"Sepertinya aku harus memanggil pastor untuk meredakan tawa mu itu," cibir Bryan sambil mendekat. Dia merendahkan tubuhnya berniat duduk di tanah untuk melihat semburat merah yang dikeluarkan secara ilmiah dari kedua bongkahan kenyal di wajah kekasihnya.
"Bri..." Liza memeluk bahu Bryan, wajahnya menekan leher sang kekasih untuk menahan kekehannya. "Kau sangat lucu. Aku mencintaimu," bisiknya.
Baiklah tinggalkan Liza yang mengatakan cinta dengan sangat santai dan mari melihat dari sisi Bryan yang sedang tersenyum penuh arti. Didalam hati ia menjawab pernyataan cinta tersirat itu dengan sangat gamblang.
"Mari kita bercinta kalau begitu," balas Bryan.
Tawa Liza mereda seketika seolah ada hal yang membuat kemarahannya terpacu lalu ia dengan segera mengangkat wajahnya dari leher Bryan. Wajahnya masih memerah dengan genangan air mata yang tersimpan apik di bola matanya yang kedua sisinya runcing. Kini ia tidak terlihat seperti orang yang baru saja tertawa terpingkal-pingkal karena meledek sang kekasih, melainkan seperti mengatakan kalau wanita itu baru saja berhenti dari tangisan yang sungguh menyayat hati.
__ADS_1
"Dasar otak ************ keparat mesum," umpat Liza. Ia bangkit lalu meninggalkan Bryan di tanah dengan gelar yang baru saja dia sematkan pada sang kekasih.
"Itu terlalu panjang untuk aku yang simpel," ujar Bryan ikut berdiri. Ia mulai berjalan dengan langkah panjang untuk mengejar kekasihnya. "Kau tinggal berikan aku sebuah gelar, bajingan sex yang memiliki zat adiktif sehingga membuat gadis -ah tidak, wanita maksudku. Bisa membuat wanita bernama Revaliza Alleira Smith ketagihan dan akan meminta ronde tambahan ketika berada di ranjang."
"Dasar idiot," balas Liza acuh.
Wanita itu sepertinya melupakan kalau tadi ia baru saja tertawa hampir sekarat karena lelucon Joker dan embel-embelnya, tapi sekarang ia seperti si acuh yang tak tersentuh.
"Apa kau marah karena aku tak membalas pernyataan cintamu? Sudah ku bilang kalau cintaku itu nyata seperti aku yang berada di hadapanmu. Lalu, apalagi yang kau butuhkan?"
"Berhentilah mengatakan omong ko-"
"Ya, aku juga mencintaimu... Aku sangat mencintaimu," potong Bryan cepat. Ia langsung menggendong Liza layaknya pengantin baru. Ayolah, dia tidak mau melupakan tujuan awalnya untuk pergi ke pantai North Avenue.
🍁
Menikmati pemandangan sore di pantai dengan matahari yang bergerak slow motion adalah hal yang indah. Dari tempatnya duduk, Bryan bisa melihat matahari itu perlahan tertelan kota chicago yang didalamnya terdapat gedung-gedung pencakar langit. Entah sudah berapa kali Bryan tersenyum akan hal itu.
"Kita sudah berhubungan hampir tiga tahun, tapi selama itu pula aku tak mengetahui apapun tentang mu selain hal-hal kecil mengenai makanan favorit, baju favorit, destinasi impian, motto hidup," ujar Liza. "Kali ini, tepat anniversary hubungan kita yang menginjak dua tahun delapan bulan, bolehkah aku mengetahui sesuatu tentang calon Daddy dari anak-anakku?" Liza memulai kebiasaannya yang banyak bertanya.
"Kita sudah membahas ini, Liz."
"Aku tahu, tapi aku benar-benar hampir mati karena penasaran tentang kekasihku yang misterius ini. Aku hanya ingin tahu setidaknya satu kalimat tentang dirimu lalu setelahnya aku akan tutup mulut dan tak lagi banyak bertanya."
"Aku bukan si idiot bodoh yang tak memilki pekerjaan... Yeah hanya itu."
"Empat bulan lalu, dan empat bulan yang lalunya lagi, lalu empat bulan lalu sampai menyentuh angka dua tahun kau terus saja mengatakan hal yang sama saat kita membahas hal ini. Membosankan kau tahu?"
Perkataan Liza membuat Bryan mengingat masa lalu saat pertama kali mereka dipertemukan.
__ADS_1
Saat itu mereka bertemu di klub malam. Klise memang, tapi itu begitu mendalam bagi keduanya. Mereka mulai membicarakan keluhan-keluhan mengenai satu sama lain, merasa nyaman, dan berakhir melakukan one night stand. Sebenarnya tidak berhenti sampai di sana karena nyatanya mereka melanjutkan sampai ketahap serius, berhubungan secara resmi dengan tingkat yang agak terikat.
Yah, tak terasa sudah hampir 3 tahun.
Terkadang mereka akan berpisah sampai berbulan-bulan tanpa menghubungi satu sama lain, namun ada bagian dimana mereka akan bertemu dan kembali jatuh cinta-bahkan lebih dalam. Lalu mereka mulai saling melepas rindu dengan cara yang paling manis dengan berbagi canda tawa disiang hari dan berlanjut berbagi cinta dimalam harinya.
"Kenapa hening sekali?" tanya Liza retoris.
"Ku pastikan kau tidak akan menyukai jika aku mengatakannya."
Liza menghela nafas lalu bangkit dari posisi berbaring nya. Ia menatap mata berwarna biru seperti laut didepan sana. "Aku menyukai apapun tentang mu," ungkap Liza. Ia mulai mengelus rahang Bryan dengan lembut menggunakan ibu jarinya, merasakan sensasi kasar di dagu Bryan akibat laki-laki itu yang sepertinya lupa bercukur.
Alis tebal Bryan berkedut, tidak suka dengan jawaban asal dari bibir Liza. Percayalah semua yang dikatakan Liza hanya untuk memancingnya agar terbuka mengenai apapun tentang sesuatu yang selama ini dia tutupi dengan sangat apik.
"Cukup percaya aku mencintaimu maka kita akan bahagia," ujar Bryan. Ia menarik pinggang dan tengkuk gadis itu agar duduk diatas pangkuannya.
"Jangan seperti itu. Kau salah jika memiliki pemikiran buruk tentang ku. Aku tak akan meninggalkanmu, itu janjiku sampai akhir. Disini...." Ia membawa tangan besar Bryan menuju dada bagian kirinya, tepat diatas degupan jantung nya yang menggila setiap berdekatan dengan Bryan. "Tidak akan mengkhianati penakluknya," ujar Liza. Ia lalu memeluk leher Bryan membiarkan laki-laki itu menatap laut sambil menjatuhkan dagunya pada pundak Liza. Ia memainkan rambut Bryan; mencoba membuat laki-laki itu nyaman dalam pelukannya.
"Beri aku waktu, ku mohon," pinta Bryan dalam dekapan Liza. Pria itu menunduk untuk menjatuhkan seluruh wajahnya pada pundak sempit milik sang kekasih seolah hidup dan matinya berada di sana. Ritme suaranya terdengar rapuh. Maka dari itu Liza mencoba menyanggupi.
"Tak masalah, aku akan menunggu untuk itu. Aku mencintaimu." Liza mencium kening Bryan dengan perasaan penuh damba.
"Terima kasih. Aku juga mencintaimu."
.
.
.
__ADS_1
To be continued