The Blind Eternity

The Blind Eternity
2. Misterius tapi aku mencintainya


__ADS_3

Selimut tebal adalah hal pertama yang Liza rasakan pada telapak tangannya setelah terbangun di siang hari. Ia mencoba membuka mata perlahan dan menoleh kesamping untuk menatap wajah kekasihnya. Tapi Bryan tidak di sana.


"Bri," panggilnya. Ia mencoba bangkit dari ranjang dengan melilitkan selimut untuk menutupi tubuh telanjangnya.


Liza melirik ke balkon kamarnya, namun tak mendapati kekasihnya lalu menuju pada kamar mandi tapi hasilnya sama. Ia membuka pintu kamar untuk keluar berharap setidaknya Bryan ada di ruang santai atau dapur.


Ia berjalan perlahan di lorong penghubung kamarnya dengan ruang tamu. Tangannya terkadang mengaitkan selimut yang merosot hingga nyaris membuat bahu pucat nya terekspos.


"Bryan...." Perasaannya mulai khawatir. Ia khawatir akan ditinggalkan lagi seperti biasanya. Tapi mungkin hari ini lebih menyakitkan karena mereka baru saja berbagi cinta tadi malam. Seharusnya di pagi hari mereka masih bersenda gurau seperti biasa bukan malah Liza yang kelimpungan mencari kekasihnya.


Dia sudah mengitari seluruh sisi apartemen mewah milik Bryan, tapi Bryan tak juga ditemukan olehnya. Tiba-tiba saja perasaan ingin menangis memenuhi kepalanya membuatnya terduduk dilantai dapur bersama selimut putih yang masih saja setia di tubuhnya.


Liza terisak seperti orang gila. Perasaan kecewa pada kekasihnya menyeruak tak terkendali.


"Bryan... hiks jangan pergi."


Terlambat memang, tapi setidaknya ia masih bisa memohon dengan sisa tenaganya.


"Bryan," lirihnya disela tangis.


Isakan pilu terus saja memenuhi ruang apartemen kedap suara tersebut. Liza masih terus menangis. Kini ia memeluk kaki-kakinya sebagai penopang. Selimutnya sudah menggulung tidak karuan. Rambut indahnya berantakan. Liza benar-benar frustasi.


"Kenapa duduk dilantai, hm?"


Liza langsung membuka matanya. Ia mendapati kekasih tampannya tepat didepan mata. Laki-laki itu sedang berjongkok untuk menyejajarkan posisi dengannya. Tanpa menunggu lama, Liza langsung menerjang Bryan dengan pelukan yang teramat posesif.


"Kenapa menangis?"


Rasa-rasanya Liza ingin sekali memukuli Bryan bertubi-tubi karena pertanyaan bodoh yang dilayangkan Bryan.


"Jangan pergi disaat kita baru saja selesai berbagi kasih. Itu seperti --hiks-- seperti kau sudah tidak membutuhkan ku dan siap membuang ku ke dasar," ungkapnya dengan suara berdengung. Ia masih saja memeluk leher Bryan. Sepertinya posisi itu sudah menjadi andalannya.


"Aku tidak kemana-mana jadi kekhawatiran mu itu tidak terjadi," ujar Bryan


"Aku takut kau pergi, brengsek!" Umpatan itu terdengar lirih dan menyayat hati.

__ADS_1


"Dan si brengsek ini mencintai mu," balas Bryan.


Liza merengek saat Bryan mencoba melepas pelukannya. Tubuh kurusnya menolak untuk perbuatan Bryan. Maka dari itu, ia terus saja melingkari leher Bryan dengan posesif dan melupakan kalau Bryan hampir tidak bisa bernafas.


"Aku tidak bisa bernafas, sayang," ujarnya sambil mengelus punggung Liza agar berhenti menangis.


"Maaf," ujar Liza. Ia langsung berdiri dan meninggalkan Bryan menuju ke kamar.


Bryan menarik nafasnya dengan helaan yang begitu berat. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, merasa bodoh dengan tindakannya barusan. Ketakutan Liza itu sangat mendasar karena nyatanya Bryan memang akan meninggalkan Liza untuk bekerja.


Bryan mulai bangkit dan menyusul Liza yang sepertinya benar-benar akan marah. Saat memasuki kamar, ia tidak mendapati kekasihnya di ranjang melainkan hanya mendengar suara percikan air di kamar mandi yang seolah mengundangnya untuk segera masuk dan menghampiri wanita cantik yang sedang merajuk didalamnya.


Bryan membuka kamar mandi dan memang benar kalau ada Liza di sana, di bawah shower yang mengguyur kepalanya dengan air hangat. Bryan memeluk Liza dari belakang, melingkarkan tangannya pada pinggang sempit milik sang kekasih tidak peduli kemeja biru toska yang dia kenakan basah.


"Maaf. Kau benar, aku berniat pergi tadi."


Dengan begitu Liza memutar tubuhnya. Benar, ia hanya berniat membuat Bryan jujur untuk kepergiannya yang tiba-tiba saat dia sedang tertidur. Liza tentu tahu alasannya sangat mendasar. Bryan berniat meninggalkannya.


"Jadi kenapa tidak pergi?" tanya Liza sambil mendongak. Jari-jari lentiknya membuka satu persatu kancing kemeja kekasihnya untuk ikut mandi bersamanya.


"Tadi hanya pertemuan biasa. Memang sebelumnya aku dipilih untuk pergi, tapi aku menolak karena aku tak mau mengambil risiko dengan meninggalkan mu. Lagipula kalau aku pergi sekarang, itu tandanya aku memajukan jadwalku," ujar Bryan. Ia mundur sejenak untuk melepas celana bahan hitam miliknya lalu kembali mendekat saat semua kain ditubuhnya raib.


.


"Ya, aku akan kesana besok, tapi hanya untuk meminta jatah libur ku sampai bulan depan. Aku tak peduli lagi dengan bayaran dan semacamnya."


"Jangan menundanya lagi, keparat."


"Kau tidak akan mengerti. Aku memiliki kekasih disini tidak seperti kau!" bentak Bryan. Ia sangat muak berbicara dengan rekannya yang selalu memaksanya untuk datang dan bekerja bersamanya menjadi partner padahal hari ini dan 2 bulan kedepan belum waktunya dia pergi.


"Ku harap bos melenyapkan kekasih mu itu."


"You son of motherfucker!" Bryan menutup sambungan tersebut dan membanting ponselnya hingga hancur berkeping-keping.


"God! Kau kenapa? Kenapa membanting handphone? Apa yang terjadi?" Liza datang dari luar kamar dan langsung menuju Bryan. Ia tentu saja kaget saat di dapur tadi karena mendengar suara bantingan dan umpatan yang teramat keras yang berasal dari kamar.

__ADS_1


Liza melihat ekspresi wajah sang kekasihnya dan yang dia dapati hanya wajah tanpa ekspresi Bryan. Namun Liza sangat tahu kalau kekasihnya itu sedang menahan emosi terlihat dari rahang pria itu yang mengeras dengan gigi yang bergemalatuk yang terdengar sampai ke telinganya.


"Ada apa?" Liza memeluk pinggang Bryan. Tangannya merayap sampai punggung prianya dan mengelus punggung lebar itu secara teratur dengan gerakan lambat dan konstan. "Katakan," desak nya.


"Hanya jangan tinggalkan aku. Selama ada aku, tetaplah berada didalam radius terdekat bersamaku, kau paham?"


Liza mengangguk. Tentu saja ia dapat menyetujui hal sederhana itu.


"Permintaan dikabulkan. Ingin mengatakan sesuatu?"


"Aku mencintaimu," ujarnya lalu membalas pelukan dari wanitanya dengan sama erat.


"Yeah, kita saling mencintai," bisik Lisa. "Baiklah kita sudahi dulu acara berpelukan ini karena aku sudah masak makanan siang yang lezat. Bagaimana? Mau tetap berpelukan atau memilih memakan sesuatu?"


Bryan melepaskan pelukan itu dengan perlahan seolah tidak rela. Ia mulai menciumi wajah Liza dengan gemas dan terakhir mencium kening dari wanita itu dengan perasaan begitu dalam. Ia berharap doa teman keparatnya tidak terkabulkan. Bryan tidak bisa membayangkan jika sampai Liza menghilang dari dunianya atau lebih tepatnya hilang dari dunia indah mereka yang telah dibangun dengan penuh cinta, kasih sayang, dan... Kebohongan.


Bryan terdiam menikmati wajah cantik kekasihnya yang seolah tak menua. Liza masih sama seperti pertemuan pertama mereka 2 tahun yang lalu.


"Baiklah ayo," ajak Liza karena tidak sabar dengan diamnya Bryan. Ia berjalan dengan semangat sambil menarik tangan Bryan untuk mengikuti langkahnya.


Kini mereka sudah sampai di meja makan dengan menu roti panggang, wagyu beef ala rumahan, dan beberapa jenis sayuran yang di buat salat. Terlihat menggugah selera karena Liza menambahkan kesan elegan untuk menghias piring-piring menu tersebut. Serbet bercorak bunga warna-warni dengan latar abu-abu pun digunakan untuk dijadikan alas meja makan. Lalu beralih pada pengaturan kursi makan yang dibuat sedemikian rupa seolah mereka berada di sebuah candle light dinner.


Bryan menoleh pada Liza dengan tatapan takjub. Sekali lagi ia dibuat jatuh cinta pada wanitanya. "Sederhana tapi aku menyukainya."


Liza memerah dalam tundukan. Ia tidak tahu penilaian itu merujuk pada siapa, entah pada acara makan siang buatannya atau untuk dirinya.


"Misterius tapi aku mencintainya," balas Liza salah tingkah lalu mulai menarik kursi. Ia membuka tutup botol wine dengan terburu-buru menggunakan kotrek lalu mulai menuangkannya pada gelas miliknya dan milik Bryan. Liza kikuk dan gugup. Padahal untuk apa bersikap seperti itu, toh Bryan sudah tahu semua mengenai isi hatinya.


Bryan mendengus lalu tersenyum geli untuk kegugupan Liza dan ucapan yang baru saja kekasihnya itu utarakan.


Benar, semoga saja mereka akan tetap saling mencintai walau seburuk apapun yang terjadi di masa depan nanti.


.


.

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2