The Blind Eternity

The Blind Eternity
18. Menjaga satu sama lain


__ADS_3

Dengan seragam miliknya dan rambut yang tergerai indah menantang angin, Liza sudah berdiri dengan tangan berpangku di dada juga tepat di atas rooftop gedung yang para agen tempati, ia sudah mengumpulkan para pasukannya. Matanya mengawasi pasukan dalam bimbingannya dengan mata memicing tajam. Ada beberapa wanita juga di sana walaupun hanya bisa dihitung menggunakan jari


Hari ini, ia berniat untuk mengabsen satu persatu pasukannya serta berbincang sedikit untuk mempererat kemistri antara kapten dan pasukan. Ia juga sudah mengklaim tempat itu sebagai tempat para pasukannya berkumpul selain di ruang latihan yang berada di markas besar.


Kurang lebih ada seratus orang dalam pasukannya. Sebenarnya ia bingung bagaimana bisa sebanyak itu, padahal seingatnya hanya ada sekitar tiga puluh orang total semua pasukannya.


"Kalian bisa memisahkan diri menjadi lima puluh orang dalam satu kelompok," ujar Liza. Ia menaiki keranjang kayu untuk bisa menjangkau total para pasukannya dengan mata.


"Untuk para senior, aku harap mau membimbing para agen yang baru bergabung, paham?"


"Paham!" Mereka semua serempak menjawab dengan teriakan yang sangat menggelegar.


"Sudah lah jangan posisi siap terus, aku lelah jika harus berteriak di pagi hari. Aku sedang tidak dalam mood bagus saat ini," ujar Liza lalu turun dari ranjang kayu itu. Ia lalu duduk dibawah sambil meluruskan kakinya. Tangannya di bawa kebelakang guna menahan berat tubuhnya.


Pasukannya mengikuti sambil mendesah lega. Biar bagaimana pun mereka tetaplah manusia, tidak menutup kemungkinan kalau lelah bisa saja menggelayuti tubuh walaupun mereka adalah agen intelejen milik negara.


"Sudah hampir satu tahun kita bersama, apa kalian ingin mengeluh sesuatu tentang aku sebagai kapten?" tanya Liza. "Tak apa, jujurlah. Aku tak keberatan sama sekali. Atau kalian ingin sekali membalas ku dengan sesuatu?"


Lalu satu tangan di belakang barisan kedua mengangkat tangan. "Aku ingin kau berada di balik sepuluh lapisan besi lalu setelahnya diberondong peluru, Nona Smith"


Liza terkekeh-kekeh. Apakah ini pembalasan untuknya.


"Apakah kau si keledai lemah yang waktu itu?" tanya Liza tak menghentikan kekehannya.


"Ya, Nona Smith," jawab si pria yang diberi julukan keledai tadi.


Dan kekehan Liza semakin keras. Ini sungguhan menghiburnya. "Kalau begitu, apa kau sudah tak lemah lagi? Kau sudah bukan keledai lagi?"


"Dia sudah bukan keledai lagi, Nona Smith."


Liza menoleh atas jawaban itu. Wanita yang tepat berada di depan nya kini sedang menatap lurus kearah nya tanpa ekspresi.


"Wow, wow, wow, kau membelanya? Ada apa ini. Someone, tell me please." Liza menegakan tubuhnya dengan semangat.

__ADS_1


"Mereka sepasang kekasih, Nona Smith," jawab pria dengan kukit khas yang eksotis.


"Ups, how sweet. Apakah ada cinta yang tumbuh karena terus bersama? Ck! Kenapa kalian tak memberitahu ku, huh?" ujar Liza lalu mulai berdiri dan menarik sepasang kekasih tadi. "Oww kalian berdua sangat serasi. Apa disini ada lagi yang memiliki hubungan seperti ini?" tanya Liza membuat mereka mengatakan tidak secara serempak.


Tidak tahu saja Liza kalau orang yang ditarik kedepan tadi sedang cemas karena merasa akan mati dalam waktu dekat.


"Maafkan kami, Nona Smith. Jangan hukum kami, kami berjanji tidak akan lalai dalam tugas hanya karena memiliki cinta satu sama lain," tutur sang pria dengan badge name Melvin di dada sebelah kanan seragamnya.


"Hukum? Bagaimana bisa aku menghukum orang yang memiliki cinta? Malah aku akan mengatakan pada kalian untuk menjaga satu sama lain. Bagus kalian berada dalam satu tim. Kerja sama tetap penting. Dan satu lagi, untuk keinginan mu Melvin, berdoa saja aku akan ada waktu untuk mewujudkannya."


"Benar, bagus kita berada dalam satu tim sehingga bisa menjaga satu sama lain."


Lalu seseorang mendekat membuat beberapa pasukan menoleh termasuk Liza yang menatap tajam pria itu.


"Kalian boleh pergi dari sini. Absen telah selesai. Terima kasih atas waktu kalian semua," tutup Liza pada seluruh pasukannya.


"Untuk apa kau datang ke sini, Tuan Wilson? Tidak melatih pasukan?"


Saat semua orang telah pergi, Liza menyanggul kembali rambutnya lalu bergegeas untuk pergi sambil menggunakan rompinya.


"Aku akan makan siang bersama Vero," ujar Liza.


"Kalau begitu aku ingin bergabung, apa boleh?"


"Tidak bisa karena ada yang ingin kami bicarakan. Kau tahu, urusan wanita," ujar Liza lalu memberi senyuman dan lekas pergi dari sana.


Jerry cukup tahu kalau Liza tak membolehkannya ikut dengan membawa 'pembicaraan wanita' sebagai alasan, tapi ia tak mau menyerah. Ia mengejar Liza untuk ikut berjalan disamping wanita itu. "Lain waktu, bagaimana?"


"Kurasa tetap tak bisa karena besok kita akan berangkat lalu setelah misi ini selesai, aku akan langsung mengundurkan diri. Jadi, maaf tak ada lain waktu," tutur Liza.


"Tak apa. Kita bisa makan bersama saat dalam misi nanti," ujar Jerry tak mau kalah.


Liza menggerutu dalam hati karena demi apapun, Jerry sangat menjengkelkan saat ini.

__ADS_1


"Aku tak nyaman bersamamu, Jer. Ku harap kau menjauh," ujar Liza memperingati lagi.


"Kau harus terbiasa karena kita satu tim saat ini dan seterusnya."


Dan perkataan itu bagai mimpi buruk bagi Liza. Benar, mereka akan bersama dalam jangka waktu yang tak ditentukan dan sialnya untuk menangkap Bryan—kekasihnya yang menjadi tokoh antagonis di misinya kali ini.


...


"Hei sudahlah tak usah murung begitu." Vero mengelusi lengan Liza agar wanita itu berhenti murung di dalam kamar. Karena ini sudah malam, dan Liza terus saja menolak untuk makan bersamanya.


"Orang itu benar-benar menyebalkan, Ver. Asal kau tahu, dia itu seperti penguntit," ujar Liza.


"Itu hanya perasaan mu saja, Liz."


Oke, sepertinya tak ada yang percaya dengan Liza kini.


"Sudah dua kali dia berada disekelilingku, Ver. Pertama saat aku sedang bersama pasukanku, kedua saat aku ingin mengatakan pada Mister Andreas bahwa para pasukan ku telah siap. Ini bukan lagi tentang perasaan, tapi Jerry memang sungguhan mengikutiku," ujar Liza menggebu-gebu.


"Begitu ya? Ya sudah mau diapakan lagi? Kau sudah satu tim dengannya, jangan banyak mengeluh," ujar Vero mulai pada kebiasaannya yang tak banyak bicara.


"Oke si dingin Vero kembali mengambil alih," gumam Liza malas.


"Ck! Kau mau makan tidak? Aku akan ambilkan di kantin jika mau."


"Tidak mau. Pesan makanan cepat saji saja lalu ambil lima botol coca-cola ukuran satu liter di kantin," ujar Liza sumringah. "Pesan makanan yang banyak. Kau bebas memilih, nanti aku yang bayar. Aku mau kita pesta sebelum aku pergi menjemput misi."


"Mengerti! Kau terbaik, Liz!" Dan Vero berteriak sambil berlarian keluar kamar Liza.


Dan mood Liza membaik. Bagus, berbicara dengan Vero memang selalu berhasil membuatnya sedikit bersemangat. Vero seperti adik baginya, adik yang polos yang selalu menutupi sesuatu dengan wajah yang tak bersahabat. Agak kesal sebenarnya saat Mister Andreas memisahkannya dengan Vero, tapi mau bagaimana lagi? Mister Andreas kan memang selalu seenaknya.


.


.

__ADS_1


.


To be continued.


__ADS_2