
Liza membuang nafas bosan. Sudah hampir lima belas menit ia menunggu Bryan berbicara, tapi pria itu malah sibuk dengan melakukan sesuatu yang sama sekali tak penting seperti; apakah ada bagian apartment yang bocor, apakah WC-nya tersumbat, apakah keran air berfungsi dengan benar, dan yang paling buruk adalah; apakah kedap suara pada kamarnya masih berfungsi dengan baik. Sungguh, itu sangat membuang-buang waktu.
"BRYAN CHAIDEN!"
Kegemaran baru Liza, berteriak saat Bryan benar-benar menyebalkan untuknya.
Bryan menjawab dengan bergumam keras didalam kamar Liza.
"BRYAN! Awh... Sial, kau membuat rahang ku sakit, Bryan!" Liza dengan kesal membanting bantalan sofa yang sedari tadi berada di pangkuannya.
Beberapa menit menunggu akhirnya Bryan keluar dari kamar Liza. "Dimana kau menaruh belanjaan yang baru kau beli? Kenapa aku tak melihatnya."
"Apakah kau tidak bosan terus bertanya, Bri? You silly," ujar Liza sambil menatap mata Bryan. "Kau mencoba mengulur waktu agar aku mengantuk lalu melupakan pertanyaan ku mengenai Ashton, kan?"
Bryan nampak berpikir, wajahnya jadi tak memiliki ekspresi sama sekali. Ia lalu mendekat pada Liza dan memilih tidur dengan beralaskan paha kekasihnya sebagai bantalan. Ia menyamping untuk memeluk pinggang Liza dan menenggelamkan wajahnya di sana.
"Intinya dia adalah sesuatu yang ingin kudapatkan," ujar Bryan sambil mengecupi perut Liza dengan gemas. "Kali ini aku tak berbohong."
"Kau gay?"
Bryan terasa menegang dalam rebahnya. Liza memang sedikit menyebalkan dan agak gamblang jika dilanda kekesalan seperti saat ini.
"Ya aku gay, dan aku adalah bottom submisive," ujar Bryan.
"Ewh. Lelucon mu adalah yang terburuk, Bri."
"Ayolah Sayang, kenapa kau tidak bisa mencerna perkataan ku dengan benar."
Liza sedikit merasa tenang sekarang. Benar, Bryan tidak mencoba berbohong lagi kali ini. Perihal Tiffany, tak apa, mungkin Bryan memang hanya partner sex saja dengan wanita itu atau apapun itu, masa bodoh! Lagipula Liza memahami kalau laki-laki memiliki gairah emosi yang tinggi dan tentunya sex termasuk kedalam nya.
"Apakah dia orang penting sampai kau harus mengejarnya?"
"Sangat, baik untukku dan pekerjaanku. Sudah jangan membahas apapun mengenai Ashton itu," ujar Bryan. "Sayang, bagaimana bisa kau merusak pintu kamar dan pintu apartemen sekaligus? Lalu yang ku lihat juga kau baik-baik saja. Bahkan tanganmu tak lecet sama sekali."
"Aku melemparnya dengan sofa. Kau tahu, the power of jealous," ujar Liza santai sambil mulai menyalakan TV flat dihadapannya.
Entah Bryan yang bodoh atau Liza yang teramat pintar mengontrol kegugupan, intinya, Bryan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja.
__ADS_1
"Sayang, aku merindukanmu," cicit Bryan sambil perlahan memasukkan sebelah tangannya pada baju bagian belakang Liza hingga wanita itu tersentak merasakan tangan kasar yang mengelusi pinggangnya.
Liza tahu, ia sangat tahu apa yang Bryan maksud dengan 'rindu' itu; bergelung dalam gairah, kehangatan, dan kenikmatan di atas ranjang, memangnya apa lagi?
"Tak ada jatah hari ini, Bri. Itu hukuman karena kau membuatku kesal sehari-."
"Apa-apaan? Bahkan tak ada kesepakatan sebelumnya?" Bryan menyela cepat. Ia bahkan sampai terduduk untuk menyatakan protesnya.
Liza menaikan satu alisnya lalu kembali berkata, "Bercinta itu adalah keinginan kedua belah pihak, Bri. Jika aku tak mau, kau tak bisa memaksaku. Lagipula kau ini kenapa maniak sekali?" ujarnya sambil mendorong perut enam pack milik kekasihnya.
"Bercinta? Kalau begitu kita akan melakukan sex. Sex tak perlu memerlukan persetujuan dua belah pihak, bukan? Aku akan memperkosa mu, Sayang."
Setelahnya Bryan tertawa lalu dengan impulsif menggendong bridal Liza untuk segera membopongnya menuju kamar satu-satunya yang ada di apartemen itu.
...
Kamar Liza, adalah ruangan dengan harum yang sama dengan si pemilik, mint dan floral.
Tak seperti kamar wanita kebanyakan, nuansa kamar Liza cukup kelam karena warna cat dindingnya berwarna cream sehingga tak cukup memberikan kesan girly. Tak ada laci besar di dalam ruangan itu, hanya ada satu lemari dengan tinggi sekitar semeter di dekat jendela yang merangkap menjadi pintu balkon.
Lampu di utama di langit-langit kamar itu telah mati tergantikan oleh lampu tidur di nakas dekat ranjang tidur berukuran sedang.
"Ya?" Bryan menjawab dengan suara khas yang berasal dari tenggorokannya sehingga nada yang dihasilkan menjadi lebih berat dan sedikit bermakna seduksi.
"Aku akan benar-benar membunuhmu jika kau memaksa-Emh! Bryan hentikan!" Liza menggeliat tak nyaman. Ia ingin sejali menjambak pria di atasnya seandainya saja kedua tangannya tak ditahan. "Jangan memperkosaku, sialan! Hngh! Ba-baiklah, baiklah kita bercinta—bajingan jangan seenaknya merobek bajuku!"
"Kenapa berisik seka-"
"Lepaskan tanganku atau tak akan kuberi bagian sampai setahun penuh!" Liza menyela cepat sambil menatap Bryan penuh dengan ancaman.
"Aku tak yakin kau bisa memberi hukuman itu. Ayolah Sayang, biarkan aku menjadi Christian Grey malam ini," ujar Bryan sambil menghirup aroma Liza di perpotongan leher kekasihnya yang tengah terbaring tak nyaman dibawahnya sambil menggeliatkan tubuh. "Lebih tepatnya, biarkan aku menjadi Bryan Chaiden Grey. Ah tidak, bahkan aku bisa lebih dari Mister Grey itu. Aku bisa lebih keren dalam menyiksamu dengan pusaran kenikmatan, Sayang." Bryan berbisik membuat bulu kuduk Liza berdiri seketika.
"Kau perfert, Bri. Jika kau melakukan seperti yang Grey lakukan, aku bersumpah, aku tak akan mau bertatap muka lagi dengan mu. Aku tak suka BDSM, keparat!"
"Ssstt... Apa itu BDSM? Just call me Daddy, honey."
Sialan, hanya itu yang bisa Liza sematkan untul kekasihnya saat ini. Tapi tak apa, Bryan bisa menamai kegiatan bercinta mereka dengan apapun karena Liza juga memiliki kejutan besar untuk kekasihnya itu.
__ADS_1
"You wanna play kinky to me, Daddy?" Liza bertanya sambil perlahan menatap Bryan dengan wajah sensual. Ia sengaja menggigit main-main bibirnya dari ujung ke ujung dengan sangat perlahan menggoda Bryan agar sedikit memberinya celah untuk bisa mengambil kesempatan melingkarkan tangannya pada leher Bryan. "Not today, Darling!"
Dugh!
Dengan sekali aduan dahi yang Liza namai TMS atau 'The Smith's Shock', Bryan tak sadarkan diri membuat Liza mengerang kesenangan sambil mendorong Bryan untuk menyingkir dari atas tubuhnya.
Dahinya berkedut dan sedikit pusing di daerah bagian atas mata sampai ke tempurung tengkorak bagian depannya, tapi tak apa sungguh, setidaknya ia bisa menghentikan Bryan yang entah kerasukan mahluk halus dimana.
Ia pernah melakukan TMS pada Abiavo saat ia akan di perkosa dulu, dan Bryan juga mendapatkannya. Salahkan saja pria itu yang terlalu mesum hingga Liza terpaksa melakukannya.
Ya, Abiavo Cameron, pria yang dengan sengaja tekena peluru dessert eagle dengan peluru 357 Magnum milik Mister Andreas yang dengan bebasnya menembus tengkorak hingg bersarang di otak depan pria muda itu.
Mengingat Abiavo, Liza jadi semakin merasa bersalah dengan Bryan. Shawn Ashton atau lebih tepatnya Abiavo Cameron atau Ivo atau entah siapapun itu yang hampir saja memperkosanya dan Bryan tidak tahu tentang itu.
Benar, Shawn Ashton... ?
Ashton?
Shawn Ashton, ya? Kenapa Liza jadi mengaitkan Shawn Ashton dan Ashton yang tadi?
Sebenarnya nama yang serupa itu menjadi alasan utama munculnya ide untuk mencari tahu lebih lanjut, tapi Liza juga seolah memiliki firasat kalau mereka berkaitan.
Amerika mungkin negara bebas, tapi jika cara seorang pria mendekati wanita seperti Aston pada Liza, itu terdengar cukup mengerikan, itu pun alasan kenapa Liza mulai sedikit mengorek-ngorek lagi.
Satu lagi yang ia temukan, Bryan mengenal Ashton, itu menjadi alasan kuat untuk saat ini walaupun Liza tak tahu ada urusan macam apa yang membuat sang kekasih mengenal orang bernama Ashton.
310;
Bisakah kau cari tahu beberapa manusia dengan nama Ashton di Amerika.
254;
Baiklah.
.
.
__ADS_1
.
To be continued.