
Bangunan kumuh dengan dinding-dinding tanpa lapisan, telah terpampang di sana, tepat 10 meter di depan para pasukan SWAT.
Ternyata bangunan itu benar-benar sangat terpencil. Pasalnya itu hanya di kelilingi dengan pohon-pohon besar dan semak belukar.
Liza menatap bangunan itu dengan sendu, berharap sekali jika sang kekasih tak berada di dalam sana. Jujur, baru kali ini Liza gemetar saat penyergapan. Ini bukan yang pertama atau yang terbesar dalam sejarahnya, ini hanya tentang kekhawatiran yang tak kunjung sirna.
"Sudah siap?"
Jerry berbisik di dekatnya. Dalam diam, Liza mengangguk. Ia lalu menoleh kebelakang dimana hampir seluruh pasukan ikut penyergapan bersamanya.
"Baiklah kita bergerak." Jerry memberi aba-aba pada tangannya untuk bergerak maju.
Mereka semua telah menunduk dengan senjata di tangan, rompi anti peluru, alat penunjang penglihatan malam hari seperti AN/AVS-6, dan beberapa alat pelindung diri.
Liza masih merasakan tremor hebat di bagian pinggul sampai ke ujung kakinya.
"Berpencar! Cari celah pintu lain atau apapun. Kepung bangunan ini. Go move! Go move!" Perintah dari Jerry membuat beberapa pasukan mendobrak pintu utama pada bangunan yang nampak gelap itu.
Matahari masih belum menunjukkan atensinya, dan Jerry harus bersyukur karena ekspektasinya di awal cukup bagus. Seperti perkiraan, tim sampai tepat pukul 3 malam di saat orang-orang bodoh masih berkelana dalam mimpi indahnya mengenai kehidupan di dunia yang fana. Sungguh ironis.
Saat pintu terbuka, betapa terkejutnya mereka saat mendapati hanya ruangan yang kosong. Namun gelap tak berujung masih melanda.
"Nona Garcia, tetap berada dalam pengawasanku." Jerry masih tetap dalam posisi defensif.
"Aku tidak perlu, aku biasa melakukan hal-hal sema—"
"Aku tak butuh pengakuan darimu. Ini perintah, dan kau tak boleh melawan ku di sini," ujar Jerry memotong.
Liza membuang nafas kasar. Baiklah sekarang dia bisa di dominasi oleh pria selain Bryan dan Mister Andreas.
Saat sedang mengawasi beberapa titik di bangunan tersebut, terdengar suara letusan peluru dengan brutal. Nampaknya keadaan luar sangat genting dibandingkan keadaan di dalam. Liza memutar otak, apa yang sedang orang-orang Ashton rencanakan? Kenapa harus melemahkan penjagaan di luar ketimbang menyerang orang yang sudah jelas berada di jangkauan?
Jerry menekan headset hands free di telinganya dengan nafas tak karuan. "Eagle masuk!"
"Ada serangan membabi buta disini, kapten."
"Bagiamana bisa? Lakukan apapun! Kalian di lengkapi dengan alat-alat canggih!" bentak Jerry.
Sungguh, Liza muak dengan semua ini. Tidak seharusnya Jerry langsung mengambil langkah secara random. Ini harus memiliki strategi. Mister Andreas memang bodoh karena menjadikan Jerry sebagai kapten. Jerry benar-benar tidak punya potensi sebagai pemimpin.
"Jangan menembak. Ku perintahkan untuk tidak menembak. Bekukan pergerakan musuh dengan tangan kosong." Liza mengambil alih. Masa bodoh dengan kedudukan jika pada kenyataannya, para anggota di luar sana juga menurut padanya.
Saat Jerry hendak protes, Liza segera angkat bicara lagi, "Sebaiknya kau diam dan tahan semua strategi mu itu," ujar Liza pada Jerry dengan sarkas.
Menyuruh melakukan apapun adalah tindakan super idiot. Dengan keadaan genting, dan senjata yang siap pakai, siapa yang akan menyia-nyiakan? Bisa-bisa habis semua amunisi yang mereka bawa.
"Tidak menembak katamu? Apa kau gila? Bisa habis seluruh tim jika para brengsek menjadi brutal seperti itu." Jerry mengatakan dengan gamblang bahwa ia tidak setuju.
"Apa kau mendengar berondongan peluru? Mereka tidak menggunakan senjata dalam membekukan para tim. Kita tak punya strategi, jadi kita harus memperhatikan dan jika bisa, kita harus mengikuti permainannya. Jangan terburu-buru, itu akan memudahkan mereka dalam menghabisi kita," tutur Liza.
__ADS_1
Lalu suara tembakan terhenti dan hanya ada suara seperti beberapa orang yang ambruk ke tanah dan erangan kesakitan. Bagus, Liza memiliki ekspektasi baik saat ini.
"Aku mengambil posisimu sebagai kapten. Maaf, tapi aku harus. Kau masih baru dalam misi seperti ini," ujar Liza. Tanpa menunggu persetujuan dari Jerry, Liza segera berlalu, ia memerintahkan beberapa anggota untuk ikut bersamanya. Ia ingin mengeksplorasi bangunan ini. Selain ingin memastikan tentang Bryan, ia juga sungguh jengkel dengan seluruh Ashton. Ingin sekali ia membunuh orang-orang organisasi itu, kecuali Bryan tentu saja.
Liza memasuki beberapa pintu yang terkunci maupun yang tidak. Dan mereka semua kosong. Bagaimana ini? Bukannya ini rumah produksi barang ilegal? Kenapa tidak ada jejak apapun.
"Menemukan sesuatu, Nona Garcia?" tanya Jerry.
Liza menoleh padanya, "Tak ada. Ini aneh bukan? Bahkan aku tak menemukan apapun disini. Ini sungguh membingungkan," ujar Liza. Matanya masih tetap berkeliaran mencari sesuatu yang aneh dari tempat itu.
"Nona Garcia, sepertinya ada sesuatu di atas sana," tutur Jerry.
Liza mengernyit lalu mulai mendongak untuk mendapati beberapa digit angka dalam tampilan hologram.
"Panggil Keenan untuk meretas sistemnya," suruh Jeremy pada satu orang pasukannya.
Ia membalikkan badan guna menghubungi beberapa pasukanny di luar bangunan menggunakan headset handsfree. Masa bodoh dengan rencana Jerry karena menurut Liza memikirkan cara menjangkau sistem keamanan itu mudah, jadi ia memilih mengesampingkan terlebih dahulu.
"310 pada 27, apakah keadaan di luar kondusif? Berapa orang yang gugur?" tanyanya.
"27 pada 310, tidak ada satupun yang gugur, mereka semua hanya mengalami luka kecil. Sebagian dari kami membawa ke mobil untuk diberi pengobatan. Untuk situasi, saat ini cukup aman. Bergegaslah kapten dan jangan terluka."
Haruskah Liza terharu? Tentu, ia sangat terharu pada pernyataan itu. Pasukannya tetap mementingkan keselamatannya disaat mereka perlu untuk menjaga diri masing-masing.
Oke, lupakan tentang itu, Liza harus fokus pada misi ini. Banyak yang harus ia lakukan setelahnya.
Rupanya bentakan Jerry terdengar oleh Liza dan membuat wanita itu membalik badan hanya untuk mendapati Jerry yang sedang berdiri dengan frustasi dan Keenan yang sedang berjongkok dengan wajah yang di penuhi peluh.
"Kalau kau perlu tahu, kita tak di kejar waktu. Ini hanya penyergapan bukan mengirim seorang buronan ke penjara luar negeri. Jadi jangan memaksa Keenan. Pekerjaannya tidak memakai gertakan. Apa kau paham, tuan Willson?" ujar Liza memperingati.
"Mengapa kau banyak memerintah? Aku yang menjadi kapten, dan aku memerintahkannya untuk segera agar tak membuang-buang waktu," sanggah Jerry tak mau kalah.
"Bersikaplah tenang. Jika kau masih terburu-buru dan dilanda kepanikan, sebaiknya kau keluar dan bergabung bersama tim lain di luar sana," ujar Liza. "Kami biasa melakukannya secara bertahap. Maaf aku memerintah, tapi sepertinya kau belum memiliki potensi," tambahnya lagi.
Dan saat suara bip terdengar, mereka hanya bisa terdiam. Sepertinya ada kesalahan yang Keenan lakukan.
"Ada apa?" kata Liza pada Keenan.
"Sistem keamanannya memiliki lapisan berganda. Aku hanya bisa membuka satu," ujar Keenan.
Liza tahu maksud dari Keenan. Ia memikirkan cara lain. Ia membutuhkan ketenangan.
"Apa maksudnya berganda?!" cibir Jerry penuh penekanan.
"Sistem keamanan lainnya menyatu dengan sekitar sepuluh ranjau Claymore yang tersebar. Mainan gila, sialan," ujar Keenan berbisik. "Password bergandanya menggunakan finger print, dan aku tak bisa melakukan apapun. Saat aku salah menginput, ranjau itu akan aktif dan meledak."itu
"What the hell going on?! Shit!"
"Diam keparat!" Liza membentak dengan kepala yang hampir meledak.
__ADS_1
"Kee, apakah tak ada cara lain? Kita tak bisa pulang dengan tangan kosong," ujar Liza setengah berbisik. Ia kalut dengan kebingungan ini. Ranjau nya tersebar dan berkemungkinan kalau berada dekat jangkauan para agen LAPD SWAT dan Liza tak mau itu terjadi.
"Tak ada cara lain selain meledakan ranjau nya," ujar Keenan sambil menatap dalam mata Liza.
Keadaan hening tercipta begitu saja. Semua seolah memikirkan cara lain. Sepuluh bom dan itu tersebar. Akan jadi kabar buruk jika salah satu bom berada di masyarakat Florida. Ia tak mau mengambil resiko yang berat.
"Liz! I have an idea!" teriak Keenan kala semua orang masih membeku. "Aku memang tak bisa menghentikan ledakannya, tapi aku bisa mengurangi sembilan di antaranya."
Dan seluruh pasukan berteriak akan ide itu. Setidaknya kemungkinan untuk merugikan sangat kecil.
"Lakukan apapun itu. Hentikan kesembilannya sekaligus dan gunakan insting mu untuk memilih satu yang tidak merugikan," ujar Liza kesenangan.
Lalu Liza menoleh untuk memberi isyarat pada pasukan yang ikut bersamanya agar keluar dari bangunan dan menyisakan dirinya, Keenan dan Jerry.
"Maaf teman, aku tidak mengajak kalian untuk mati, tapi aku tak mau pasukan-pasukan itu gugur dan menyisakan duka bagi keluarganya. Sekarang hanya ada kita, tak perlu takut mati karena tuhan tahu jika kita telah berusaha," ujar Liza. Lalu ia ikut berjongkok dengan Keenan untuk setidaknya menemani pria itu.
Keenan menoleh pada Jerry yang masih berdiri. Wajah pria itu nampak.masih bingung dan dilanda kecemasan.
"Kau ingin keluar, tuan Willson?" ujar Liza.
"Tidak," tolaknya, lalu ikut duduk di samping Liza.
...
Beberapa waktu telah terlewati. Matahari hampir terbit. Liza tersenyum miris, ia merasa seolah matahari tak ingin melewatkan dirinya yang akan menemui ajalnya karena ledakan ranjau Claymore, sungguh ironis.
"Liz, aku selesai," ujar Keenan membuat Liza tersentak. Ia lalu tersenyum dan mengajak Keenan untuk berpegangan padanya begitu juga dengan Jerry.
"Lakukan, Kee," ujar Liza.
"Maafkan aku jika insting ku salah." Keenan menunduk. Jujur perasaannya sudah tak enak saat sudah memasuki bangunan ini.
"Tak apa. Cepatlah tekan. Aku sudah tak sabar bertemu tuhan," ujar Jerry membuat Liza terkekeh.
Dan Liza kembali memerintah, "Ayo Kee, kami siap."
Klik.
Dan suara ledakan memenuhi gendang telinga seluruh pasukan yang berada di luar. Mereka semua tertegun dengan suara ledakan yang amat kencang itu. Beberapa dari mereka cemas dan mengalami jawdrop.
Sepertinya nasib baik sedang tak berpihak pada mereka.
.
.
.
TBC
__ADS_1