
Seorang pria bertubuh jangkung sedang duduk manis di sebuah sopa empuk berwarna coklat pastel. Dengan kaki kiri bertopang pada kaki kanan dan kepala yang mendongak, pria itu terkesan congkak. Coat yang dikenakannya menjuntai menyentuh lantai tak berporselen. Satu tangannya memegang puntung rokok yang sudah habis setengah lalu tangan yang lainnya memegang gelas sampanye. Bibirnya tersenyum penuh remeh kearah sekelompok orang dibalik layar sana.
"Manusia bodoh," gumam pria itu. Suara bass nya terdengar menakutkan. Wajahnya tak terlihat akibat ruangan yang gelap, hanya siluetnya saja yang terlihat begitu kokoh. "Sudah ku bilang untuk tidak bermain-main dengan ku."
Sekelompok orang berseragam SWAT terlihat dibalik layar monitor.
"Serangan fajar, huh?" gumamnya lagi. Tawa jahatnya bergema mengisi ruangan besar yang hanya ada dirinya, sopa dan layar monitor. "Sayangnya aku lebih pintar ketimbang kalian."
Pria itu menekan headset hands free di telinganya. "Atur waktu ledaknya sekitar satu jam. Aku ingin bermain-main dengan para tikus selokan itu."
***
Pitcairn, Amerika Serikat.
Senin, 11 September 2017 | 12.30 AM.
"310 pada 61! Laporkan!" seru Liza pada seseorang dibalik walkie talkie. Suaranya tegas namun sebisa mungkin tak sampai terdengar.
"Kami telah mengepung setiap bangunan." Suara dibalik walkie talkie menyahut.
"Bagus! Temukan apapun itu! Kami akan menunggu dan berjaga di luar," gumam Liza setelah itu ia memasukan walkie talkie nya di kantong rompi seragamnya.
Suasana gelap ditengah malam sebenarnya memiliki keuntungan bagi para agen penyergapan, pun tidak terkecuali Liza dan Vero. Mereka anggota Intel yang merambat menjadi anggota elit. Selain memiliki AN/AVS-6 --perangkat khusus penglihatan malam-- dan Fusil Automatique Leger di tangan yang kapanpun siap di lesatkan, mereka juga memiliki kemampuan bela diri yang tinggi dan ketahanan fisik tak terelakkan. Keadaan terdesak pun mereka takkan gentar.
Berondongan peluru, ledakan bom dengan skala besar, dan kematian di depan mata pernah mereka lewati saat latihan fisik. Belum lagi mental mereka yang sekuat baja.
"61 pada 310! Kami terkunci, tapi tidak perlu khawatir. Dan satu lagi, tidak ada siapapun di dalam gedung, kami hanya menemukan tulisan dengan kalimat berbahasa aneh."
"Apa itu?!" Perintah Liza. Kali ini suaranya tidak lagi dalam bentuk gumaman. Emosinya tiba-tiba tersulut karena merasa tertipu oleh musuh. "Terjemahkan cepat!"
Sia-sia saja sejak tadi jika yang dicari saja sudah tidak ditempat.
"Baik."
Liza membawa tangannya keatas, menyuruh anggota lain yang bersamanya untuk diam dan memberikan keheningan untuknya mendengar laporan dari tim Eagle di dalam.
__ADS_1
"Sial! Ada bom di ruangan ini, dan kabar buruknya kami terkunci," ujar anggota Eagle tadi.
Dan seluruh pasukan yang berada di luar gedung kini mulai mengalami jaw drop. Jadi ini jebakan?
"Bagaimana bisa? Cepatlah keluar! Aku tak mengizinkan kalian mati!" Nada yang Liza keluarkan terdengar sangat khawatir namun tegas dalam satu waktu.
"Kami tidak bisa. Jalan satu-satunya adalah meledakan ruangan ini seperti yang para bajingan itu tulis tadi."
Saat anggota lain mendengar kata ledakan secepat kilat mereka menjauhi gedung tadi. Liza masih bergeming ia mencoba menembak pintu masuk. Namun nihil, pintu tak terbuka.
"Liza! Ikut aku!" Vero menarik Liza sekuat tenaga. Ia tidak mau egois meninggalkan komandannya di sana bersama bom yang mungkin saja sebentar lagi akan meledak. Ia mendengar semua percakapan Liza dan ketua tim Eagle. Maka dari itu, ia bisa menarik kesimpulan bahwa tim Eagle takkan selamat.
"Aku tak mengerti dan tak ingin mengerti. Aku komandan disini, dan aku memerintah kalian untuk keluar dari sana secepatnya! Tanpa ada ledakan bom!" Liza masih terus berteriak. Tubuhnya memang sudah menjauh namun nyawanya seakan masih tertinggal ditempat berdirinya tadi.
"Maaf Liza, ini benar-benar di luar kendali ku. Sayang sekali, untuk menghentikan bom sepertinya terlambat karena tinggal tiga detik lagi dan kabar buruknya kita tak membawa tim Gegana."
Liza mulai berkeringat. Tim eagle tidak boleh mati, ada teman baiknya disana. Teman yang sedari tadi berbicara melalui walkie talkie dengannya.
"Jeremy sialan! Keluar dari sana ku bilang!" pekik Liza tak karuan.
"Jer--"
Tepat saat itu tubuh Liza dan beberapa kawannya terpental sejauh 3 meter. Ledakannya benar-benar dahsyat seolah-olah bom jenis mother of satan di taruh beribu-ribu dalam satu ruangan.
"Sialan, Jeremy! Aku takkan memaafkan kalian!" pekik Liza kalap. Wajahnya telah basah oleh air mata. Sekali lagi, orang terdekatnya mati saat bertugas bersamanya.
"Sudah jangan menangis." Vero langsung mendekap Liza, ia juga ikut terpukul. Jeremy juga temannya, bahkan pernah menjadi orang spesial bagi Vero.
"Lima belas orang gugur, lima puluh dua hidup," ujar seorang di belakang tubuh kedua wanita itu.
Ya, laporan terakhir di misi penyergapan berujung kegagalan ini. Entah ada berapa lagi misi yang akan berakhir gagal dan memakan korban.
Vero merasakan pundaknya memberat. Ia tahu Liza tak sadarkan diri.
"Angkat kapten Garcia ke kapal, lalu setelahnya langsung menuju kantor agen di Washington. Kita harus cepat karena sepertinya pulau ini akan hangus terbakar," perintah Vero.
__ADS_1
Salah satu anggota Wolf mengangkat tubuh kurus Liza yang terbalut seragam dan rompi khusus. Helm khusus yang di kenakan oleh Liza telah terlebih dahulu di buka. Gulungan rambut, 2 kancing teratas kemeja seragam, dan sabuk khusus pada pinggangnya telah di lucuti oleh Vero. Liza pingsan maka dari itu ia membutuhkan banyak oksigen untuk tubuhnya dan tindakan pelepasan beberapa aksesoris sangat membantu untuk proses kesadaran Liza.
.
Liza telah tersadar tepat saat anggota mereka telah menaikan Liza pada jet yang bertujuan langsung ke Washington.
Diam-diam air matanya jatuh. Ia sendiri tidak tahu kenapa bisa sampai meneteskan air mata, biasanya ia hanya akan terguncang sebentar saat rekan yang di kenalnya gugur dalam bertugas lalu kembali seperti Liza yang sadis dan banyak bicara seperti biasanya. Perasaannya lebih sensitif akhir-akhir ini.
"Jangan mudah meneteskan air mata. Kau harus malu pada jabatan kapten mu itu," ujar Vero yang memang duduk bersebelahan dengan Liza.
Ia menoleh dan mendapati wajah Vero, dan beberapa sekutunya yang selamat karena tidak masuk kedalam gedung. Mereka semua sedang tersenyum pada Liza seolah memberi kekuatan. Tapi bukannya ikut tersenyum, Liza malah semakin terisak. Ia masih ingat saat beberapa jam lalu Jeremy melemparkan lelucon konyol di dalam jet menuju pulau Pitcairn.
Jeremy mengatakan kalau dirinya tidak takut pada kematian karena kaptennya adalah Liza. Ia juga berkata bahwa dosanya akan ia limpahkan seluruhnya pada Liza saat ajal menjemputnya dalam bertugas bersama Liza. Dan Liza tidak menyangka kalau ternyata Jeremy akan benar-benar menjemput kematiannya di pulau tadi.
"Aku kapten yang buruk," ujar Liza lirih.
"Tidak ada yang buruk. Ini hanya kesalahan beberapa pihak yang seakan mendesak untuk segera memburu organisasi gelap itu tanpa strategi," ujar Fabiano, anggota Wolf yang menggendong Liza tadi.
Benar, mereka terlalu terburu-buru hingga melupakan beberapa rencana yang harus di matangkan sebelum turun tangan langsung. Tapi tetap saja, seharusnya Liza menjadi tameng dan melindungi rekannya bukan malah dilindungi.
"Tetap saja aku tak bisa menjadi sosok pemimpin yang terbaik," ujar Liza lagi.
Mereka yang berada di jet mulai canggung, pasalnya Liza tak pernah mengeluarkan tangisan lemahnya pada sembarang orang karena Liza tipe orang yang ceria dan banyak bicara namun sadis dalam bertugas. Dan sekarang mereka melihat Liza menangis tersedu seakan kaptennya telah melakukan kesalahan besar.
"Tidak ada yang terbaik di dunia," sanggah Vero. Ia mulai menepuk pundak Liza, berniat berbagi segala kekuatan yang ia rasakan.
Jika diberikan penilaian, ucapan Vero memang bernilai sempurna, tapi itu tidak berlaku bagi Liza. Ia dituntut untuk menjadi terbaik saat dulu dirinya bersumpah menjadi anggota agen SWAT. Keadaan dan pangkatnya memaksa untuk membuat dirinya menjadi tak terkalahkan, tak tertandingi, sukar goyah, dan bukan menjadi pribadi yang gagal.
Disaat suasana seperti ini, Liza membutuhkan kekasihnya. Bryan bisa membantu Liza meredakan semua perasaan buruk yang mengganggu pikirannya dengan cara pria itu sendiri. Ia rindu Bryan.
.
.
.
__ADS_1
To be continued