The Blind Eternity

The Blind Eternity
4. Organisasi gelap


__ADS_3

Markas besar SWAT, Washington DC, Amerika Serikat.


Sabtu 9 September 2017 | 05.00 AM.


Di sebuah ruangan dengan gaya modern dan fasilitas mewah, terdengar suara makian yang memekakkan telinga.


"Kapan lagi waktu yang kau butuhkan?! Untuk seorang anggota SWAT, kau sangat tidak cakap dalam bertindak!"


Pria dengan rambut hitam legam yang tersisir rapi dan di olesi jel rambut, sedang menarik urat lehernya untuk meneriaki wanita yang berhadapan dengannya. Sedangkan wanita yang diajak berbicara hanya bisa menatap lurus tanpa banyak membantah.


"Tatapan mu seolah yakin, tapi hasil nol besar. Kau seperti pecundang!"


Pria itu masih saja berteriak seolah wanita didepannya tuli.


"Aku akan lebih cakap lagi dilain waktu," ujar wanita itu. Sedari tadi wanita itu terus mendapat makian, namun ia merasa tak harus membalas.


"Tidak ada lain waktu! Sekarang, aku butuh sekarang! Kau paham?! Pergilah bedebah. Aku muak melihat kelakuan budak cinta seperti mu."


Wanita yang sedari tadi menatap lurus itu kini menunduk sejenak lalu segera keluar ruangan pria yang baru saja memakinya. Pria tersebut lebih tepatnya adalah atasannya


"Nona Garcia."


Orang yang ternyata memiliki nama Garcia itu berhenti melangkah dan kembali menghadap sang atasan.


"Aku tak suka membuang-buang waktu, kau paham?"


"Baik Mister Andreas," ujar Liza.


Mister Andreas atau lengkapnya disebut Anderson Scott Thompson. Mister Andreas adalah seorang pria Adonis yang beberapa tahun lalu baru saja dilantik untuk menaungi beribu-ribu agen lainnya dalam organisasi resmi SWAT.


SWAT atau akrab disebut; Special Weapons And Tactics. SWAT adalah istilah untuk unit pergerakan hukum yang menggunakan peralatan khusus militer dan kecerdasan taktik penggeledahan dan penyergapan. SWAT sendiri dilengkapi dengan hardware-militer type dan dilatih untuk menyebarkan ancaman terhadap terorisme, pengendalian massa, dan dalam situasi di luar dari kemampuan penegakan hukum yang biasa.


Tugasnya memiliki resiko yang tinggi seperti menyelamatkan sandera, melindungi tokoh penting dari jarak dekat atau jarak jauh, dan yang paling penting adalah menangkap kriminal kelas kakap.


Tak seperti badan polisi atau Brimob pada umumnya, SWAT tidak menahan atau memenjarakan para pendosa negara.


Dan Revaliza Alleira Garcia adalah salah satu dari tim organisasi itu yang berjenis kelamin wanita. Posisinya di SWAT sebagai kapten dan mengepalai hampir 50 jiwa agen SWAT. Cukup beruntung jika dibandingkan banyaknya agen pria di bidangnya.


Jika dilihat beberapa hari yang lalu, Liza hanyalah seorang wanita yang begitu mencintai sang kekasih, bahkan ia rela menangis dan meraung karena kekasihnya itu. Tapi berbeda jika kakinya sudah menginjak lantai gedung tempatnya bekerja; Liza hanya dilihat sebagai wanita angkuh dengan bibir yang selalu terkatup tanpa lengkungan juga tatapan mata yang tajam siap mendominasi siapapun hanya dengan menatapnya.


Setelah keluar dari ruangan yang tak lain adalah ruangan atasan tertinggi SWAT,--biasa Liza juluki execution room--ia berjalan menjauhi ruangan terburuk baginya itu lalu ia mulai mencari rekannya, Veronica; gadis yang mengirim pesan singkat padanya kemarin pagi.


Rambut panjang yang biasanya tergerai indah menantang angin kini tergulung keatas. Lalu bibir warna alaminya telah ditimpa oleh lip cream semerah darah. Tak ada lagi Liza yang manis dan lugu hanya ada Garcia; si wanita brutal yang siap menghabisi musuh dengan moncong Glock yang sudah siap di tarik kapan saja dari holster dibelakang tubuhnya.


"Vero!" panggil Liza. Ia mulai berlari kecil menuju teman satu angkatan sekaligus satu perjuangannya itu.


Sebenarnya Liza tak semenakutkan itu. Ia hanya terlalu terbawa alur oleh profesinya sehingga kesan angkuh itu tertular sampai ke tulang. Di beberapa kesempatan, Liza juga terkadang memiliki humor yang sedikit murahan. Ternyata istilah 'don't judge book by the cover' benar-benar nyata.


Hanya Vero dan beberapa rekan terdekatnya saja yang tahu sikap humor itu. Kualitas humor Liza tentu pas jika bersanding dengan rekan-rekan satu profesi, tapi jika itu diluar, maka siap-siaplah untuk tertohok.


"Bagaimana?" tanya Vero.


"Seperti biasa, aku didesak untuk menemukan organisasi gelap itu. Mungkin beberapa hari lagi kepalaku akan diledakan oleh nya." Liza merangkul bahu Vero untuk berjalan bersamanya.


Veronica Ane Kelly adalah wanita berumur 23 tahun, tiga tahun dibawah Liza. Wajah Veronica benar-benar dewasa untuk wanita seumurannya, namun tak dapat dipungkiri kalau wanita itu juga teramat anggun seperti Liza dan rekan wanita yang lainnya. Tubuhnya memang tak setinggi Liza tapi cukup semampai di banding wanita lain. Veronica adalah gadis dingin berhati batu. Akibat sifat kerasnya itu, ia memilih untuk menyendiri tanpa status sampai saat ini. Liza turut kewalahan karena mencoba merubah mindset Veronica.

__ADS_1


"Mau ku bantu ledakan?" balas Vero.


"Tidak terima kasih."


Mereka berjalan dalam keheningan. Tujuannya masih jelas, yaitu mencari kedai makanan cepat saji untuk sarapan atau mungkin membungkus satu paket makanan untuk makan siang.


Dan disinilah mereka, terduduk di restoran fast food terbesar di dunia dengan beberapa piring makanan yang biasa orang cap sebagai junk food.


"Bagaimana hubungan mu?"


Liza tersenyum pedih akan pertanyaan yang terlontar dari bibir Veronica. Sebenarnya Bryan juga tidak bisa disalahkan untuk kebohongannya, karena Liza juga memiliki sesuatu yang tidak bisa sembarang orang tahu, terlebih Bryan hanya kekasih yang konteksnya sewaktu-waktu bisa saja berakhir.


"Jangan membahasnya jika kau tak ingin melihat agen andalan SWAT menangis meraung di bahu mu," ujar Liza dengan suara hampir tak terdengar. Dia tersenyum setelahnya karena tiba-tiba rasa rindu untuk Bryan menggunung di dada, menyebabkan sesak tak kasat mata menghampirinya. Benar kata orang, cinta itu membuat seorang terkuat di dunia akan lemah dan bertekuk lutut.


"Menangis lah, aku tak peduli sama sekali."


Sarkas sekali, tapi Liza tahu arti dibalik kata-kata itu.


"Aku sedang tidak ingin bercerita apapun. Lalu bagaimana dengan mu? Apakah kau sudah menemukan pangeran berkuda mu?" tanya Liza meledek.


"Yeah, kau tahu pria anti asap rokok sangat sulit ditemukan. Keberadaannya nyaris seperti kita yang mendapat misi menangkap keberadaan koruptor yang memalsukan kematian sedangkan mereka tengah berfoya-foya... Ya, sesulit itu kurasa. Dan aku tak akan mau berhubungan dengan rekan kerja kita, mereka munafik," jawab Vero sambil berbisik.


Liza tertawa kecil lalu setelahnya mengelus puncak kepala Vero karena gemas pada pemikiran wanita matang, namun masih percaya kalau pangeran akan keluar dari buku dongeng. Well, omong kosong sekali.


"Benar tak ada yang seperti itu. Tapi kalau kau mau mencoba untuk mencarinya, tidak ada yang tidak mungkin. Jangan menyerah my sista," ujar Liza. Ia segera melahap burger ditangannya mengunyahnya perlahan sambil membayangkan sarapan indahnya beberapa hari lalu dengan Bryan. Sangat indah hingga air matanya mulai turun lalu tanpa sadar ia terisak-isak pilu.


Vero mendengus samar, memutar bola matanya lalu mulai menggeser kursinya agar berdekatan dengan Liza. Ia mengusap bahu bergetar itu dengan hati dongkol. Ini lah yang dia takuti jika memiliki kekasih. Ia takut kecewa, sakit hati, dan frustasi ditambah pekerjaannya yang tak bisa dikatakan mudah. Lagipula siapa yang mau pada wanita yang biasa memegang pistol ketimbang alat kecantikan? Mau seberapapun cantiknya Vero, pria tetap mempunyai dominasi yang kuat, tentunya tak akan mudah untuk mengerti posisi Vero sebagai intelejen negara.


🍁


Selama di Washington ia benar-benar harus menahan keinginannya untuk menelepon Bryan. Jika ada yang mengatakan karena keadaan, tentu saja jawabannya benar. Di kantor agen, mereka memiliki larangan tak tertulis mengenai penggunaan android atau iPhone karena ingin mencegah pihak-pihak yang tak diinginkan melacak posisi saat mereka bertugas nanti.


Para agen termasuk Liza hanya dibekali dengan satu buah ponsel keluaran lama dengan hanya terisi satu sim card yang didalamnya sudah disetting sedemikian rupa lalu ditambah dengan nama kontak para agen inti. Kontak itu ditulis tanpa nama karena digantikan dengan kumpulan angka acak namun memiliki suatu rahasia didalamnya dan satu walkie talkie yang selalu berada dibalik seragam; terpasang pada sabuk.


Liza memutar ponsel ditangannya. Ia ingin sekali memasukkan kontak Bryan yang sudah sangat ia hapal di list kontak. Tapi sekali lagi ia tak bisa mengabaikan perintah tersirat itu.


Bryan aku merindukanmu, aku harap kau juga sama. Ini baru sehari tapi aku begitu merindukan mu. Jaga diri baik-baik, tetap makan 3x sehari, dan tentunya jaga cinta mu hanya untukku hehe.


Salam peluk hangat dari kekasih cantik mu.


Pesan itu tak benar-benar Liza kirim, hanya dibiarkan pada papan pesan entah pada kontak siapa.


Liza tahu Bryan tidak bodoh. Kekasihnya itu bisa saja melacak keberadaannya jika menggunakan nomer asing seperti yang ada dalam ponsel miliknya. Sudahlah, Liza lelah.


Liza melepas gulungan rambutnya, membiarkan rambut panjangnya kembali tergerai anggun. Ia merebahkan diri di ranjang yang berukuran king tanpa melepas seragam kebanggaannya. Matanya ia bawa menyusuri langit-langit kamar khusus yang disediakan untuknya oleh pihak SWAT. Jika dipikir-pikir, pekerjaannya berbahaya namun sangat menjaminnya secara finansial, terbukti dengan kepemilikannya atas black card, dan apartemen mewah miliknya sendiri di Chicago. Tapi di balik itu semua, perasaan was-was akan terbunuh selalu mengintainya. Ia seakan merasa terus diawasi.


Saat Liza akan memejamkan mata, ponsel miliknya harus berbunyi dengan suara yang amat nyaring. Liza buru-buru mengangkatnya.


273;


Ruang server sekarang.


310;


Baiklah.

__ADS_1


Liza kembali menggulung rambutnya tidak peduli lagi bentuk dari hasil tangannya tanpa cermin.


Ia segera keluar dari kamar dan bunyi pip dari pintu, pertanda kamar miliknya telah terkunci otomatis membuat Liza segera berlari mengejar lift yang sebentar lagi akan tertutup. Tapi sial, dia terlambat. Maka dari itu, ia memilih menggunakan tangga darurat. Dia membutuhkan waktu 15 menit untuk sampai di basemen dari lantai 5 dimana kamarnya berada.


Dengan peluh bercucuran, ia memasuki mobil BMW miliknya dan secepat kilat menuju kantor. Dia mengaktifkan sistem self-driving lalu mulai membenahi diri agar terlihat lebih rapih.


Perjalanan hanya membutuhkan beberapa menit karena memang gedung tempat tinggal para agen dan kantor pusat SWAT tidak begitu jauh.


Liza keluar dari mobil dengan anggun dan mempesona, seolah ia tak pernah terburu-buru dalam langkahnya tidak seperti perjalanannya yang menyusahkan tadi. Dia menarik kartu identitas yang dikalungkan di leher untuk di tunjukan pada petugas keamanan, setelah itu ia segera memasuki lift dengan tatapan seperti meledek pada semua orang. Well, dia adalah yang terbaik dibanding rekan wanitanya yang lain.


Setalah sampai di lantai tujuan, Liza segera berjalan melewati lorong khusus yang beberapa di tempeli sinar berwarna hijau. Saat sudah tepat di depan ruangan khusus server SWAT, Liza mendekatkan wajahnya agar bisa membuka pintu khusus yang memang dipasangkan keamanan tingkat tinggi berupa Facial Recognition System.


"Pihak FBI menemukan kode berupa ancaman pada sistem kemanan server. Mereka mengirimkan salinan dalam bentuk soft file pada kita. Di duga kode itu kiriman dari organisasi brengsek yang sedang kita incar. Para bajingan itu tidak mengambil apapun hanya mengacak-acak lalu mengatakan untuk berhenti mencampuri bisnis mereka," tutur Vero.


Liza yang memang batu sampai, dapat mendengar penjelasan dari Vero. "Halo teman-teman," sapanya. "Oh ya, dimana ketua divisi IT?"


"Sedang tak ditempat," jawab Vero.


Liza menoleh dan mendapati Vero sedang menatap tajam padanya. Tatapan tajam itu hanya dibalas senyuman lima jari oleh Liza.


"Berhentilah tertawa seperti idiot. Kemari kau dan lihat layar monitor itu." Vero menunjuk salah satu komputer yang layarnya berwarna merah muda. Ada gambar tak senonoh di sana berupa kelamin pria dan beberapa bait ancaman yang terlihat sarkas dan mengandung ejekan.


"Santai saja Vero, jangan terburu-buru. Kau seolah-olah sedang dikejar musuh. Lagipula idiot mana yang mengancam seolah meledek seperti itu? Lihat," Liza menunjuk layar monitor dengan dagunya."Pink? Lalu gambar—oh Gosh! Itu *****? Ini pasti ulah anak kecil yang baru mengerti apa itu meretas," balas Liza. Ia menyilang kedua tangannya di depan dada seraya tertawa kecil. Ia merasa tak tertarik dengan komputer karena memang itu bukan keahliannya.


"Diam lah bodoh. Keamanan data FBI di lindungi dengan sistem keamanan tingkat tinggi, tidak mungkin sekali anak-anak yang melakukannya. Dan pihak FBI bilang, waktu ancaman ini tepat sekali dengan mereka yang mencoba meretas sistem keamanan milik organisasi itu. Edi bilang, alamat pengirim virus itu telah terlacak, mereka berada di Pulau Pitcairn."


Edi yang dimaksud Vero adalah pria tampan dengan bahu sempit dan mata bulat. Dia adalah si ketua divisi IT milik FBI.


"Yang benar saja! Tidak mungkin sekali pulau terpencil itu menjadi sarang mereka. Itu sangat tidak elit. Dan yang ku tahu, hanya ada sekitar lima puluh orang yang menyebut pulau itu rumah," sanggah Liza.


"Kau pikir hanya gedung-gedung keren dan rumah bordil saja yang bisa dijadikan markas besar? Terkadang otak mereka lebih ekstrem dari pada orang normal."


Saat Liza ingin menjawab lontaran kata dari Vero tiba-tiba saja walkie-talkie milik orang-orang di ruangan berbunyi.


"Nona Garcia, Nona Ane, kalian ditunggu pasukan lain di lantai gerbang. Mereka telah siap membawa kalian sebagai kapten dan wakil dari penyergapan buronan di Pulau Pitcairn." Perintah dari sang atasan tentu merujuk pada dua wanita cantik di sana, Liza dan Vero.


"Perintah dilaksanakan, Sir," jawab Vero.


Liza mengerang kesal di dalam hati. Bagaimana bisa seperti ini? Sangat tergesa-gesa bukan? Mereka bahkan tak menyusun rencana sedikitpun.


"C'mon Liz!" Setelah itu Vero menarik tangan Liza dengan tergesa-gesa berlari ke keluar dari gedung dan memasuki beberapa mobil yang sudah berbaris rapih.


"Kita akan menggunakan helikopter biasa agar tak menimbulkan kecurigaan. Dan Mathius, hubungi pihak penerbangan untuk memberikan tanda pengenal lain di helikopter. Setidaknya beberapa pihak harus mengetahui penerbangan ilegal ini agar tak menimbulkan masalah, " ujar Liza memerintah.


Sebenarnya bukan sekali dua kali Liza dijadikan ketua dalam misi besar, jadi ia tak terlalu gugup berada pada kondisi tertekan seperti ini. Terkadang ia juga tak pernah paham tentang pemikiran atasannya yang memilih wanita sebagai ketua dibanding pria yang notabenenya lebih kuat dan terampil dari pada wanita yang cenderung ceroboh dalam bertindak.


"Siap, kapten" balas si pengemudi.


Lalu barisan mobil khusus itu mulai meninggalkan halaman kantor FBI menuju bandara terdekat untuk lepas landas menggunakan jet pribadi.


.


.


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2