
Flashback semua
__________
Chicago, Amerika Serikat
Rabu, 21 Febuari 2013 | 10.00 PM
Sudah empat gelas martini yang mengaliri tenggorokannya, tapi kesadaran gadis bersurai nyaris hitam dan bermata coklat karamel masih belum terenggut. Telapak tangan kirinya menumpu pada dahi seolah pikiran berat tengah memenuhi seluruh otaknya. Gadis itu akrab dipanggil Liza.
Dengan kaos putih di balut rompi berwarna hitam yang dipadukan celana jeans robek-robek di bagian dengkul sampai sejengkal keatas, Liza memejamkan mata sambil terus mengumpat dengan bisikan.
"Sepertinya kau sudah mabuk sekali Nona? Mau ku antar pulang?"
Seorang pria dengan rahang tegas menghampirinya, menawarkan diri seolah mereka sudah saling mengenal sejak lama. Tak heran sebenarnya karena apapun bisa terjadi di klub malam reot di pinggiran kota ini. Bahkan ada beberapa pengunjung yang langsung bercinta di ujung ruangan, hanya saja Liza sedang tidak dalam mood yang bagus untuk meladeni sapaan itu.
"Aku tidak semabuk itu, Tuan," tutur Liza menolak sambil berusaha menjaga suaranya agar tak terlalu menyinggung perasaan pria itu.
"Bagaimana kalau kita me-lobi bersama?"
Sumpah demi apapun, ingin sekali Liza menyakar wajah pria itu. "Sebaiknya menjauh dariku atau kau akan menyesal." Liza menoleh pada wajah itu lalu mencengkram kerah jaket yang di kenakan pria itu. "Aku tak segan untuk menembak pelipis kiri mu sekarang juga dan menawarkan diri menjadi saksi di kantor polisi dengan memberikan keterangan kalau kau adalah si frustasi yang kehilangan kebahagiaan," ujarnya sambil menatap mata sang lawan bicara. Kini wajah pria itu menjadi sedikit pucat di lampu kelap-kelip yang berada di klub malam.
"Dasar wanita gila," umpat sang pria lalu dengan kasarnya menampar wajah Liza setelah itu pergi begitu saja.
Liza meringis. Setitik air mata menetes dari matanya saat dia memejamkan mata dan langsung jatuh ke pipi dan merangkak turun ke dagu lalu jatuh. Ia menangis, namun bibirnya terkupas mengulas senyum.
Ia memilih tak menghiraukan lagi air mata yang terus turun dan kembali meminta segelas alkohol pada sang bertender. Bersyukur pengendalian dirinya cukup kuat, sehingga puluhan botol lagipun sepertinya tak akan membuat Liza chaos.
"Permisi, apakah tamparan tadi begitu menyakitkan? Kau sampai mematung sejak tadi, Nona?"
Dan satu lagi pria tak tahu diri mendekatinya. Liza tahu, bahkan sangat kalau perkataan itu hanya alibi untuk umpan agar Liza mau bermalam dengannya.
"Pergi brengsek! Aku memiliki penyakit HIV, kau akan tertular."
Pria itu menelan ludah sejenak. Di perhatikan nya wajah Liza dari samping kanan dengan seksama.
"Mengumpati manusia saat pertemuan pertama itu sangat tidak sopan, Nona. Aku hanya bertanya, kenapa kau langsung marah seperti itu? Dan bahkan kau menyumpahi diri sendiri, apa kau sudah sedikit tak waras?"
Liza menoleh sambil melayangkan tatapan tajam.
"Apa peduli mu, Kepa-"
"Kau menangis? Apakah pria tadi melakukan pelecehan?" Pria itu mencengkram bahu Liza. "Katakan cepat!"
Liza tersentak. Ia terkejut bukan karena bentakan pria itu, melainkan dengan diksi yang baru saja dia dengar yang seolah mengandung kehangatan, lalu perlahan menjalar ke jiwanya. Tapi segera ia tepis pemikiran itu saat lagi-lagi ia di ingatkan tentang betapa manisnya mulut pria. Ditambah tempat ini adalah gudang dari segala tipu daya dan muslihat.
"Aku harus mengatakan apa? Mengatakan kalau kau dan pria tadi itu sebenarnya sama saja, begitu?" ujar Liza acuh sambil kembali menatap lurus pada rak berisi berbagai merek minuman alkohol.
"Sama dalam artian apa? Kami memang sama-sama pria, lalu apa yang berbeda? Oh sial, baiklah tinggalkan pertanyaan itu dan mari jawab pertanyaan ku yang lain."
Liza tak tahu kalau ada pria di Chicago yang sekonyol itu. Cukup menghibur sebenarnya.
"Jika kau menanyakan aku menangis atau tidak, jawabannya, yeah, aku menangis. Terdengar berlebihan jika aku mengatakan kalau tamparan tadi terasa sampai hati, tapi memang itu kenyataanya. Jadi ada pertanyaan lagi, Tuan..."
"Bryan Chaiden. Jangan menggunakan Tuan didepan namaku, oke? Itu terdengar berlebihan."
__ADS_1
Entah kenapa penuturan itu terdengar menggelitik di pendengaran Liza hingga membuat gadis itu tertawa. "Kalau begitu Mister Chaiden, bagaimana?"
Bryan sempat terpaku dengan tawa itu; terasa amat nyaring dan bergemerincing di telinganya, tapi karena hentakan musik ber-genre jazz yang sedang di putar membuat Bryan tersentak. "Just Bryan. Lalu kau, siapa namamu?" tanyanya dengan mata yang terus terpaku pada kelopak mata berbentuk almond milik sang lawan bicara.
"Revaliza Aleira Smith," jawab Liza. Perkenalan kali ini tak dibarengi dengan uluran tangan, tapi tanpa mereka sadari, ada sesuatu yang perlahan tumbuh dalam hati masing-masing. Perasaan asing yang sangat klasik namun bermakna bagi ribuan manusia; cinta.
"Nama yang indah. Cukup lembut, tapi sepertinya tak sama dengan pemiliknya. Kau cukup bar-bar menurutku," aku Bryan jujur.
"Tak apa. Aku senang jika ada yang menilaiku dengan terus terang." Liza tersenyum membuat Bryan ikut tersenyum sambil menatapnya. "Ini pertama kalinya aku mengenalkan diri dengan nama asli," cicitnya sambil membuang wajah ke depan. Jujur, ada perasaan nyaman yang langsung Liza rasakan saat bersama Bryan, dan itu adalah alasan kenapa ia dengan mudahnya percaya begitu saja. Masa bodoh dengan apapun di masa depan.
"Kau mengatakan sesuatu?" tanya Bryan.
"Hanya bergumam saja," kilah Liza cepat.
Hening menyapa-sebenarnya tak terlalu karena suara teriakan dan musik masih menyapa gendang telinga-tapi tiba-tiba Bryan menarik Liza keluar klub, entah mengajak gadis itu kemana.
"Kita akan kemana?" tanya Liza. Ia membiarkan tangannya ditarik oleh Bryan. Sejak percakapan didalam klub tadi, Liza memilih mengikuti kata hatinya saja, dan sekarang hatinya membiarkan apa saja yang Bryan lakukan.
"Membawa kau kerumah sakit, kemana lagi memang? Ku lihat pipi mu memerah sejak tadi, itu pasti sakit sekali," ujar Bryan.
"Bryan," panggil Liza. Untuk pertama kalinya, ia memanggil seseorang namun hatinya pun ikut memanggil. Perasaan macam apa itu sebenarnya, Liza sendiri tak tahu.
Bryan menghentikan langkahnya. Ia mengganti posisi agar menghadap Liza lalu bertanya, "Ada apa?"
"Aku baik-baik saja, tak perlu khawatir. Eum... Aku ingin jujur tentang sesuatu-"
"Stop." Bryan menyela cepat. "Jika kau ingin mengatakan tentang perasaan aneh, jangan tanyakan sekarang karena demi tuhan, aku juga merasakannya," ujar Bryan lalu menarik kembali tangan Liza untuk mengikutinya.
"Sejak kapan? Maksudku sejak kapan kau merasakan hal itu, hal yang sama denganku itu." Liza menatap tengkuk Bryan yang dihiasi beberapa urat hijau. Terlihat begitu jantan karena sinar bulan menerpanya.
"Saat kau tertawa tadi. Tawa itu terdengar begitu riang-aku sedang tidak merayu atau apapun itu, aku serius, sungguh. Aku menyukai tawa itu dan sepertinya pemiliknya juga," ujar Bryan. Sejujurnya pria itu begitu malu saat ini. Hey, mengatakan sesuatu tentang perasaan di pertama kali pertemuan itu hal yang begitu privasi, tapi Bryan rasa, ia memang harus mengatakannya karena Liza masuk dalam wanita idealnya.
"Berbeda?"
Liza mengangguk. "Em-hm berbeda."
"Begitu ya? Kalau begitu kau juga." Bryan menggaruk pelipisnya nampak gugup.
"Aku? Kenapa bisa?"
Pertanyaan jebakan bagi Bryan. Sial!
"Entahlah hanya berbeda saja. Ayolah jangan bertanya itu lagi, ini adalah pertemuan pertama kita rasa-rasanya kalau aku banyak bicara akan sangat lancang."
"Kenapa kau sangat lucu, Bri," Liza terkekeh. "Bisakah kita jangan terlalu formal begini? Aku bahkan sudah sangat santai padamu, tapi kau sepertinya masih sungkan padaku," tutur Liza.
Liza mendapat decakan kesal dari Bryan. Lalu beberapa sekon yang telewat, Bryan menyatukan belah bibir mereka dan Liza tentu saja terkejut. Hanya menyatukan saja membuat Liza terbungkam.
"Kau salah jika mengatakan aku berbeda dari yang lain, aku masih tetap pria, hormon ku tinggi jika kau ingin tahu. Jadi, stop memperparah keadaan, oke?" ujar Bryan setelah ciuman itu terlepas. Gestur tubuhnya seperti sangat frustasi.
"Kalau begitu kau juga salah menganggap ku berbeda." Liza mengalungkan tangannya di leher Bryan. "Sepertinya aku men-"
"Stop! Aku bilang jangan memperparah -astaga! Kau berniat menyatakan cinta pada pria? Kau tidak memikirkan harga diriku? Oke, oke, ini terlalu bertele-tele mari kita percepat, I love you Liz. Do you know? I love you at first sight!"
Liza tersenyum bahkan sedikit terkekeh. "I love you to, Mister Silly."
__ADS_1
Dan mereka berciuman. Tidak saling menempel lagi, melainkan saling *******.
...
"Bri." Desahan Liza mengisi kamar apartemen milik sang kekasih barunya; kekasih pertama diumur nya yang ke 23 tahun lebih 2 bulan.
Bryan seolah tak menghiraukan ia masih sibuk dengan cumbuannya di leher jenjang sang kekasih dengan pinggul bergerak maju mundur untuk mendorong miliknya agar semakin melesak kedalam.
"Hnggh! A-ah! Bryan, aku tak kuat, sungguh."
Bryan menggeram seperti hewan buas. Gerakannya semakin cepat perdetik nya membuat Liza menggelinjang dibawah kungkungannya.
"Revaliza-Aghhh!"
"Hngh." Dan Liza bisa merasakan sesuatu yang hangat menyembur didalam tubuhnya.
"Astaga! Aku mengeluarkannya didalam! Liza maafkan aku, sungguh aku lupa segalanya tadi," ujar Bryan lalu menarik perlahan kaitannya didalam tubuh Liza.
Liza terkikik karena merasa lucu. "Ini bukan masa subur ku, okay? Kenapa takut sekali, hm?"
"Syukurlah. Mungkin terdengar seperti alasan, tapi aku hanya takut jika spermaku berhasil dibuahi, kau akan kerepotan, karena sungguh, aku adalah orang yang sibuk. Aku akan tetap bertanggung jawab, tapi aku tak akan bisa selamanya bersama kalian. Kau bisa mengatakan aku brengsek, tapi itulah yang sebenarnya," tutur Bryan panjang.
"Begitu? Kalau begitu aku juga sangat sibuk untuk dikategorikan sebagai wanita. Jadi sepertinya soal keturunan adalah hal terakhir untuk hubungan kita."
"Hem mari kita nikmati masa-masa menjadi sepasang kekasih dulu."
Panas menjalari tulang pipinya dan sepertinya rona marah akan muncul kepermukaan kulit. Liza sungguh malu saat ini sampai rasanya ia tak sanggup membuka mata.
"Ada apa? Apakah lubang mu sakit lagi? Kenapa wajah mu merona?"
"Tidak Bri, aku hanya sedikit merasa percakapan kita terlalu jauh hingga membuat ku begitu malu." Liza menjangkau rahang Bryan. Ia mengelusnya perlahan dengan senyuman yang terulas tulus.
"Maaf, aku hilang kendali tadi," ujar Bryan. Ia mengecupi seluruh wajah Liza dengan perasaan mendamba. Ada pertanyaan yang mengganggunya tentang bagaimana perasaannya yang begitu dalam pada gadis itu padahal ini adalah pertemuan pertama mereka dan sex pertama juga tentunya.
"Bukan hanya kau, aku juga. Kita berdua hilang kendali," ujar Liza.
Sejujurnya, bercinta adalah pengalaman pertama bagi Liza. Tak masalah jika dia dikatai gadis payah yang tak tahu tren di negara nya sendiri dimana darah keperawanan dianggap aib di kalangan wanita. Liza hanya terlalu sibuk bekerja, keahlian dan kekuatannya yang hampir sama dengan para pria membuat kesuciannya terjaga hingga akhirnya Bryan merenggut.
"Benarkah? Tapi ini yang pertama bagi mu." Bryan memilih bersandar pada bahu Liza; mencari sebuah kehangatan di sana. Tiba-tiba saja ia merasa sangat keterlaluan karena merenggut sesuatu yang berharga bagi wanita-nya.
"Benar, tapi aku tak menyesal karena kau lah si pertama itu. Jika hari ini berakhir, ku harap tak ada penyesalan untukmu, untuk kita."
"Berakhir? Kenapa perkataan mu terdengar menyakitiku? Apa pertemuan kita tak berkesan untuk mu?" Bryan mendongak. "Katakan, Liz!" Bryan benar-benar frustasi saat ini.
"Maafkan aku, aku hanya mencoba menghibur diri. Aku takut jika kau yang akan mengatakannya, makanya aku yang berkata dulu. Maafkan aku, aku juga merasa sangat sesak dengan perkataan itu. Maafkan aku,Bri." Liza tersedu-sedu sambil memeluk leher Bryan dengan erat.
"Tak apa. Hanya jadikan pelajaran kalau aku tak suka kata pisah atau apapun itu yang membuat kita sama-sama merasakan sakit, okay? Kau mengerti, bukan?"
Liza mengangguk patuh. Kini ia punya alasan untuk pulang karena Bryan adalah rumahnya. Liza juga berusaha sekuat tenaga menjadi sosok yang diinginkan Bryan agar pria itu bisa merasakan hal yang sama dengannya.
Malam itu, segala sesuatu yang pertama bagi Liza, terenggut dengan cara yang mengesankan. Tanpa paksaan, tanpa keraguan. Hanya ada cinta dan segala sesuatunya menjadi lebih indah.
.
.
__ADS_1
.
To be continued.