
Menikmati malam hari ditemani sebotol wine, sedikitnya membuat pikiran terasa tenang dan cukup damai sampai membuat Liza tak sadar jika waktu telah menunjukkan penghujung hari.
Saat ini, Liza tengah melakukan hal yang kemarin ia lakukan bersama Bryan. Dengan memakai kaos abu-abu dan sebuah jeans setengah paha, ia tengah berdiri di balkon unit nya. Malam itu akan sempurna jika Bryan ada di sana, menemaninya, berbicara hal random yang terjadi disekitar lalu akan tertawa setelahnya.
Saat nafas di buang dan kabut tipis mengiringinya, Liza ditampar oleh sebuah kenyataan, kenyataan mengenai hidupnya yang penuh dengan berbagai kondisi yang menegangkan, menyedihkan, dan memuakkan tentu saja.
Ia bukan menyalahi pertemuannya dengan Bryan, hanya saja, jika akan tahu seberat ini, Liza tak mau bertemu Bryan. Ia tak mau bertemu dengan Bryan di dua kondisi. Ia ingin Bryan menjadi salah satunya. Ia tak bisa memilih. Bryan terlalu berharga baginya, satu-satunya orang yang begitu mengerti dan mencintainya. Saat bertemu di misi nanti, Liza tahu akan kecewa padanya, begitu juga sebaliknya.
Liza terkekeh pada akhirnya, takdir sedang bermain-main dengannya. Sungguh ironis.
"Bryan, aku kecewa padamu," ujarnya seperti angin malam yang berlalu; begitu dingin dan menusuk tulang.
__ADS_1
...
"Apa kalian disini untuk melapor kalau kalian telah siap? Kenapa cepat sekali? Ku kira kalian membutuhkan waktu yang panjang. Terutama kau, Nona Smith."
Liza hanya terdiam saja. Ia ingin menjawab dengan lantang bahwa ia keberatan dengan perilaku Jerry. Tapi sudahlah, tidak berguna juga jika harus mengadu pada Mister Andreas.
"Persiapan kami sudah sangat matang, Sir," jawab Jerry.
"Ah begitu? Baguslah. Apa kalian sudah makan siang? Ini masih jam makan siang asal kalian tahu."
"Sudah," balas Liza.
__ADS_1
"Dan terpisah," lanjut Jerry.
Liza menatap sinis Jerry. "Aku bersama Vero di dalam unit kamarku," ujarnya.
"Dan aku di kantin, sendirian," ujar Jerry.
Mister Andreas berdecak malas. "Intinya kalian tak makan siang bersama, bukan? Berhenti cekcok seperti orang bodoh."
Dan dengan itu, mereka memutuskan tatapan aneh masing-masing—yang satu penuh dengan dendam sedangkan yang satu begitu lembut—dan kembali menatap Mister Andreas.
"Sekarang kalian ku beri waktu untuk istirahat sampai besok. Ku harap kalian tidur untuk menambah stamina. Perlengkapan sergap dan apapun itu akan ku siapkan dalam helikopter," ujar Mister Andreas tanpa ada nada candaan lagi.
__ADS_1
"Baik terima kasih, Sir. Selamat siang," ujar Liza berpamitan.
Liza langsung lari dari sana. Ia takut sekali jika Jerry mengejarnya seperti tadi. Sungguh Jerry itu cukup menakutkan baginya.