The Blind Eternity

The Blind Eternity
11. Sebuah janji


__ADS_3

Dua orang dengan siluet luar biasa menakjubkan, tengah berdiri dalam jarak yang sangat dekat dengan kobaran api yang seakan bisa saja membunuh mereka kapanpun.


"Berhenti mengancam ku, brengsek." Pria dengan ekspresi datar tengah menatap lawan bicaranya dengan tatapan mengintimidasi.


"Why? Apa hanya aku yang mengetahui semua tentang mu? Apakah kau takut denganku kali ini?" Pria dengan tinggi hampir dua meter itu tertawa geli dan terdengar sangat mencemooh.


"Seandainya saat ini aku sedang dalam misi, mungkin kau sudah habis oleh kawanan ku," tutur sang lawan bicara.


"Menyerang beramai-ramai? Sangat tidak jantan sekali."


Si pria berwajah dingin tersenyum menyeringai sambil mengalihkan pandangannya pada api yang dengan kobaran indahnya tengah melahap seisi hutan. "Bahkan koloni serigala betina jauh lebih mematikan ketimbang singa pejantan."


Si pria jangkung tertohok hingga tawa mengejek yang terus keluar dari tenggorokannya terhenti.


...


Chicago, Amerika Serikat.


Selasa, 12 November 2017 | 06.25 AM.


Sesi percintaan panas sudah terlewati beberapa jam lalu. Namun hawa panas yang tersisa di kamar Bryan masih tetap terasa menyelimuti dua manusia berbeda jenis kelamin itu. Keduanya masih berada dibalik selimut, saling berpelukan, berbagi kehangatan seolah selimut tak memberikan efek apapun pada keduanya.


Hening menemani. Hanya detak jantung yang mengisyaratkan bahwa mereka begitu saling mencinta. Namun disaat hening pula mereka memikirkan tentang hidup dan segala kesulitan yang mengiringi.


Mereka berpelukan di atas ranjang berukuran king, di balik selimut tanpa sehelai baju sebagai penghalang. Bryan tidur menggunakan tangan kiri Liza sebagai bantalan. Pria itu sepertinya benar-benar merindukan kekasihnya.


"Aku masih kurang yakin dengan luka di bahu mu itu, seperti bukan tertimpa sesuatu yang berat karena tak ada sedikitpun memar di sana," ujar Bryan sambil terus mengelusi bahu Liza yang memang masih sedikit basah akibat serempetan peluru Mister Andreas.


"Bisakah kita tak membahas ini, Bri." Liza berujar tenang karena jika saja ia terlihat gugup, maka Bryan akan terus mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Liza takut tak dapat menjawab dengan benar dan lebih buruknya lagi, ia malah salah berbicara dan berakhir mengungkapkan identitas aslinya. Itu pasti kabar buruk, sangat buruk.


"Baiklah." Bryan mengangkat bahunya lalu kembali mengendusi perpotongan leher kekasihnya yang masih beraroma mint dan floral.


Lalu jeda lagi selama beberapa menit, namun tidak membuat keduanya canggung dan terganggu. Liza masih tetap mengelusi tengkuk leher Bryan sambil sesekali menyibak helaian rambut Bryan yang terasa kaku di sela-sela jemarinya dan Bryan sendiri masih betah di posisi awalnya, sepertinya akan terus pada posisi itu dalam jangka yang panjang.


"Bri, apakah kau mencintaiku?" Pertanyaan random dari Liza mengisi ruangan sepi itu.


"Tentu saja. Kau meragukan ku?"


Liza menggeleng, Bryan bisa merasakan pergerakan itu di dadanya. Ia memang sengaja menyuruh Liza untuk menjadikan lengannya sebagai bantalan kepala. Karena Bryan pikir kalau pillow talk adalah sesi terbaik sehabis melakukan hal intim di ranjang.


"Ingin sarapan?" tanya Liza. Jari telunjuknya menyentuh dada telanjang Bryan sambil membuat pola-pola abstrak.


"Terdengar hangat dan nikmat," balas Bryan.


"Aku tahu jalan pikiran mu itu. Dasar mesum," cibir Liza. "Aku mengajak mu untuk makan bukan kembali melakukan itu!" pekik Liza saat Bryan malah memeluk pinggangnya dengan erat.


"I can't hold, baby," desis Bryan berusaha membuka paha Liza.


"Not again, Mister fancy pants!" Liza merapatkan pahanya, mencoba mengahalau Bryan yang akan mengulangi sesi panas mereka yang bahkan baru saja selesai di jam 3 pagi.


"Hand job?"


"Pergelangan tanganku pegal, Bri."


"Blow job?"


"Mulutku kebas akibat semalam," ujarnya lirih.


"Kalau begitu sex. Let me into you." Suara Bryan memberat pertanda pria itu sudah mulai bernafsu.


"No!" Liza mendorong bahu Bryan lalu dengan tergesa-gesa turun dari ranjang.


Saat sudah mencapai depan pintu, Liza segera menarik kenop nya. Tapi Dewi Fortuna sedang tak berpihak padanya. Pintu itu terkunci.


Seharusnya Liza mengingat kejadian semalam dimana Bryan yang memang sudah menguncinya. Liza menatap sengit kearah Bryan. Kenapa pria itu seperti sudah mengetahui akan seperti apa sebelumnya.


"Jangan mendekat brengsek! Lubang ku masih perih!" pekik Liza. Masa bodoh dengan seluruh warga Chicago yang mendengar teriakannya.


"Bryannn!!! Aku takkan memaafkan mu--SIALAN! BISAKAH KAU LEMBUT SEDIKIT!? AKU MERASA JANTUNGKU AKAN LOMPAT, IDIOTTT!" pekik Liza saat Bryan memanggulnya di pundak sehingga kepalanya bertukar posisi dengan kaki. Ia bahkan tak segan memukuli pinggang Bryan dengan barbar.


"Kita melakukannya dikamar mandi. Dan jangan berteriak seolah kau itu gadis belia yang akan dibobol," ujar Bryan. Ia bahkan tak bergeming pada pukulan itu.


Tak ada pilihan lain, Liza harus mengalah saat ini. Karena memang ia sudah kalah sebelumnya

__ADS_1


"Baiklah, baiklah! Kita lakukan! Tapi tidak dikamar mandi, Bri!"


Bryan tersenyum samar lalu menurunkan Liza--lebih tepatnya melempar tubuh Liza ke matras.


"Kenapa kau kasar sekali?! Jangan menggunakan alasan rindu atau apapun itu sialan! Dasar bajingan seks keparat!!!"


Bryan mengukung tubuh Liza dibawah dominasinya. Keinginannya untuk melakukan sesi bercinta mulai menyurut dan tergantikan oleh perasaan lega karena teriakan-teriakan dari bibir kekasihnya kembali ia dengar.


"Terima kasih," bisiknya di telinga Liza.


"Ya. Kau sudah mengatakan itu beberapa kali saat mendapatkan klimaks, jadi tak usah terus menerus mengatakannya."


"Kali ini aku berterima kasih karena kau telah menepati janji mu."


Liza tampak berpikir lalu beberapa detik setelahnya ia mengangguk lalu tiba-tiba amarahnya mereda. Tangannya ia bawa untuk mengelus rambut Bryan yang berada diatasnya.


"Disaat kita bertemu nanti, jadilah wanita cantik, sensual, dan sehat. Dan kau berterima kasih untuk itu?" tanya Liza.


"Tentu saja."


"Tanpa kau meminta, aku akan tetap melakukannya." Liza mengangkat kedua lengannya untuk memeluk leher sang kekasih. "Kita ke kamar mandi. Aku ingin memberesi kekasih tampan ku ini. Aku tak suka diganggu dengan bulu-bulu di wajahmu saat kita sedang berciuman," ujarnya lagi.


"Kau tidak akan berteriak seperti tadi bukan?"


"Sialan." Liza memukul bahu Bryan. Dia sungguh malu saat ini karena pada akhirnya ia yang memberinya secara suka rela.


🍁


Pergumulan di jacuzzi berakhir beberapa menit lalu dan ditutup oleh kecupan hangat pada bibir.


Kini kegiatan mandi bersama itu berakhir dengan membersihkan wajah Bryan dari bulu-bulu yang kata Liza mengganggu.


Bryan memasang bathrobe pada tubuhnya sendiri lalu menarik Liza keluar dari jacuzzi. Ia mengambil bathrobe milik Liza dan memakaikannya pada sang kekasih. Setelah memastikan Liza selesai, Bryan membawa dirinya untuk duduk di kloset yang tertutup dengan Liza di pangkuannya.


Bryan menyodorkan botol krim khusus bercukur dan mesin cukur pada Liza. Liza mengambilnya tanpa banyak bicara.


Sambil tersenyum Liza mengolesi wajah Bryan dengan krim, sedangkan di tangan kanannya telah terdapat mesin cukur dengan keadaan menyala.


Perasaan takut kehilangan akhir-akhir ini selalu menghantuinya. Dibandingkan rasa takut Bryan tentang kehilangan dirinya, Liza lebih takut Bryan yang malah meninggalkannya.


"Kenapa berhenti? Ada yang mengganggu pikiran mu?"


Liza mengulas senyum setelah itu menggeleng. Lalu ia kembali menarikan jemari lentiknya pada sekitaran wajah Bryan.


Bryan bisa merasakan mesin cukur itu bergerak tidak teratur pada wajahnya. Liza sedang dilanda kebingungan, itu yang Bryan tangkap dari sorot kosong dari mata sang kekasih.


"Ada apa, hm?" Tangannya memegang pergelangan tangan Liza; menghentikan pergerakan tangan kekasihnya. Sedangkan tangan yang lain berusaha membenarkan posisi keduanya, agar posisi duduk di atas klosetnya menjadi lebih nyaman.


"Tidak ada. Aku hanya tidak percaya karena bertemu denganmu sebelum empat bulan." Liza melepas tangan Bryan lalu bergerak cepat menyelesaikan tugasnya.


Merasa seluruh krim pada wajah Bryan sudah lenyap, Liza turun dari pangkuan Bryan dan menarik tangan Bryan untuk beralih ke wastafel yang dihiasi dengan cermin. Tangannya meraih sabun wajah milik Bryan, menuangnya pada tangan lalu menggosokkan ditangannya. Setelah cukup berbusa, Liza mengolesi pada wajah Bryan. Lalu memijatnya dengan lembut.


"Apakah ketakutanmu sama denganku?" Bryan bertanya saat seluruh wajahnya telah bersih dari treatment yang Liza lakukan. Bryan tak mendapatkan jawaban karena wanita itu sedang sibuk mengeringkan wajah nya dengan handuk kecil.


"Apakah kehilanganku adalah momok terbesarmu saat ini?"


"Selesaikan sendiri." Liza lalu pergi dari kamar mandi.


Bryan menghela nafas lalu menggosok wajahnya dengan frustasi. Melihat wajahnya dibalik cermin, rasa-rasanya Bryan ingin memecahkan cermin itu. Ia tidak menyangka kalau dirinya sepengecut itu.


🍁


"Bolehkah aku berkata jujur?"


Pertanyaan itu keluar begitu saja saat hening meliputi keduanya selama beberapa menit. Kini mereka memilih balkon kamar Bryan untuk saling memeluk dan berbagi kehangatan dikala angin kencang berhembus.


Bryan dibelakangnya hanya mengangguk. Ia terlalu nyaman pasa posisinya memeluk dengan kepala mengendusi ceruk leher sang kekasih. Kedutan dari nadi di leher wanitanya membuat Bryan cukup terhibur dan sesekali menciumnya dengan gemas.


"Aku merasa hubungan ini begitu dingin. Apakah kita selesaikan saja?"


Bryan melepaskan pelukan itu dengan tidak rela. Ia masih ingin menciumi wanitanya. Ia begitu merindu.


"Kenapa bicara begitu?" tanya Bryan sendu. Tangan besarnya menangkup wajah Liza.

__ADS_1


"Entahlah. Sepertinya hanya perasaanku saja. Sudahlah lupakan, Bri."


"Kenapa kau senang sekali menarik ulur? Sewaktu-waktu kau seolah mengerti tapi beberapa waktu kemudian kau mengatakan hal yang sama. Tahukah kalau aku pusing mendengarnya?"


Liza menatap tak percaya dengan pria di depannya. Ia lalu menunduk saat merasa kalah dirinya begitu labil. Seharusnya ia tahu kalau Bryan juga merasakan hal yang sama walaupun berbeda konteks.


"Sebenarnya aku yang begitu takut, Bri. Aku sangat takut kau meninggalkanku. Maafkan sikap labil ku. Aku hanya merasa sedikit terguncang."


"Dengarkan aku," bisik Bryan. Kedua tangannya membawa wajah Liza untuk mendongak; menatapnya. "Sesakit apapun perasaanmu, bisa kau sembunyikan itu? Hanya percaya aku begitu mencintaimu dan aku takkan pernah meninggalkanmu. Kau bisa pegang janjiku, Sayang. Suatu saat setalah semuanya nyata, kau bisa katakan semua rasa sakit mu padaku. Semuanya. Tanpa terkecuali. Kau mengerti?"


Liza mengangguk. Air matanya begitu deras mengalir sampai menganak sungai. Sejujurnya, anggukannya hanya sebagai respon spontan, tapi di lubuk hati terdalamnya begitu terluka dengan kata-kata itu. Semuanya nyata...? Entah kapan itu.


Seakan tak berkesudahan, Liza memilih memeluk Bryan. Ia terisak-isak keras di dada Bryan. Ia ingin sekali berteriak dengan kuat menyalurkan kekesalannya. Sedangkan pria nya hanya bisa terdiam sambil mengelus punggung terbalut bathrobe Liza.


Liza juga bertanya-tanya dalam hati. Sebenarnya situasi apa yang melanda hubungan mereka. Semua begitu gelap. Satu kesimpulan yang dapat ditarik; ternyata cinta saja tak cukup untuk membuat sebuah komitmen dalam hubungan.


Tangisnya mereda seiring detik berlalu. Malam semakin dingin. Berdiam diri di balkon benar-benar situasi yang buruk bagi keadaannya. Samar-samar, Liza mendengar suara ponsel pintar Bryan didalam kamar.


"Kau tunggu disini," ujar Bryan pada Liza lalu segera masuk kedalam.


Liza memilih tidak menuruti. Ia mencoba mengikuti Bryan dari belakang dengan radius yang agak jauh. Ia berniat menguping.


"Baiklah. Aku akan kebawah. Tunggu dan jangan kemana-mana sebelum aku melihat wajah mu."


Dari yang Liza dengar dari suara Bryan, pria itu terdengar khawatir. Apa yang harus dikhawatirkan? Secara skematik, tentu saja itu adalah makhluk hidup mengingat Bryan menambahkan unsur wajah pada pembicaraannya.


Liza memilih ikut masuk kedalam. Dan malah mendapati Bryan yang sedang gusar memilah pakain dan memakainya secara manuver.


"Astaga, stop! Kau hanya perlu bersembunyi, Tiff."


Tiff? Siapa Tiff? Maksudnya... Apa gender makhluk anonim itu? Liza ingin bertanya, namun terlambat karena Bryan sudah keluar dari kamar dan dengan santai menguncinya didalam


"BRI! BUKA PINTUNYA, AKU INGIN IKUT!" Liza menggedor pintu dengan brutal.


Dia ingin tahu. Dia ingin melihat siapa makhluk anonim yang berbicara dengan Bryan-nya. Dan tentunya Liza masih anggota FBI. Keingintahuannya lebih tinggi saat seseorang malah menghalanginya.


"Aku tak akan lama. Jadilah kekasih yang baik." teriak Bryan. Dan lagi-lagi ia mengunci pintu utama lalu pergi begitu saja.


"BRENGSEK! Kau bermain-main dengan Nona Garcia, Bri. Lihatlah kekasih mu yang merangkap sebagai anggota SWAT ini, Bri. Oh sial, aku mulai bergairah," gumam Liza sambil memejamkan mata dan sedikit melakukan peregangan. Keadaan mendesaknya, maka Liza harus kembali menjadi seorang wanita yang kuat. Ia harus melupakan sesi tangisan lemahnya barusan demi membangkitkan sisi tangguhnya saat bertugas.


"Tiff... Atau siapapun itu yang berani mengambil atensi Bryan, ia akan habis di tanganku," gumam Liza santai.


Ia menjauh dari pintu, mengambil ancang-ancang lalu segera menendang daun pintu dengan kuat. Merasa tak berhasil, ia tak menyerah. Kini sasarannya adalah kenop pintu.


Ia hanya perlu memberikan sedikit kekuatan pada otot kaki lalu menendang kenop nya.


And see? Satu hantaman telak pintu berhasil terbuka.


Kali ini tugasnya membobol pintu apartemen, dan tentu tidak mudah karena pintu itu memiliki sistem kunci yang cukup sulit. Tapi itu hanya jika Liza tak berusaha.


Liza meregangkan tubuh dengan seringai remeh lalu dengan lompatan yang sudah ia hitung sebelumnya, ia menendang engsel pintu membuat pintu terjeblak memperlihatkan lorong sepi.


Masa bodoh dengan pintu apartemen yang rusak. Masa bodoh dengan kemarahan Bryan nanti. Ia hanya akan berkilah kalau pintu itu rusak karena terkena lemparan sopa.


"Aku berhasil," gumam nya lagi merasa bangga.


Dengan gerakan anggun namun cekatan, Liza berlari menuju lift.


Well, Liza tetaplah Liza. Seorang wanita anggun yang merangkap menjadi mata-mata negara. Hal kecil seperti tadi hanyalah sebagian kecil dari semua misi-misi nya.


"Tiff, huh?" Emosinya langsung naik saat menyangkut-pautkan nama itu dengan gender. Sudah pasti dia perempuan, tebak Liza


Seringai muncul saat bunyi dari lift terdengar. Ia sudah sampai pada basemen apartemen.


"Aku takkan memaafkannya."


.


.


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2