The Blind Eternity

The Blind Eternity
17. Posisi bahaya


__ADS_3

Markas besar FBI, Washington DC, Amerika Serikat.


Selasa, 4 Desember 2017 | 7.23 PM.


Liza menatap malas pada pintu ruangan Mister Andreas. Saat sudah masuk kedalam, maka ada hal berat yang akan diberatkan padanya setelah keluar nanti.


Ia menghitung dalam hati guna membuatnya lebih tenang. Jujur, hal yang Mister Andreas katakan tentang kekasihnya cukup membuatnya nyaris melempar gelas kaca pada atasannya itu. Ia sungguh tak percaya dengan perkataan Mister Andreas saat itu, tapi bukti tentang Bryan yang ternyata adalah buronan FBI benar-benar ada, dan bodohnya ia sampai tak mengetahui tentang itu. Ia juga memerlukan waktu banyak untuk memulihkan keterkejutannya.


"Mister Andreas sudah menunggu anda, Nona Smith. Beliau bahkan menunggu hampir sebulan lamanya. Segeralah masuk, Nona."


Dan disebelahnya ada manusia penjilat yang sangat ingin ia lempar ke antartika; Jerry B. Wilson.


Yang Liza ketahui tentang Jerry sebenarnya tak banyak, hanya tentang kalau Jerry adalah anak dari menteri yang bekerja di gedung putih.


Well, sudah sangat jelas siapa itu para penghuni gedung putih yang maha agung. Dan Liza sangat sangsi dengan kemampuan Jerry. Paling-paling anak itu-dan walinya tentu saja-mengiming-imingi Mister Andreas dengan uang atau segala jenis perlengkapan sergap lalu tiba-tiba saja kedudukannya bisa sama dengan Liza. Dunia kan memang begitu; uang adalah segalanya. Dengan uang, maka dunia bertekuk lutut dibawah mu.


"Jangan memerintahku," desis Liza tanpa melihat Jerry barang sebentar pun.


"Baiklah," jawab Jerry sambil membuka pintu ruangan Mister Andreas agar Liza tak bertele-tele lagi.


"Dasar lintah," gumam Liza mencemooh saat ia melewati Jerry.


Dan disinilah Liza; dihadapan Mister Andreas yang tengah menatapnya dengan map coklat yang berada di mejanya. Dibanding tatapan yang pernah ia dapatkan, kali ini Mister Andreas lebih lembut dari biasanya.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Mister Andreas saat Liza telah mendudukan diri di depan mejanya.


Liza tahu, pertanyaan itu hanya sebuah formalitas saja, selebihnya pasti Mister Andreas tidak mau banyak bertanya.


"Kau bisa lihat sendiri." Liza berbicara sambil menatap alis tebal milik atasannya. Jika biasanya ia akan menantang mata Mister Andreas, tapi kini tidak karena ia tak mau memuntahkan isi perutnya di pagi hari.


"Ku anggap kau sudah pulih total. Entah itu kesehatan jasmani atau mental," tutur Mister Andreas sambil lalu. Kini tangan yang sudah cukup mengeriput itu sibuk membuka map coklat tadi.


"Ini kekasihmu, benar?" Mister Andreas menyodorkan foto yang didalamnya ada Liza dalam gendongan Bryan. Liza tahu foto ini diambil kapan, waktu Bryan menolongnya dari orang bernama Ashton itu. "Dan apakah ini kekasihmu juga?" Lalu selembar foto kembali Liza dapatkan di mana didalamnya terdapat pria yang sedang menodongkan pistol pada orang yang wajahnya ditutupi kain berwarna hitam. Liza tahu si penodong itu; itu kekasihnya, Bryan-nya, bahkan hanya dengan tubuh bagian sampingnya saja Liza dapat langsung mengenali.


Tiba-tiba saja seluruh tubuhnya menjadi lemas. Ternyata sebulan pun tak cukup untuknya menyiapkan diri karena nyatanya ia masih belum siap menerima kenyataan jika Bryan adalah buronan yang di incar selama ini. Apa yang harus Liza lakukan nanti saat mereka bertemu, apakah ia harus membunuh Bryan lalu merelakan cintanya pergi begitu saja?


"Benar, itu Bryan," lirihnya parau. Suaranya tercekat bersama satu linangan air mata yang perlahan merangkak turun dari kantung matanya.


Liza sedang berusaha untuk tak menunjukkan kelemahannya didepan Mister Andreas. Jika saja Mister Andreas tak ada, mungkin Liza akan meraung dengan keras, sungguh.


"Aku pernah berada di posisimu waktu itu, bedanya aku yang harus menembak istriku karena dia menyembunyikan buronan dan harus memenjarakan anakku yang bahkan baru menginjak tujuh belas tahun. Akibatnya itu istriku meninggal ditempat dan anakku membenciku sampai sekarang. Jadi ku sarankan untuk jangan menjadi cengeng," tutur Mister Andreas begitu tenang seolah kejadian itu hanya sebuah masalah kecil.


Liza mengerjap dan satu titik air mata kembali turun lalu dengan cepat Liza menghapusnya. Sejujurnya ia merasa emosional mendengar cerita Mister Andreas. Dia juga bertanya-tanya mengapa Mister Andreas sama sekali tak terguncang saat menceritakan itu semua. Sungguh luar biasa.


"Bagaimana bisa?" Mister Andreas mengernyit untuk pertanyaan itu. "Bagaimana bisa kau sangat santai menceritakan itu semua, Sir?"

__ADS_1


"Karena itu semua sudah menjadi masa lalu. Aku hidup untuk masa depan saat ini," ujar Mister Andreas.


"Begitu ya?" Dan air mata kembali menetes. Tidak semudah itu, Liza tahu. Pasti Mister Andreas juga mengalami masa sulit bahkan lebih.


"Ah ya Nona Smith, kau harus tahu bahwa kekasihmu itu tangan kanan dari bos besar organisasi itu. Itu adalah alasan kau masih selamat tanpa sedikit pun lecet padahal kau itu kekasih sang antagonis. Dan satu lagi, maaf soal orang-orangku yang mengambil foto itu. Awalnya aku hanya memerintahkan Jerry untuk memata-matai pria yang mengganggumu itu, lalu sepertinya kau juga curiga mengenai Ashton dan menyuruh Keenan untuk mencari tahu, jadi ku suruh sekalian Keenan untuk melacak nama Ashton yang cukup mencolok, lalu..." Mister Andreas terdiam membuat yang di ajak bicara gusar di tempat duduknya.


"Lalu apa? Jangan membuat ku mencari teori yang lain, Sir." Sejujurnya, Liza ingin sekali menggebrak meja.


"Keenan menemukan ini dan segera memberitahunya padaku." Mister Andreas menunjuk laptopnya membuat Liza mau tak mau berdiri untuk menghampiri Mister Andreas.


"Ashton banyak sekali, Sir. Yang mana yang kau maksud." Liza menatap bingung pada rentetan nama Ashton di layar laptop Mister Andreas.


"Ada satu. Saat aku menekan ini dengan kursor..." Mister Andreas menggerakkan kursor pada satu nama yang berkepanjangan Jimmy Ashton lalu menekannya sambil berkata, "Dan ini lah wajah yang aku dapatkan."


Liza menutup mulutnya dengan mata yang nyaris melotot. Itu Ashton, orang yang sama dengan yang mengganggunya saat di klub beberapa waktu lalu.


"Dan Bryan mengenal dia, Sir," ujar Liza parau. "Ternyata mereka benar-benar saling mengenal. Maaf aku sempat meragukan mu, Mister Andreas."


"Tak apa kau memang selalu meragukan ku," timpal Mister Andreas cepat.


"Ada satu lagi yang membuat ku menggelengkan kepala bingung. Si salah satu Ashton ini ternyata membuat satu komunitas di dark web dengan membawa beberapa anggotanya. Mereka menjual beberapa barang tanpa izin edar dan tanpa melampirkan pasal legalitas," ujar Mister Andreas sambil terus menerus menunjukkan apa yang telah dia dan Keenan teliti beberapa waktu lalu tanpa Liza.


Liza memperhatikan satu persatu barang-barang yang mereka jual. "Kurang lebih ada lima puluh orang user, dan mereka menjual senjata api, narkoba, macam-macam organ tubuh anak kecil maupun dewasa, dan mereka melelang secara daring beberapa wanita siap pa-TUNGGU! KE-KENAPA SEBEJAD ITU, SIR?! SIALAN MEREKA PIKIR ITU... GILA! BENAR-BENAR GILA!"


"Kenapa kau seterkejut itu, No-"


"Bisa iya, bisa tidak," ujar Mister Andreas seadanya.


"Aku akan pergi ke markas mereka. Aku ingin mereka menculik ku. Aku mau melihat apa Bryan ada di dalam bisnis itu atau tidak."


"Jangan mengambil keputusan bodoh hanya demi cinta mu," ujar Mister Andreas. "Buat bagaimana pun kau adalah agenku. Aku tahu bagaimana kehilangan cinta, maka dari itu jangan terlalu berlebihan dalam merasakannya. Dan aku juga tak mau agen andalanku hidup sia-sia hanya untuk hal tidak berguna seperti itu," ujarnya lagi.


"Lalu apa yang harus ku lakukan, Sir. Sejujurnya aku sudah tidak tahan dengan misi ini," lirihnya frustasi.


"Jalan satu-satunya kau yang harus membekuk sendiri kekasihmu, tanyakan langsung padanya, katakan betapa kau kecewa dengannya. Aku janji, aku tak akan membunuh kekasihmu karena biar bagaimanapun dia telah menjaga agen andalan FBI."


Tugas berat, bahkan sangat berat. Jika saja tak ada Bryan di sana, Liza akan sangat yakin bisa memporak-porandakan organisasi gelap itu dibantu rekan-rekannya. Tak apa jika harus membutuhkan waktu yang lama setidaknya dia tak akan memendam kekecewaan pada Bryan seperti saat ini.


"Kalau begitu, apa tugas untukku, Sir." Liza kembali pada tempat semulanya. Ia terduduk dengan membawa tangannya berpangku di paha. Ia akan menjadi Liza si wanita sadis saat ini demi mengetahui alasan sang kekasih.


Mister Andreas tersenyum. Ia tahu jika Liza adalah sosok wanita yang hebat jika terus di dorong semangat oleh seseorang.


"Kemari Tuan Wilson, seseorang membutuhkan kerjasama mu." Mister Andreas berkata cukup keras agar seseorang yang sedari tadi tersenyum dibalik pintu, segera masuk untuk bergabung dengannya dan Liza tentu saja.


Dan Liza hanya bisa membuang nafas kesal karena kini partnernya sudah bukan Vero lagi. Ia kesal karena dengan mudahnya pria yang sudah duduk disampingnya mengambil alih kedudukan orang lain, dan bahkan memiliki pangkat yang sama dengannya.

__ADS_1


"Siapkan pasukan kalian berdua untuk menyergap rumah produksi dari target kita kali ini."


Dan ultimatum itu mendapat dua keyakinan yang berbeda. Satu mengangguk dan yang satu dengan lantang menyerukan ketidaksetujuan.


"Kenapa tidak langsung ke markas nya saja, Sir? Bagaimana jika buronan kabur kembali?"


Siapa lagi yang berani menolak kalau bukan Liza.


"Ikuti saja perintahku, Nona Smith. Jangan banyak membantah," ujar Mister Andreas tenang sambil mulai kembali mengotak-atik laptopnya.


Liza berdecih tak suka. Atasannya memang suka seenaknya sekali jika dengan nya.


"Kalian harus ke Florida. Di sana rumah produksi mereka. Kalian paham?" tanya Mister Andreas pada keduanya.


"Seperti permintaanmu, Sir," ujar Jerry dengan suara baritonnya yang membuat Liza muak setengah mati.


"Aku mengerti, Sir. Jadi kapan kami harus pergi?"


"Secepatnya, tapi aku menunggu kalian siap. Maka dari itu, jangan membuang waktu. Jika kalian siap segera katakan dan aku akan menjamin semua kebutuhan kalian apapun itu."


Mereka berdua mengangguk paham.


"Ku harap kau tidak membocorkan perihal ini pada kekasihmu, Nona Smith," ujar Mister Andreas dan mendapat gelengan dari Liza. "Kalau begitu kalian boleh keluar." ujarnya lagi membuat Liza mendesah lega lalu segera keluar dari ruangan itu dengan perasaan yang campur aduk.


"Namaku Jerry Blaire Wilson. Maaf sebelumnya jika aku mencari tahu tentangmu," ujar Jerry saat mereka sudah di luar ruangan. Ia menjulurkan satu tangannya pada Liza.


Liza menjabat tangan itu lalu memberi senyum seadanya. "Tak apa. Kau pasti berkeinginan membunuhku saat tahu kalau aku adalah kekasih dari musuh," ujar Liza lalu melepas jabatan itu dengan segera. Liza lalu berjalan mendahului Jerry.


"Tidak, Nona. Aku malah ingin melakukan sebaliknya."


Liza berhenti dari langkahnya sejenak. Satu alisnya naik karena perkataan itu. Apa maksudnya?


"Saat aku tahu bahwa Nona cukup berada di posisi bahaya, aku langsung menandatangani kenaikan jabatan ku demi bisa melindungi Nona dan membasmi organisasi itu bersama," tambah Jerry cepat.


"Jangan terlalu formal denganku," ujar Liza. "Dan terima kasih sudah mau repot demi posisi ku, tapi sebaiknya kau urungkan niatmu karena kekasihku lebih berhak untuk melindungi ku. Aku masih percaya penuh padanya-pada kekasihku," ujarnya lagi tajam lalu benar-benar pergi dengan langkah yang diam-diam diambil panjang dan setelah itu ia berbelok lalu hilang dalam jangkauan mata Jerry.


"Maaf, tapi tekad ku sudah bulat! Walau kita tak pernah bertemu, tapi aku tahu kau wanita yang hebat dan keren, Nona Eva!" Jerry berteriak agar setidaknya Liza bisa mendengar.


Liza tentu mendengar itu, tapi dia mencoba tak peduli karena dia tak butuh orang lain dalam kasus melindunginya karena Bryan pun sudah sangat lebih dari cukup untuk melakukan tugas itu. Masa bodoh dengan pernyataan Jerry untuknya, karena dia tak butuh, dia hanya butuh Bryan. Selamanya akan seperti itu.


.


.


.

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2