
Flashback nya buat chapter I'm home.
________________________
Kamarnya terlihat berantakan begitu juga dengan pemiliknya. Saat ini Liza tengah menangis keras. Ia ingin menyangkal semua perkataan Mister Andreas. Namun jika menyangkut pautkan semua, perkataan Mister Andreas memang benar.
Bagian terkecilnya adalah parfum. Abiafo dan Ashton memiliki wangi parfum yang sama dengan Bryan; Man In Black. Ia kira, Bryan hanya satu-satunya pria yang memakai parfum dengan wangi khas tersebut tapi nyatanya dua orang itu juga memakainya. Parfum memang bagian kecil, tapi Liza tertohok akan hal itu.
Lalu pekerjaan Bryan yang sepertinya terlalu berlebihan sampai menyebabkan Bryan tertahan sampai empat bulan atau terkadang lebih. Memangnya pekerjaan apa yang mengambil waktu berbulan-bulan tersebut.
Liza hanya bisa termenung. Ia seharusnya bisa menyimpulkan itu dari dulu. Tapi memang benar kata Mister Andreas kalau ia bodoh dan terlalu dibuta kan cinta.
Sekarang Liza harus melakukan apa?
"Liz, buka pintunya. Ada yang ingin aku katakan."
Apa lagi? Tak cukupkah dengan kehadiran Mister Andreas yang membuatnya merasa tercekik lalu untuk apa lagi Vero datang?
Getar ponsel di nakas membuat Liza mengusap sejenak air matanya. Ia bangkit guna mengambil ponsel itu walau wajahnya terasa berkedut karena pening masih terus menggerogoti.
273;
Aku di depan pintu kamarmu. Aku tahu kau tidak tuli.
310;
Pergilah keparat!
273;
Kau belum makan sialan! Buka pintunya atau ku hancurkan kenop pintu kamarmu!
310;
Maka bersiap aku akan menjebol tempurung kepalamu.
273;
Peduli setan!
Saat itu juga terdengar suara letusan pistol sebanyak 2 kali. Liza meringis akan hal itu. Vero benar-benar pengganggu hidupnya.
"BERANI-BERANINYA KAU MENGGANGGU KU SIALAN!"
Vero mengerjap. Sungguh ia tak tahu kalau Liza akan sekacau ini. Bahkan ia sama sekali tak berpikir akan di buat kaget oleh bentakan wanita itu.
"Ck! Hentikan kesedihan mu itu. Kau hanya perlu mendinginkan kepala kosong mu itu agar tak terlalu stres. Carilah jawaban pada dirimu sendiri. Jika kau terpuruk terlalu lama seperti ini, kau sendiri yang akan menyesal karena membuang waktu." Sungguh kalimat yang panjang hanya untuk menenangkan hati sahabatnya. Tak apa lagipula Vero jarang melakukannya.
"Kau tak akan mengerti seberapa sakit kepalaku memikirkan ini, Ver," tutur Liza serak. Suaranya sulit untuk keluar karena tertahan oleh cegukan di tenggorokannya akibat terlalu lama menangis dan berteriak.
"Untuk apa memikirkannya? Bukannya kau sangat percaya pada kekasihmu itu? Aku tahu seberapa besar cintamu itu pada Bryan. Dan dari yang ku dengar juga, sepertinya Bryan juga sangat mencintaimu. Bahkan dia sendiri yang mengatakan untuk selalu mempercayainya. Seharusnya kau cari celah untuk mendapatkan jawaban dari sikapnya padamu bukan malah bertindak kekanakan dan mengunci diri dengan perut kosong."
Setidaknya untaian kata itu membuat Liza sedikit merasa tenang. Kini ia mencari sesuatu yang mungkin saja Bryan coba beritahu padanya dalam bentuk tersirat.
Tapi sepertinya ia tak menemukan apapun. Terlalu banyak yang disembunyikan hingga Liza tak tahu harus memulai dari mana. Ia hanya mendapatkan kata tentang kepercayaan yang selalu ditanamkan Bryan.
"Aku tak menemukan apapun." Dan Liza kembali menangis.
"Kenapa?" Pertanyaan yang terkesan tak berminat namun mengandung begitu banyak rasa penasaran di dalamnya.
"Bryan-hiks-Bryan terlalu banyak berbohong. Bahkan tentang namanya saja ia berbohong padaku-hiks. Astaga ini menyakitkan, sungguh. Aku tak tahu siapa namanya."
"Tidak perlu bingung. Kau mengenalnya dengan Bryan, bukan? Kau mencintai Bryan. Apa di butuhkan bahkan hanya sebuah nama? Kau ingat bukan cinta itu buta? Kau mengetahui nama 'Bryan' saja seharusnya sudah bersyukur. Ada begitu banyak makhluk dunia ini yang mencintai makhluk anonim."
Penekanan nama Bryan yang Vero ucapkan membuat Liza tanpa sadar mengangguk.
__ADS_1
Benar, ia mencintai Bryan. Hanya Bryan. Kenapa ia harus mengenal nama lain kalau Bryan saja sudah cukup?
"Vero...." Liza menatap Vero dengan mata berkaca-kaca. "Kau membuat suasana hatiku membaik," tuturnya dengan senyuman yang cukup lebar dan-cukup-membuat Vero merinding jijik.
"Jangan menatapku seperti itu. Kau itu seperti wanita pesakitan dengan vonis self injury," ujar Vero datar. Ia menyodorkan piring yang berisi nasi dan beberapa lauk pada Liza. Niat awalnya ingin menyuapi, tapi ia rasa Liza sudah cukup waras untuk memegang sendok saat ini.
"Kau sangat baik, Ver, sungguh. Aku jadi ingin mencium mu hehe. Bagaimana kalau kita jadi sepasang kekasih saja. Kau itu sangat mengerti diriku. Ah... Aku sangat mencintai Vero saat ini. Eum... Bryan, sepertinya aku harus mendua." Liza terkekeh-kekeh sambil mulai menyuap sesendok penuh nasi tanpa lauk.
"Ewh! Kau menjijikkan," ujar Vero sambil menepuk dahinya. Sahabatnya sudah gila karena cinta, ironis. "Habiskan makananmu. Aku akan kembali ke kamarku," ujarnya lagi.
"Setelah merusak pintu kamarku, kau akan meninggalkan ku begitu saja? Betapa kejinya gadis seperti mu."
Dan betapa bersyukur Vero saat mendengar suara Liza berubah menjadi datar. Bagus, Liza sudah mulai bisa mengatasi dirinya sendiri.
"Baiklah kau akan aku memutasikan kau ke kamarku. Aku akan rela menjadi pendengar yang baik malam ini. Cepat habiskan makan pagi, siang, dan malam mu itu dalam waktu semenit."
Dan Liza seperti seorang busung lapar yang seperti baru bersitatap dengan nasi ternikmat di dunia. Dia hanya perlu mengangkat piringnya untuk di taruh di depan bibir, setelah itu ia menyedot semua nasi dengan tumis jamur itu. Biarlah ayam di makan dalam perjalanan menuju kamar Vero saja.
Ciri khas wanita anggun sekali.
🍁
"Ver, sejujurnya Bryan sempat curiga mendapati banyaknya bekas luka di tubuhku. Aku memberinya alasan yang sangat logis sehingga dia mengangguk dan percaya begitu saja," ujar Liza sambil memeluk guling Vero. Ia mengeksploitasi semua bantal yang berada di ranjang Vero membuat gadis itu mendengus dan memilih mengalah. Hanya semalam, pikirnya.
"Bryan adalah salah satu anak buah musuh kita. Aku tahu dia tak mungkin percaya semudah itu. Kau itu memang bodoh, Liz."
"Aku tak tahu oke!" seru Liza sambil menoyor kepala sahabatnya itu.
"Kau tak tahu atau kau terlalu percaya padanya, huh?" tanya Vero mencemooh.
"Entahlah. Cinta itu terlalu besar untuknya."
"Bisakah kau menghentikan angan-angan tentang cinta itu jika di hadapanku? Aku agak geli mendengarnya." Vero memijat kilas pelipisnya. Sungguh ia bosan dengan kata cinta dari bibir Liza.
"Dasar perawan tua pengisap *****," cibir Liza tajam.
Tapi Liza malah terkekeh kesenangan. "Tak apa. Aku kan melakukan atas dasar cinta. Dan kau?"
Vero menghela nafas lelah. Tuduhan menjijikkan apa itu? Rasa-rasanya Vero tak pernah melakukan apapun yang Liza katakan. "Aku tak pernah mengisap ***** siapapun, *****."
"Aku tak percaya."
"Terserah."
Lalu hening menyapa mereka. Vero kira Liza sudah masuk ke alam mimpinya. Namun saat wanita itu menghela nafas dengan panjang, ia tahu Liza kembali terganggu tentang cintanya; Bryan.
"Ku rasa saat itu Bryan tidak percaya dengan ucapan ku. Agh! Aku memang bodoh, Ver! Kuka bakar dan luka tembak-bagaimana bisa wanita mendapat luka mengerikan seperti itu. Bryan-Bryan pasti tak percaya padaku. Hah, aku bodoh sekali."
"Kau memang bodoh."
#Flashback on.
"Ssshh! Jangan menekan bagian itu, Bri." Liza meringis saat tak sengaja Bryan menyentuh dengan kuat punggungnya.
"Ada apa? Punggung mu kenapa?" Bryan mengusap bagian itu.
Liza memejamkan mata. Bodoh, lukanya bahkan belum kering. Seharusnya ia tak pulang ke Chicago. Bagaimana kalau Bryan bertanya-tanya lagi tentang luka-luka yang ia dapatkan.
"Hanya sedikit perih hehe." Liza terkekeh mencairkan suasana.
"Perih bagaimana? Biar aku lihat." Bryan memutar tubuh Liza dengan perlahan. "Ini luka bakar. Kau kenapa?" tanyanya langsung.
Sial, itu luka yang Liza dapatkan saat di pulau Pitcairn.
"Eum... Itu-saat itu, kompor di apartemen ku meledak dan aku sedang membelakanginya. Dan ku rasa sudah tidak seperti sebelumnya," jawabnya kikuk.
__ADS_1
Bryan membalikkan tubuh Liza lagi lalu menatap mata sang kekasih dengan raut khawatir. "Ini luka bakar cukup serius. Apa kau yakin tidak apa-apa?"
Liza tersenyum senang mendapati sang kekasih begitu mengkhawatirkan dirinya. "Tak apa. Aku baru memeriksanya kemarin. Tenang saja, aku hanya perlu meminum obat dan mengolesinya dengan salep sesuai anjuran dokter."
"Maafkan aku," tutur Bryan cukup mengagetkan.
"Ada apa? Kenapa meminta maaf?"
"Seharusnya aku ada di sana. Maafkan aku, aku yang terburuk."
Liza kehabisan kata-kata. Ini bukan kesalahan Bryan tentu saja. Ia sendiri tak mengerti bagaimana Bryan menyalahkan dirinya sendiri.
"Aku baik-baik saja, Sayang. Sudah ya?"
Bryan merasa buruk benar-benar buruk. Tiba-tiba saja kepalanya begitu berat. Ia hanya bisa menumpukan kepalanya pada bahu Liza.
"Ahkk!"
Astaga, Liza benar-benar tak bisa menahan pekikan sakit saat Bryan malah menubruk luka bekas tembak di bahunya.
"Kenapa? Ada apa? Ku rasa, aku tak menyentuh punggung mu." Bryan mengangkat wajahnya menatap Liza. Tapi matanya menangkap bercak darah pada bahu sang kekasih. "Astaga bahu mu, Liz! Kau berdarah? Aku... Aku tak melakukan apapun padamu, tapi kenapa kau berdarah?" Bryan mundur. Sungguh ia merasa sangat takut saat ini, ia takut menyakiti sang kekasih.
"Sst! Aku baik-baik saja. Ini hanya terkena tembakan tak sengaja dari polisi. Polisi itu sudah mengganti rugi dengan mengirim lima puluh dolar ke rekeningku. Tak apa, mendekatlah," bujuk Liza perlahan. Sejujurnya ia juga sedikit bingung dengan Bryan. Kenapa pria itu begitu terguncang hanya dengan melihat darah? Fobia darah atau hanya takut melihatnya terluka?
"Sungguh maafkan aku, Sayang. Maafkan aku." Bryan berlutut. Ia terlihat seperti seorang yang sangat frustasi saat ini.
"Tak apa. Aku memaafkanmu, aku mencintaimu." Liza mendekat lalu ikut berlutut. Ia lalu memeluk prianya.
#Flashback off.
"Ver, menurutmu Bryan fobia darah atau tidak?"
Suara Liza memecahkan keheningan. Tidak tahu saja kalau ia merusak tidur sahabatnya juga.
"Orang bodoh mana yang sedang bertanya tentang kekasihnya pada orang lain?" ujar Vero terdengar sangat amat kesal.
"Bryan sangat frustasi saat bahuku kembali berdarah, Ver. Mungkin kah ia fobia?"
Liza seperti orang gila yang sedang meracau saat ini. Serius, Vero ingin melempar sahabatnya itu keluar dari kamarnya.
"Aku tau tahu sialan! Tidur atau aku pergi dari sini?"
"Memang kau akan kemana?"
"Oh tuhan! Sebaiknya aku tidur di kamar Keenan saja." Vero menendang selimutnya. Ia sungguhan muak pada sahabat idiotnya itu.
"Dan menghisap ***** Keenan?"
"AKU TAK PERNAH MENGHISAP ***** SIAPAPUN!"
"Baguslah," ujar Liza terkekeh. Ia memeluk guling sang tuan rumah dan menyembunyikan wajahnya di sana. "Selamat malam, Ver!"
"Oh tuhan, aku bisa gila." Vero meringis. Ingin menangis, tapi sudahlah. Lagipula, percakapannya sudah berakhir.
"Selamat malam wanita idiot," ujar Vero acuh.
"Aku mendengar mu," gumam Liza.
"Masa bodoh."
.
.
.
__ADS_1
To be continued.