The Blind Eternity

The Blind Eternity
3. Pergilah


__ADS_3

"Aku harus pergi. Maaf karena tidak bisa menepati janji."


Liza hanya tersenyum  kalimat seperti itu dari bibir kekasihnya sementara tangannya tetap sibuk mencuci piring sisa sarapan tadi.


Tidak mendapatkan tanggapan membuat Bryan mendekat dan menaruh telapak tangan di pinggul Liza. Perasaan takut mengecewakan kekasihnya menyeruak hingga membuat Bryan seolah tidak berdaya. Di satu sisi pekerjaan menantinya, dan disisi lain dia masih memiliki beberapa janji melakukan hal menyenangkan selama sebulan dengan Liza.


Bryan mematikan kran air lalu membalikkan posisi Liza agar menghadap kearahnya. Dia tahu kelemahannya adalah menatap wajah Liza yang sedang memancarkan kekecewaan padanya, namun dia harus melakukannya.


"Ku mohon sekali ini saja."


"Kau berbicara seolah aku tak pernah mengerti keadaan mu," balas Liza. Ia mendorong pelan bahu kekasihnya lalu pergi menuju ruang santai meninggalkan cucian piring yang belum selesai dibasuh.Selimut tebal adalah hal pertama yang Liza rasakan pada telapak tangannya setelah terbangun di siang hari. Ia mencoba membuka mata perlahan dan menoleh kesamping untuk menatap wajah kekasihnya. Tapi Bryan tidak di sana.


"Bri," panggilnya. Ia mencoba bangkit dari ranjang dengan melilitkan selimut untuk menutupi tubuh telanjangnya.


Liza melirik ke balkon kamarnya, namun tak mendapati kekasihnya lalu menuju pada kamar mandi tapi hasilnya sama. Ia membuka pintu kamar untuk keluar berharap setidaknya Bryan ada di ruang santai atau dapur.


Ia berjalan perlahan di lorong penghubung kamarnya dengan ruang tamu. Tangannya terkadang mengaitkan selimut yang merosot hingga nyaris membuat bahu pucat nya terekspos.


"Bryan...." Perasaannya mulai khawatir. Ia khawatir akan ditinggalkan lagi seperti biasanya. Tapi mungkin hari ini lebih menyakitkan karena mereka baru saja berbagi cinta tadi malam. Seharusnya di pagi hari mereka masih bersenda gurau seperti biasa bukan malah Liza yang kelimpungan mencari kekasihnya.


Dia sudah mengitari seluruh sisi apartemen mewah milik Bryan, tapi Bryan tak juga ditemukan olehnya. Tiba-tiba saja perasaan ingin menangis memenuhi kepalanya membuatnya terduduk dilantai dapur bersama selimut putih yang masih saja setia di tubuhnya.


Liza terisak seperti orang gila. Perasaan kecewa pada kekasihnya menyeruak tak terkendali.


"Bryan... hiks jangan pergi."


Terlambat memang, tapi setidaknya ia masih bisa memohon dengan sisa tenaganya.


"Bryan," lirihnya disela tangis.


Isakan pilu terus saja memenuhi ruang apartemen kedap suara tersebut. Liza masih terus menangis. Kini ia memeluk kaki-kakinya sebagai penopang. Selimutnya sudah menggulung tidak karuan. Rambut indahnya berantakan. Liza benar-benar frustasi.


"Kenapa duduk dilantai, hm?"


Liza langsung membuka matanya. Ia mendapati kekasih tampannya tepat didepan mata. Laki-laki itu sedang berjongkok untuk menyejajarkan posisi dengannya. Tanpa menunggu lama, Liza langsung menerjang Bryan dengan pelukan yang teramat posesif.


"Kenapa menangis?"


Rasa-rasanya Liza ingin sekali memukuli Bryan bertubi-tubi karena pertanyaan bodoh yang dilayangkan Bryan.


"Jangan pergi disaat kita baru saja selesai berbagi kasih. Itu seperti --hiks-- seperti kau sudah tidak membutuhkan ku dan siap membuang ku ke dasar," ungkapnya dengan suara berdengung. Ia masih saja memeluk leher Bryan. Sepertinya posisi itu sudah menjadi andalannya.


"Aku tidak kemana-mana jadi kekhawatiran mu itu tidak terjadi," ujar Bryan


"Aku takut kau pergi, brengsek!" Umpatan itu terdengar lirih dan menyayat hati.


"Dan si brengsek ini mencintai mu," balas Bryan.


Liza merengek saat Bryan mencoba melepas pelukannya. Tubuh kurusnya menolak untuk perbuatan Bryan. Maka dari itu, ia terus saja melingkari leher Bryan dengan posesif dan melupakan kalau Bryan hampir tidak bisa bernafas.


"Aku tidak bisa bernafas, sayang," ujarnya sambil mengelus punggung Liza agar berhenti menangis.


"Maaf," ujar Liza. Ia langsung berdiri dan meninggalkan Bryan menuju ke kamar.


Bryan menarik nafasnya dengan helaan yang begitu berat. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, merasa bodoh dengan tindakannya barusan. Ketakutan Liza itu sangat mendasar karena nyatanya Bryan memang akan meninggalkan Liza untuk bekerja.


Bryan mulai bangkit dan menyusul Liza yang sepertinya benar-benar akan marah. Saat memasuki kamar, ia tidak mendapati kekasihnya di ranjang melainkan hanya mendengar suara percikan air di kamar mandi yang seolah mengundangnya untuk segera masuk dan menghampiri wanita cantik yang sedang merajuk didalamnya.


Bryan membuka kamar mandi dan memang benar kalau ada Liza di sana, di bawah shower yang mengguyur kepalanya dengan air hangat. Bryan memeluk Liza dari belakang, melingkarkan tangannya pada pinggang sempit milik sang kekasih tidak peduli kemeja biru toska yang dia kenakan basah.


"Maaf. Kau benar, aku berniat pergi tadi."


Dengan begitu Liza memutar tubuhnya. Benar, ia hanya berniat membuat Bryan jujur untuk kepergiannya yang tiba-tiba saat dia sedang tertidur. Liza tentu tahu alasannya sangat mendasar. Bryan berniat meninggalkannya.


"Jadi kenapa tidak pergi?" tanya Liza sambil mendongak. Jari-jari lentiknya membuka satu persatu kancing kemeja kekasihnya untuk ikut mandi bersamanya.


"Tadi hanya pertemuan biasa. Memang sebelumnya aku dipilih untuk pergi, tapi aku menolak karena aku tak mau mengambil risiko dengan meninggalkan mu. Lagipula kalau aku pergi sekarang, itu tandanya aku memajukan jadwalku," ujar Bryan. Ia mundur sejenak untuk melepas celana bahan hitam miliknya lalu kembali mendekat saat semua kain ditubuhnya raib.


Mereka berpelukan dibawah shower dengan balutan air hangat dan wangi mint yang menjadi satu. Hanya berpelukan tak ada yang lebih dari itu. Mereka hanya akan berbagi kasih melalui perasaan tanpa melakukan making love.


.

__ADS_1


"Ya, aku akan kesana besok, tapi hanya untuk meminta jatah libur ku sampai bulan depan. Aku tak peduli lagi dengan bayaran dan semacamnya."


"Jangan menundanya lagi, keparat."


"Kau tidak akan mengerti. Aku memiliki kekasih disini tidak seperti kau!" bentak Bryan. Ia sangat muak berbicara dengan rekannya yang selalu memaksanya untuk datang dan bekerja bersamanya menjadi partner padahal hari ini dan 2 bulan kedepan belum waktunya dia pergi.


"Ku harap bos melenyapkan kekasih mu itu."


"You son of motherfucker!" Bryan menutup sambungan tersebut dan membanting ponselnya hingga hancur berkeping-keping.


"God! Kau kenapa? Kenapa membanting handphone? Apa yang terjadi?" Liza datang dari luar kamar dan langsung menuju Bryan. Ia tentu saja kaget saat di dapur tadi karena mendengar suara bantingan dan umpatan yang teramat keras yang berasal dari kamar.


Liza melihat ekspresi wajah sang kekasihnya dan yang dia dapati hanya wajah tanpa ekspresi Bryan. Namun Liza sangat tahu kalau kekasihnya itu sedang menahan emosi terlihat dari rahang pria itu yang mengeras dengan gigi yang bergemalatuk yang terdengar sampai ke telinganya.


"Ada apa?" Liza memeluk pinggang Bryan. Tangannya merayap sampai punggung prianya dan mengelus punggung lebar itu secara teratur dengan gerakan lambat dan konstan. "Katakan," desak nya.


"Hanya jangan tinggalkan aku. Selama ada aku, tetaplah berada didalam radius terdekat bersamaku, kau paham?"


Liza mengangguk. Tentu saja ia dapat menyetujui hal sederhana itu.


"Permintaan dikabulkan. Ingin mengatakan sesuatu?"


"Aku mencintaimu," ujarnya lalu membalas pelukan dari wanitanya dengan sama erat.


"Yeah, kita saling mencintai," bisik Lisa. "Baiklah kita sudahi dulu acara berpelukan ini karena aku sudah masak makanan siang yang lezat. Bagaimana? Mau tetap berpelukan atau memilih memakan sesuatu?"


Bryan melepaskan pelukan itu dengan perlahan seolah tidak rela. Ia mulai menciumi wajah Liza dengan gemas dan terakhir mencium kening dari wanita itu dengan perasaan begitu dalam. Ia berharap doa teman keparatnya tidak terkabulkan. Bryan tidak bisa membayangkan jika sampai Liza menghilang dari dunianya atau lebih tepatnya hilang dari dunia indah mereka yang telah dibangun dengan penuh cinta, kasih sayang, dan... Kebohongan.


Bryan terdiam menikmati wajah cantik kekasihnya yang seolah tak menua. Liza masih sama seperti pertemuan pertama mereka 2 tahun yang lalu.


"Baiklah ayo," ajak Liza karena tidak sabar dengan diamnya Bryan. Ia berjalan dengan semangat sambil menarik tangan Bryan untuk mengikuti langkahnya.


Kini mereka sudah sampai di meja makan dengan menu roti panggang, wagyu beef ala rumahan, dan beberapa jenis sayuran yang di buat salat. Terlihat menggugah selera karena Liza menambahkan kesan elegan untuk menghias piring-piring menu tersebut. Serbet bercorak bunga warna-warni dengan latar abu-abu pun digunakan untuk dijadikan alas meja makan. Lalu beralih pada pengaturan kursi makan yang dibuat sedemikian rupa seolah mereka berada di sebuah candle light dinner.


Bryan menoleh pada Liza dengan tatapan takjub. Sekali lagi ia dibuat jatuh cinta pada wanitanya. "Sederhana tapi aku menyukainya."


Liza memerah dalam tundukan. Ia tidak tahu penilaian itu merujuk pada siapa, entah pada acara makan siang buatannya atau untuk dirinya.


"Misterius tapi aku mencintainya," balas Liza salah tingkah lalu mulai menarik kursi. Ia membuka tutup botol wine dengan terburu-buru menggunakan kotrek lalu mulai menuangkannya pada gelas miliknya dan milik Bryan. Liza kikuk dan gugup. Padahal untuk apa bersikap seperti itu, toh Bryan sudah tahu semua mengenai isi hatinya.


Benar, semoga saja mereka akan tetap saling mencintai walau seburuk apapun yang terjadi di masa depan nanti.


.


.


.


TBC


Bryan mengikutinya tanpa banyak bicara. Bahu rapuh Liza terasa jauh dari jangkauannya.


"Hari ini saja kumohon." Bryan melingkari perut Liza, menahan agar dia tidak jauh-jauh lagi darinya.


"Hari ini dan 4 bulan atau entah berapa bulan kemudian, baru aku bisa bertemu denganmu," ujar Liza datar.


"Sayang," ujar Bryan sarat akan permohonan.


"Pergilah."


Bryan baru saja menghembuskan nafas lega, namun hanya sebentar karena tiba-tiba ia merasakan kalau wanita yang dipeluknya bergetar ditemani isakan kecil. Bryan memutar tubuh Liza agar menghadap kearahnya--lagi. Ia membawa Liza dalam gendongannya, membiarkan gadis itu menangis di bahunya.


"Pergilah lalu pulang kembali."


Bryan mengangguk. Ia menarik tengkuk Liza lalu memberikan kecupan manis dibelah bibir kekasihnya.


"Aku pasti pulang dan kita akan bertemu. Jangan menangis dan membuat semuanya terasa sulit," ujar Bryan setelah ciuman penuh sesak itu terlepas.


Liza mengangguk dengan yakin lalu setelahnya dia memilih turun dari gendongan Bryan. Dia hendak menuju kamar berniat menyiapkan baju-baju sang kekasih kedalam koper seperti biasanya.


Bryan mengekor. Matanya lebih fokus pada pinggul dan bongkahan pipi pantat dari kekasihnya yang seolah mengatakan, 'Pergilah jauh-jauh, maka aku akan dimiliki orang lain.' Bryan sampai mengumpat dalam hati. Dia ingin menerjang Liza sekarang padahal ia sangat tahu kalau waktunya hanya tersisa 3 jam lagi.

__ADS_1


Otak rasionalnya mengatakan untuk tetap seperti biasa sedangkan otak mesum yang sering Liza maki mengatakan untuk membuat kekasih pujaannya mengerang nikmat dibawah dominasinya.


Sial!


Bryan melangkah cepat dan menarik Liza kedalam pagutan terburu-buru. Ia tak ada waktu.


"Kita memiliki waktu tiga jam. Bisakah kau berikan aku dua jam untuk meredakan hasrat keparat ku?" Bryan meminta izin saat nafasnya bahkan sudah tersenggal-senggal.


"Aku milikmu."


Dan dengan gumaman lirih itu Bryan membawa Liza ke sopa untuk menuntaskan libidonya.


.


"A--ah emhh... **** Bryan."


Entah sudah berapa kali Liza memanggil nama itu untuk pelepasannya. Saking nikmatnya ia sampai menjambak main-main rambut Bryan untuk melampiaskan kedutan nikmat di daerah kewanitaannya.


Gerakan maju mundur dari pinggul kekasihnya semakin membuat Liza lupa akan tempatnya berpijak. Ia seolah di bawa menuju ke atas dan terbang bersama sang kekasih dalam gulungan kenikmatan. Hingga beberapa tusukan terakhir dan dibantu sebisanya oleh Liza, Bryan menemui klimaksnya. Klimaks hebat yang hanya biasa dia dapatkan dari wanita cantik di bawah kukungannya.


"Terima kasih untuk orgasme menakjubkan ini. Aku mencintaimu," ujar Bryan lalu melepaskan tautan kelamin keduanya. Ia bahkan tidak membuka seluruh bajunya hanya menurunkan resleting jeans yang dikenakannya.


"Kau mengeluarkannya didalam?"


Bryan mengangguk sambil tersenyum. Ia tidak bodoh mengenai diksi yang Liza katakan.


"Itu karena aku mencintaimu. Tak masalah bukan?"


Liza mengulas senyum. "Ya, tidak apa-apa. Kalau begitu, pergilah. Sepertinya aku tak bisa mengepak baju-baju mu. Lagipula kekasihku ini bukan pengangguran, jadi tidak mungkin sekali kalau tidak bisa membeli baju barang sehelai," ujar Liza. Ia masih terkulai lemas di sopa namun senyuman menawan terpatri indah di bibirnya.


Bryan tertawa kecil, "Baiklah, aku pergi, jaga dirimu baik-baik. Disaat kita bertemu nanti, jadilah wanita cantik, sensual, dan sehat tentu saja," ujar Bryan lalu mencium kening Liza dan langsung keluar dari apartemen mereka. Apartemen yang baru beberapa detik lalu diisi oleh desahan dan pekikan kenikmatan dua insan berbeda jenis kelamin.


Saat pintu tertutup, Liza mulai menangis, meraung bahkan memeluk dirinya sendiri yang sudah telanjang bulat. Ia menjambak rambut nya menjadi lebih kusut dari sebelumnya. Ketakutan dirinya kemarin benar-benar terjadi. Ia ditinggal saat baru saja disetubuhi, benar-benar seperti jalang murahan.


Liza mencoba berjalan walau merasa semua tulangnya remuk. Ia mengunci pintu apartemen, lalu memilih pergi ke kamar untuk istirahat atau mungkin kembali menangisi kepergian Bryan.


Sebelum naik ke ranjang Liza memilih membasuh tubuhnya dulu. Perasaan sakit dan kehilangan mendera hati nya. Di bawah shower, ia menikmati rasa pilu itu sendirian tanpa ada Bryan yang memeluknya seperti kemarin. Mungkin hanya 4 bulan atau lebih, tapi tetap saja kepergian Bryan pasti akan menyisakan sesak yang mendalam bagi perasaannya. Liza sebatang kara, hanya dirinya sendiri dan Bryan yang bisa melindunginya.


"Kau bilang kita akan bahagia nanti. Bahagia yang kau janjikan itu kapan, Bri? Aku lelah jika sewaktu-waktu kau pergi. Kau bahkan tidak mengabari ku. Sebenarnya kau itu siapa?"


Pertanyaan itulah yang ingin Liza teriakan untuk Bryan. Laki-laki itu begitu tertutup dengan segala misterinya.


"Aku ingin berhenti, aku ingin menyudahi segalanya, tapi aku begitu mencintaimu hingga rasanya begitu sesak. Kau selalu pergi tapi aku tak pernah terbiasa dengan perasaan sakit yang mencokol di hati. Bolehkah aku memiliki satu permintaan dimana kita akan menikmati waktu bersama secara nyata dan bukan lagi omong kosong." Lirihan Liza begitu pilu teredam oleh air dingin yang mengucur deras di atasnya. Liza merasakan sakit itu sendirian. Dia tidak akan memberi tahu kelemahannya seolah-olah jika ada orang yang mengetahuinya, maka orang itu akan mati.


Kulitnya mulai memucat dengan tidak lazim. Dinginnya air benar-benar terasa mati rasa di kulitnya karena yang bisa Liza rasakan hanya sayatan tak kasat mata akibat cintanya pergi.


"Aku pergi, jaga dirimu baik-baik."


Liza seolah tersentak oleh perkataan Bryan beberapa waktu lalu. Bryan menginginkan dirinya baik-baik saja dan bertemu dengannya dalam keadaan yang luar biasa sehat. Itu berarti Bryan tak ingin Liza menyakiti dirinya sendiri.


Dengan sisa kesadarannya, Liza bangkit dari duduknya. Ia memakai jubah handuk lalu membuka pintu kamar mandi untuk keluar. Sesekali air mata kembali lolos dari kantung matanya. Ia benar-benar tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Jika saja dia tidak mengingat perkataan Bryan, mungkin saja beberapa hari kemudian ia akan ditemukan tewas oleh penghuni apartemen sebelah karena bau busuk yang menyeruak dari tubuh ringkih nya.


Liza mendengar getaran ponsel di tas miliknya yang tergeletak di laci meja dekat ranjang. Lampu pada layar ponselnya berkedip dan berhasil membuat Liza mengurungkan niat untuk memakai baju. Ia mendekat dan meraih ponselnya masih dengan menggunakan jubah mandinya.


"Sepertinya ada sesuatu," gumam Liza saat melihat pesan singkat yang masuk.


273;


Ada perintah untuk menghadap.


Liza termenung sejenak. Ia memilih duduk di ranjang dan menyeka keringat di pelipisnya. Padahal ia baru saja mandi, tapi pesan itu seakan membuatnya kembali gerah dan gugup.


310;


Tunggu aku.


Terkirim. Secepat kilat Liza memakai baju. Tak perlu yang bagus karena ada saatnya ia akan melepas semua baju itu.


.


.

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2