The Blind Eternity

The Blind Eternity
7. Pesta dansa


__ADS_3

Washington DC, Amerika Serikat.


Selasa, 12 September 2017 | 07.00 PM.


"Maaf Nona, anda dilarang masuk kecuali memiliki undangan khusus."


Jika saja Liza bisa melakukan hal sesuka hatinya tanpa perlu mengingat ia sedang menjalankan misi, mungkin sudah sedari tadi pria berseragam pelayan didepannya ia tendang selangkangannya.


Ia memutar otaknya mencari sedikit kebohongan. "Tapi aku di undang oleh kekasihku kesini, dan sekarang ia berada di dalam. Aku mohon beri aku masuk. Lagipula apa yang kau takuti dari gadis lemah seperti ku? Bahkan aku tak membawa apapun di dalam gaunku," ujar Liza dengan tatapan menyedihkan. Bahkan topeng di wajahnya sudah ia lepas untuk membuat pelayan itu merasa sedikit kagum dengan paras anggunnya.


"Maaf Nona," ujar pelayan itu lagi.


Liza mendengus. Ingin sekali ia mengoyak wajah pelayan itu sekarang dan masuk dengan tidak elit kedalam pesta. Bodohnya, lagi-lagi ia terburu-buru dan melupakan untuk membawa pasukan. Tapi memang ini tugas khusus untuknya jadi tidak boleh sembarang orang untuk ikut.


Liza hendak menyerah dan memilih mundur. Ia pikir, ia bisa menemukan Abiavo dengan cara lain.


"Aku kekasihnya. Biarkan dia masuk bersama ku."


Tiba-tiba seorang pria dengan jas formal khusus dan rambut di tata naik keatas lalu senyuman di wajah angkuhnya, mengulurkan tangan pada Liza. Wajahnya terlihat tidak asing baginya.


"Seharusnya anda memberi undangan pada kekasih anda tuan," ujar pelayan itu dengan wajah masam.


"Kau lancang sekali rupanya," timpal pria yang menggandeng Liza.


"Maaf tuan."


Pelayan itu menunduk lalu mempersilahkan Liza untuk masuk. Dan dengan itu, laki-laki yang menggandeng tangan Liza menyuruh Liza untuk berjalan di belakangnya.


Liza melihat tautan tangan antara tangannya dan tangan pria itu.


"Aku tahu ada beribu pertanyaan dari bibir mu, Nona Garcia. Tapi untuk saat ini diam lah dan ikuti permainanku."


🍁


Keenan Theodore, laki-laki berdarah Inggris- British. Keenan sebenarnya bukan pasukan khusus saat turun lapangan, ia hanya bergerak di bagian IT. Ia mengepalai dari semua hal-hal yang terkait dengan informasi daring. Laki-laki dengan tinggi 180 CM itu juga menguasai beberapa teori khusus dalam meretas sistem keamanan atau menyalin data dari situs-situs tertentu guna melacak keberadaan orang yang diburu oleh SWAT.


Jadi jika hanya mendapatkan undangan khusus dengan barcode, mudah saja bagi Keenan.


Aroma khas makanan manis menyeruak ke penciuman Lisa saat ini. Ia hanya sibuk pada meja menu yang di atasnya terdiri berbagai dessert dengan warna mencolok dan beberapa gelas berisi jus dan wine.


"Bagaimana jika seandainya aku tidak datang tadi?"


"Aku bisa mencari hari lain tentu saja. Jadi berhenti lah membanggakan dirimu sendiri, Keenan Theodore," ujar Liza.


"Jangan angkuh seperti itu, Nona Garcia. Kita ini teman, kan?" ujar Keenan sambil berdecak.


"Masa bodoh," cibir Liza dan mendapati kekehan dari bibir Keenan.


Liza tak peduli, ia memilih memperhatikan sekitar dimana banyak sekali pria dan wanita yang sedang berbincang-bincang. Backsound lembut yang dimainkan oleh orkestra di lantai atas benar-benar menambah kesan formal pada pesta itu. Lalu beberapa meja beralas kain satin tebal dengan corak garis-garis berwarna emas. Meja-meja elegan itu ditaruh di setiap sudut aula megah itu. Di tengah ruangan ada bongkahan es yang membetuk ukiran abstrak namun begitu elegan karena di pantulkan cahaya-cahaya yang beragam.


"Karena aku tak pandai turun lapangan, lebih baik aku kembali ke markas. Lagipula hadirnya aku disini karena langsung di perintah oleh Mister Andreas."


"Aku tak peduli," balas Liza tanpa menoleh.


"Baiklah kalau begitu. Good luck, Nona Garcia. Semoga kita bisa bertemu lagi."


Liza menoleh dan melihat Keenan yang semakin menjauh darinya dan keluar dari pintu yang berbeda dari pintu saat mereka masuk tadi.


"Bukankah tadi dia bilang untuk mengikuti permainannya? Permainan seperti apa memang?" Liza menggerutu. "Kalau begini, itu sama saja aku bekerja sendiri dan dia hanya membantu aku untuk masuk ke dalam. Shit, sungguh tidak berguna," umpat Liza.


Ia menutup matanya sejenak karena merasa kesal yang tak berujung. Setelah merasa cukup tenang ia membuka matanya dan berniat meneguk wine yang sedari tadi sudah ditangannya.


Tapi pergerakan tangannya harus terhenti saat aroma yang tak asing memenuhi penciumannya, mengalahkan aroma manis dari dessert sebelumnya. Ia menaruh kembali wine ditangan pada meja.


Man in black. Liza tahu kalau parfum itu yang kini terendus oleh hidungnya dan berputar-putar di kepala hingga membuatnya pening. Ia mengenal sekali siapa pemilik parfum ini.


"Bryan," bisik nya lirih.

__ADS_1


Liza menutup matanya lagi saat aroma itu semakin mendekat. Lututnya menjadi lemas dan jantungnya berdegup kencang.


Saat hendak membuka mata, tiba-tiba aroma itu menghilang. Ia menoleh ke kanan dan kiri dengan gusar mencari sesosok yang selalu dirindukannya akhir-akhir ini. Tapi nihil, ia benar-benar tak mendapati siapapun.


"Mungkin hanya perasaan ku saja. Lagipula parfum man in black jelas dimiliki banyak orang," gumam Liza. Ia lalu membenarkan letak topengnya agar lebih pas pada mata dan tulang hidungnya.


Liza mencoba menikmati suasana dengan sedikit menggerakkan tubuhnya, mengikuti alunan musik Ballad yang dimainkan orkestra.


"Ku perhatikan sejak tadi, kau begitu menawan dibalik topeng mu, Nona?"


Liza tersentak saat merasakan tangan merayap di pinggangnya, tapi ia mencoba tenang. Lalu dengan gerakan anggun ia membalikkan posisinya untuk menghadap seorang pria dibelakangnya.


Pria lancang itu jika di teliti dari dekat terlihat masih cukup muda. Namun karena janggut tebal yang membingkai wajahnya, ia jadi terlihat tua dan sama sekali tidak menarik. Pria itu juga mengenakan topeng. Topengnya berwarna hitam pekat dihiasi glitter perak di setiap sudutnya.


"Man in black, betul?" tanya Liza sensual sambil meraba dada pria tersebut.


"Benar, apakah aneh?" Pria itu kini memeluk pinggang Liza dan merapatkan posisinya.


"Tidak, aku menyukainya. Aku begitu menyukai pria dengan wewangian," ujar Liza. "Mereka terasa menggiurkan," lanjutnya.


Pria tersebut tertawa karena bisikan Liza. Ia hendak memagut bibir Liza, namun Liza menahan bibir itu dengan telunjuknya.


"Kita baru mengenal beberapa menit, Tuan. Apakah sopan kalau kau langsung menyerang ku? Bagaimana jika berikan aku namamu, lalu jadikan aku partner berdansa, tawaran yang menarik bukan?" ujar Liza. Telunjuknya ia bawa untuk mengusap bibir itu dengan gerakan lambat.


"Memang itu niatku sedari awal, menjadikan mu partner. Dan, tentu saja Nona, namaku Shawn, Shawn Asthon. Lalu siapa namamu?" Shawn membawa tangannya lebih rendah, sengaja untuk meremas pinggul milik Liza. Namun sebisa mungkin ditahan oleh Liza. Ia tidak mau milik Bryan tersentuh orang lain.


"Namaku, Eva Jane," bisik Liza berbohong. "Just call me Eva eum... Jangan menyentuh ku Mister Ashton atau kau akan menyesal, nanti."


Liza tahu dengan sangat bahwa kata itu pasti terdengar seperti sebuah candaan. Tak apa, hanya lihat waktu yang membuktikan.


Shawn terkekeh lalu menjauhkan tubuhnya, "Ya aku akan menyesal, karena menjadi pria tak sabar. Aku akan tahan dan membawa mu ke hotel nanti. Sekarang lebih baik kita berdansa, Nona Garcia," ajaknya sambil menaruh tangan kanannya pada pinggang Liza.


Liza hanya mengangguk lalu mengikuti pria itu. Senyuman menawan tak luntur dari bibirnya, ia sengaja melakukan itu agar tak di curigai.


Kini Liza sudah berada di antar lautan manusia kalangan elit. Ia memperhatikan satu persatu wajah para manusia disana, memastikan jika ada salah satu wajah yang ia kenali.


"Kau terlihat mencari sesuatu, apakah kau membawa partner lain?" tanya Shawn.


Shawn mengangguk. Kini ia membawa satu tangan Liza pada pundaknya sedangkan tangan yang lain dipegang olehnya. Tangan kirinya bertengger nyaman pada pinggang sempit Liza. Lalu kakinya ia bawa mengayun mengikuti melodi dari setiap hentakan lagu dan memutar searah jarum jam setelahnya.


Saat berdansa Liza sesekali memberi senyuman pada Shawn. Namun bola matanya masih tetap bergerak liar mencari Abiavo.


"Eum, Shawn." Liza mencoba memanggil, tapi tanpa embel-embel tuan. Ia ingin membuat kesan santai sehingga ia bebas menanyakan apapun nanti.


Shawn bergumam untuk membalas.


"Apa kau mengenal pria bernama Abiavo?" tanya Liza tanpa berniat berbasa-basi.


"Kau memanggilnya Abiavo? Apa kau kenal dekat dengannya?"


"Lalu aku harus memanggil apa?"


"Entahlah. Menurut ku, kau terlalu santai hanya menyebutnya Abiavo," ujar Shawn.


Liza mengambil kesimpulan kalau Shawn benar-benar mengenal sosok Abiavo.


"Santai?" tanya Liza memancing.


"Walaupun masih muda, Mister Cameron tidak suka hanya di panggil Abiavo."


"Cameron?" pekik Liza dibuat-buat.


"Kau mengenal Abiavo tapi kau tak mengenal Cameron. Bagaimana bisa? Abiavo adalah Cameron dan Cameron adalah Abiavo."


"Jangan bertele-tele, Shawn." Liza memperingati.


"Ok, ok. Nama lengkap Abiavo adalah Cameron, Abiavo Cameron. Kami biasa memanggilnya Mister Cameron."

__ADS_1


"Apa yang dimaksud dengan kami'?" tanya Liza lagi.


"Sudahlah, lupakan tentang Cameron, Abiavo atau siapapun itu. Bagaimana jika sekarang kita melobi?"


Bajingan brengsek, umpat Liza di dalam hati. Jika saja ia tak ingat misi, mungkin ia akan membolongi kepala pria kurang ajar didepannya.


"Janji setelah mendapatkan segalanya kau akan memberitahu siapa itu Abiavo Cameron? Aku ingin sekali mengetahui tentang nya. Aku fans fanatik Abiavo asal kau tahu." Liza berbisik, sengaja menggoda Shawn dengan gesekan bibirnya di telinga pria bengal itu.


"Tentu gadis manis," jawab Shawn.


Mereka meninggalkan acara dansa itu dan segera menuju parkiran. Sebelum benar-benar masuk kedalam mobil Range Rover milik Shawn, Liza mengetikan pesan singkat yang langsung terhubung pada ketua divisi IT.


310;


Cari tahu siapa itu Shawn Asthon.


🍁


Liza memakai jubah handuk khusus yang disediakan oleh hotel. Ia habis membasuh tubuhnya di kamar mandi karena jijik dengan sentuhan-sentuhan laknat dari pria yang sedang tertidur pulas di kasur.


Melakukan sex dengan Shawn? Tentu saja tidak. Liza bukan orang yang bodoh. Ia tentu tidak mau melakukan hal itu sembarangan terlebih kini ia memiliki Bryan.


Liza melihat Shawn yang sedang terlentang topless di ranjang karena suntikan bius yang Liza tancapkan secara paksa tadi dengan dosis tinggi. Ia lalu mengamati tangan itu yang bahkan tak terdapat urat-urat menonjol, tidak seperti pria dewasa lainnya. Jika di pikir-pikir, Shawn memang sangat muda untuk pria berjenggot tebal kebanyakan.


"Dengan tangan ini kau bahkan hampir meremas payudara ku," ujar Liza sambil tertawa sarkas. "Ingatkan aku untuk memotongnya nanti." Ia melempar tangan itu sembarangan.


Ia tak mendapatkan apapun dari Shawn. Bukan tak mendapatkan, ia hanya takut jika saja Shawn menggerayangi tubuhnya.


Liza termenung di balkon kamar hotel. Hati sudah benar-benar gelap karena hampir memasuki tengah malam. Kini ia tak tahu apa yang harus dilakukan. Saat Shawn bangun nanti mungkin Liza akan mengikatnya lalu memaksa Shawn untuk mengatakan semuanya tentang Abiavo.


Liza menoleh ke arah bra-nya yang terdapat ponsel yang ia bawa sedari masuk ke pesta. Karena ponsel itu Liza hampir di cekik oleh Shawn karena kedapatan membawa sesuatu yang mencurigakan.


Liza mendekat dan melihat spam pesan dari ketua divisi IT, Keenan Theodore.


254;


Kau ditipu olehnya. Dia lah Abiavo Cameron.


254;


Bawa dia ke markas. Jangan menyakitinya, itu perintah dari Mister Andreas sendiri.


254;


Untuk berjaga-jaga, kau suntikan lebih banyak lagi obat biusnya.


Ingin sekali Liza melempar ponsel di tangannya. Jika saja ia tahu lebih dulu kalau Shawn adalah Ivo, ia akan meludah pada wajah sialan itu lalu menghadiahinya granat.


"BAJINGAN BANGSAT!" Liza memukuli wajah pria yang ternyata bernama Ivo. Ia tidak peduli pada pesan yang menyuruhnya untuk tak menyentuh Ivo. Persetan dengan itu semua.


Ivo sadar dan terbatuk-batuk karena hantaman telak Liza pada wajahnya.


Liza berteriak histeris. Ia menjambak jenggot Ivo dan terbukalah wajah asli dari pria itu. Liza membiarkan Ivo bangun. Ia tertawa sejenak karena merasa bodoh hanya karena bocah kecil.


"MATI KAU BRENGSEK!" pekik Liza sambil menendang kepala bagian belakang Ivo hingga Ivo kembali tak sadarkan diri.


Setelah merasa puas menghadiahi bocah itu dengan bogeman, Liza menyeret celana yang dikenakan pria itu. Ia tidak peduli dengan suara tubuh Ivo yang bertolak dengan lantai. Mati pun ia tak peduli.


Liza berjalan ke luar kamar hotel dengan masih menyeret tubuh itu. Ia tidak peduli lagi dengan tatapan aneh orang-orang yang berlalu lalang.


"Dia hampir memperkosaku dan aku berencana membawanya ke kantor FBI untuk mengusut kasus ini."


Mendengar kata FBI membuat orang-orang yang bertanya langsung terdiam. Orang bodoh mana yang membawa kasus ringan langsung pada agen khusus milik negara?


.


.

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2