
"Tidak biasanya kau kesini tanpa perintah."
Liza mendongak untuk menjawab. "Aku ingin menagih cuti setelah menjalankan misi, Sir." Lalu ia kembali tertunduk.
Karena kejadian beberapa waktu lalu, Liza seolah tak mengenali atasan didepannya saat ini. Mister Andreas dengan tidak sengaja merubah perspektif Liza padanya.
"Misi besar belum terselesaikan." Kata-katanya berubah menjadi sebuah peringatan.
Liza mencoba untuk tidak bersikap defensif pada atasannya tersebut karena bagaimanapun, Mister Andreas bisa saja membolongi kepalanya kapan saja ia mau seperti yang dilakukan pada Ivo beberapa hari lalu.
"Kalau begitu, beri aku tugas. Aku tak selamanya bisa disini saja tanpa melakukan apapun sementara keluargaku menungguku di Chicago."
"Jangan bercanda padaku, Nona Smith."
Liza menghela nafas. Ia lupa siapa itu Mister Andreas. Selain penampilannya yang perlente, wajah stoic Mister Andreas benar-benar tak terbantahkan.
"Ok fine! Kekasihku menunggu disana. Aku juga tidak paham mengapa dia bisa pulang sebelum waktunya."
Mister Andreas menyatukan kedua alisnya. "Darimana kau tahu? Kau tidak melanggar peraturan, dengan membawa Android atau kartu sim?"
"AKU TIDAK! DAN TENTU SAJA TIDAK AKAN PERNAH!-OH, MAAFKAN AKU, SIR!" Liza merutuki kebodohannya. Kenapa ia bisa begitu tidak sopan pada atasannya untuk waktu uang tidak tepat seperti sekarang. Bodoh, keluhnya.
Mister Andreas bangkit dari kursi kebesarannya. Ia mulai memperhatikan Liza lebih dekat.
"Kau terlihat gugup. Apa ada yang mengganggu pikiranmu?"
Pertanyaan bodoh. "Ya."
"Apa kau asing dengan diriku yang kemarin?"
Pertanyaan bodoh itu berlanjut. "Ya."
"Apakah aku benar-benar terlihat berbeda?"
Pervert! Pertanyaan pervert sama seperti si pengaju nya.
"Apakan aku keren di mata mu?"
Liza menggeleng. Kini ia bangkit dan mencoba beradu pandang dengan mata biru milik atasannya. "Kau terlihat seperti bukan kau. Bolehkah aku menduga sesuatu?'
"Tentu saja! Aku menerima semua masukan."
"Kau seperti seorang berbeda. Maksudku tidak sama seperti pertama, Sir. Aku menduga kau memiliki suatu hubungan dengan organisasi itu. Bukan sebagai musuh, mungkin kau menganggap organisasi itu adalah teman." Liza berucap lancar seolah yang keluar dari tenggorokannya sudah dirancang dengan apik.
Mister Andreas tertawa. Kepalan tangannya menutup bibirnya.
"Sudah kuduga kau ini memang sangat pintar dan ... Berbahaya. Aku bangga padamu, Nona Smith," ujarnya sambil menepuk-nepuk bahu Liza dengan bangga.
Liza melihat arah tangan itu mendarat. Ia lalu kembali menoleh pada atasannya yang ternyata sudah berhenti tertawa. Tidak ada lagi mata yang menyipit dari atasannya melainkan tatapan itu kini menatap tajam padanya. Ia memejamkan mata karena merasakan moncong Desert Eagle tepat berada di dahinya. Tapi tak benar-benar terjadi karena itu hanya ekspektasi belaka.
"Tapi sayangnya kau terlalu cepat mengambil kesimpulan." Mister Andreas kembali pada kursinnya.
Liza menaikan satu alisnya dan ikut terduduk kembali pada tempatnya.
__ADS_1
Bisakah ia merasa tidak percaya dengan atasannya. Jika sudah begitu, apakah Liza akan terkurung di neraka karena tindakan mencurigai atasan sendiri? Masa bodoh. Liza akan mencoba memberi bukti terkait analisanya.
"Ku harap tak ada pistol yang ikut campur dengan urusan ini," ujar Liza datar.
Mister Andreas menatapnya lalu mengangguk. Sedang Liza merasa kalau anggukan itu memiliki arti 'ya, aku akan benar-benar menembakkan setelah pembicaraan ini selesai' baiklah itu hanya pemikirannya saja.
"Aku mempunyai bukti akan keterkaitan mu dengan organisasi itu."
Mister Andreas hanya bergumam sebagai balasan. Kini jari-jarinya sedang sibuk mengetikan sesuatu pada keyboard laptop merk perusahaan komunikasi tercanggih di dunia.
"Dari awal kau yang seolah santai saja dengan kematian Jeremy." Liza memulai dengan keanehan pertamanya pada Mister Andreas.
"Untuk apa menangisi penghianat?"
"Oke Jeremy penghianat, tapi aneh sekali jika di jauh-jauh hari kau sudah mengetahui tindakan Jeremy," balas Liza.
"Bukan kah sudah ku bilang aku memang menaruh curiga padanya?"
"Lisan terkadang bisa saja berbohong. Maka dari itu, aku tak sepenuhnya percaya. Bisakah kau memberiku bukti yang konkret?"
"Aku tidak tahu kau sebodoh ini dengan menghakimi atasan mu sendiri karena seorang penghianat," nada bicara Mister Andreas terdengar jengah.
"Aku tidak begitu jika kau memberi bukti. Setidaknya berikan aku sebuah catatan tertulis tentang analisa mu, mungkin?"
Mister Andreas memijat pelipisnya dengan mata terpejam. Ia merasa sedang diinterogasi secara tidak langsung oleh bawahannya sendiri saat ini. Jika dipikir-pikir, benar-benar memalukan. "Aku mempunyai beberapa salinan rekaman suara Jeremy dengan bahasa aneh. Dugaanku itu adalah argot dalam organisasinya."
"Itu hanya dugaan, Sir. Seperti yang kau katakan, jangan mudah mengambil kesimpulan seharusnya kau juga berpedoman pada--"
Liza melihat benda yang tersebar pada meja. Itu kertas. Lalu ia mulai mengambil satu persatu dan menyusunnya. Ia tidak bodoh untuk mengetahui 9 kertas yang berada di tangannya. Nominal uang dengan jumlah besar kategori pemasukkan dan penarikan terpampang jelas pada kertas itu disertai tanggal dan nama bank.
"Kau meretas rekening bank istri Jeremy? Tidakkah kau tahu kalau itu perbuatan yang lancang, Sir?"
"Pikir sendiri. Aku tidak mengingat memiliki anak buah sebodoh dirimu."
Apa lagi-lagi Liza terlalu cepat menarik kesimpulan? Memangnya siapa peduli. Ayolah, hal-hal berbau peretasan adalah sebuah tindakan yang lancang. Jika yang diretas itu memang sesuatu yang penting, tidak masalah. Tapi jika yang diretas adalah rekening istri Jeremy itu sama sekali tak berguna...?
Tunggu!
Sepertinya Liza harus menarik lagi ucapan tak berguna itu.
Istri Jeremy?
Penarikan dan pengeluaran uang? Dan... Istri Jeremy?
"Oh, shit! Apakah Jeremy masih mengirimkan uang pada--maksudku, jadi Jeremy masih hidup?"
"Kau aneh. Bukannya waktu itu kau sudah mengatakan hal yang sama?"
"Ini lebih nyata dari pernyataan mu waktu itu, Mister... Maksudku, mungkin karena waktu itu kau terlihat hanya seperti menebak dengan asal-"
"Terserah!" Mister Andreas menyela cepat lalu menutup laptopnya. "Sebaiknya kau buat surat pengunduran diri dan segera keluar dari jabatan mu, Nona Smith. Aku bisa memberi jabatan mu pada Nona Jane."
Hening menyapa. Mister Andreas terlihat mengulas senyum; dia merasa senang karena sepertinya Liza akan memohon padanya untuk tak mencopot jabatannya.
__ADS_1
"Aku tak masalah. Lagipula aku memang sudah lelah sekali terus berhadapan dengan hal-hal menantang. Aku ini wanita yang seharusnya dilindungi dan bukan malah memasang tubuh dalam garda depan di zona bahaya," ujar Liza sambil menyandarkan kepalanya pada lidah kursi. Ucapannya memang biasa saja tapi cukup membuat Mister Andreas tertohok.
"Sudahlah sana pergi. Kau diberi cuti selama satu Minggu lalu tanpa ada perintah lagi, cepatlah pulang. Kalau tidak, aku yang akan menghancurkan apartemen mu dengan bazoka dari ketinggian seratus kaki."
Liza tersenyum dalam tundukkan. Inginnya terbahak dalam tawa, tapi situasinya tidak memungkinkan. Bisa saja Desert Eagle pribadi dengan peredam suara milik Mister Andreas bersarang pada otak besarnya. Memikirkan itu, membuat Liza ingin segera kabur dari execution room.
"Oh ya, bagaimana bahu mu?"
Double shit!
"Hanya sedikit nyeri. Selebihnya aku baik-baik saja, Sir," jawab Liza.
"Maafkan aku atas kejadian itu. Aku akan mengirimkan beberapa dolar ke rekening mu untuk pengobatannya."
Dewi Fortuna berpihak pada Liza kali ini.
"Terima kasih, Sir. Tapi sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan lagi tentang Ivo kemarin. Kenapa kau tiba-tiba menembak saat ia ingin menjelaskan dalang soal pesta dansa itu."
"Lain kali kau akan tahu. Sudah sana pergi. Aku tak berminat berolahraga telunjuk saat ini."
Olahraga telunjuk yang dimaksud adalah Menekan Tuas Desert Eagle. Benar-benar seorang pervert.
"Baiklah. Terima kasih, Sir. Maaf telah mencurigai mu. Aku permisi. Selamat pagi."
Saat telah menutup pintu, Liza membuang nafas lega. Setidaknya tidak ada satupun peluru .357 Magnum yang bersarang pada tubuhnya dan kabar baiknya ia memiliki informasi mengenai Jeremy. Beruntung sekali Liza belum menyampaikan salam terakhir Jeremy pada istrinya. Jika saja sudah, pasti ia akan menanggung malu saat ini.
🍁
"Meminta cuti lagi huh? Kurasa kau harus memberitahu pada pria mu itu tentang pekerjaan mu agar dia tak memaksamu pulang. Bisa saja ia tiba-tiba menelepon saat sedang bertugas, bukan?"
Liza mengangguk tak bergairah. "Sejak kapan kau menjadi cerewet seperti ini?"
"Itu artinya aku peduli padamu!" pekik Vero sambil menekan bahu Liza yang terbebat oleh perban.
"Itu sakit, bangsat!" Liza menendang tulang kering Vero hingga gadis itu terhuyung sambil memegangi bagian sakitnya.
Luka akibat terserempet peluru milik Mister Andreas kemarin benar-benar kesialan yang teramat sangat bagi bahu Liza. Entah kenapa luka itu belum menunjukkan kemajuan, masih basah dan cukup linu saat diraba. Dan dengan bodohnya Vero menekannya. Vero mencoba menggali lubang kuburannya sendiri.
"Oh sialan! Ini akan memar," ujar Vero sambil mengusap-usap kakinya.
"Bagus. Kau bisa belajar menempatkan diri di situasi tertentu. Memar yang ku buat itu akan memberi pelajaran penting untukmu," ujar Liza. "Aku akan pergi sore nanti. Jangan menghubungi ku dalam seminggu. Aku tidak peduli jikapun itu kondisi yang sangat penting sekalipun. Aku tak akan datang okay! Simpan ponsel ini." Liza menarik telapak tangan Vero dan meletakkan ponsel dinasnya ke tangan Vero.
"Mati kau sialan!" pekik Vero. Ia melempar sepatu miliknya ke arah Liza yang mulai menjauh untuk memberesi pakaian.
"Aku akan mati. Tapi tidak sekarang."
.
.
.
To be continued
__ADS_1