The Blind Eternity

The Blind Eternity
6. Misi khusus


__ADS_3

Markas besar SWAT, Washington DC, Amerika Serikat.


Selasa, 12 September 2017 | 05.30 AM.


Kini Liza kembali masuk ruangan yang selalu ia sebut execution room di kantor agen. Dia harus memenuhi panggilan dari atasannya. Seseorang yang sama saat waktu itu meneriakinya, Mister Andreas.


Liza menunduk dalam. Ia masih terguncang atas kematian Jeremy. Atasan didepannya bahkan tak ia hiraukan.


"Kenapa hanya kau? Aku meminta seluruh pasukan yang bertugas bersamamu untuk menghadap ku," ujar Mister Andreas.


"Maaf Mister, ini semua kesalahanku. Seharusnya aku mencoba mengeluarkan letnan Smith dari gedung itu, tapi aku bahkan tak bisa... Maafkan aku," ujar Liza. Ia hendak menangis lagi saat ini karena mengingat begitu banyak kenangannya bersama Jeremy dan Vero di kantor agen.


"Aku tak tahu sejak kapan kau menjadi lemah seperti ini. Dimana Liza yang selalu yakin pada misi nya? Kematian dan kemenangan selalu mendampingi pekerjaan ini. Maka dari itu, kau sudah harus terbiasa dengan itu semua."


Liza ingin sekali berteriak di depan wajah atasannya itu. Mister Andreas benar-benar orang yang buruk dalam memberi motivasi. Apakah yang terpikirkan di otaknya hanya ada kemenangan, keberhasilan, dan keunggulan? Liza hendak sekali memborbardir kepala atasannya.


"Kau tidak mengerti, Mister. Letjend Smith adalah temanku, tidak pantas dia mati dalam keadaan yang menyedihkan seperti itu. Bahkan kita tak menemukan tubuhnya, dia meledak bersama empat belas orang lainnya. Aku tahu kau bahkan lebih sering melihat orang-orang mati, tapi kau tidak akan pernah tahu rasanya jika orang yang gugur itu adalah orang terdekatmu, Sir. Kau adalah laki-laki teregois bagiku. Kau bahkan sangat terburu-buru dengan misi ini. Sebenarnya apa mau mu, Sir," ujar Liza frustasi. Ia mencoba menahan air matanya. Perasaannya hancur sekali saat pemberitahuan bahwa mayat Jeremy dan 14 orang lainnya tidak terdeteksi karena seluruh isi dari pulau itu sudah hangus.


"Mau ku beri tahu sebuah rahasia?" tanya Mister Andreas. "Mendekat lah," lanjutnya.


Liza menatap curiga pada atasannya itu. Kenapa tiba-tiba sekali?


"Apa kau tidak curiga saat papan reklame mengatakan kalau tidak menemukan jasad Letjend Jeremy dan kawan-kawannya?"


Liza termenung sejenak lalu menggeleng.


"Apa kau tidak curiga pada Letjend Jeremy? Bagaimana jika dia dan empat belas orang lainnya adalah sekutu musuh?"


"Apa kau sadar dengan ucapan mu barusan, Mister Andreas?"


"Tentu saja. Dengar baik-baik, orang kita bahkan tak menemukan apapun di pulau sana, barang amunisi saja tidak di temukan. Lalu darah, atau DNA atau apapun itu juga tidak di temukan. Apa kau masih yakin Jeremy orang baik?"


Pertanyaan itu berhasil membuat Liza gamang dan mulai memikirkan sikap Jeremy yang agak aneh di pulau tadi.


#Flashback On


"Aku akan ikut masuk ke dalam bersama pasukan mu," ujar Liza. Ia sudah menyiapkan Glock, pisau lipat, granat tangan, dan gas air mata di rompinya.

__ADS_1


"Tidak perlu, kapten. Aku sudah menyiapkan empat belas orang untuk ikut bersamaku." Jeremy menginterupsi dengan memegang bahu Liza


Liza melepaskan genggaman kuat di bahunya lalu mulai berkata, "Aku harus bersama kalian, siapa tahu aku bisa mencari file-file berguna yang ada di dalam gedung mereka."


"Maaf kapten, ini demi keselamatan kapten. Kami berlima belas yang akan maksud jadi aku harap kapten sudi untuk menunggu di luar gedung," ujar Jeremy kukuh.


"Apa kau yakin?"


"Tentu," jawab Jeremy. "Abiavo, gantikan posisi ku di luar, biar aku didalam, kau mengerti?"


Dan dapat anggukan langsung dari si pria bernama Abiavo. Abiavo menarik Liza untuk mundur dan membiarkan Jeremy dan kawan-kawannya masuk kedalam gedung.


Liza menatap Abiavo tajam lalu menghempaskan cekalan tangan itu. Sebelumnya ia tidak mengenal Abiavo. Mungkin karena dia berbeda tim, jadi Liza tak terlalu memperhatikannya.


#Flashback off


"Bolehkah aku berbicara dengan Ivo?"


Mister Andreas menaikan satu alisnya. "Ivo? Siapa Ivo?"


"Letnan Abiavo... Kau tidak mengenalnya?" tanya Liza.


"Mari kita lihat apakah ada salah satu agen ku yang bernama Abiavo," ujar Mister Andreas. "Sepertinya kau di tipu oleh teman mu sendiri, Liza. Jadi, kau masih menganggap ku egois?" Mister Andreas membalikkan laptopnya untuk memberitahu jika memang benar-benar tidak ada manusia bernama Abiavo di markasnya.


Liza meneliti satu persatu deretan huruf berawalan A, dan dua tidak menemukan satu nama Abiavo di sana. "Brengsek, tidak mungkin sekali Jeremy seperti itu."


"Kalau kau masih tidak percaya, kau boleh cari sendiri siapa itu Ivo. Paling-paling orang yang kau cari sudah tak disini."


Liza menatap tajam pada atasannya. Namun jika dipikir-pikir, ada benarnya juga. Dia merasa kecewa jika memang benar Jeremy melakukan penghianatan.


Mister Andreas berdehem sejenak. Ia membuka desktop baru pada layar laptopnya yang menunjukkan lokasi.


"Sekali lagi aku lebih pintar dari mu, Liza. Aku sudah menaruh alat pelacak pada pistol khusus pada milik Jeremy, dan disini lah dia," tunjuk Mister Andreas pada layar yang menunjukan tanda panah merah.


"Bagaimana bisa?"


"Sudah sejak lama aku menaruh curiga pada Jeremy. Lalu karena kecurigaan ku, aku bertindak sendiri dan mencoba menerka-nerka tanpa meminta bantuan atau pendapat orang lain. Dan kau lihat, kecurigaan ku benar-benar nyata. Sekarang aku menugaskan mu untuk pergi ke tempat ini sendirian," tunjuk nya lagi pada layar laptop.

__ADS_1


"Baiklah." Liza segera keluar dari ruangan execution room lalu ia mengecek jam tangan nya dimana sudah terkirim lokasi yang harus ia kunjungi.


"Aku tidak tahu kalau Mister Andreas akan sejenius itu," gumam Liza.


Saat membelah ball room, Liza mendengar seseorang meneriaki namanya. Ia tahu kalau itu Vero, tapi masa bodoh karena ia sedang menjalankan misi.


Saat sudah sampai di luar gedung kantor, Liza segera memasuki mobil miliknya dan menerjang jalanan dengan kecepatan di atas rata-rata, namun ia tetap taat pada peraturan di jalan raya.


...


"Sedang mengadakan pesta, Sir. Aku tidak bisa masuk sembarangan," ujar Liza pada walkie talkie miliknya yang memang tersambung pada Mister Andreas di kantor.


"Kau di tuntut untuk serba bisa, Nona Garcia. Tidak mungkin sekali aku mengajarkan mu bagaimana caranya menyusup dengan gaya elegan."


Cukup! Liza mengerti. Ia segera melemparkan walkie talkie nya ke kursi penumpang lalu melirik kembali jam tangan di pergelangan tangannya.


"Aku tidak percaya akan melakukan ini," Liza menghela nafas panjang lalu segera melajukan kembali mobilnya, mencari mall atau salon untuk merubah penampilannya.


...


Liza menatap pantulan dirinya. Rambut panjang berwarna nyaris hitamnya telah berganti warna menjadi benar-benar pirang dengan sedikit Curly di bagian bawah. Ia menatap bahunya yang sebelumnya ada luka sobek akibat kejadian penyergapan di pulau Pitcairn kemarin dan kini luka itu telah tertutup sempurna dengan concealer.


Kini ia berbalik untuk menatap punggungnya di balik kaca. Gaun berwarna merah darah sepanjang mata kaki yang dia kenakan benar-benar sempurna untuk tubuh jenjangnya. Tak apa punggung dan bahunya terekspos asalkan luka bakar di perutnya tertutup dengan apik.


Kini dia adalah si perfeksionis.


"Aku akan berdandan begini sesekali untuk menyambut Bryan," gumam Liza. Seperti gadis yang baru pertama mengenal cinta, Liza menutup wajahnya karena merasakan wajahnya memanas. Ia tentu membayangkan reaksi apa yang akan kekasihnya beri. "Bryan benar-benar kelemahan ku," gumam Liza lagi.


Setelah merasa cukup dengan imajinasinya, Liza segera keluar dari kamar ganti dan buru-buru membayar semua yang di kenakan olehnya pada administrator.


Sesudah duduk dengan nyaman di dalam mobil, Liza melirik kaca spion bagian tengah mobilnya. Bahkan make up-nya sudah sangat menutupi wajah liar khas miliknya saat di kantor.


"Let's go to be an angel of death." Liza menginjak pedal gas pada mobilnya untuk kembali ke pesta dansa tadi. Ia seperti menjelma menjadi Harley Quinn saat ini. Ia tidak peduli, jika memang benar Jeremy berkhianat padanya, ia tak akan segan-segan menyiapkan basoka untuk rekannya itu. Baginya, siapapun penghianat, maka darahnya akan halal untuk dikuras.


.


.

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2