
Chicago, Amerika Serikat.
Selasa, 11 November 2017 | 10.23 PM.
Liza menunduk melihat flat shoes yang ia kenakan. Sebelum pergi ke apartemen Bryan, ia sudah menyiapkan segalanya demi beralibi mengenai Washington. Dan flat shoes masuk kedalam list-nya.
Jika dipikir-pikir, selera berbohong nya cukup elit. Sepatu keluaran Prada itu tampak bagus di kakinya. Warnanya didominasi oleh hitam lalu kelap-kelip horizontal dari glitter menghiasinya, menambahkan kesan elegan dan glamour dalam satu waktu.
"Jadi untuk apa ke Washington? Kau itu sebatang kara, Liza. Jika alasan mu mengunjungi kerabat, sudah dipastikan kau berbohong."
Liza masih terus menunduk seolah flat shoes yang baru dibelinya lebih menarik dibanding wajah kekasihnya. Lagipula dia sudah sangat nyaman dengan sopa di bawahnya ketimbang menanggapi pertanyaan Bryan.
"Aku sedang berbicara denganmu, Honey."
Liza kalah. Oke, dia mengaku akan hal itu.
"Aku berbelanja, Bri. Kau tahu bukan di Washington terdapat banyak butik terkenal," ujarnya sambil mendongak; melihat Bryan lalu malah terkaget-kaget sendiri melihat penampilan Bryan.
Wajah Bryan benar-benar jantan sekali karena bulu-bulu di dagu, jambang, dan atas bibirnya mulai tumbuh, membingkai wajah tegas Bryan yang memiliki rahang kokoh. Lalu kaos polos ketat berwarna hitam membuat otot bisep dan abdomen eightpack kekasihnya timbul dengan seksi. Dan kini matanya ia bawa turun untuk melihat secara slow motion celana jeans yang dikenakan kekasihnya. Lagi-lagi hitam dan--lagi-lagi--seksi. Liza sampai harus mengigit bibir bawahnya. Tiba-tiba panas menjalar di kedua pipinya karena menemukan sesuatu yang menggembung di celana jeans yang Bryan kenakan--oh astaga, Liza benar-benar terlihat mesum saat ini. Intinya Bryan sangat seksi dan panas bagi Liza
"Jangan memandangku seperti itu. Kau seperti maniak."
Oh, Liza tertangkap basah.
Liza melihat dirinya sendiri yang hanya memakai jeans belel semata kaki dan kaos bertuliskan 'I ♥️ Washington' yang di rangkap dengan blazer berwarna hijau pudar. Seperti pengemis jika dibandingkan dengan Bryan yang serba keren.
"Dan lagi, berbelanja? Kau bukan wanita seperti itu. Jadi tak usah berbohong."
"Aku tidak, okay! Ayolah sayang, biar bagaimanapun aku ini wanita. Beberapa aksesoris dan kesehatan kulit sangat aku butuhkan," ujar Liza. "Seperti ini." Liza menunjuk flat shoes nya dengan mata. "Lalu ini." Kini menunjuk baju yang dikenakannya. "Ini." Liza menunjuk wajahnya sendiri. "Dan terakhir ini." Lalu ia menyentuh rambutnya blonde yangdan keriting di bagian bawah. Ia harus bersyukur pada misi khusus yang diberikan Mister Andreas karena jujur, ia merasa sedikit berbeda saat ini.
"Hanya itu sampai kau harus pergi ke Washington yang memakan waktu dua jam lebih perjalanan udara? Dan wajah mu tak ada perubahan sama sekali. Kau masih tetap kusam."
Liza terbelalak. Hey, apa-apaan itu? "Kau seperti orang tolol saat ini, Bri," desis Liza kesal.
"Itu fakta Nona Garcia."
Kau mengingatkanku pada Mister Andreas bodoh! jerit Liza dalam pikirannya.
__ADS_1
"Pemilihan katamu menyebalkan, Bri." Liza merengut kesal.
"Aku hanya mengatakan yang sejujurnya, apa yang salah?" Bryan menaikan bahunya acuh. "Lalu kau tidak membawa apapun lagi? Hanya yang menempel di tubuhmu saja?"
Liza memutar bola matanya. Ia tidak tahu sejak kapan Bryan mulai banyak bertanya mengenai sesuatu yang membuang-buang waktu.
"Aku memiliki apartemen sendiri, Sayang. Kau tidak lupa bukan?" ujar Liza.
"Jadi kau ke apartemen mu sebelumnya? Kenapa tidak taruh disini saja? Bukannya kau selalu menaruh barang-barang mu disini?" tanya Bryan retoris.
Liza bangkit lalu memeluk pinggang Bryan, menyandarkan kepalanya pada dada bidang kekasihnya. "Kenapa banyak sekali bertanya, hum? Daripada bertanya sesuatu yang membuang-buang waktu lebih baik kau gunakan bibirmu itu untuk mencium ku. Lebih berguna bukan?" tanya Liza seduktif sambil membuat pola-pola abstrak pada leher sampai tulang selangka pria itu.
Bryan membuang nafasnya. "Aku hanya khawatir. Bisakah hanya di Chicago saja? Lagipula Chicago tak kalah bagus dari Washington." Ia mengambil tangan nakal itu dan mengecup tepat di ujung jari tengahnya.
"Jadi masih terus ingin menodongkan pertanyaan padaku? Apa kau berpura-pura merindukanku tadi?" Liza mendongak.
"Tentu saja aku merindukanmu. Aku sudah satu hari di Chicago dan kau tak ada. Entah sudah berapa hari kau di Washington itu. Lalu aku juga bertanya kenapa kau malah menyimpan handphone mu di apartemen. Itu mencurigakan kau tahu. Seolah seperti kau yang sedang berkencan dengan pria lain dibelakang ku." Bryan menyambar bibir sang kekasih cepat untuk di cium lalu beralih pada dahi untuk di perlakukan dengan adil.
"Untuk apa aku berkencan dengan pria lain sedangkan aku memiliki pria tampan dan kekar di sisiku? Dan soal handphone itu, aku memang berencana untuk tak lama di Washington karena memang aku hanya berniat belanja. Jika aku membawa handphone, yang ada aku malah mencari destinasi disana dan melupakan pulang. Hanya itu," ujar Liza. Kini ia mulai melingkarkan tangannya pada leher Bryan. "Dan kau tahu, saat disana entah kenapa aku ingin sekali menjahili mu dengan menelepon. Sebenarnya aku tak berharap kau mengangkat karena kau kan memang tak pernah mengangkat telepon ku saat sedang bekerja. Tapi kau mengangkatnya dan sialannya kau malah melacak telepon umum itu." Liza terkekeh, memberi kesan agar Bryan percaya padanya. Padahal yang terjadi adalah, dia yang menelepon sang kekasih dengan memakai seragam nya karena terlalu rindu. Dan dengan ajaib Bryan mengangkatnya.
"Apa kau sedang menyindirku?" Bryan menunduk untuk meraih leher Liza yang tertutupi oleh rambut panjang sang kekasih. Ia rindu sekali membaui tubuh wanitanya.
"Jadi gadis ini meminta hukuman? How naughty you are." Bryan menyaku kedua tangannya di jeans yang ia kenakan. Lalu satu alisnya naik seolah menantang Liza
"Gadis?" Liza mendekat pada Bryan. Ia mengelus bisep kekar itu begitu lembut sambil melihat ekspresi Bryan. "Aku sudah lupa dengan julukan itu semenjak mengenal pria bringas sepertimu, Bri," bisiknya tepat ditelinga Bryan. Tangan dengan jari lentiknya ia bawa melingkari tengkuk Bryan. Lalu ia melompat kecil agar bisa berada di gendongan Bryan.
Bryan tersenyum. Refleksnya sangat bagus sehingga Liza dengan nyaman berada di gendongan nya.
Dahi bertemu dahi.
Mata saling menatap.
Nafas beradu dengan tak teratur; saling berebut oksigen seolah mereka baru saja lari berkilo-kilo meter. Deru nafas itu padahal hanya letupan jantung mereka karena sesuatu yang tak asing telah memicunya. Semua itu karena cinta. Ya, cinta. Klasik sekali.
Diantara keheningan, mereka hanya mengagumi paras masing-masing. Diantara keheningan, mereka menyerukan beribu kata rindu yang terbelenggu selama beberapa hari tak bersama. Selama beberapa hari itu juga mereka menjalani perjalanan yang panjang.
"Aku merindukanmu hingga rasanya begitu sesak."
__ADS_1
Suara pertama diantara keheningan akhirnya diserukan oleh Bryan. Ia menunduk, menyandarkan dahinya pada pundak Liza. Dan tepat saat itu pula keadaan menjadi lebih sesak, entah himpitan darimana.
"Kenapa begitu sulit..."
Liza tidak bisa mengategorikan perkataan Bryan sebagai pertanyaan atau sebuah ungkapan. Suara lirih itu terdengar begitu berat, tidak secara harfiah.
"Kenapa aku tak pernah mencoba untuk menyerah? Kenapa aku begitu penakut? Apakah aku seorang pengecut?"
Selagi Bryan terus berbicara, Liza sendiri hanya bisa diam sambil mengelus kepala bagian belakang Bryan dengan lembut, menyalurkan perasaan yang menenangkan pada sang kekasih.
"Aku tak mau menjadi egois, tapi aku begitu takut kehilanganmu. Aku tak mau melepas mu. Itu membuatku sangat takut. Ku mohon hanya tetap bersamaku."
Liza mengangguk. Ia merasakan bahunya basah. Liza tak tahu sejak kapan kekasihnya itu menangis. Tak ada isakan hanya air mata saja.
Liza mendorong pelan bahu kekar sang kekasih hingga ia bisa melihat wajah basah itu."Kenapa menangis? Apa hari-hari mu begitu berat saat bekerja? Ada apa? Bisa kau beri sedikit padaku tentang apapun itu? Menyaksikan kau menangis dengan aku yang hanya terdiam begini membuatku merasa tak berguna sebagai kekasihmu."
Bryan menggeleng lalu mencium kening Liza. "Tidak perlu. Hanya tetaplah ada untukku."
Liza benar-benar ingin menangis sekarang. Ia ingin marah. Ia merasa tak berguna. Ia tak bisa mengetahui apapun tentang keresahan sang kekasih. Apakah ada yang lebih buruk dari itu?
Merasa tak tahan dengan semua pemikirannya, Liza memilih mencium bibir Bryan dengan lembut. Ada air mata disela ciuman penuh sesak itu. Ada luka yang entah sampai kapan membaik. Liza hanya bisa memberi ketenangan tanpa solusi.
Ciuman terlepas. Mata mereka sama-sama memerah dengan mulut terbuka meraih oksigen yang seolah menjauh.
"Hanya tetap ada untukmu? Tentu saja aku bisa melakukannya. Itu hal mudah untukku. Tapi aku pun meminta satu, mau tahu apa?" tanya Liza, Bryan mengangguk. "Aku adalah rumah untukmu. Tak masalah menutupi apapun dariku, tapi selalu pulanglah pada 'rumahmu' dalam keadaan apapun. Kau paham?"
Bryan mengangguk; menyetujui. Mereka tersenyum bersama lalu mulai kembali menempelkan belah bibir mereka. Tanpa Bryan tahu, Liza sedang menahan mati-matian air matanya agar tak terjatuh lagi dan menghancurkan suasana yang sudah kembali diliputi oleh cinta.
Ia tak bisa membohongi hatinya yang sakit. Ini bukan tentang kesetiaan yang dikhianati. Bukan janji yang diingkari. Ini hanya tentang perasaannya sebagai kekasih yang tak berguna.
Ia juga sangat tahu kalau dirinya adalah sebuah masalah besar bagi Bryan, tapi tak tahu dalam konteks apa sebenarnya. Semua abu-abu untuknya. Hubungannya terasa dingin. Kepercayaan bukan pondasi dalam hubungan mereka. Liza sendiri tak tahu akan kemana arah hubungannya berlabuh.
.
.
.
__ADS_1
To be continued