The Blind Eternity

The Blind Eternity
12. Frustrated


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan tengah malam, tapi Bryan bahkan belum menunjukkan batang hidungnya barang sesenti.


Sebenarnya Liza tak mau berburuk sangka mengenai Bryan, tapi perasaan khawatir tetap ada. Saat di basemen tadi, Liza juga benar-benar melihat siluet wanita berada di mobil Bryan. Bryan sampai mengunci Liza karena wanita itu, siapa yang tidak curiga? Ditambah Bryan tidak mengatakan apapun.


Liza lelah sebenarnya. Kemarin malam adalah kepulangannya dari Washington, tapi ia malah harus menjelaskan sesuatu dengan Bryan dan mereka masih harus saling melepas rindu. Liza hanya ingin menghabiskan waktu selagi dia masih bisa seminggu bersama Bryan tapi Bryan malah membuatnya tenggelam dengan rasa kesal.


Ingin menelepon pun percuma karena Bryan tak membawa handphone bersamanya.


Pintu yang memang sebelumnya sudah rusak, menampilkan wajah Bryan yang terkaget-kaget. Lalu saat matanya menemukan Liza tengah duduk di sofa, Bryan langsung memeluk Liza seperti orang kesetanan.


"Maafkan aku." Hanya itu suara yang keluar dari tenggorokan Bryan membuat Liza menjadi luluh seketika.


Ada apa lagi dengan kekasihnya.


"Apa kali ini?" Nada suara Liza menjadi dingin, dia juga sudah kesal jika harus selalu lemah lembut didepan Bryan. "Kenapa mengunci pintu kamar? Kenapa juga langsung mengganti password apartemen? Apa sebegitu takutnya ketahuan berselingkuh?'


"Selingkuh?" Bryan melepas pelukannya dan menatap dalam iris mata Liza yang berwarna coklat jika terkena sinar.


"Ya. Tif, Tiffany. Selingkuhan mu, benar?"


"Kenapa kau mengambil kesimpulan seperti itu? Tiffany memang benar wanita, tapi dia bukan selingkuhan atau siapapun itu. Dia hanya partner saja," ujar Bryan.


Liza melengos lalu pergi begitu saja ke kamar Bryan. Ia mengambil ponselnya lalu memilih pergi dari apartemen Bryan. Pikirannya sedang tidak karuan saat ini, dan Liza sedang tak dalam mood yang baik untuk menyanggah Bryan.


Saat sudah di lantai bawah, Bryan menahan Liza dengan mencengkeram erat pergelangan tangannya. Bryan lalu memeluk Liza tepat di lobi apartemen. Mereka hanya membutuhkan sebuah pelukan. Ya berpelukan lalu menjelaskan sesuatu agar sama-sama mengerti.


...


"Kenapa harus wanita?" Liza bertanya tenang saat mereka sudah kembali pada apartemen Bryan. Posisi keduanya berada di kamar kedua dimana hanya itu satu-satunya pintu yang masih utuh


"Aku tak tahu, oke. Atasan ku yang menyuruhnya."


Bryan mendekat pada Liza yang sedari tadi masih bertopang kaki di sofa. Tatapannya datar membuat Bryan sedikit canggung. Ia tahu Liza sangat marah mengingat Bryan malah mengunci kamar dan langsung mengganti password apartemen.


"Tak bertemu beberapa hari denganku, membuatmu pandai berbohong? Sangat mengesankan," tutur Liza tenang membuat Bryan semakin ketar-ketir.


"Maafkan aku." Bryan memeluk Liza. Tak ada jalan lain kecuali meminta maaf. Menjelaskan lagi dengan kebohongan? Terima kasih, Bryan tak berminat.


"Tak ada yang perlu dimaafkan, aku butuh penjelasan."


"Dia hanya partner ku, Sayang."


"Partner sex," tutur Liza mencemooh.


"Ada apa denganmu? Kau berlebihan, Liz."


Liza mendengus. Dimana letak berlebihannya? Liza hanya ingin Bryan jujur mengenai Tiffany. Cukup sudah ia merasa berat dengan Bryan yang selalu menutupi apapun darinya.


"Berlebihan? Sebenarnya ini hal sepele andai kau jujur padaku! Aku tak tahu kita akan bertengkar karena hal sepele seperti ini mengingat sudah begitu banyak masalah besar yang kita lewati." Liza menghela nafas panjang. Bola matanya mulai panas karena rasa perih dari rongga dadanya merangkak naik dengan cara yang begitu menyesakkan. "Baiklah kalau menurutmu aku berlebihan, lakukan apapun yang kau inginkan, aku tak melarang. Maaf membuatmu selalu pusing dengan masalah kecil seperti ini. Aku akan pergi dan ku mohon jangan lagi menahan ku untuk saat ini. Aku butuh waktu sendirian. Maaf." Liza mengecup bibir Bryan lalu kembali keluar meninggalkan Bryan yang masih tertohok dengan perkataannya

__ADS_1


Nyatanya Liza tak mendapat penjelasan apapun. Ia hanya mendapati kebohongan dari Bryan. Pelukan di lobi tadi benar-benar tak berbekas.


"Brengsek!" Seperti orang gila, Liza menangis keras saat sudah berjalan dipinggir trotoar. Pikirannya kalut karena membayangkan kekasihnya ternyata selalu berdekatan dengan wanita. Ia merasa buruk karena bukan dia yang berada di sisi Bryan saat bekerja melainkan wanita lain.


Liza cukup sadar kalau pekerjaan Bryan pasti lebih dari sekedar pergi di pagi buta, menarikan jari di atas keyboard, mendapat gaji, lembur atau hal-hal monoton pekerja kantor lainnya. Bryan lebih dari itu. Mungkin seperti dirinya dan Veronica atau bahkan lebih.


Atau Bryan dan Tiffany yang menjalin hubungan layaknya sepasang kekasih dan Bryan membagi waktu agar adil di kedua pihak, mungkin? Jika benar, Bryan benar-benar pria brengsek.


Dalam dinginnya malam hari di Chicago membuat suasana hatinya semakin tak karuan, terlebih pakaian yang ia pakai kini tidak atau bahkan sama sekali tidak membantu dalam menghangatkan jiwanya. Liza hanya menggunakan setelan kemeja putih yang memamerkan lekuk tubuhnya beserta jeans belel, membuat angin malam berhasil menusuknya sampai ke tulang.


Kekalutan hatinya belum juga reda maka dari itu, Liza memilih menepi ke klub malam tempat ia dan Bryan bertemu pertama kali.


Hawa panas langsung memeluk Liza saat sudah memasuki klub tersebut, tapi tetap menyisakan rongga dingin yang menetap di sisi paling dalam hatinya. Matanya berkeliaran untuk menjabarkan satu persatu perubahan dari klub yang sudah jarang ia kunjungi.


Dahulu ada bar didepan sana. Saat seseorang baru masuk, pasti langsung di hadapkan dengan bar itu, tapi sekarang tata letaknya diubah menjadi ke sebelah kanan. Dan beberapa perubahan di lantai tari juga terlihat cukup mencolok. Lantai itu menjadi lebih besar dari sebelumnya, dan itu bagus untuk menggarap keuntungan klub yang awalnya hanya berukuran sehektar. Sekarang pun sepertinya sudah ada lantai dua, tapi Liza sendiri tak tahu apa kegunaannya.


"Berikan aku red wine," pinta Liza pada bertender.


Sang bertender yang masih Liza kenal bernama Keller itu mengangguk lalu langsung menuangkan minuman berwarna merah dengan sedikit gelembung-gelembung kecil yang bermunculan pada permukaannya; terlihat menggoda, membuat air liur Liza seakan menjadi seberat beton untuk di teguk.


Namun penciuman Liza menangkap sesuatu yang tak asing. Hanya sebuah wewangian dari parfum sebenarnya. Namun parfum ini, Liza sangat mengenalinya—lebih tepatnya, ia mengenali si pemiliknya.


Jika Liza tak salah, wangi ini milik kekasihnya. Apa Bryan benar-benar menjemputnya ke bar ini? Oh itu pasti sangat manis sekali.


"Hanya wine? Kau sedang menjaga kandungan mu?"


Tapi suara berat si makhluk pria tanpa nama itu menghancurkan ekspektasinya.


"Aku hanya bertanya. Bagian mana yang menurut mu lancang?" tanyanya lagi.


"Aku tahu kau ingin meledekku karena hanya meminum wine disaat semua orang sibuk mabuk dengan alkohol kadar tinggi. Aku tahu itu, maka jangan banyak bertanya, sialan." Liza segera membayar minumannya lalu bergegas pergi dari sana. Ia sangat muak sekali dengan pria itu, sungguh.


Pria itu tertawa sambil mengepalkan tangannya didepan mulut; seolah pernyataan Liza membuat perutnya tergelitik. Tawa, bahkan suaranya dapat Liza dengar seolah pria itu tepat dibelakangnya. "Nona, siapa namamu?"


Benar saja, pria itu mengikuti Liza dan tahunya saat sudah diluar klub pun Liza tetap diikuti oleh pria yang ternyata berbadan jenjang tadi. Bahkan tubuhnya lebih tinggi dari Bryan dan mungkin lebih berotot, tapi Liza sama sekali tak tertarik. Baginya, Bryan tetap yang terbaik.


"Jangan mengikuti ku," ujar Liza sambil mulai berlari kecil untuk menghindar pria tadi.


"Namaku Ashton, lalu siapa namamu, Nona?"


Liza langsung menghentikan langkah seribunya. Ia mencoba mengingat sesuatu. Ashton? Sepertinya tak asing dengan nama itu, tapi dimana? Kenapa nama itu selalu terngiang di telinganya? Kenapa ia seakan tak asing dengan nama itu.


"Ashton?" Liza bergumam sambil terus menggali sesuatu dibalik ingatannya mengenai Ashton dan segala sesuatunya.


"Ada apa?"


Liza sampai mundur saat pria itu sudah sangat dekat dengannya. Pria itu bahkan menunduk untuk menatap wajah Liza.


"Kau tidak asing dengan nama Ashton? Ashton itu tersebar luas di Amerika ini, Nona. Jangan memikirkan hal yang berat, berbahaya bagi kandungan mu," ujar Ashton yang dengan lancang mengelusi perut Liza menggunakan tangan kanan.

__ADS_1


"Perhatikan tanganmu, Brengsek!" Liza mencekal tangan itu, memutarnya sampai bunyi 'krek' terdengar ditelinga. Masa bodoh dengan pergelangan tangan Ashton yang mungkin saja patah.


"Sudah ku bilang jangan menyentuhnya."


Dan lihatlah saat ini, siapa yang tengah berdiri di bawah lampu malam hari dengan gagah dan begitu kokoh. Kekasihnya datang. And God for the sake, Liza jadi mengumpat dengan cara yang begitu erotis seperti; setubuhi aku, please! Memalukan.


Liza merasa seperti sedang berada di film action romance saat ini, dimana ia menjadi pemeran utama yang sedang diperebutkan oleh dua laki-laki gagah. Ia berharap salah satu dari mereka membawa pistol, lalu saling menikam dan salah satu ada yang tertembak—tentunya bukan sang kekasih.


Tewas dan... tamat.


Itu pasti luar biasa—oh tidak! Sangat luar biasa.


Tapi tunggu, kenapa Bryan seolah mengenal Ashton? Bukankah mereka baru bertemu?


"Lebih baik kau pergi sebelum aku berubah pikiran," perkataan Bryan merujuk pada Ashton yang sedang memutar pergelangan tangannya berlawanan arah dari yang Liza lakukan tadi. Ashton lalu menyaku kedua tangannya dikantong jeans yang ia kenakan seolah tak merasakan sakit sama sekali.


"Baiklah, baiklah, tidak perlu membuatku takut, Tuan Chaiden," ujar Ashton lalu pergi begitu saja melewati Bryan sambil dengan sengaja menubruk bahu Bryan.


Liza membuang nafas kecewa. Padahal ia sangat ingin ada baku hantam atau mungkin saling tembak malam ini, tapi Bryan dengan segala kontrol emosinya menggagalkan semuanya.


"Terima kasih." Liza segera pergi. Ia malas jika harus berbasa-basi lagi dengan kekasihnya itu.


"Maafkan aku, lain kali aku tak akan berbohong lagi. Ku mohon, tetap lah bersamaku, tetaplah berada di sisiku." Bryan berlutut sambil menunduk seolah melupakan kalau ia begitu jantan beberapa detik yang lalu.


Liza terdiam sambil tetap memunggungi Bryan. Rasa-rasanya ia sudah tidak marah lagi dengan kekasihnya itu, ia hanya ingin menghukum Bryan saja.


"Sayang, ku mohon."


Liza cekikikan. Bryan benar-benar mendedikasikan diri menjadi budak cintanya. Sebenarnya malah Liza yang menyangka kalau dirinya lah yang terlalu mencinta Bryan, tapi sekarang ia tahu kalau Bryan juga sangat mencintainya.


"Berdiri, Mister Fancy Pants. Oh, kau sangat memalukan saat ini, seharusnya kau lihat dirimu sendiri. Aku tidak tahu kalau ternyata aku memiliki kekasih yang mudah frustasi seperti ini dan sedikit mellow, haruskah aku mencari yang lebih gentle saja?"


Bryan mendengus lalu tertawa setelahnya. Ia berdiri lalu mempercepat langkahnya untuk memeluk Liza. Hangat kembali melingkupi hati karena Liza yang sudah kembali ke sisinya.


"Aku mencintaimu, sungguh. Jangan tinggalkan aku apapun yang terjadi. Kau tahu aku takkan pernah memiliki yang lain selain dirimu. Ku mohon jangan pernah meragukan kesetiaan ku lagi, paham?"


Liza mengangguk antusias lalu membiarkan tubuhnya dibawa dalam gendongan Bryan.


Tapi Liza sepertinya melupakan sesuatu.


"Kau mengenal pria tadi di mana? Sepertinya kalian sudah lama saling mengenal? Kali ini aku ingin jawaban jujur darimu, Bri."


"Kita bicarakan di apartemen mu," tutur Bryan tenang.


.


.


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2