
Sekitar lima jet bertulis 'S.W.A.T' besar-besar di bagian bawahnya tengah terbang diatas gedung markas besar SWAT, sedangkan salah satunya berada di bawah untuk Liza dan Jerry masuki. Jet itu telah berisi pilot dan co-pilot dibalik kemudi. Sedangkan Liza di jarak sekitar 10 meter dari pesawat yang sedang terparkir, memperhatikan jet itu dengan perasaan campur aduk.
"Apa yang kau pikirkan? Cepatlah masuk ke dalam, Nona Smith."
Liza menoleh pada suara itu. Siapa lagi jika bukan si tukang perintah selain Mister Andreas.
"Sebentar lagi," ujar Liza. Ia memejamkan mata sejenak. Di otaknya berkecamuk kondisi dimana ia akan bertemu Bryan, apa yang harus ia lakukan saat berhadapan dengan kekasihnya itu. Walaupun Mister Andreas mengatakan tak apa untuk tidak membunuhnya, tapi tetap saja berat bagi Liza. Ternyata ini adalah rahasia yang kekasihnya tutupi, benar-benar membuat Liza kecewa setengah mati.
"Nona Smith," panggil Jerry dari dalam helikopter. "Cepatlah. Waktu kita tak banyak." Jerry mengulurkan tangannya pada Liza.
Liza membuang nafas. Perasaan mengganjal tetap mencokol dihatinya. Tapi mau bagaimana lagi? Jadi ia memilih menggapai uluran tangan itu lalu ikut naik kedalam helikopter dibantu dengan Jerry.
"Ini menyebalkan," ujar Liza sambil mulai duduk pada kursi yang disediakan dimana ada beberapa sabuk pada kursi itu untuk menahan apapun yang terjadi saat helikopter mulai beroperasi di udara. Liza berpikir, kenapa harus helikopter yang sama dengan yang kemarin menjemputnya saat di apartemen. Hari ini sungguh mengesalkan untuknya.
"Pasang sabuk pengaman dengan benar, Nona Garcia," tutur Jerry sambil memasang sabuk sabuk tadi pada Liza sampai tiga kali bunyi 'klik' menyadarkan si empu.
"Wajahmu terlalu dekat, bajingan," gumam Liza muak.
"Ow maaf, aku tak tahu."
Liza mendecih geli. Bisa-bisanya keadaan seperti ini dimanfaatkan oleh pria bajingan seperti Jerry. Ingin sekali meninju wajah tadi sebenarnya. Tapi sudahlah, tak ada gunanya juga.
"Apakah kau memikirkan kekasihmu?"
Dan tiba-tiba saja suara Jerry sudah berada di sampingnya. Begitu dekat sampai rasanya membuat darah Liza berdesir sampai ke ubun-ubun.
Pertanyaan itu terdengar tulus dan sedikit membuat ia menerawang jauh.
Tak mendapat balasan apapun membuat Jerry kembali bersuara, "Kau kekasih yang baik rupanya. Tapi apa kau pernah berfikir kenapa pria mu itu tega berbohong hanya untuk menutupi jati dirinya?"
Sudah, Liza sudah sering bertanya tentang hal itu akhir-akhir ini, atau lebih tepatnya saat dia tahu kebenarannya.
"Entahlah. Dia hanya selalu berkata untuk selalu percaya padanya maka semua akan baik-baik saja. Aku tahu kata-kata itu merujuk pada hubungan kami. Tapi tentang kebohongan ini, aku benar-benar tak terlintas sedikitpun pemikiran jika ternyata Bryan adalah musuhku sendiri. Ironis sekali, bukan? Namun yang lebih anehnya, aku tak bisa marah atau menyimpan dendam apapun padanya-pada kekasihku. Sedikit kecewa mungkin, tapi untuk saat ini aku merasa sangat merindukannya."
Hawa sesak menyelinap masuk memenuhi relung hatinya. Semua perkataannya adalah kejujuran. Ia hanya terlalu dalam menanamkan perkataan Bryan tentang 'kepercayaan' yang selalu menjadi bahasan saat mereka bersama, sehingga ekspektasinya selalu positif. Namun, berbanding terbalik dengan perasaannya.
"Begitu ya? Semoga harapanmu menjadi nyata."
__ADS_1
Ada nada sedih yang terlontar dari kalimat yang baru saja pria itu sampaikan sehingga membuat Liza sedikit mengiba. Ia menoleh dan mendapati rekan misinya tengah menatap lurus ke depan dengan senjata laras panjang Karabin M4 di kedua tangannya yang sama dengan miliknya dan beberapa tim yang lain.
Liza berdehem lalu ikut menatap lurus ke depan. "Benar, semoga harapanku menjadi nyata."
🍁
"Kenapa kau bisa ikut bersama kami?! Apa kau gila?!"
Ia sungguh kesal. Sangat kesal. Bagaimana bisa orang yang sangat tidak berpotensi ikut dalam penyergapan bersamanya.
"Ini perintah dari Mister Andreas, Nona Garcia."
"Kau akan menjadi beban jika bersama kami, Keenan. Paham tidak maksudku? Kau pikir kami sedang bermain-main dengan senapan air milik bocah berusia sepuluh tahun, hah?! Jawab keparat! Kenapa kau bodoh sekali?!"
Liza mendekat. Ingin sekali ia menjambak ketua divisi IT itu, oh tuhan. Tapi sayang, Jerry telah lebih dulu menariknya untuk kembali masuk kedalam helikopter. Ia ingin menjauhkan 'singa betina' agar tak menghancurkan gendang telinga siapapun dengan aumannya.
"Dengar, Tuan Theodore memiliki peran khusus disini. Dia bisa melacak para bajingan itu," ujar Jerry tenang berusaha mengantarkan Liza agar lebih santai dalam bersikap.
Tapi sepertinya tidak berhasil.
"Tidak perlu! Seluruh pasukan disini sudah tahu letak para keparat itu. Keenan harus kembali ke markas." Liza memberontak keras. Tapi biar bagaimanapun ia hanya wanita tentunya kekuatannya tidak sebanding dengan Jerry.
"Sial! Berhenti jadi sok tahu! Perasaan ku tidak enak, sialan! Oh God, kenapa aku harus memiliki rekan idiot sepertimu? Kembalilah sana! Aku tak butuh kehadiran mu. Kembali bersama Keenan!" ujarnya mendarah daging. Liza ingin seseorang tahu bahwa ia tak mau lagi melihat rekan-rekannya mati dalam tugas. Tidak lagi. Ia begitu trauma, sungguh.
"Bagaimana jika aku yang mengirim mu kembali ke markas? Asal kau tahu, pangkat ku lebih tinggi darimu saat ini, Nona Garcia. Dan aku akan membawa mayat kekasihmu saat aku kembali nanti, aku berjanji akan hal itu," ujar Jerry mengancam. Sejujurnya ia tak mau membeberkan perihal ini, tapi sungguh keadaannya mendesak.
"You son of motherfucker!"
Bugh! Satu pukulan mengenai rahang tegasnya. Tidak apa, itu tidak menyakitkan. Setidaknya dengan begitu, Jerry tahu kalau Liza telah kalah.
"Bagus. Mari lanjutkan perjalanan." Jerry menarik tangan Liza. Ia mengabaikan tatapan membunuh yang Liza beri untuknya.
Saat sudah kembali pada tim, Liza menatap nyalang pada Keenan. Ia sungguh takut ada hal buruk yang terjadi pada temannya itu. Keenan itu berbeda dari yang lain. Ia adalah ketua divisi IT, jadi latihan mereka tak sama. Keenan memang mudah melakukan apapun, tapi hanya melalui ruas jarinya. Sedangkan Liza dan seluruh pasukan yang hadir tentu menguasai pertahanan diri tingkat tinggi. Sungguh, Liza tak mau nyawa temannya terancam.
🍁
Hari sudah mulai gelap, seluruh tim yang hadir telah menggunakan AN/AVS-6 untuk memudahkan penglihatan di malam hari. Beberapa dari mereka ada yang sudah tertidur pada jok belakang Jeep. Teknik tidur yang hanya menggunakan 10 detik untuk pulas memudahkan mereka untuk langsung melemaskan otot untuk penyergapan nanti.
__ADS_1
"Berapa lama lagi perjalanan menuju markas itu?" Jerry membuka suara. Ia bertanya pada Keenan yang berada di tengah-tengah dua orang yang sedang tertidur.
Keenan melarikan matanya pada laptop yang berada di pangkuannya. "Sekitar dua sampai tiga jam lebih. Letak rumah produksi itu berada di radius lima kilometer pemukiman penduduk sekitar. Kalian harus berha-"
"Kami sudah tahu. Pikirkan dirimu sendiri, bodoh." Liza memotong perkataan itu diikuti dengan decakan lidah.
"Berhentilah terlalu khawatir, Liz. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Kau melakukan seolah aku hanya bisa terdiam sambil menarikan jari di atas keyboard."
Liza yang berada di kursi penumpang depan disebelah Jerry, menatap sinis Keenan dari spion tengah mobil. "Itu memang pekerjaan mu. Memang kau bisa apa? Aku masih mengingat saat peluru mu meleset waktu latihan beberapa tahun yang lalu. Mister Andreas memang bodoh karena menyuruhmu ikut. Hah~ aku jadi semakin kesal saja."
"Kau ini terlalu menganggap ku remeh, Liz," ujar Keenan sambil memutar bola matanya kesal.
"Siapa yang menyuruhmu ikut? Sebaiknya pulang sana kalau kau kesal dengan sikapku."
Jerry membuang nafas dengan keras. Mau sampai kapan mereka akan terus berdebat? Bahkan Keenan tak mau mengalah sama sekali. Maklum, memang dimana pria yang mau mengalah dengan wanita?
"Guys, sebaiknya kalian berhenti berdebat. Suara kalian membuatku pusing. Tolong mengerti keadaanku yang tengah menyetir ini. Kalian benar-benar membuat konsentrasi ku hancur," ujar Jerry frustasi. Ia bahkan melepas helm khusus anggota SWAT yang dikenakannya.
"Kau berlebihan. Kenapa tidak kau tabrakan saja mobil ini lalu masalah selesai," ujar Liza sarkas.
"Dan suara mu adalah yang paling buruk dibanding sambaran guntur di luar." Keenan menimpali.
"Sebaiknya kau keluar dari mobil dan berteman dengan hewan yang sejenis denga mu seperti katak, cacing tanah atau ulat daun." Liza mencemooh Keenan.
Oke, sepertinya perdebatan akan kembali di mulai.
Dan Jerry menekan persneling mobil dan menginjak pedal gas untuk menjemput kematian yang sepertinya sudah sangat dekat. Karena itu adalah smcara satu-satunya menghemat waktu dan mengamankan kepalanya yang sedari ysdi berdenyut. "PEGANGAN KAWAN! AKU AKAN PERGI KE NERAKA UNTUK MENGANTAR KALIAN BERDUA."
Mendengar pekikan itu membuat lima agen yang sedang tertidur di dalam mobil kalap dan terbangun seketika. Sedangkan Liza mencengkram kuat pegangan yang berada di mobil dan Keenan memeluk laptopnya untuk diamankan seolah benda itu sangat berharga.
Sepertinya rencana Jerry berhasil. Suasana hening karena hanya ada bunyi deru mobil yang masuk kedalam pendengaran dan tawa setan miliknya.
.
.
.
__ADS_1
To be continued.