The Blind Eternity

The Blind Eternity
14. Kembali


__ADS_3

254;


Segera naik ke rooftop. Tuan Wilson dan pasukannya menunggumu.


Hanya dengan sederet pesan dari Keenan, Liza berlarian keluar kamar menuju lift untuk segera menuju lantai teratas gedung.


"Siapa Wilson? Sialan!" Bibirnya terus mengumpat sedangkan kakinya tak berhenti untuk lari menuju atap gedung karena lift hanya bisa sampai lantai terakhir.


Saat hampir menggapai kenop pintu, Liza mendengar suara hembusan kencang angin yang berasal dari sabetan baling-baling helikopter di udara.


"Ada apa ini?" gumam Liza pada dirinya sendiri. Jujur ia jadi merasa bahwa helikopter itu pertanda buruk baginya. Bagaimana jika dia harus kembali ke Washington? Lalu bagaimana dengan Bryan? Apakah setelah ini dia harus jujur pada kekasihnya? Sial! Liza jadi mual memikirkannya. Seandainya tidak semendadak ini, tentu ia akan mencari alasan atau setidaknya memberitahu Bryan secara pelan-pelan agar pria itu memaklumi.


Dan benar saja. Sekitar dua puluh orang berseragam FBI dan SWAT sudah berbaris rapih di sana dengan satu helikopter yang masih terbang di atas langit malam kota Chicago.


"Selamat malam, Nona Smith." Salah satu pria berseragam FBI mendekatinya lalu membuka penutup kepalanya sehingga rambut sehitam arangnya terbawa angin. Liza mengenal pria itu, dia adalah Jerry; salah satu orang kepercayaan Mister Andreas setelah dirinya sendiri. "Maaf mengganggu. Saya kesini atas perintah Mister Andreas. Mister Andreas memerintahkan untuk segera menjemputmu. Ada hal penting yang ingin Mister Andreas beritahukan." Jerry memberi walkie talkie pada Liza.


Mister Andreas adalah keparat si pembual ulung. Seandainya Liza tahu ia akan di bohongi seperti ini, ia akan berteriak dipertemuan terakhir mereka di tiga hari yang lalu.


"Ya, agen Smith disini," ujarnya dingin. Ia tahu sekali siapa orang yang berada di balik walkie talkie itu.


"Ku perintahkan kau untuk kembali ke markas. Jika kau melawan aku akan menyuruh awak helikopter untuk melempar granat pada lantai tiga puluh di kamar nomor seribu dua."


Mister Andreas memang paham sekali tentang ancam-mengancam. Sebenarnya tak masalah kamar miliknya hancur karena ledakan, tapi ada seseorang yang amat dicintainya didalam sana, tak mungkin Liza tega. Tapi Mister Andreas sangat keterlaluan, sesekali Liza harus membantahnya.


"Ini namanya pemaksaan. Agen pemerintah mana yang menghancurkan tempat umum? Kau tak memikirkan lansia dan anak-anak?" tutur Liza berusaha tenang.


"Hey ayolah, granat itu hanya bisa menghancurkan satu kamar saja. Lagipula aku sudah memberitahu pada pemilik gedung untuk memberi izin karena kami bersedia mengganti lima kali lipat harga satu unit apartemen."


"Bajingan!" umpat Liza mendarah daging lalu membanting walkie talkie itu. Tiba-tiba lehernya terasa sangat kaku untuk di gerakan. Sumpah demi apapun, ia ingin sekali menghajar Mister Andreas.


Merasa sangat kesal, Liza jadi ingin menangis. Biar bagaimana pun, Liza tetaplah wanita yang jika terlalu emosi membuatnya seakan didesak untuk menangis. Tapi ia mencoba menahannya lalu memilih mendongak dimana helikopter sudah tidak berada di tempatnya.


"Waktu mu tinggal satu jam lagi, Nona Smith," ujar Jerry mengingatkan.


Bugh!


Satu pukulan mengenai wajah tegas Jerry bagian kiri membuat pria itu menoleh kesamping kanan, tapi secepat kilat kembali pada posisi semula dengan tatapan yang lebih datar dari sebelumnya.


"Kau pantas mendapat gelar anjing yang menjilat kaki majikannya." Setelah itu Liza berlari untuk menuju unitnya. Ia bertekad untuk memberitahu Bryan mengenai jati dirinya.


...


Dear My Silly.


Saat aku terbangun tadi, aku tak melihatmu, Sayang. Kau kemana? Sebenarnya itu tak penting, mungkin kau sedang keluar untuk mencari makan jadi aku tak masalah.

__ADS_1


Aku hanya ingin mengatakan kalau aku harus pergi. Maaf tak ada perpisahan manis untuk saat ini.


Aku mencintaimu, Sayang, tetaplah percaya pada kata-kata itu. Aku rasa kita tidak akan bertemu dalam waktu dekat. Tidak seminggu, sebulan atau bahkan empat bulan, maaf untuk hal itu. Tapi tetaplah berdoa agar kita bisa saling menatap lagi walau hanya satu kali.


Bryan Chaiden untuk Revaliza Alleira<3


"Sial, Bryan! Aku membencimu!" Himpitan yang sedari tadi ditahannya seolah lsnyap setelah menemukan surat itu tergeletak di meja riasnya. Liza tak kuasa lagi menahan beban tubuhnya sendiri. Ia bersimpuh sambil meremas rambutnya dengan derai air mata yang terus mengucur dari mata almond nya. Giginya mengerat seiring hancur perasaannya.


"Bryan..." lirihnya lemah. Ia bangkit untuk meraih jaket pria itu untuk ia baui di ranjang.


Bryan akan kemana? Kenapa pria itu tak bisa menemuinya untuk waktu yang lama? Liza lelah jika harus berspekulasi mengenai Bryan.


Ia menangis sambil menepuk keras-keras dada kirinya. Rasanya teramat sesak, sungguh.


"Bahkan kau tak sempat menciumku! Aku tak butuh surat itu! Aku membutuhkan kau yang berkata langsung padaku, sialan!"


Fragmen mengenai Bryan yang mengatakan mereka yang tak akan bertemu lagi yang membuat Liza dilanda pening hebat dengan himpitan di rongga dadanya.


"BRYAN!" Seperti seorang pesakitan, Liza berteriak. Ia lelah sekali dengan yang terjadi hari ini. Begitu banyak yang mengganggu pikiran hingga air matanya tak kuasa terbendung.


Mungkin itu semua karma untuk Liza. Seharusnya dia yang pergi bukan Bryan. Seharusnya ia yang mengucapkan salam perpisahan melalui selembar kertas. Tidak tahu ternyata semenyakitkan itu.


Air mata tak berhenti mengalir, pusing terus menggerogoti tempurung kepala, tremor disekujur tubuh tak berhenti hingga kesadarannya berada diambang batas.


Menggumam nama Bryan lalu hilanglah semua rasa sakit tanpa luka itu dari tubuhnya, menyisakan sesak pada hati yang sepertinya tak akan hilang entah sampai kapan.


...


"Maaf, aku terpaksa membawa paksa kau kesini."


Saat mendengar suara itu, kesadaran Liza langsung terkumpul. Matanya langsung ia hujamkan pada pria yang saat ini begitu ia benci.


"Maaf? Tidak perlu, Sir," tutur Liza sarkas lalu mulai bangkit dari posisi rebahnya. Liza sangat tahu ruangan ini; unit kamar khusus miliknya di markas.


"Baiklah kalau begitu. Apakah saat ini kau sudah merasa tenang?"


Tidak sebelum memberi satu tembakan pada kepalamu, itu yang ingin Liza beritahukan sebenarnya.


"Kau bisa melihatnya sendiri, Sir. Ada apa? Tidak perlu basa-basi," ujar Liza tanpa mau melihat mata atasannya itu.


Saat semua orang yang berkumpul dalam ruangannya keluar, Liza tahu kalau Mister Andreas akan mengatakan sesuatu bersifat pribadi.


"Mengenai Ashton—apa kau mengingatnya?" tanya Mister Andreas. Alis tebalnya naik satu keatas.


Liza memperhatikan itu dengan perasaan muak. Sebenarnya ia ingin meminta Vero untuk tak ikut keluar karena ia ingin menggunakan gadis itu untuk menggantikan tugas mulutnya yang sudah muak sekali dengan Mister Andreas.

__ADS_1


"Orang tolol mana yang melupakan pertanyaannya sendiri," ujar Liza santai. Ia bahkan tak mau ambil pusing dengan mengkategorikan perkataanya sebagai pertanyaan atau ungkapan.


Terdengar helaan nafas dari Mister Andreas. Sebenarnya pria itu merasa cukup bersalah untuk sikap Liza yang cukup menyebalkan saat ini, tapi mau bagaimana lagi? Situasinya cukup genting untuk bersantai.


"Ashton adalah nama bos besar dari atasan organisasi gelap yang sedang kita incar. Sebenarnya Ashton itu hanya sebuah marga yang mengikuti sang pemilik di negara tertentu," ujar Mister Andreas.


"Negara tertentu? Apa maksudnya?"


Mister Andreas mengulum bibirnya menjadi segaris. Sebenarnya ia sendiri sulit menjabarkannya agar Liza paham.


"Ashton akan menjadi Wu di Cina, Kim di Korea, Aditama di Indonesia, dan akan berbeda di setiap negara."


Terkejut? Tentu. Tapi Liza tak mau mengambil inisiatif mengenai Ashton di klub malam itu. Mungkin hanya kemiripan marga saja.


"Kekasihku mengenal Ashton, tapi kurasa Ashton itu berbeda," ujar Liza.


"Entah. Tapi kita ambil bagian terburuknya terlebih dahulu, Nona Smith. Pikirkan lagi jika ternyata mereka adalah orang yang sama."


Penuturan dari Mister Andreas membuat Liza tersentak, tapi ia memilih diam. Perasaan muak kembali muncul kepermukaan.


"Hem aku berpikir, berpikir untuk mundur dalam misi ini. Aku tak kuat, Sir. Kau bisa mengambil lima puluh persen gajiku setiap bulannya untuk membayar penalti."


Perasaannya lega menyeruak seketika setelah untaian kata itu terucap gamblang. Hidup normal dengan kebahagiaan bersama Bryan langsung menyeruak dalam lubuk hati Liza. Senyum terpatri di bibir yang selalu Bryan puji seperti kelopak mawar dan sekenyal jeli.


"Kekasihmu bernama Bryan Chaiden, betul?"


Senyuman hilang, Liza langsung menoleh pada Mister Andreas.


"Sudah ku bilang jangan mengganggu priv—"


"Bagaimana kalau aku katakan jika Bryan Chaiden adalah bagian dari Ashton. Bryan Chaiden Ashton lebih tepatnya? Bagaimana?"


Liza tertawa remeh sambil berkata, "Dasar pembual."


"Aku pastikan jika Bryan kekasihmu itu adalah bagian dari Ashton."


"Diam kau keparat! Mulut busuk mu itu sebaiknya digunakan untuk hal yang lebih berguna."


"Sebaiknya kau pastikan sendiri jika kekasihmu itu bukan bagian dari Ashton. Ikut kembali dalam misi, atau kau akan selamanya tidak tahu mengenai identitas Bryan Chaiden Ashton."


.


.


.

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2