
Markas besar SWAT, Washington DC, Amerika Serikat.
Selasa, 13 September 2017 | 02.00 AM.
"Kau menyeretnya dari hotel sampai sini?"
Liza mengangguk untuk menjawab pertanyaan Keenan. Kini di execution room sudah hadir dirinya, Vero, Keenan, dan tentu saja Mister Andreas.
"Well, tadinya aku berencana mengikat kakinya pada mobilku dan membiarkannya tergerus di aspal, tapi aku tak memiliki tali jadi ku urungkan," ujar Liza santai, tapi emosi masih jelas terlihat dari ekspresi wajahnya.
"Bukan kah sudah ku peringati untuk tidak menyentuhnya barang secuil? Kau bahkan membuatnya gegar otak ringan," ujar Mister Andreas.
"Dia menipuku, menggerayangi tubuhku dan terakhir, dia hampir memperkosaku. Tentu aku melakukan itu!" seru Liza mendarah daging.
"Tidak heran melihat kau yang hanya memakai bathrobe," cibir Vero.
Liza mengumpat sebelum melihat tampilan dirinya. Benar, ia masih menggunakan jubah handuk milik hotel tadi.
"Keparat!" Liza hendak melayangkan lagi tendangannya pada pria yang sudah terenggok mengenaskan di lantai. Tapi Keenan dan Vero telah menarik tubuh Liza terlebih dahulu untuk menahan emosi wanita yang sudah tersulut dan menunggu untuk meledak.
"Stop! Kau sudah membuatnya gegar otak, ingin kau apakan lagi manusia itu? Aku menyuruhmu untuk tak menyentuhnya karena aku akan membawanya pada FBI untuk di interogasi langsung, tapi kau sungguh bebal. Jika sudah begini, apa yang harus kita lakukan? Menunggu dia sadar? Ku rasa bahkan sebentar lagi dia akan menemui ajalnya karena kau masih ada disini," ujar Mister Andreas merujuk pada Liza.
Liza mendengus. Ia tentu tahu kalimat itu adalah perintah untuk mengusirnya dari ruangan. Ia menghela nafas lalu membuangnya secara kasar setelah itu ia keluar dari ruangan sementara Vero mengikuti dari belakang.
"Akan ku pastikan setalah diinterogasi, ia akan ku serahkan padamu," ujar Mister Andreas lagi.
Liza terdiam sejenak. Bagus, ia akan mengoyak semua bagian tubuh Ivo.
🍁
"Sudah sampai mana dia menyentuh mu?" tanya Vero saat mereka sudah sampai di kediaman khusus Liza.
Liza menatap Vero sambil menggigiti bibirnya resah. "Si bangsat itu menyentuh bibirku dan pa-- agh! Sialan! Tubuhku hanya milik Bryan!" pekik Liza kalap. Ia melempar apel ditangannya ke arah Vero. Dan dengan sigap Vero menangkapnya lalu memakan apel ranum itu.
"Bryan yang pertama untuk mu?" tanya Vero terdengar mencemooh. Ia mengusap-usap selimut berwarna merah menyala milik Liza di kasur.
"Tentu bodoh! Dia pemilik pertama seluruh hidupku," jawab Liza melayangkan tatapan sengit pada Vero.
"Lalu bagaimana dengannya?"
"Apa maksudmu, jalang!"
Vero menelan ludahnya. Ayolah, ia hanya ingin bermain-main dengan Liza yang emosi, ia tak bermaksud membuat Liza bertambah marah dan berakhir mengatainya jalang.
Well, itu cukup mengerikan.
"Apakah kau pertama baginya juga?" cibir Vero berusaha tak gentar. "Aku tak yakin kau yang pertama," lanjutnya.
"Diam lah perawan tua. Aku bukan kau yang dengan sukarela memberi blow job pria lain," balas Liza menohok.
__ADS_1
"Si sialan ini! Aku tak pernah melakukan itu." Vero melempari wajah Liza dengan bantal yang berada di jangkauannya tapi Liza berhasil menghindar.
"Sok polos," ledek Liza. Kini wanita bertubuh semampai itu sedang menonton TV ditemani makanan ringan beserta jus jeruk di sopa.
Setelah beberapa menit berkutat dengan keheningan, Liza benar-benar merasa bosan. Ia mematikan TV lalu mendekat pada Vero yang ternyata sudah tertidur nyenyak di kasurnya.
"Gadis bodoh ini selalu saja mengganggu ketenangan ku," gumam Liza. Ia membenahi tidur Vero yang terlihat sangat berantakan. "Tapi seandainya tak ada Vero, mungkin saja aku akan menangis seharian karena merasa bersalah pada Bryan." Ia menerawang sejenak. Rindu kembali menyapa relung hatinya.
🍁
"Jadi interogasi mu sudah selesai, Sir?" cibir Liza. Butuh waktu berhari-hari sampai Liza akhirnya dipanggil kembali pada ruang execution room.
"Ya, sulit untuk menanyainya terlebih Ivo hampir meminum racun," jawab Mister Andreas.
"Who's Ivo?" tanya Liza.
"He's Abiavo. Nickname is Ivo." Mister Andreas menaikan bahunya.
"Dan kenapa racun?"
"Ya, Ivo membawa racun yang sengaja dikalungkan pada lehernya. Menurut analisa ku dan beberapa agen FBI, dia adalah orang yang loyal pada organisasinya sehingga membiarkan dirinya rela mati demi menjaga rahasia. Andai aku memiliki anak buah seperti dia, pasti aku kagum sekali."
"Seluruh pasukan yang dinaungi oleh mu memiliki sifat loyalitas dan solidaritas yang kuat, lalu apalagi yang kau harapkan? Apa ini sebuah sindiran untuk ku?"
Mister Andreas berdecak, "Tak ada. Ah ya, bukannya kau mempunyai dendam pribadi pada Ivo? Kali ini aku memberikannya padamu secara cuma-cuma untuk... Ya, kau tahu sendiri, bukan?"
"Tiba-tiba saja aku tak berminat menghabisinya. Aku sudah hampir melupakan kejadian itu. Jadi kurasa, aku tak perlu melakukan hal itu. Membuang-buang waktu," ujar Liza sambil mengangkat bahunya.
Liza mendengus lalu ia mulai membenahi posisinya agar lebih tegak dalam berdiri. Sepertinya, ia sudah cukup bermain-main dengan atasannya itu sebelum dia di pecat dalam posisi tingginya di SWAT.
"Sudahlah, kau habisi saja anak itu. Jangan buka selotip dari bibirnya kalau kau tak mau acara 'menghabisinya' sia-sia," ujar Mister Andreas.
"Baik, Sir."
Liza meninggalkan ruangan lalu ia keluar dari gedung SWAT menuju basemen bawah tanah. Di sana ada ruang rahasia khusus untuk menghabisi para bajingan yang sudah diinterogasi oleh pihak FBI. Tugas SWAT hanya mengeksekusi mereka.
"Ivo benar?" tanya Liza sarkas saat sudah berhadapan dengan Ivo.
Ivo tidak bergeming. Tubuhnya terbaring dengan ikatan khusus yang bermaterial aluminium pada pinggang, tangan, dan kakinya lalu mulutnya pun tak terlewatkan.
"Kau tahu telah membohongi siapa, Tuan Ashton-oh, maksudku Tuan Cameron?" tanyanya lagi. "Kau telah membohongi aku, Revaliza Alleira Garcia atau yang kau kenal dengan Eva Jane. Well, penyamaran mu keren juga aku bahkan tak sedikitpun mengenalimu, Ivo. Aku kagum sebenarnya dengan keberanian mu itu. Asal kau tahu bocah, aku bisa melenyapkan nyawamu hanya satu kali pukulan di sini." Liza menunjuk tulang rusuk Ivo tepat di daerah diafragma. "Disini." Tunjuknya kemudian pada perpotongan leher Ivo. "Dan disini." Lalu menunjuk pada ******** pria itu
Ivo mematung dengan bola mata melebar. Liza suka dengan reaksi itu karena ia jadi mengingat saat dia harus merelakan payudaranya tersentuh oleh tangan bocah didepannya.
"Kau takut, huh?" Liza membelai wajah muda Ivo dengan telunjuknya. Jika diperkirakan umur Ivo sekitar 20 tahun keatas.
Ivo memberontak dengan brutal membuat Liza harus meninju dengan keras wajah itu agar terdiam.
"Bukankah Mister Andreas dan beberapa rekannya sangat hati-hati saat menginterogasi mu? Itu memang sistem FBI asal kau tahu. Dan apa kau membongkar semuanya tanpa terkecuali?" Liza tersenyum lebar saat mendapat anggukan kaku dari Ivo.
__ADS_1
Lalu Ivo terdiam sejenak namun beberapa detik kemudian, ia kembali memberontak. Seharusnya bocah malang itu tahu kalau berontak pun tak ada gunanya karena ikatan ditubuhnya begitu kuat.
"Mau bertarung dengan ku?"
Ivo mengangguk.
"Tapi Mister Andreas bilang aku tidak boleh membuka mulut mu." Liza menyingkirkan helaian rambut Ivo yang menempel di dahinya karena keringat.
"Aku merasa kecewa, kenapa kau melakukan hal yang memalukan seperti hendak meminum racun saat di interogasi? Tidakkah kau tahu kalau seorang yang kuat tidak memilih bunuh diri untuk mengakhiri masalahnya? Jadi rasa kecewa ku ini berlandaskan, bukan?" ujar Liza meledek. Sejujurnya, ia pun heran kenapa orang seperti Ivo dipilih untuk menjebaknya. Kalau bukan karena Ivo teramat bernyali, itu berarti Ivo memang tak pernah dibutuhkan dalam organisasi. Ya, hanya dua itu. Lagipula siapapun buronan yang sudah masuk ke dalam intaian FBI lalu masuk ke sarang SWAT, mereka takkan pernah kembali selamanya.
Ivo menggeleng dengan bar-bar. Liza tahu Ivo ingin menyanggah perkataannya. Racun itu bukan menyatakan kalau Ivo akan siap mati karena menyerah pada musuh, tapi karena Ivo memiliki loyalitas yang tinggi pada organisasi dan Liza sudah paham. Tapi ia memang ingin menyulut emosi pria itu.
"Berhentilah memberontak! Kalau kau begitu malah semakin membangkitkan gairahku untuk membunuhmu!" ujar Liza geram.
Ivo tidak peduli, ia terus memberontak sampai beberapa sabuk besi yang menahan tubuhnya berderit.
"Sebenarnya apa yang ingin kau lakukan?!"
Ivo menunjuk selotip hitam pada mulutnya dengan mata, memberi isyarat untuk segera melepasnya. Sepertinya ada hal penting yang ingin Ivo sampaikan.
"Kau mau memberi informasi?" tanya Liza.
Ivo mengangguk dengan semangat sampai keringat muncul pada jidat dan pelipisnya.
"Tentang markas organisasi mu? Tak perlu, kami bisa mencarinya sendiri dengan informasi yang kau berikan walaupun sebenarnya kurang konkret," ujar Liza.
Kini Ivo menggeleng lalu mengerang dengan keras setelahnya karena merasa Liza sangat membuang-buang waktu dengan pertanyaan omong kosong yang takkan pernah di jawab olehnya.
"Aku jengah melihat ini. Bisakah aku hanya menembak pembuluh darah di leher mu?" tanya Liza sangsi. Entah kenapa keinginannya untuk membunuh Ivo mulai menyurut tergantikan oleh sedikit rasa penasaran tentang apa yang akan anak itu katakan. Tapi sekali lagi, Liza sedang dalam belenggu perintah Mister Andreas. Dia tentu saja tidak bisa semuda itu melanggar perintah atasannya.
Tapi manusia tetap lah manusia. Mau seberapapun Liza mengenyahkan rasa penasarannya, rasa penasaran itu tetap akan muncul, bahkan lebih besar.
"Baiklah aku akan membukanya, tapi berjanji jangan meludahi wajahku jika kau tak ingin peluru bersarang di bagian tubuhmu," ujar Liza.
Liza bersiap melepaskan selotip dari mulut Ivo, tapi pergerakannya terhenti saat sesuatu yang sangat cepat melewati rambutnya. Lalu Liza merasakan bahunya perih. Ia memegang bahunya dan terkejut karena mendapati darah yang merembes dari sana. Ia menoleh sejenak kebelakang demi melihat siapa yang telah melesatkan peluru dengan tenangnya.
Sial, itu Mister Andreas!
"Mister Andreas, apa yang kau lakukan?!"
Lalu Liza kembali menatap Ivo yang sudah kehilangan nyawa dengan mata terbuka dan tempurung kepala bagian depan yang sudah hampir terkoyak. Bahkan darahnya terciprat pada rambut Liza.
"ASTAGA! KAU MEMBUNUH IVO?!"
.
.
.
__ADS_1
To be continued