The Bradley

The Bradley
16. Membuat Semua Khawatir


__ADS_3

“Boss..Boss”. teriak Vino dari luar


Hening tidak ada jawaban


“Boss”.


“Boss”.


“Boss”. Ucapnya sambil menggedor pintu


“SHIT BERISIK”. Ucap Gue dari dalam, dan


Gue melihat jam dihandphone Gue menunjukan pukul 7 malam, lama juga Gue tidur.


Namun Gue berusaha kembali menutup mata.


“Ga si Boss malah marah-marah”. Ucap


Vino berlarian tidak jelas


“Varo Lo panggil Lala Gue jaga disini”.


Ucap Angga yang dijawab anggukan


“LALA”.


“LALA”.


“LALA”. Panggil nya sambil mengetuk


pintu dengan keras


“SHIT BERISIKKK”. Ucap Gue yang kembali


teriak


“Lo keluar dulu ini gawat keadaannya”.


Gue dengan terpaksa membuka kan pintunya


Cklek….


“Apaan sih berisik banget tau gak”.


“Preman yang waktu itu ada di depan”.


Ucapnya tergesa gesa


“Ya kalian lawan lah”.


“Mereka bawa pasukannya banyak sedangkan


kita belum kumpul semua baru ada 10 orang sedangkan mereka 25 orang kayanya”.


“Shitt”.


Umpat Gue kesal dan berjalan kedepan


“Nah akhirnya Leadernya keluar juga”.


Ucap pemimpin mereka


“Mau apa Lo?”. Ketus Gue


“Mau bales perbuatan Lo yang waktu itu”.


Ucap mereka memandang Gue sinis


“Sorry gak mood”. Ucap Gue cuek dan


ingin masuk ke dalam (bayangkan saja masa iya Gue baru bangun tidur Diajak


perang, nyawa Gue aja belum terkumpul semua)


“SERANG”. Ucap pemimpin mereka, dan


anggota Gue semua langsung ada diposisi mereka masing-masing.


Kita berkelahi cukup lama dan kali ini


bukan 1 lawan 1 tapi 2 lawan satu karena jumlah mereka yang lebih bayak. Gue


berusaha fokus tapi apa daya Gue yang baru bangun ini langsung Diajak berantem.


Tapi buakan Lala Leader Bradley kalau ngalahin 2 orang aja gak bisa. Sekilas


Gue lihat kearah yang lain mereka kewalahan karena para preman itu memakai


senjata sedangkan kita dengan tangan kosong. Gue telah menghabisi 2 orang yang


menyerang Gue, dan Gue membantu yang lain. Dan Gue melihat Alvaro Dia sangat-sangat


kewalahan dan Gue lihat lawannya memakai pisau dan ada orang yang baru saja


datang dan Gue baca gerak-geriknya sih Dia akan menusukan pisau yang dipegangnya


itu ke perut belakang Varo, Gue dengan sigap berlari kearah Varo dan langsung


menendang tangan yang memegang pisau itu. Gue lihat sekeliling beberapa preman


telah terkapar, namun masih ada juga yang berkelahi. Gue membatu teman-teman


yang lain dan seketika para preman itu berhasil kita kalahkan dengan tangan


kosong.


“Bangun Lo”. Ucap Gue


“Segini doang, hah cemen”. Ucap Gue


melihat orang-orang itu tergeletak menahan kesakitan


TELEPON


“Hallo


Om Lucky di Basecame Lala ada beberapa preman yang menyerang kita dan mereka


membawa senjata tajam”.


“Okee


Om dengan yang lain langsung menuju sana”.


Gue melihat mereka yang tergeletak


menahan kesakitan. Dan mata Gue tertuju ke pemimpin mereka yang berusaha


mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya, dan ternyata Dia mengeluarkan Pistol dan mengarahkan ke Alvaro yang


jongkok menunduk karena kelelahan, sontak Gue langsung berlari kearah alvaro Gue


menghalangi badan alvaro dan.


DORRR…


Ini untuk pertama kalinya sebuah peluru

__ADS_1


melesat tepat di dada kanan Gue. Gue langsung tersungkur ke tanah, dan Gue


lihat anak-anak berlarian menuju kearah Gue dengan muka panik. Angga langsung


memeluk tubuh Gue. Gue mencengkram tangannya melampiaskan rasa sakit di dada


Gue.


“Bego Lo semua, telepon Ambulance”.


Bentak Angga


“La Lo harus tau Gue sayang sama Lo”.


Ucap Varo menatap Gue yang menahan rasa sakit


“Lo **** atau gimana sih nyatain yang


begituan disaat yang kaya gini”. Bentak Angga yang panik melihat kondisi Gue


yang sudah berlumuran darah


“Gue juga”. Ucap Gue lemah dan setelah


itu Gue tidak ingat apa-apa.


“Lo tahan ya La, Gue tau Lo kuat”. Angga


1


minggu kemudian


Gue mendengar seseorang menangis dan Gue


perlahan berusaha membuka mata Gue. Gue lihat seorang laki-laki tengah menunduk


nangis sambil menggenggam tangan Gue. Suara tangisannya tak asing. Gue berusaha


menggerakan tangan Gue yang sebelah untuk mentoyor kepala laki-laki itu.


“Heh Adek udah sadar”. Ucap nya dengan


wajah yang merah dan air mata yang masih mengalir dikelopak matanya, dan Gue


tersenyum manis kearahnya


“Mana yang sakit? Bilang sama Gue”.


Ucapnya terlihat raut wajah panik


“Gue gak apa-apa”. Ucap Gue lemah


“Gue panggil dokter dulu ya”. Gue menarik


tangannya dan menggeleng Dia memeluk erat Gue


“Biarin kaya gini 5 menit aja”. Ucap Gue


perlahan di telinga nya Dia memper erat pelukannya


“Dek maafin Gue ya”. Ucap nya melepaskan


pelukan dan menatap Gue


“Maaf atas?”.


“Maaf waktu itu Gue gak mau Diajak ke


Mall, kalo Gue gak nolak pasti Lo gak akan kaya gini kan”. Ucapnya terdengar


“Ya elah lupain kali Bang, udah berapa


lama Gue ditempat ini?”. Tanya Gue


“Ini udah hari ke 7 dan Lo baru sadar


dari koma”. Ucapnya menjatuhkan air matanya


“Lemah banget Gue, ditembak terus Koma


sampai selama itu”. Ucap Gue tersenyum


“Lo tuh gak lemah, Lo kuat, dan gak ada


yang ditembak akan baik-baik aja Dek”.


“Abang Gue nangis gini hahah jelek muka


Lo”. Ucap Gue berusaha mengusap air matanya


“Gue sedih liat keadaan Lo kaya gitu,


Gue sedih Gue gak bisa jadi Abang yang bisa lindungin Lo”.


“Gue bisa jaga diri Gue sendiri, oh iya


preman itu di tangkap Om Lucky kan?”. Dia mengangguk


“Baguss, Ayah sama Bunda tau kalau Gue


sakit?”. Dia mengangguk


“Ahh kenapa kasih tau mereka?”. Ucap Gue


“Ya kali ini Lo sakit nya bukan Cuma


demam jadi Gue kasih tau mereka”.


“Terus mereka mana?”.


“Di luar Gue panggil dulu ya”. Ucapnya


Gue menganguk


“Sayang mana yang sakit?”. Ucap Bunda


panik


“Gak ada yang sakit kok Bun”. Ucap Gue


tersenyum


“Kamu bikin Bunda khawatir aja tau gak”.


Ucap Bunda meneteskan air matanya


“Bunda jangan nagis Aku gak apa-apa


kok”. Ucap Gue memeluk Bunda


“Anak Ayah kuat yaaa”. Ucap Ayah mengubah


suasana sedih menjadi sedikit gembira


“Kamu tahu gak anak buah Kamu pada setia


nungguin Kamu di depan, padahal udah berapa kali di marahin sama pihak Rumah Sakit

__ADS_1


karena mereka ramai-ramai”. Jelas Ayah


“Ada Angga?”. Tanya Gue


“Ada mau di panggilin?”. Ucap Bang Raffa


Gue mengangguk


Bang Raffa membuka pintu ruangan dan


mencari Angga.


“Angga mana si Angga”. Tanya Bang Raffa


ke orang-orang yang ada disana


“Tuh Dia dipojok”. Ucap Vino menunjuk


seorang yang duduk menunduk


“Angga Lala suruh Lo masuk”. Dan seketika


Dia langsung mendongkak kan kepalanya


“Lala udah sadar Bang”. Ucapnya dengan


penuh antusias dan Bang Raffa mengangguk


Angga langsung berlari masuk ke dalam


ruangan Gue di ikutin anggota lain yang ikut masuk, untung Gue di rawat di


kamar VVIP jadi cukup luas untuk menambung kira-kira 30 orang itu.


“Gue Cuma nyuruh Angga yang masuk”. Ucap


Gue melihat semuanya ikut menerobos masuk


“Ihh Bigboss kan kita juga kangen pingin


liat keadaan Lo ya gak?”. Ucap Vino yang diikuti anggukan semuanya


“Ga semua aman?”. Tanya Gue


“Aman La”. Ucapnya wajahnya terlihat


sendu


“Bagus deh, Gue denger kalian nunguin


Gue disini ya, sampe di marahin pihak Rumah Sakit”.


“Iya tuh orang gak ngerti banget kita


kan lagi nungguin Boss kita ya gak?”. Ucap Vino yang lagi-lagi di beri anggukan


oleh semuanya, Gue melihatnya hanya tersenyum


“San”. Ucap Gue melihat kearah Sandra


dan Dia langsung menghampiri Gue dan memeluk Gue


“Gue khawatir”. Ucap Sandra langsung


memeluk


“San”.


“apaa?”. Jawab Dia melepaskan pelukannya


“Buaya nanyain Gue gak?”.


“Iyaa Dia nanyain Lo terus katanya sepi


gak ada yang bisa Dia marahin”. Gue tersenyum


“Varo gak apa-apa? Sekarang Dia mana?”.


Tanya Gue yang baru sadar tidak ada Varo Diantara orang-orang itu


“Dia gak apa-apa, Dia baru aja pulang


soalnya Dia udah gak pulang selama 2 hari buat nemenin Lo”. Ucap Angga


“Dia gak sekolah dong?”.


“Iyaa, habisnya Dia ngerasa bersalah


banget soalnya harus nya yang ketembak itu Dia tapi Lo nolongin Dia”. Jelas


Vino


“Udah tugas Gue sebagai Leader Bradley


buat ngelindungi anggotanya”. Ucap Gue


“Udah sana kalian pada pulang, Gue rasa


kalian belum mandi soalnya Gue mencium bau-bau aneh”. Ucap Gue


“Siap Boss”. Ucap semuanya serentak


“Jangan berisik ini Rumah Sakit”. Ucap


Gue


“Siap Boss”. Ucap mereka yang kali ini


dengan suara pelan


“Ayah sama Bunda istirahat aja di rumah,


udah malem juga biar Aku disini sama Bang Raffa”.


“Ya udah kalo gitu Bunda sama Ayah


pulang dulu besok balik lagi kesini”. Gue mengangguk dan mereka mencium pangkal


kepala Gue


“Ga Lo ke Basecame aja”.


“Gue disini aja”. Ucap Angga


“Kalo Lo gak di Basecamp siapa yang


mimpin mereka?”. Ucap Gue memberi tatapan serius kepada Angga


“Okeee nanti setelah jaga keliling Gue


mau kesini nemenin Lo sama Bang Raffa”. Gue mengangguk


Dan sekarang tinggal ada Gue dan Bang Raffa di


ruangan yang cukup besar ini. Saat kita tengah ngobrol tiba-tiba datang salah


satu suster untuk mengganti perban di dada Gue.

__ADS_1


__ADS_2