
“Boss..Boss”. teriak Vino dari luar
Hening tidak ada jawaban
“Boss”.
“Boss”.
“Boss”. Ucapnya sambil menggedor pintu
“SHIT BERISIK”. Ucap Gue dari dalam, dan
Gue melihat jam dihandphone Gue menunjukan pukul 7 malam, lama juga Gue tidur.
Namun Gue berusaha kembali menutup mata.
“Ga si Boss malah marah-marah”. Ucap
Vino berlarian tidak jelas
“Varo Lo panggil Lala Gue jaga disini”.
Ucap Angga yang dijawab anggukan
“LALA”.
“LALA”.
“LALA”. Panggil nya sambil mengetuk
pintu dengan keras
“SHIT BERISIKKK”. Ucap Gue yang kembali
teriak
“Lo keluar dulu ini gawat keadaannya”.
Gue dengan terpaksa membuka kan pintunya
Cklek….
“Apaan sih berisik banget tau gak”.
“Preman yang waktu itu ada di depan”.
Ucapnya tergesa gesa
“Ya kalian lawan lah”.
“Mereka bawa pasukannya banyak sedangkan
kita belum kumpul semua baru ada 10 orang sedangkan mereka 25 orang kayanya”.
“Shitt”.
Umpat Gue kesal dan berjalan kedepan
“Nah akhirnya Leadernya keluar juga”.
Ucap pemimpin mereka
“Mau apa Lo?”. Ketus Gue
“Mau bales perbuatan Lo yang waktu itu”.
Ucap mereka memandang Gue sinis
“Sorry gak mood”. Ucap Gue cuek dan
ingin masuk ke dalam (bayangkan saja masa iya Gue baru bangun tidur Diajak
perang, nyawa Gue aja belum terkumpul semua)
“SERANG”. Ucap pemimpin mereka, dan
anggota Gue semua langsung ada diposisi mereka masing-masing.
Kita berkelahi cukup lama dan kali ini
bukan 1 lawan 1 tapi 2 lawan satu karena jumlah mereka yang lebih bayak. Gue
berusaha fokus tapi apa daya Gue yang baru bangun ini langsung Diajak berantem.
Tapi buakan Lala Leader Bradley kalau ngalahin 2 orang aja gak bisa. Sekilas
Gue lihat kearah yang lain mereka kewalahan karena para preman itu memakai
senjata sedangkan kita dengan tangan kosong. Gue telah menghabisi 2 orang yang
menyerang Gue, dan Gue membantu yang lain. Dan Gue melihat Alvaro Dia sangat-sangat
kewalahan dan Gue lihat lawannya memakai pisau dan ada orang yang baru saja
datang dan Gue baca gerak-geriknya sih Dia akan menusukan pisau yang dipegangnya
itu ke perut belakang Varo, Gue dengan sigap berlari kearah Varo dan langsung
menendang tangan yang memegang pisau itu. Gue lihat sekeliling beberapa preman
telah terkapar, namun masih ada juga yang berkelahi. Gue membatu teman-teman
yang lain dan seketika para preman itu berhasil kita kalahkan dengan tangan
kosong.
“Bangun Lo”. Ucap Gue
“Segini doang, hah cemen”. Ucap Gue
melihat orang-orang itu tergeletak menahan kesakitan
TELEPON
“Hallo
Om Lucky di Basecame Lala ada beberapa preman yang menyerang kita dan mereka
membawa senjata tajam”.
“Okee
Om dengan yang lain langsung menuju sana”.
Gue melihat mereka yang tergeletak
menahan kesakitan. Dan mata Gue tertuju ke pemimpin mereka yang berusaha
mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya, dan ternyata Dia mengeluarkan Pistol dan mengarahkan ke Alvaro yang
jongkok menunduk karena kelelahan, sontak Gue langsung berlari kearah alvaro Gue
menghalangi badan alvaro dan.
DORRR…
Ini untuk pertama kalinya sebuah peluru
__ADS_1
melesat tepat di dada kanan Gue. Gue langsung tersungkur ke tanah, dan Gue
lihat anak-anak berlarian menuju kearah Gue dengan muka panik. Angga langsung
memeluk tubuh Gue. Gue mencengkram tangannya melampiaskan rasa sakit di dada
Gue.
“Bego Lo semua, telepon Ambulance”.
Bentak Angga
“La Lo harus tau Gue sayang sama Lo”.
Ucap Varo menatap Gue yang menahan rasa sakit
“Lo **** atau gimana sih nyatain yang
begituan disaat yang kaya gini”. Bentak Angga yang panik melihat kondisi Gue
yang sudah berlumuran darah
“Gue juga”. Ucap Gue lemah dan setelah
itu Gue tidak ingat apa-apa.
“Lo tahan ya La, Gue tau Lo kuat”. Angga
1
minggu kemudian
Gue mendengar seseorang menangis dan Gue
perlahan berusaha membuka mata Gue. Gue lihat seorang laki-laki tengah menunduk
nangis sambil menggenggam tangan Gue. Suara tangisannya tak asing. Gue berusaha
menggerakan tangan Gue yang sebelah untuk mentoyor kepala laki-laki itu.
“Heh Adek udah sadar”. Ucap nya dengan
wajah yang merah dan air mata yang masih mengalir dikelopak matanya, dan Gue
tersenyum manis kearahnya
“Mana yang sakit? Bilang sama Gue”.
Ucapnya terlihat raut wajah panik
“Gue gak apa-apa”. Ucap Gue lemah
“Gue panggil dokter dulu ya”. Gue menarik
tangannya dan menggeleng Dia memeluk erat Gue
“Biarin kaya gini 5 menit aja”. Ucap Gue
perlahan di telinga nya Dia memper erat pelukannya
“Dek maafin Gue ya”. Ucap nya melepaskan
pelukan dan menatap Gue
“Maaf atas?”.
“Maaf waktu itu Gue gak mau Diajak ke
Mall, kalo Gue gak nolak pasti Lo gak akan kaya gini kan”. Ucapnya terdengar
“Ya elah lupain kali Bang, udah berapa
lama Gue ditempat ini?”. Tanya Gue
“Ini udah hari ke 7 dan Lo baru sadar
dari koma”. Ucapnya menjatuhkan air matanya
“Lemah banget Gue, ditembak terus Koma
sampai selama itu”. Ucap Gue tersenyum
“Lo tuh gak lemah, Lo kuat, dan gak ada
yang ditembak akan baik-baik aja Dek”.
“Abang Gue nangis gini hahah jelek muka
Lo”. Ucap Gue berusaha mengusap air matanya
“Gue sedih liat keadaan Lo kaya gitu,
Gue sedih Gue gak bisa jadi Abang yang bisa lindungin Lo”.
“Gue bisa jaga diri Gue sendiri, oh iya
preman itu di tangkap Om Lucky kan?”. Dia mengangguk
“Baguss, Ayah sama Bunda tau kalau Gue
sakit?”. Dia mengangguk
“Ahh kenapa kasih tau mereka?”. Ucap Gue
“Ya kali ini Lo sakit nya bukan Cuma
demam jadi Gue kasih tau mereka”.
“Terus mereka mana?”.
“Di luar Gue panggil dulu ya”. Ucapnya
Gue menganguk
“Sayang mana yang sakit?”. Ucap Bunda
panik
“Gak ada yang sakit kok Bun”. Ucap Gue
tersenyum
“Kamu bikin Bunda khawatir aja tau gak”.
Ucap Bunda meneteskan air matanya
“Bunda jangan nagis Aku gak apa-apa
kok”. Ucap Gue memeluk Bunda
“Anak Ayah kuat yaaa”. Ucap Ayah mengubah
suasana sedih menjadi sedikit gembira
“Kamu tahu gak anak buah Kamu pada setia
nungguin Kamu di depan, padahal udah berapa kali di marahin sama pihak Rumah Sakit
__ADS_1
karena mereka ramai-ramai”. Jelas Ayah
“Ada Angga?”. Tanya Gue
“Ada mau di panggilin?”. Ucap Bang Raffa
Gue mengangguk
Bang Raffa membuka pintu ruangan dan
mencari Angga.
“Angga mana si Angga”. Tanya Bang Raffa
ke orang-orang yang ada disana
“Tuh Dia dipojok”. Ucap Vino menunjuk
seorang yang duduk menunduk
“Angga Lala suruh Lo masuk”. Dan seketika
Dia langsung mendongkak kan kepalanya
“Lala udah sadar Bang”. Ucapnya dengan
penuh antusias dan Bang Raffa mengangguk
Angga langsung berlari masuk ke dalam
ruangan Gue di ikutin anggota lain yang ikut masuk, untung Gue di rawat di
kamar VVIP jadi cukup luas untuk menambung kira-kira 30 orang itu.
“Gue Cuma nyuruh Angga yang masuk”. Ucap
Gue melihat semuanya ikut menerobos masuk
“Ihh Bigboss kan kita juga kangen pingin
liat keadaan Lo ya gak?”. Ucap Vino yang diikuti anggukan semuanya
“Ga semua aman?”. Tanya Gue
“Aman La”. Ucapnya wajahnya terlihat
sendu
“Bagus deh, Gue denger kalian nunguin
Gue disini ya, sampe di marahin pihak Rumah Sakit”.
“Iya tuh orang gak ngerti banget kita
kan lagi nungguin Boss kita ya gak?”. Ucap Vino yang lagi-lagi di beri anggukan
oleh semuanya, Gue melihatnya hanya tersenyum
“San”. Ucap Gue melihat kearah Sandra
dan Dia langsung menghampiri Gue dan memeluk Gue
“Gue khawatir”. Ucap Sandra langsung
memeluk
“San”.
“apaa?”. Jawab Dia melepaskan pelukannya
“Buaya nanyain Gue gak?”.
“Iyaa Dia nanyain Lo terus katanya sepi
gak ada yang bisa Dia marahin”. Gue tersenyum
“Varo gak apa-apa? Sekarang Dia mana?”.
Tanya Gue yang baru sadar tidak ada Varo Diantara orang-orang itu
“Dia gak apa-apa, Dia baru aja pulang
soalnya Dia udah gak pulang selama 2 hari buat nemenin Lo”. Ucap Angga
“Dia gak sekolah dong?”.
“Iyaa, habisnya Dia ngerasa bersalah
banget soalnya harus nya yang ketembak itu Dia tapi Lo nolongin Dia”. Jelas
Vino
“Udah tugas Gue sebagai Leader Bradley
buat ngelindungi anggotanya”. Ucap Gue
“Udah sana kalian pada pulang, Gue rasa
kalian belum mandi soalnya Gue mencium bau-bau aneh”. Ucap Gue
“Siap Boss”. Ucap semuanya serentak
“Jangan berisik ini Rumah Sakit”. Ucap
Gue
“Siap Boss”. Ucap mereka yang kali ini
dengan suara pelan
“Ayah sama Bunda istirahat aja di rumah,
udah malem juga biar Aku disini sama Bang Raffa”.
“Ya udah kalo gitu Bunda sama Ayah
pulang dulu besok balik lagi kesini”. Gue mengangguk dan mereka mencium pangkal
kepala Gue
“Ga Lo ke Basecame aja”.
“Gue disini aja”. Ucap Angga
“Kalo Lo gak di Basecamp siapa yang
mimpin mereka?”. Ucap Gue memberi tatapan serius kepada Angga
“Okeee nanti setelah jaga keliling Gue
mau kesini nemenin Lo sama Bang Raffa”. Gue mengangguk
Dan sekarang tinggal ada Gue dan Bang Raffa di
ruangan yang cukup besar ini. Saat kita tengah ngobrol tiba-tiba datang salah
satu suster untuk mengganti perban di dada Gue.
__ADS_1